Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Simpananku
Pagi itu, Kendra berada di ruang kerjanya dengan wajah serius. Di hadapannya, Marco berdiri sambil membawa beberapa dokumen yang baru saja diterimanya.
"Maaf mengganggu, Tuan," ujar Marco pelan. "Saya sudah mendapatkan informasi mengenai dokter yang dulu menangani Anda setelah kecelakaan."
Jari Kendra yang sejak tadi mengetuk permukaan meja tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat pandangan dan menatap Marco dengan sorot mata tajam.
"Dokter itu ditemukan sudah meninggal," lanjut Marco. "Menurut laporan awal, dia meninggal karena bunuh diri."
Kendra terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah dingin sebelum akhirnya ia menyandarkan punggungnya ke kursi roda.
"Bunuh diri?" gumamnya. "Atau sengaja dibunuh untuk tutup mulut?"
Marco mengangguk pelan. "Saya juga berpikir begitu, Tuan. Ada beberapa hal yang terasa janggal dari laporan tersebut."
"Selidiki lagi," perintah Kendra datar. "Cari tahu siapa orang terakhir yang menghubunginya, ke mana dia pergi sebelum kematiannya, dan apakah ada sesuatu yang terjadi sebelum dokter itu meninggal."
"Baik, Tuan. Saya akan segera menyelidikinya."
Kendra mengangguk singkat. Setelah itu Marco menghampiri kursi rodanya dan mendorongnya keluar dari ruang kerja menuju ruang tamu.
Begitu sampai di sana, Kendra melihat Kirana sedang duduk bersama seorang gadis muda. Gadis itu tidak lain adalah Olivia, sepupunya yang memang memiliki hubungan cukup dekat dengan Kirana.
Olivia langsung berdiri begitu melihat Kendra. "Kakak sepupu, kebetulan sekali! Aku sebenarnya datang untuk mengajak Kak Kirana pergi ke mal."
Kendra melirik Kirana sebentar. Wanita itu hanya duduk tenang sambil memainkan ponselnya.
"Pergilah," jawab Kendra singkat.
Mata Olivia langsung berbinar. "Serius? Kakak sepupu mengizinkan kami pergi?"
"Kalian hanya pergi ke mal, bukan mengambil alih perusahaan."
Olivia tertawa kecil. "Kalau begitu kami berangkat sekarang!"
Kendra kemudian mengambil beberapa kartu dari laci kecil di dekat meja. Ia menyerahkannya kepada Kirana tanpa banyak bicara.
Kirana mengangkat alis saat melihat kartu-kartu tersebut. Ia menatap Kendra seolah bertanya untuk apa semua itu.
"Gunakan kalau membutuhkan sesuatu," kata Kendra santai. "Tidak perlu memikirkan batasnya."
Olivia yang melihat kartu tersebut langsung mendekat dengan mata berbinar-binar. "Kakak ipar Kirana, kau benar-benar beruntung punya suami seperti kakak sepupuku ini."
Ia kemudian merangkul lengan Kirana sambil tertawa. "Ayo kita ambil semuanya! Tenang saja, Kakak sepupu tidak akan bangkrut hanya karena kita membeli seisi mal."
Kirana akhirnya tersenyum kecil. Ia memasukkan kartu-kartu itu ke dalam tasnya, kemudian mengangguk kepada Olivia.
"Kalau begitu, hati-hati," pesan Kendra.
Kirana kembali mengangguk. Tidak lama kemudian, ia dan Olivia meninggalkan kediaman Wu dengan mobil milik Olivia.
Sesampainya di mal, Olivia langsung menarik tangan Kirana menuju berbagai toko. Mereka berkeliling dari satu toko ke toko lainnya hingga beberapa kantong belanja memenuhi tangan Olivia.
"Kak Kirana, yang ini bagus!" seru Olivia sambil menunjukkan sebuah barang.
Kirana memperhatikannya sebentar, lalu mengangguk. Olivia langsung memasukkannya ke keranjang dengan wajah puas.
Setelah puas berbelanja, Olivia mengajak Kirana bermain di Timezone. Keduanya mencoba berbagai permainan dan saling menantang satu sama lain hingga tanpa sadar mereka tertawa lepas.
"Kak Kirana, jangan curang!" protes Olivia ketika Kirana berhasil mendapatkan skor lebih tinggi.
Kirana hanya mengangkat bahu dengan wajah polos. Ia kemudian menunjukkan layar permainan seolah berkata bahwa ia tidak melakukan apa pun.
Olivia mendengus. "Baiklah, kali ini aku kalah. Tapi ronde berikutnya aku pasti menang!"
Kirana tersenyum kecil melihat tingkah adk sepupu Kendra itu yang sangat ceria dan bisa langsung akrab dengannya. Untuk sesaat, semua persoalan yang sedang terjadi terasa jauh dari pikirannya.
Setelah cukup lelah bermain, keduanya memutuskan untuk makan di salah satu restoran di dalam mal. Mereka berjalan berdampingan sambil membicarakan berbagai hal ringan hingga tanpa sengaja berpapasan dengan dua orang yang sangat Kirana kenal.
Shania dan Julian baru saja keluar dari sebuah toko pakaian. Di tangan Shania terdapat beberapa kantong belanja, sementara Julian berjalan di sampingnya.
Begitu melihat Kirana, senyum manis langsung muncul di wajah Shania. "Kak Kirana, ternyata kau juga di sini."
Shania kemudian melirik Olivia sebelum kembali menatap Kirana. "Kebetulan sekali. Aku dan Julian baru saja selesai fitting baju pengantin karena pernikahan kami sebentar lagi."
Kirana sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Wajahnya tetap datar, bahkan ia hanya melirik Shania sekilas sebelum menarik tangan Olivia.
"Ayo, Kak," kata Olivia.
Kirana mengangguk dan langsung membawa Olivia masuk ke restoran tanpa menanggapi ucapan Shania.
Shania berdiri terpaku beberapa saat. Senyum di wajahnya perlahan menghilang karena sikap Kirana yang sama sekali tidak terpengaruh.
"Dia masih saja seperti itu," gumam Shania kesal.
Julian tidak menjawab. Pandangannya justru mengikuti Kirana yang semakin jauh.
Sesampainya di meja, Olivia segera memesan makanan. Setelah itu Kirana berdiri dan memberi isyarat bahwa dirinya ingin pergi ke toilet terlebih dahulu.
"Pergilah, Kak. Aku tunggu di sini," ujar Olivia.
Kirana mengangguk lalu berjalan menuju toilet. Lorong menuju toilet cukup sepi karena sebagian besar pengunjung berada di area restoran.
Setelah selesai, Kirana keluar dari toilet dan berjalan kembali menuju restoran. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya.
Kirana terkejut ketika tubuhnya terdorong hingga membentur dinding. Ia segera mengangkat wajah dan mendapati Julian berdiri di hadapannya.
Tatapan pria itu membuat wajah Kirana seketika berubah dingin. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi Julian justru menahannya.
"Hust! Jangan ribut," bisik Julian. "Aku hanya ingin bicara."
Kirana menatapnya tajam. Tangannya kembali berusaha dilepaskan, tetapi Julian malah tersenyum seolah merasa berada di atas angin.
"Aku sebenarnya kasihan melihatmu," ujar Julian. "Kau pasti tidak bahagia tinggal bersama Kendra."
Kirana menyipitkan mata. Ia mengambil ponselnya, tetapi Julian mencoba menghalanginya.
"Untuk apa kau repot-repot dengan pria seperti dia? Kau pasti tidak puas dengan pria cacat sepertinya," lanjut Julian. "Bagaimana kalau kau menjadi simpananku? Shania tidak perlu tahu, kau tenang saja."
Tatapan Kirana semakin dingin.
"Aku bisa memberikan banyak hal kepadamu," kata Julian dengan senyum percaya diri. "Kau tidak perlu khawatir soal kehidupanmu. Selama kau mau menurutiku, semuanya akan mudah."
Julian sejak pertama kali melihat Kirana memang sudah tertarik pada kecantikannya. Karena selama ini Kirana dikenal sebagai perempuan bisu, Julian mengira wanita itu tidak akan mampu melawan atau berbuat banyak terhadap dirinya.
Tapi Julian melakukan kesalahan besar.
Kirana menatapnya beberapa detik sebelum tiba-tiba melepaskan tangannya dengan gerakan cepat. Ia memberikan serangan dengan lututnya lamgsung pada inti tubuhnya yang membuat Julian kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa langkah
Dugh!
"Akh!" Julian meringis sambil memegangi tubuhnya.
Kirana tidak memberinya kesempatan untuk mendekat lagi. Ia melayangkan satu pukulan terukur ke bagian perut Julian hingga pria itu kembali mundur dengan wajah menahan sakit.
Bugh!
"Akkhh!" erang Julian lamgsung tersungkur di lantai.
Kirana berdiri tegak. Ia kemudian mengeluarkan sebuah jarum dari tempat kecil yang selalu dibawanya.
Julian tidak memperhatikan jarum itu karena ia hanya fokus pada inti tubuhnya yang benar-benar sakit luar biasa.
Kirana memutar jarum itu di antara jemarinya. Lalu dengan cepat ia melempar jarum itu pada selangkangan Julian semakin membuat pria itu menjerit lalu tak lama pingsan.
"Cih, dasar pria mesum! Rasakan akibatnya, kau tidak akan bisa punya kemampuan lagi," batin Kirana.
Setelah itu, ia pergi begitu saja meninggalkan Julian yang terkapar.
🤭🤭🤭🤭