Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Hilang
Waktu adalah sungai yang terus mengalir tanpa peduli pada darah atau air mata yang pernah tumpah di tepiannya. Tiga tahun telah berlalu sejak hari di mana Juwita melempar blazer mewahnya ke dalam tempat sampah di luar gerbang SMA Pelita Bangsa dan menghilang di balik tirai hujan Jakarta.
Sejak sore kelam itu, nama Juwita seolah dihapus dari muka bumi. Rumah gubuk di bantaran rel kereta api telah diratakan dengan tanah oleh proyek perluasan stasiun, menyisakan puing-puing beton kusam yang tak berbekas. Di dalam penjara wanita kelas dua, Dara Puspita menjalani hari-harinya dalam kesendirian yang bisu; tidak ada catatan kunjungan atas nama Juwita selama tiga tahun terakhir, membuat orang-orang berspekulasi bahwa gadis jenius yang malang itu telah mati kelaparan di jalanan atau hanyut ditelan kerasnya ibu kota.
Sementara itu, di puncak dunia bisnis negeri ini, langit tampak begitu cerah bagi Aditama Group.
Tanpa ada lagi ancaman kebocoran data atau gangguan dari gadis bantaran rel, Riko Aditama melipatgandakan kekuasaannya. Gurita bisnisnya merambah hingga proyek-proyek infrastruktur strategis nasional, menyerap dana triliunan rupiah dan menyuap pejabat-pejabat tinggi negara untuk melicinkan jalan. Nama Aditama Group menjadi simbol kesuksesan yang tak tersentuh oleh hukum.
Malam itu, ballroom megah hotel bintang lima di kawasan elit Jakarta Selatan disulap menjadi singgasana kemewahan yang menyilaukan mata. Ratusan lampu kristal tergantung di langit-langit berukir emas, memantulkan cahaya bergelimang pada deretan gaun malam bernilai puluhan juta dan setelan jas buatan penjahit terbaik Eropa. Pesta terbesar dekade ini tengah berlangsung: Malam Penobatan dan Pelantikan Kevin Aditama sebagai Chief Executive Officer (CEO) Utama Aditama Group.
Riko Aditama berdiri di samping panggung utama, mengenakan jas tuxedo kustom berwarna hitam pekat. Meskipun garis-garis penuaan mulai mengukir wajahnya dan beberapa helai uban menghiasi rambutnya, sorot mata pria paruh baya itu masih memancarkan keangkuhan yang luar biasa. Di sebelahnya, Kevin Aditama—kini berusia dua puluh satu tahun—berdiri dengan postur tegap. Wajahnya yang tampan terawat dipadukan dengan senyuman percaya diri yang dibuat-buat, persis melambangkan sosok pangeran bisnis muda yang dipuja oleh media massa.
"Perhatikan baik-baik ruangan ini, Kevin," bisik Riko dengan suara rendah di tengah gemuruh alunan musik piano klasik. "Semua orang berkuasa di negeri ini—menteri, konglomerat, jenderal, hingga para pemilik media—mereka semua berdiri dan menunduk padamu malam ini. Inilah kekuasaan sejati. Dulu, gadis bodoh itu berpikir bisa meruntuhkan ini semua hanya dengan baris-baris kode komputer."
Kevin tertawa kecil, mengusap jam tangan emasnya yang bernilai miliaran rupiah. "Juwita? Ah, Papa masih mengingat nama bangkai itu? Dia mungkin sudah membusuk di selokan suatu tempat, Pa. Tiga tahun tanpa kabar... dia cuma sampah masa lalu yang sudah kita sapu bersih."
"Benar," jawab Riko, menyunggingkan senyum puas. "Dia hanyalah serangga kecil yang terlindas oleh roda zaman. Dan malam ini, mahkota ini resmi menjadi milikmu."
Tepat pukul sembilan malam, pembawa acara terkenal melangkah ke tengah panggung, menyambut sorak-sorai dan tepuk tangan dari ratusan tamu undangan bergengsi.
"Hadirin yang terhormat, tiba saatnya kita menyaksikan momen bersejarah dalam dunia industri tanah air!" seru pembawa suara dengan nada membahana. "Penyerahan secara resmi tongkat kepemimpinan Aditama Group dari Bapak Riko Aditama kepada penerus tunggalnya... Bapak Kevin Aditama!"
Gemuruh tepuk tangan membahana memecah ruangan. Kilatan puluhan lampu blitz kamera wartawan dari berbagai media nasional dan internasional menyilaukan panggung utama. Kevin melangkah ke depan podium, menerima pin emas kepemimpinan yang disematkan langsung oleh Riko di dada kirinya.
Di layar LED raksasa berukuran puluhan meter yang terpasang di belakang panggung, grafik pertumbuhan saham Aditama Group ditampilkan, mencapai angka tertinggi dalam sejarah perusahaan. Kevin memegang mikrofon, menyesuaikan suaranya untuk memberikan pidato kemenangan yang telah ia latih selama berbulan-bulan.
"Terima kasih atas kepercayaan yang sangat besar ini," puji Kevin dengan gaya retorika yang anggun di hadapan para pejabat dan pebisnis terkemuka. "Malam ini adalah bukti bahwa integritas, kerja keras, dan visi yang kuat akan selalu membawa kemenangan di atas segalanya. Di bawah kepemimpinan saya, Aditama Group tidak hanya akan menguasai pasar nasional, tetapi juga menembus panggung global melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan terbaru kami yang bernama Aegis-X..."
Kevin mengangkat tangannya ke udara, memberikan sinyal kepada operator teknis di sudut ruangan untuk menayangkan video demonstrasi sistem Aegis-X—sebuah proyek sistem keamanan siber terpadu bernilai triliunan rupiah yang rencananya akan ditandatangani bersama kementerian pertahanan esok hari.
Layar LED raksasa berkedip pelan, mematikan grafik saham dan bersiap menayangkan pemutaran video promosi.
Namun, alih-alih menampilkan logo megah Aditama Group dan animasi canggih sistem Aegis-X, layar raksasa itu mendadak padam total.
Bzzzt... Bzzzt...
Suara dengung frekuensi tinggi yang sangat memekakkan telinga mendadak terpancar dari seluruh pengeras suara di dalam ballroom. Beberapa tamu refleks menutup telinga mereka, sementara Kevin terhenti di tengah-tengah pidatunya, mengerutkan kening dan melirik bingung ke arah teknisi di pojok panggung.
"Ada apa dengan sistemnya?!" bentak Riko pelan dari samping panggung pada kepala tim IT-nya. "Cepat perbaiki!"
"S-saya tidak tahu, Pak! Sinyal server pusat kita mendadak terputus dari luar!" jawab teknisi itu panik sambil menekan-nekan tombol di laptop kendalinya yang mendadak terkunci.
Tiba-tiba, layar LED raksasa di belakang Kevin kembali menyala dengan kilatan cahaya putih yang menyilaukan.
Suasana ballroom yang tadinya ramai oleh bisik-bisik kebingungan seketika berubah menjadi sunyi senyap bagaikan kuburan.
Di atas layar LED raksasa seluas puluhan meter itu, tidak ada logo Aditama Group. Yang terpampang di sana adalah sebuah dokumen rekam medis tua bersumber dari rumah sakit bersalin dua puluh tahun lalu, berdampingan dengan surat pernyataan pengusiran bermeterai atas nama Dara Puspita dan Riko Aditama.
Tidak berhenti di situ. Gambar di layar bergeser secara otomatis dengan kecepatan kilat, menampilkan ratusan lembar salinan rekaman transaksi rekening rahasia luar negeri, sertifikat kepemilikan aset bodong, hingga bukti rekaman percakapan audio digital yang jernih—rekaman suara Riko Aditama saat memerintahkan suap kepada hakim pengadilan negeri tiga tahun lalu!
"A-apa-apaan ini?!" teriak Riko histeris, wajahnya seketika pucat pasi bagaikan mayat. "Matikan layarnya! Cabut kabel listriknya sekarang!"
Para pengawal keamanan berlarian panik menuju belakang panggung, namun seluruh tombol daya di dalam ballroom terkunci total. Lampu-lampu kristal mulai berkedip liar, sementara jaringan Wi-Fi dan sinyal telepon seluruh tamu di dalam ruangan mendadak teretas secara serentak. Ponsel ratusan tamu undangan berdering bersamaan, menerima salinan dokumen kejahatan Riko Aditama secara otomatis melalui pesan terenkripsi.
Para wartawan di barisan depan tidak membuang waktu. Kamera-kamera mereka mengarah liar ke layar raksasa dan wajah Riko serta Kevin yang kini gemetar hebat di atas panggung.
Di layar LED yang berukuran raksasa itu, tampilan dokumen hukum mendadak memudar. Gambar berganti menampilkan sebuah ruangan serba hitam yang sunyi.
Di tengah layar, sesosok wanita muda duduk di balik meja kerja bernuansa futuristik. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang sangat anggun. Rambut hitam panjangnya terurai rapi, dan sepasang matanya—yang dulu penuh dengan keluguan seorang anak sekolah—kini memancarkan aura dingin, tajam, dan mematikan bagaikan mata pisaunya seorang algojo.
Tiga tahun telah membentuk Juwita menjadi sosok yang sama sekali tak terjangkau. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis miskin dari bantaran rel kereta api. Yang berdiri di balik layar itu adalah seorang wanita yang telah menguasai kegelapan, muncul kembali dari kedalaman abu kehancuran untuk menagih janji darah.
Juwita menatap lurus ke arah kamera, pandangannya seolah menembus layar dan mengunci tatapan Riko serta Kevin yang berdiri mematung di atas panggung.
Juwita tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat dingin, halus, namun sanggup membekukan seluruh aliran darah Riko Aditama.
"Selamat malam, Bapak Riko Aditama... dan Kakakku tersayang, Kevin," suara Juwita bergema jernih melalui seluruh sistem pengeras suara ballroom, stabil tanpa getaran sedikit pun.
"Selamat atas penobatan mahkota pangeranmu, Kevin. Maafkan aku karena tidak bisa hadir membawakan bunga secara langsung... tapi kuharap, hadiah pembuka yang kukirimkan ke layar itu cukup berkesan untuk merayakan awal dari kehancuran kalian."
Seluruh tamu di dalam ballroom terperangah kaku. Kevin melangkah mundur dua langkah dengan kaki gemetar, matanya terbelalak horor menatap layar. "J-Juwita...?! Kau... kau masih hidup?!"
Juwita sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah kamera di layar, matanya menyipit penuh kilatan dendam yang telah matang selama seribu hari.
"Aku tidak pernah mati, Kevin," bisik Juwita pelan, namun suaranya terdengar bagaikan vonis kematian yang membelah malam. "Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat... saat kalian berada di puncak tertinggi, agar rasa sakit saat kalian kujatuhkan nanti terasa jauh lebih sempurna."
Layar LED raksasa itu seketika padam menjadi hitam pekat, menyisakan kegelapan dan kepanikan luar biasa yang meledak di dalam ballroom megah tersebut. Kebangkitan sang ratu yang hilang telah dimulai, dan panggung perburuan bagi keluarga Aditama kini resmi dibuka.