Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Berbeda
Suara dering jam alarm dari ponsel murah berlayar retak berbunyi nyaring tepat pukul lima pagi. Rian membuka matanya perlahan di atas kasur busa tipisnya. Tidak ada rasa nyeri di punggung, tidak ada rasa kaku di persendian, dan yang paling mengejutkan, rasa lelah akibat kejadian semalam seolah sama sekali tidak menyentuh fisiknya.
Ia bangkit duduk, lalu menarik napas dalam-dalam. Di dalam rongga dadanya, aliran energi Qi yang kini berada di angka 45/100 berputar stabil, memberikan kehangatan yang menyegarkan ke seluruh pembuluh darahnya. Panel transparan biru keemasan sempat berkedip pelan di retinanya sebelum memudar saat ia mengibaskan tangan kanannya.
"Peningkatan energi ini membuat tubuh terasa jauh lebih ringan," gumam Rian pelan pada keheningan kamarnya.
Setelah merapikan tempat tidur seadanya dan mencuci muka dengan air dingin di kamar mandi bersama di ujung lorong rusun, Rian mengenakan seragam sekolahnya—kemeja putih berukuran sedikit kebesaran dan celana abu-abu yang sudah agak luntur. Namun, ada yang berbeda dari penampilannya hari ini. Postur tubuhnya berdiri tegak lurus, bahunya tegap, dan tatapan matanya memancarkan ketenangan yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Sebelum berangkat, Rian menyempatkan diri mampir ke lantai dasar. Warung kelontong kecil milik Bi Inah sudah setengah terbuka pintunya. Wanita paruh baya itu tampak sedang menyapu lantai depan warungnya dengan gerakan yang agak lesu, bayangan kurang tidur jelas tergambar di wajahnya.
"Pagi, Bi," sapa Rian lembut, melangkah masuk ke area depan warung.
Bi Inah terperanjat kaget, lalu mendongak. Begitu melihat wajah Rian yang tampak segar dan sehat, ia langsung meletakkan sapunya dan bergegas menghampiri pemuda itu dengan cemas.
"Rian! Ya ampun, Nak... Kamu dari mana saja semalam? Bibi tidak bisa tidur semalaman memikirkanmu!" suara Bi Inah bergetar, tangannya meraih lengan Rian untuk memeriksa apakah ada luka di tubuh pemuda itu. "Apa kamu... apa kamu benar-benar pergi menemui Badrol semalam? Bibi dengar dari tetangga sebelah, katanya pos jaga belakang sempat ramai dan ada suara teriakan..."
Rian tersenyum tipis, menenangkan wanita paruh baya itu dengan tatapan matanya yang jernih.
"Tenanglah, Bi. Semuanya sudah beres," kata Rian dengan nada suara yang begitu meyakinkan. "Badrol dan anak buahnya tidak akan pernah datang lagi mengganggu warung ini. Mulai hari ini, Bibi bisa berjualan dengan tenang tanpa harus memikirkan uang keamanan apa pun."
Bi Inah terbelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. Ia memandangi wajah Rian lekat-lekat, mencari tanda-tanda kebohongan atau kepanikan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan mutlak layaknya air danau yang tidak bergeming.
"Beneran, Rian? Kamu tidak sedang berbohong pada Bibi, kan? Badrol itu orang paling ditakuti di pasar ini..." suara Bi Inah mencicit ragu.
"Kemarin malam, aku sudah berbicara langsung dengan mereka secara 'baik-baik'," jawab Rian tenang, sengaja menekankan kata 'baik-baik' dengan senyuman kecil. "Mereka berjanji tidak akan berani menginjakkan kaki ke sini lagi. Kalaupun mereka melanggar... biarkan aku yang menghadapinya lagi."
Bi Inah menelan ludah dengan susah payah. Meskipun ia masih merasa tidak masuk akal bagaimana seorang anak SMA bisa membuat preman paling ditakuti di pasar tunduk dalam semalam, perubahan aura dan ketenangan luar biasa yang dipancarkan Rian membuatnya merasa seolah-olah apa yang dikatakan pemuda itu adalah sebuah kebenaran mutlak.
"Rian... Nak... Bibi tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi padamu," bisik Bi Inah dengan suara parau, air mata haru perlahan menetes membasahi pipinya. Ia merogoh kantong apronnya dan mengeluarkan sebungkus nasi kuning hangat yang masih mengepulkan uap. "Bawalah ini untuk sarapanmu di jalan. Jangan ditolak, ya."
Rian menatap bungkusan itu sejenak, lalu menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih, Bi. Aku berangkat sekolah dulu."
"Iya, hati-hati di jalan, Nak!" seru Bi Inah sambil melambaikan tangan dengan senyuman tulus yang sudah lama tidak menghiasi wajahnya.
Pukul tujuh lewat seperempat, gerbang SMA Bina Bangsa mulai dipadati oleh para siswa yang datang berbondong-bondong menggunakan mobil mewah atau turun dari ojek online. Suasana halaman sekolah tampak seperti biasa: bising, penuh gelak tawa, dan kelompok-kelompok geng sosial yang berkumpul di koridor.
Namun, begitu Rian melangkah melewati gerbang utama, beberapa siswa yang kebetulan berpapasan dengannya langsung menghentikan langkah mereka secara spontan.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara kerumunan.
"Eh, itu... bukannya si Rian si anak beasiswa miskin?" bisik seorang siswi berambut panjang kepada temannya, menatap Rian dari kejauhan.
"Iya, betul. Tapi... tunggu dulu. Kenapa rasanya dia beda banget ya hari ini?" sahut temannya, mengerutkan kening. "Biasanya kalau jalan dia selalu menunduk dan kelihatan seperti mau pingsan. Tapi sekarang... lihat punggungnya, tegak banget."
"Ah, palingan cuma cari perhatian."
Rian tidak memedulikan bisikan-bisikan di sekitarnya. Langkah kakinya tetap tenang menapaki paving block halaman sekolah menuju gedung utama. Di dalam kepalanya, ia bisa merasakan peningkatan kepekaan pendengarannya; suara-suara kecil di sekitarnya terdengar sangat jelas, namun ia mampu menyaringnya tanpa merasa terganggu sama sekali.
Saat ia memasuki koridor lantai tiga—tempat yang sama di mana ia diinjak-injak dan disiram air kemarin siang—suasana di sekitar mendadak menjadi jauh lebih senyap dari biasanya.
Beberapa siswa yang sedang nongkrong di dekat loker buru-buru memalingkan wajah atau bergeser memberi jalan begitu melihat Rian melintas. Berita tentang apa yang terjadi pada Bara kemarin rupanya sudah menyebar di kalangan tertentu secara diam-diam. Meskipun tidak banyak yang tahu detail kejadiannya, kabar bahwa lengan kanan Bara patah secara misterius setelah berurusan dengan Rian telah membuat kelompok berandalan sekolah itu mengambil sikap siaga penuh.
Rian melangkah santai menuju kelasnya di ruang 11-B.
Begitu ia mendorong pintu kelas yang setengah terbuka, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak seketika menjadi sunyi senyap. Puluhan pasang mata langsung menoleh secara serentak ke arah pintu.
Di barisan bangku tengah, Bara duduk dengan lengan kanannya yang dibalut gips putih tebal dan digantung menggunakan kain penyangga di lehernya. Wajahnya tampak pucat pasi, matanya memerah karena kurang tidur, dan bibirnya terkatup rapat. Di sampingnya, Kevin dan Doni duduk dengan postur kaku, tidak berani mengangkat kepala tinggi-tinggi seperti biasanya.
Melihat Rian berjalan masuk ke dalam kelas, Bara menelan ludah dengan susah payah. Trauma fisik dan psikologis dari kejadian kemarin malam—di mana ia merasakan teror dingin yang mencengkeram jiwanya tanpa bisa melawan—masih membekas kuat di dalam ingatannya.
Rian berjalan melewati deretan bangku dengan langkah pelan, hingga ia tiba di meja pojok belakang kelas miliknya—tempat duduk paling terpencil yang selalu diabaikan oleh semua orang.
Ia menarik kursi kayunya yang berdecit pelan, lalu duduk dengan tenang. Ia mengeluarkan sebungkus nasi kuning dari tasnya, membukanya perlahan, dan mulai memakannya sesap demi sesap.
Suasana kelas terasa begitu kaku. Tidak ada seorang pun yang berani melontarkan ejekan atau kata-kata merendahkan seperti hari-hari sebelumnya. Udara di dalam kelas terasa berat, seolah seluruh murid sedang menahan napas di hadapan seekor predator yang sedang beristirahat.
Beberapa saat kemudian, pintu kelas terbuka dan wali kelas mereka, Pak Darma—seorang guru matematika berkacamata tebal yang terkenal paling disiplin dan galak—masuk ke dalam ruangan sambil membawa tumpukan buku tebal.
"Selamat pagi anak-anak!" seru Pak Darma tegas sambil meletakkan buku-bukunya di atas meja guru. Ia menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kelas, lalu berhenti sejenak saat melihat kondisi lengan Bara yang dibalut gips. "Bara? Tanganmu kenapa itu? Kenapa bisa patah begitu?"
Bara terperanjat kaget. Ia melirik sekilas ke arah meja pojok belakang tempat Rian duduk, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kaku menutupi rasa malu dan takutnya.
"Ah... tidak apa-apa, Pak. Kemarin... kemarin saya jatuh dari motor di dekat rumah," jawab Bara berbohong, suaranya sedikit bergetar. Ia tidak mungkin mengatakan kepada guru bahwa tangannya dipatahkan oleh anak beasiswa miskin hanya dengan satu sentuhan jari; harga dirinya sebagai penguasa sekolah akan hancur lebur jika itu sampai terbongkar.
Pak Darma mengernyitkan dahi tidak percaya, namun ia tidak memperpanjang masalah itu. "Lain kali kalau berkendara lebih hati-hati! Jangan mentang-mentang punya motor besar lalu ngebut tidak jelas."
Pak Darma kemudian membuka buku absensi di atas meja. "Baik, sebelum kita mulai pelajaran matematika hari ini, saya mau mengumumkan hasil nilai ujian ulangan harian minggu lalu yang kemarin sempat tertunda."
Mendengar kata 'ujian', beberapa siswa langsung mendesah kecewa, sementara sebagian lainnya tampak tegang. Nilai di kelas 11-B sangat kompetitif, terutama karena banyak anak orang kaya yang menyuap atau meminta kemudahan tertentu dari guru, meskipun Pak Darma dikenal sangat ketat dan tidak mempan disuap.
"Nilai rata-rata kelas kali ini lumayan mengecewakan," komentar Pak Darma sambil membalik halaman buku. "Banyak dari kalian yang mengandalkan hafalan dangkal tanpa memahami konsep dasarnya. Tapi... ada satu hal yang cukup mengejutkan tahun ini."
Pak Darma mengangkat selembar kertas ulangan dengan tinta merah di sudut atasnya. Matanya melirik tajam ke arah barisan bangku belakang kelas.
"Rian," panggil Pak Darma dengan nada suara yang membuat seluruh kelas terkejut.
Rian yang sedang menikmati suapan terakhir nasi kuningnya mendongak perlahan menatap meja guru.
"Silakan maju ke depan, ambil kertas ulanganmu," lanjut Pak Darma, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mengajar guru itu, ada sedikit nada kagum di dalam suaranya. "Nilai ulangan matematika lanjutanmu... mendapatkan angka seratus sempurna. Nilai tertinggi di seluruh angkatan kelas sebelas."
Deg!
Seluruh murid di dalam kelas seketika menoleh ke arah Rian dengan mata melotot lebar. Bisik-bisik kejut langsung meledak di setiap sudut ruangan.
"Seratus?! Rian anak beasiswa itu?!" "Mana mungkin! Dia kan biasanya cuma dapat nilai pas-pasan karena sibuk kerja paruh waktu!" "Apakah dia menyontek? Tapi kemarin jarak duduk kita diatur ketat oleh Pak Darma!"
Bara dan Kevin di bangku tengah mengepalkan tangan mereka erat-erat, wajah mereka memerah karena rasa tidak percaya bercampur rasa benci yang tertahan.
Rian berdiri dari tempat duduknya dengan tenang. Tidak ada ekspresi angkuh atau terkejut di wajahnya. Dengan langkah kaki yang mantap dan teratur, ia berjalan maju ke depan kelas di bawah puluhan pasang mata yang menatapnya dengan pandangan baru—pandangan yang kini tidak lagi berisi penghinaan, melainkan rasa penasaran dan kebingungan yang luar biasa besar.
Dunia modern di sekitarnya perlahan-lahan sedang bergeser porosnya, dan Rian tahu betul, ini baru permulaan dari segalanya.