NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5 — Minggu-Minggu di Parit

Gelombang kedua tidak pernah datang malam itu.

Ardan berjaga sampai langit mulai memucat di timur, matanya perih karena kurang tidur, tubuhnya kaku oleh dingin dan ketegangan yang tidak kunjung reda.

Ketika Resimen Ketujuh akhirnya datang menggantikan mereka, ia nyaris tidak mampu berdiri tegak saat berjalan kembali ke tenda.

Tapi sebelum tidur, ada satu hal yang harus dilakukan dulu.

Pemakaman lapangan diadakan saat fajar, sederhana dan cepat, karena perang tidak memberi banyak waktu untuk berkabung.

Para prajurit yang gugur malam itu dibaringkan berjajar di atas kain putih, dan seorang pendeta lapangan membacakan doa singkat untuk masing-masing.

Ardan berdiri di barisan belakang bersama Tobin dan Kael, menyaksikan tubuh Pell dibungkus kain dan dibaringkan ke dalam lubang bersama dua prajurit lain dari resimen mereka.

Tidak ada peti mati.

Tidak ada nisan yang layak, hanya tumpukan batu kecil yang akan ditinggalkan sebagai penanda sementara.

"Aku bahkan tidak tahu nama belakangnya," gumam Ardan.

"Pell Harwick," jawab seseorang di sampingnya. Ardan menoleh dan mendapati itu adalah Farin, wajahnya masih kotor oleh lumpur semalam.

"Kami satu kampung. Ayahnya tukang sepatu."

"Kau tidak pernah bilang."

"Kau tidak pernah tanya." Farin tidak terdengar marah, hanya lelah. "Tidak apa. Sekarang kau tahu."

Ketika pendeta selesai membacakan doa untuk Pell, ia menyebutkan nama lengkapnya. *Pell Harwick, dari Desa Millbrook, anak dari seorang tukang sepatu, gugur membela Sungai Aldis.* Kalimat singkat, tapi entah kenapa membuat dada Ardan terasa sesak.

Nama membuatnya nyata. Nama membuatnya berarti.

---

Setelah pemakaman, mereka diberi waktu istirahat sampai sore.

Ardan berbaring di tikarnya tapi tidak bisa tidur, pikirannya masih diputar oleh kejadian semalam: wajah prajurit Ravharn yang ia bunuh, teriakan dalam kegelapan, tubuh Pell yang tidak bergerak.

"Kau tidak bisa tidur juga?" Kael duduk di sampingnya, memainkan tali busurnya tanpa benar-benar memperbaikinya.

"Setiap kali aku menutup mata, aku melihatnya lagi."

"Aku juga." Kael menghela napas panjang. "Aku menembak tiga orang semalam. Aku menghitungnya, entah kenapa. Mungkin supaya aku tidak melupakannya begitu saja."

"Apa itu benar? Menghitung mereka?"

"Aku tidak tahu apa yang benar lagi, Ardan." Kael menatap langit-langit tenda.

"Sebelum ini, aku pikir aku tahu perbedaan antara benar dan salah. Sekarang aku hanya tahu perbedaan antara hidup dan mati, dan aku harus memilih pihak mana yang ingin kubuat tetap hidup."

Tobin, yang duduk di sisi lain, akhirnya bicara. Suaranya lebih pelan dari biasa. "Aku terus memikirkan wajah orang yang kubunuh semalam. Dia terlihat seperti Kornel. Umurnya mungkin sama."

Tidak ada yang menjawab. Beberapa hal tidak butuh jawaban, hanya butuh didengar.

---

Sore itu, Sersan Halric mengumpulkan regu mereka untuk evaluasi singkat.

"Kalian bertahan," katanya, berjalan di depan mereka yang berbaris lelah.

"Itu lebih dari yang bisa dikatakan banyak resimen di malam pertama mereka. Tapi jangan biarkan ini membuat kalian sombong. Ravharn akan kembali, dan mereka akan belajar dari kesalahan mereka semalam."

Ia berhenti di depan Ardan. "Kau. Petani dengan sabit."

"Ardan, Sersan."

"Aku melihat gerakanmu semalam. Kau tidak menyerang seperti yang diajarkan Brogan. Kau menyerang seperti memotong gandum." Halric mengerutkan kening, seperti sedang menimbang sesuatu.

"Aneh, tapi berhasil. Kau membaca gerakan lawan sebelum mereka bergerak."

"Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, Sersan. Tubuh saya hanya bergerak sendiri."

"Itu yang disebut insting." Halric mengangguk pelan. "Beberapa orang punya, beberapa tidak. Jangan sia-siakan yang kau punya."

Ia melanjutkan berjalan, memberi komentar singkat pada beberapa prajurit lain, sebelum akhirnya membubarkan mereka.

Kael menyenggol bahu Ardan begitu Halric pergi. "Kau dengar itu? Sersan galak itu memujimu."

"Aku tidak yakin itu pujian."

"Dari Halric, itu setara medali kehormatan." Kael menyeringai, meski matanya masih menyimpan kelelahan dari semalam.

"Lihat, kan? Kau punya bakat alami untuk hal ini. Menakutkan, tapi juga sedikit mengagumkan."

"Aku tidak ingin punya bakat untuk ini."

Senyum Kael memudar sedikit. "Aku tahu. Tidak ada dari kita yang ingin."

---

Malam itu, ketika mereka kembali bertugas jaga di parit, suasana lebih tenang dibanding malam sebelumnya.

Sungai mengalir tenang di bawah cahaya bulan, dan tidak ada tanda-tanda perahu di kegelapan.

Ardan berdiri berjaga bersama Farin, keduanya diam untuk waktu yang lama sebelum Farin akhirnya bicara.

"Kau tahu kenapa aku takut laba-laba tapi tidak takut perang?"

Ardan menoleh, sedikit bingung dengan pertanyaan mendadak itu. "Kenapa?"

"Karena laba-laba datang diam-diam, tanpa peringatan. Kau tidak pernah tahu kapan mereka akan muncul." Farin menatap ke seberang sungai.

"Perang setidaknya memberimu peluit tiga kali. Setidaknya kau tahu kapan harus bersiap."

"Itu logika yang aneh."

"Aku memang aneh." Farin tersenyum tipis, ekspresi langka di wajahnya yang biasanya keras.

"Tapi dengar, Ardan. Aku melihatmu semalam. Kau bergerak untuk melindungi orang lain, bukan hanya dirimu sendiri. Aku juga melihatmu berlutut di samping Pell tadi pagi, padahal kalian tidak terlalu dekat."

"Kenapa itu penting?"

"Karena itu artinya kau masih manusia." Farin menepuk bahunya sekali, kikuk tapi tulus.

"Perang ini akan mencoba mengambil itu darimu, sedikit demi sedikit. Jangan biarkan."

Ardan menatap sungai yang mengalir tenang di depan mereka, memikirkan kata-kata itu.

Ia teringat wajah prajurit muda di Elar yang memanggil ibunya.

Ia teringat Pell yang suka bersiul.

Ia teringat kata-kata Ayah di beranda, tentang dunia yang tidak selalu ramah pada orang yang percaya begitu saja.

Mungkin dunia memang tidak ramah. Tapi mungkin, di tengah semua itu, masih ada ruang untuk tetap menjadi manusia.

"Aku akan berusaha," katanya akhirnya.

Farin mengangguk, dan mereka kembali berjaga dalam diam, dua bayangan kecil di tepi sungai yang memisahkan dua dunia yang sedang berperang, menunggu fajar berikutnya yang belum tentu membawa kedamaian.

Waktu di garis depan berjalan dengan cara yang aneh.

Hari-hari bisa terasa seperti bertahun-tahun ketika serangan datang, penuh teriakan dan kekacauan yang meregangkan setiap detik menjadi selamanya.

Tapi di antara serangan-serangan itu, waktu justru mengalir cepat dan datar, satu hari yang membosankan menyatu dengan hari berikutnya sampai Ardan kehilangan hitungan sudah berapa lama mereka berada di Sungai Aldis.

Tiga minggu, kata Tobin suatu pagi, mencoretkan garis di sepotong kayu yang ia jadikan kalender darurat.

Tiga minggu sejak fajar pertama itu.

Sejak itu, ada empat serangan lagi dari Ravharn, dua di antaranya cukup serius hingga menembus parit terluar sebelum akhirnya dipukul mundur.

Resimen Ketiga kehilangan dua puluh tujuh orang.

Ardan mengenal delapan di antaranya cukup untuk mengingat nama mereka.

Rutinitas terbentuk dengan sendirinya, seperti tubuh manusia yang belajar bertahan dalam kondisi apa pun.

Bangun, berjaga, makan seadanya, berlatih ketika ada waktu, tidur sebentar, berjaga lagi.

Di antara semua itu, momen-momen kecil menjadi berharga dengan cara yang tidak pernah Ardan bayangkan sebelumnya.

---

Suatu sore yang tenang, Lena datang ke sektor mereka.

Ardan pertama kali melihatnya beberapa hari sebelumnya, sekilas saat ia mengantar seorang prajurit terluka ke tenda perawatan.

Perempuan muda itu bekerja dengan gerakan cepat dan pasti, tangannya kotor oleh darah tapi wajahnya tenang, seolah tidak ada yang bisa mengguncangnya.

Kali ini, ia datang untuk memeriksa luka kecil di lengan Tobin, bekas goresan pedang dari serangan beberapa hari lalu yang mulai memerah.

"Ini bisa infeksi kalau tidak dibersihkan dengan benar," katanya, membuka perban Tobin dengan hati-hati.

Suaranya lembut tapi tegas, tipe suara yang membuat orang otomatis percaya padanya.

"Sudah kubilang tidak apa-apa," gerutu Tobin, meski wajahnya sedikit memerah entah karena luka atau karena kehadiran Lena.

"Dan aku bilang kau salah." Lena membersihkan luka itu dengan cairan yang membuat Tobin mendesis kesakitan.

"Prajurit selalu berpikir mereka kebal. Kalian bukan kebal, kalian hanya keras kepala."

Kael, yang duduk di dekatnya sambil memperbaiki busur, tertawa kecil. "Dia benar, Tobin."

"Diam kau."

Lena mengikat perban baru dengan gerakan efisien, lalu menatap ketiganya bergantian. "Kalian dari resimen yang sama sejak Karhold?"

"Sejak hari pertama," jawab Kael bangga, seolah itu prestasi besar.

"Jarang melihat tiga orang bertahan bersama selama ini." Ada sesuatu di mata Lena, pengakuan diam atas apa yang tidak terucapkan tentang berapa banyak ikatan seperti itu yang telah ia lihat putus. "Jaga itu. Ikatan seperti itu langka di sini."

Ia berdiri untuk pergi, tapi sebelum melangkah, ia menoleh pada Ardan. "Kau yang namanya Ardan, kan? Yang bergerak seperti memotong gandum?"

Ardan terkejut. "Bagaimana kau tahu?"

"Berita menyebar cepat di sini." Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di wajah Lena.

"Sersan Halric membicarakanmu di tenda perawatan, mengomel tentang rekrut aneh yang bertarung seperti petani tapi bergerak seperti veteran."

"Itu bukan pujian."

"Dari Halric, itu hampir sebuah puisi cinta." Lena tertawa kecil, lalu berbalik dan berjalan menuju tenda berikutnya, meninggalkan mereka bertiga dengan suasana yang sedikit lebih ringan dari sebelumnya.

---

Malam itu, ketika giliran jaga mereka tiba, Kael menggoda Tobin tanpa henti.

"Kau menyukainya."

"Aku tidak—diam, Kael."

"Wajahmu merah seperti tomat matang saat dia membersihkan lukamu."

"Itu karena cairan itu perih!"

"Tentu saja." Kael menyeringai lebar, senyum jahil yang sudah lama tidak Ardan lihat sejak malam pertama mereka di parit. "Aku hanya bilang, kalau kau butuh alasan untuk terluka lagi supaya dia datang memeriksamu..."

"Aku akan mendorongmu ke sungai."

Ardan tertawa, suara yang terasa asing tapi menyenangkan keluar dari tenggorokannya.

Sudah lama sejak ia tertawa sepenuh ini.

Ia menyadari, dengan sedikit terkejut, bahwa di tengah semua kengerian yang mereka alami, masih ada ruang untuk momen-momen seperti ini—canda kecil, godaan konyol, kehangatan persahabatan yang tidak bisa direbut oleh perang.

"Kau tahu," kata Tobin setelah tawa mereka mereda, menatap ke seberang sungai yang gelap, "aku hampir lupa bagaimana rasanya tertawa seperti ini."

"Aku juga," gumam Ardan.

"Jangan lupakan itu," kata Kael, nadanya tiba-tiba serius. "Itu yang membedakan kita dari mereka yang sudah mati di dalam meski masih bernapas. Aku sudah melihatnya, prajurit yang sudah berhenti merasakan apa pun. Mereka yang paling berbahaya, karena mereka tidak lagi punya alasan untuk berhati-hati."

---

Beberapa hari kemudian, kabar datang bahwa bala bantuan akhirnya tiba dari selatan—dua resimen baru untuk memperkuat pertahanan Sungai Aldis.

Dengan tambahan pasukan, giliran jaga menjadi lebih longgar, memberi mereka waktu istirahat lebih banyak.

Ardan menghabiskan waktu luang itu dengan berlatih sendiri, mengulangi gerakan tombak yang diajarkan Brogan sampai ototnya hafal tanpa perlu berpikir.

Ia juga mulai berlatih dengan pedang pendek yang ia temukan dari perlengkapan seorang prajurit yang gugur, senjata cadangan untuk situasi ketika tombak terlalu panjang untuk pertarungan jarak dekat.

Suatu sore, Kapten Orwin sendiri lewat dan berhenti mengamatinya berlatih.

"Kau serius soal ini," katanya, bukan pertanyaan.

"Saya ingin tetap hidup, Kapten. Dan saya ingin orang-orang di sekitar saya juga tetap hidup."

Orwin mengangguk pelan, matanya menilai dengan cara yang membuat Ardan merasa seperti sedang diperiksa lebih dari sekadar gerakan fisiknya.

"Halric benar tentangmu. Kau punya sesuatu yang tidak bisa diajarkan." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti sejenak. "Terus berlatih, Prajurit. Perang ini masih panjang, dan aku punya firasat kau akan membutuhkan setiap keterampilan yang bisa kau kumpulkan."

Kata-kata itu terngiang di kepala Ardan sepanjang malam.

*Perang ini masih panjang.* Ia menatap sabit tua yang masih tersimpan di antara barang-barangnya, benda yang mengingatkannya pada ladang gandum, pada Nira yang tersenyum, pada kehidupan yang dulu terasa begitu sederhana.

Ia tidak tahu berapa lama lagi perang ini akan berlangsung.

Tapi ia tahu satu hal dengan pasti: ia tidak akan menghadapinya sendirian, dan itu, untuk saat ini, sudah cukup untuk membuatnya terus melangkah.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!