NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Dukungan ibu Mertua

​Hari berganti... Seperti biasa suasana ruang eksekutif tampak tenang. Nayla sedang sibuk memeriksa beberapa berkas laporan di samping meja Adrian. Meski pandangannya tertuju pada lembaran kertas di tangannya, pikiran Nayla sebenarnya melayang jauh.

​Ia berniat meminta izin kepada suaminya untuk menghadiri acara Grand Opening kafe milik Farhan besok. Namun, mengingat betapa besarnya rasa cemburu Adrian pada Farhan, Nayla jadi sedikit ragu dan takut memicu kesalahpahaman baru.

​Adrian yang selalu peka dengan gerak-gerik istrinya perlahan menghentikan ketukan jemarinya di atas papan ketik. Pria itu mendongak, menatap lembut ke arah Nayla.

​"Sayang... ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Adrian dengan suara rendah yang menenangkan.

​Nayla tersentak pelan, lalu perlahan menutup map folder di tangannya. Ia memberanikan diri menatap mata suaminya.

​"M-Mas... besok itu acara Grand Opening kafe barunya Kak Farhan..." tutur Nayla berhati-hati. "Apa Mas mau datang ke sana bersamaku?"

​Mendengar nama pria itu kembali disebut, raut wajah Adrian sempat berubah kaku sejenak. Namun, karena Nayla secara terbuka berniat mengikutsertakan dan mengajaknya secara langsung, rasa cemburu Adrian melunak. Pria itu mencoba bersikap santai.

​"Maaf ya, Sayang... Besok aku tidak bisa ikut," sahut Adrian lembut. "Besok aku harus bertemu dengan pemilik lahan yang akan kita beli."

​Nayla langsung merespons cepat. "Kalau begitu aku tidak usah pergi saja deh, Mas... Aku menemani Mas kerja saja besok."

​Adrian tersenyum teduh, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak usah, Sayang. Kamu pergi saja bersama Mira, nikmati waktumu di sana. Aku percaya sepenuhnya padamu."

​Nayla berpikir sejenak, mencari ide agar suaminya tetap merasa tenang. Sebuah pemikiran melintas di kepalanya.

​"Kalau begitu... bagaimana kalau aku mengajak Mama Ratih sekalian? Semoga Mama tidak sibuk besok," usul Nayla.

​Mendengar ide cerdas istrinya yang begitu menjaga perasaannya, binar gembira seketika terpancar di mata Adrian. "Boleh sekali, Sayang. Coba kamu hubungi Mama sekarang."

​Nayla segera merogoh ponselnya dan menekan tombol panggilan ke nomor ibu mertuanya. Hanya dalam dua kali nada dering, sambungan langsung terhubung.

​"Halo, Assalamu'alaikum, Ma..." sapa Nayla ramah.

​"Wa'alaikumsalam, menantu Mama yang paling cantik! Ada apa, Sayang?" sahut suara Bu Ratih dari seberang telepon dengan nada begitu hangat dan ceria.

​"Ma... besok ada waktu luang tidak? Nayla ingin mengajak Mama pergi ke acara pembukaan kafe baru milik teman Nayla," tutur Nayla mantap.

​"Ada, Sayang! Ada banget! Buat kamu, Mama selalu punya waktu luang!" jawab Bu Ratih tanpa ragu sedikit pun.

​Nayla tersenyum lega. "Ya sudah, besok Nayla jemput ke rumah ya, Ma."

​"Iya, Nak... Mama tunggu besok ya."

​Tut.

​Sambungan telepon terputus. Nayla menatap suaminya dengan mata berbinar. "Mama bisa, Mas!"

​Adrian yang gemas melihat wajah gembira istrinya langsung bangkit dari kursi kerjanya. Pria itu merentangkan kedua tangannya, hendak menarik Nayla ke dalam dekapan hangatnya.

​Namun, tepat saat jarak mereka tinggal beberapa senti dan lengan Adrian hampir melingkari pinggang Nayla...

​Cklek!

​Pintu ruang kerja CEO mendadak terbuka dari luar! Seorang staf keuangan melangkah masuk membawa map laporan.

​"Permisi, Pak Adrian, ini berkas yang..."

​Nayla yang kaget setengah mati refleks melompat mundur selangkah. Dengan gerakan cepat nan kikuk, ia mengangkat kedua tangannya ke atas kepala seraya meregangkan badannya dengan raut wajah dibuat-buat.

​"Ya ampun... lelah sekali ya duduk terus!" seru Nayla berpura-pura polos sambil memutar bahunya.

​Staf keuangan itu mengedipkan mata bingung, sementara Adrian yang berdiri kaku di tempatnya terpaksa menahan tawa setengah mati melihat aksi spontan istrinya. Di dalam hati sang CEO, ia merasa situasi bersembunyi-sembunyi seperti ini makin hari makin terasa konyol sekaligus menggemaskan.

***

​Keesokan harinya...

​Nayla mengendarai mobilnya menuju kediaman Mira lebih dulu untuk menjemput sahabatnya. Lalu mereka melaju menuju kediaman utama keluarga Dewangga.

​Begitu mobil melintasi gerbang yang menjulang tinggi dan memasuki pekarangan rumah utama yang megah bagaikan istana, mata Mira seketika membelalak lebar. Mulutnya menganga tak sanggup menutupi rasa terpana.

​"Nay... demi apa ini rumah atau istana?!" bisik Mira heboh, matanya menatap pilar-pilar tinggi dan halaman asri nan luas di sekeliling mereka.

​Nayla hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. Ia memarkirkan mobil di pelataran depan. Tak lama kemudian, Bu Ratih keluar dengan balutan busana anggun nan bersahaja, menyambut mereka dengan senyum penuh kehangatan.

​"Aduh, cantiknya menantu Mama hari ini," puji Bu Ratih lembut seraya mengelus pipi Nayla. Lalu matanya menatap Mira. "Eh, ini sahabat Nayla, ya?"

​"Iya, Ma... Ini Mira, sahabat dekat Nayla di kantor," jawab Nayla mengenalkan.

​Mira membungkuk sopan, menjabat tangan Bu Ratih dengan penuh rasa hormat. "Selamat sore, Tante... Saya Mira."

​"Lain kali ajak main dan menginap di sini ya, Nay. Rumah ini rasanya sepi sekali," tutur Bu Ratih tersenyum hangat.

​"Iya, Ma... Nanti Nayla ajak Mira main ke sini lagi. Ayo Ma, kita berangkat sekarang," ajak Nayla lembut.

​Bu Ratih memilih duduk santai di kursi penumpang belakang, sementara Nayla mengemudikan mobil dan Mira duduk di samping pengemudi. Suasana di dalam mobil terasa hangat dan menyenangkan.

​Namun, saat mobil terhenti di bawah lampu merah jalan raya, ponsel Nayla di atas konsol tengah mendadak berdering nyaring. Sebuah nomor asing yang tak dikenal berkedip di layar.

​Nayla menggeser tombol hijau.

​"Halo?" sapa Nayla tenang.

​"Halo... Nayla? Ini Ibu... Bisa kita bertemu sekarang?" panggil suara wanita paruh baya dari seberang sana.

​Nayla menatap lurus ke depan, nada suaranya berubah dingin. "Ibu? Ibu siapa?"

​"Iya... ini Ibu kandungmu, Nayla," sahut Bu Dewi Ambarwati dengan nada yang sengaja dibuat memelas.

​"Untuk apa lagi Ibu menghubungiku? Bukankah Ibu malu memiliki anak seperti aku?"

​"M-Maafkan Ibu, Nayla... Kemarin Ibu salah bicara dan terbawa emosi," sela Bu Dewi panik. "Ibu sangat menyesal. Tolong beri Ibu kesempatan... Ayo kita bertemu sekarang, bisa kan, Nak?"

​Nayla menarik napas panjang. Ia ingin menyelesaikan urusan ini agar tidak menjadi teror berkepanjangan. "Bisa. Tapi di kafe Heaven Dream ya, Bu."

​"Baiklah, baik! Ibu akan ke sana sekarang juga! Tunggu Ibu ya, Nayla!"

​Tut.

​Setelah panggilan terputus, Mira yang duduk di sebelah Nayla langsung menoleh dengan raut wajah kesal.

​"Nay... ibumu pasti ada maunya nih!" celetuk Mira gemas. "Soalnya kan kemarin di supermarket dia lihat sendiri kamu pegang kartu Black Card tanpa limit dan bawa mobil mewah! Pasti dia mau mepet kamu lagi!"

​Nayla refleks melayangkan kode tatapan pada Mira agar tidak bicara terlalu frontal karena merasa tidak enak pada Bu Ratih yang duduk di belakang.

​Bu Ratih yang mendengar percakapan itu memasang raut wajah heran sekaligus prihatin.

​"Nay... jadi ibumu masih hidup, Nak? Kenapa Mama tidak pernah melihatnya atau mendengarmu cerita tentang ibumu?" tanya Bu Ratih lembut.

​Sebelum Nayla sempat menjawab, Mira yang dasarnya blak-blakan dan gemas langsung menyambar dari kursi depan.

​"Masih ada, Tante... Tapi Tante Dewi itu gila harta banget! Dulu dia tega meninggalkan almarhum Paman Danu dan Nayla cuma demi mengejar pria kaya! Bahkan sampai sekarang dia lebih membela dan membanggakan anak tirinya ketimbang Nayla, anak kandungnya sendiri!" celoteh Mira penuh emosi membela sahabatnya.

​Bu Ratih yang mendengar kenyataan pahit itu seketika tersentak kaget. Matanya menatap punggung menantunya dengan tatapan penuh rasa iba dan penderitaan yang tak terbayangkan.

​"Benar begitu, Sayang?" bisik Bu Ratih prihatin. "Kenapa kamu tidak pernah cerita pada Mama sejak awal? Ya ampun... ibu macam apa itu yang tega menelantarkan anak kandungnya sendiri demi harta..."

​Nayla tersenyum tipis melalui kaca spion. "Tidak apa-apa, Ma... Kan sekarang Nayla sudah baik-baik saja. Nayla merasa sangat beruntung dan bersyukur karena memiliki Mama Ratih yang sangat menyayangi Nayla."

​Mendengar ucapan tulus menantunya, dada Bu Ratih berdesir hangat. "Mama juga sangat beruntung punya menantu sebaik kamu, Nak..."

.

.

​Beberapa saat kemudian, mereka bertiga akhirnya sampai di kafe Heaven Dream. Suasana kafe bernuansa modern itu tampak cukup ramai oleh pengunjung yang menghadiri hari pembukaan. Nayla celingukan mencari keberadaan Farhan, namun pria itu tampaknya sedang sangat sibuk menyapa tamu-tamu penting di ruangan lain.

​"Kak Farhan sepertinya sedang sibuk, Ma... Kita langsung duduk dan pesan makanan saja ya," ujar Nayla mengajak Bu Ratih dan Mira menuju meja yang nyaman.

Tak berselang lama mereka duduk, sosok Bu Dewi Ambarwati melangkah masuk dengan gaya anggun yang dipaksakan. Matanya mengedar cepat hingga menangkap keberadaan Nayla, lalu melangkah mendekat dengan senyum buatan.

"Nayla..." sapa Bu Dewi manis.

Nayla berdiri sopan. "Ibu, silakan duduk."

Bu Dewi melirik wanita paruh baya di samping Nayla. Bu Ratih mengulurkan tangannya seraya tersenyum ramah.

"Selamat sore. Saya Ratih... ibu mertuanya Nayla," tutur Bu Ratih memperkenalkan diri dengan hangat, sengaja tidak memakai embel-embel nama besar Dewangga demi kesederhanaan.

Bu Dewi menjabat tangan itu sekilas, matanya dengan cepat menilai penampilan Bu Ratih dari ujung rambut hingga ujung kaki.

'Ratih? Ibu mertua?' batin Bu Dewi keheranan.

Pakaian yang dikenakan Bu Ratih terlihat begitu bersahaja dan simpel, tanpa logo merek ternama atau perhiasan berlian mentereng.

'Kok ibu mertuanya penampilannya biasa saja begini? Sangat sederhana... Berbeda jauh dari bayanganku! Masa iya keluarga kaya penampilannya sesederhana ini?' batin Bu Dewi mulai ragu.

Namun, ingatan Bu Dewi seketika melayang pada kejadian di supermarket kemarin sore, pada mobil sedan mewah miliaran rupiah yang dinaiki Nayla, serta kartu kredit Black Card tanpa limit yang dipegang anak kandungnya itu.

'Tapi... Mobil mewah dan Black Card itu nyata! Tidak mungkin keluarga biasa sanggup memegang fasilitas seperti itu! Pasti keluarga ini tipe kaya yang pura-pura sederhana!' pikir Bu Dewi meyakinkan dirinya sendiri.

Bu Dewi mendudukkan dirinya, mencoba memasang wajah penuh kepalsuan. "Ah, iya... Saya Dewi, ibu kandungnya Nayla. Sebenarnya saya datang ke sini ingin menyambung kembali silaturahmi yang sempat terputus. Dulu... ada sedikit salah paham antara saya dan almarhum ayahnya Nayla hingga kami harus berpisah."

Bu Dewi menghela napas panjang, berpura-pura sedih. "Bisa anda bayangkan kan, Bu Ratih... Hidup bersama almarhum ayah Nayla dulu itu sangat susah. Sebagai wanita, wajar kan kalau kita menginginkan kepastian? Bukankah dari seorang laki-laki, hal utama dan paling penting yang dilihat wanita itu adalah keuangannya?"

Bu Ratih yang mendengar ucapan itu menghentikan gerakan tangannya yang sedang melihat menu. Pandangan matanya yang tadinya teduh berubah menjadi sangat tegas dan dingin, meski senyum anggun masih terukir di bibirnya.

"Maaf ya, Bu Dewi..." potong Bu Ratih dengan suara lembut namun penuh penekanan. "Menurut pandangan saya, memang benar seorang laki-laki memiliki tanggung jawab besar untuk menafkahi. Tapi... jika laki-laki yang kita cintai sedang mengalami kesusahan, tidak ada salahnya kan sebagai istri kita membantu dan bangkit berjuang bersama? Bukan justru meninggalkannya begitu saja demi mencari yang lebih berada."

Jleb!

Sindiran halus nan menohok itu seketika membuat raut wajah Bu Dewi menegang kaku.

Bu Ratih kemudian mengelus punggung tangan Nayla dengan kasih sayang yang mendalam. "Jujur ya, Bu Dewi... Maaf sekali jika saya harus mengatakan ini. Saya merasa Bu Dewi ini sangatlah rugi telah meninggalkan putri sehebat dan sebaik Nayla demi mengurus putri dari keluarga lain."

Bu Dewi tersentak, dadanya terasa ditonjok oleh ucapan ibu mertua Nayla.

"Nayla ini anak yang luar biasa baik," puji Bu Ratih membanggakan menantunya. "Dia sangat menghormati orang tua, pandai menjaga diri, dan pandai mengelola bisnis bersama suaminya. Saya bahkan sangat bangga loh... menantu saya ini bisa diajak bekerja sama oleh putra saya!"

Kalimat Bu Ratih yang penuh kebanggaan itu membuat otak Bu Dewi semakin berputar keras dan kacau.

'Bisa diajak bekerja sama dengan putranya?! Maksudnya apa?!' batin Bu Dewi panik.

Sebuah pemikiran mendadak melintas liar di dalam kepala Bu Dewi.

'Tunggu dulu... Kalau Nayla ini istri dan menantu dari orang kaya... kenapa dia malah bekerja di perusahaan lain seperti Dewangga Group?! Kenapa tidak duduk manis di rumah saja?! Atau... jangan-jangan... suami Nayla itu adalah... Adrian Dewangga?!'

Darah Bu Dewi seketika berdesir hebat! Jantungnya berdegup kencang memikirkan kemungkinan fantastis tersebut.

Namun, hanya dalam hitungan detik, rasa gengsi dan kesombongannya langsung menepis pemikiran itu mentah-mentah.

Bu Dewi tertawa sinis di dalam hatinya, menggelengkan kepala.

'Ah! Tidak mungkin! Mana mungkin hal mustahil seperti itu terjadi!' batin Bu Dewi menyangkal sendiri dengan sangat percaya diri. 'Mana mungkin CEO sekelas Adrian Dewangga yang tampan dan terpandang mau menikahi wanita seperti Nayla?!'

Setelah berhasil menenangkan pikirannya dengan prasangka buatan sendiri, Bu Dewi membetulkan posisi duduknya, menahan malu di hadapan Bu Ratih dan Nayla yang menatapnya dengan senyuman tenang.

1
mheldaaa
kenapa ga up thor🥹🥹🥹
Novaa: maap kaka, hari ini double up kok🫰
total 1 replies
sryharty
dasar uget2
Agus Tina
Nah gitu Nayla, semangat untuk hidup sehatny
Yunie Silvia Putri
ha..ha..ha.. untug gak lepas tuh jantung bu dewi 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
kalau udah urusan duit..duit...duit..., segala cara d halalkan 😕😕
Ariany Sudjana
terus kenapa kamu harus sewot Anita, kalau Nayla jadi istri Adrian? atau kamu mau coba peruntungan kerja di grup dewangga? siapa tahu jadi istri kedua Adrian?
sryharty: Adrian nya ora Sudi ka beristrikan Anita 🤭🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Desi, jangan mentang-mentang kamu karyawan senior, menindas karyawan magang seenaknya 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
kenapa kamu ga ngomong terus terang Dewi, kalau Anita lebih cocok dengan Adrian? kan katanya tinggi, langsing, model papan atas, tapi sayangnya Anita itu pelacur murahan 😂😂🤣🤣 dan kelasnya jauh dibawah Nayla, yang perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, jadi jangan harap yah Anita bisa jadi istri konglomerat
Ariany Sudjana
dasar keluarga yang bodoh, mana mau Adrian membantu kalian, sudah nikmati saja kebangkrutan kalian 😂😂🤣🤣
Agus Tina
Mira turunkan berat badanmu bukan untuk membungkam mulit mereka tapi demi kesehatanmu juga nanti.
Novaa: Terimakasih sudah mampir kaka semoga terhibur🫰 tapi si mbak gemoy itu Nayla kak 😁
total 1 replies
Yunie Silvia Putri
bagusss Nayla, kamu harus tegas sama orang kayak gitu yg sudah meremehkanmu, semangat....💪💪
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!