Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan Olivia
sepulang Olivia dari bali.
"enak kamu ya vi... disini hanya dibuat sampingan aja" cecar Mely
"kenapa kamu bicara seperti itu mel?" ujang membela Olivia "kalau kamu ingin seperti Olivia ya kamu juga cari job sana"
"ada apa ini?" dimas datang
"ini lho mas, Mely protes Olivia dapat job diluar terus." ucap ujang.
"tenang aja mel... aku berniat untuk berhenti dari cafe ini" ucap Olivia yang sudah merasa muak dengan tingkah laku Mely.
"kenapa jadi seperti ini?" ucap dimas
"aku juga ndak enak sama kamu mas, aku jarang masuk kerja juga"
"ndak bisa Olivia... kamu jangan keluar dari sini" dimas melarang Olivia untuk berhenti.
"maaf mas... untuk sekarang aku harus keluar dari cafe ini"
"ikut aku vi" dimas mengajak Olivia keruang kerja.
"kamu sudah ndak suka bekerja disini vi?" tanya dimas
"aku suka disini mas, jadwal ku semakin padat mas. aku juga ndak enak sama teman-teman yang lain"
"ayo lah vi... pikirkan ulang" dimas gelisah dengan keputusan Olivia "atau kamu menghindari ku?"
selain jadwal Olivia semakin padat, Olivia juga tidak ingin melihat dimas dan dinda yang sering bersama. ada rasa sakit yang dia rasakan di dadanya.
"maaf mas. aku serius untuk keluar dari cafe senja" ucap Olivia tegas.
keputusan bulat Olivia untuk keluar dari cafe senja. Olivia keluar dari ruang kerja dimas. malam itu adalah malam terakhir dia perfome di cafe senja.
"kamu jadi keluar vi?" tanya kakok.
"iya mas. malam ini terakhir aku disini" ucap Olivia sambil bersiap untuk naik ke atas panggung.
Olivia mempersembahkan penampilannya yang terakhir di cafe itu.
Di belakang stage terjadi ketegangan antara Mely dan ujang.
"kenapa kamu seperti itu Mel?"
"seperti itu bagaimana maksudmu jang? wajarkan aku seperti itu, Olivia sering banget dapat job diluar. aku yang gantikan di terus"
"sekarang dia mau keluar. puas kamu?" ujang marah kepada Mely.
"kenapa? kamu ndak bisa dekati dia lagi? jangan mimpi kamu jang" ucap Mely dengan nada mengejek ujang.
"apa maksud kamu mel?"
"kamu lihat ... kamu seperti ini. sedangkan Olivia semakin terkenal. apa mungkin dia mau sama kamu?"
"jangan keterlaluan kamu mel" ujang mulai terpancing emosi.
"heyy... ada apa ini?" beberapa rekan mereka mendengar perdebatan Mely dan ujang.
"tau itu ujang... masih berharap ke Olivia"
Olivia yang tak tau menau dengan permasalahan mereka sekali terkejut.
"aku? kenapa dengan aku?" tanya Olivia bingung
"tanya aja ke ujang vi... "
"kenapa mas? aku ndak tau lho kalian ini ada masalah apa"
"ndak apa apa-apa vi... Mely aja yang merasa tersaingi denganmu"
"heyy... kamu itu yang ndak bisa mendapatkan cintanya Olivia" nada Mely meninggi
"sudah... sudah... sepertinya memang aku harus segera pergi dari sini." ucap Olivia sambil mengambil tasnya.
"mas kakok, mas ujang, Widi, mas Seto. dan Mely aku minta maaf jika aku pernah melakukan salah kepada kalian semua. terimakasih sudah bekerjasama dengan ku selama ini"
Olivia berpamitan kepada teman-temannya.
pintu ruang kerja dimas di ketuk.
"masuk" ucap dimas "kamu vi... masuk"
Olivia masuk kedalam ruang kerja dimas.
"aku pamit mas, kontrakku belum selesai. katakan saja berapa jumlah yang harus aku bayar"
"kenapa seperti ini sih vi... aku harap kamu tetap disini"
"maaf mas. kali ini aku tidak bisa"
dimas menghampiri Olivia, membelai wajah cantik itu. entah apa yang Olivia rasakan, kali ini tidak ada desiran aneh seperti biasanya.
"kamu sekarang beda vi" ucap dimas
"aku tetap sama mas. hanya sekarang status kamu berbeda, sebentar lagi kamu akan menjadi milik orang lain"
"jadi ini alasan kamu untuk pergi dari sini?"
"bukan mas... tapi salah satunya juga itu. jujur aku ndak kuat lihat kamu dan dinda bersama setiap hari. tapi aku bisa apa mas?"
"maafkan aku sayang. bukan maksud ku membuatmu sakit hati seperti ini"
"itu menjadi pilihanmu mas"
"jangan tinggalkan aku vi. aku mohon" dimas memeluk tubuh Olivia.
"iya mas"