Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 11
Fiuuiiit
Pada tengah malam, Lucien memanggil burung hantu peliharaannya. Burung hantu yang dinamai Harder itu datang dan hinggap ditangannya. Lucien mengikatkan kertas yang digulung pada kaki Harder.
"Pergilah ke tempat Erson sekarang juga."
Bak paham dengan ucapan Lucien, Harder menganggukkan kepala. Burung hantu itu mengepakkan sayapnya, terbang menuju ke langit malam nan gelap.
Tuk tuk tuk
Di kantor kaisar, Erson yang masih sibuk mengerjakan tumpukan pekerjaan menghentikan tangannya. Ia beranjak dari duduknya menuju ke sumber suara, yakni jendela.
"Harder?" ucap Erson. Ia lalu membuka jendela dan membiarkan Harder hinggap di tangannya.
"Apa Baginda yang mengirimmu?"
Harder menganggukkan kepalanya. Erson jelas tahu bahwa itu milik Lucien. Dia lalu mengambil gulungan kertas yang ada di kaki Harder. Erson membuka kertas itu dengan cepat.
{Lambang bunga mawar merah berduri hitam, cari tahu semuanya}
Erson mengerutkan alisnya saat membaca isi kertas itu. Tulisan itu jelas tulisan tangan milik Lucien. Dan ini adalah sebuah perintah yang jelas.
"Untuk apa Baginda menginginkan informasi itu? Ah sudahlah, yang penting aku menjalankan perintahnya."
Bagi Erson, tak ada yang sulit dilakukan. Informasi tentang semua bangsawan di kekaisaran ini, diketahuinya dengan baik.
Erson lantas menuliskan informasi yang diinginkan oleh Lucien. Setelah selesai, ia kembali mengikatkannya di kaki Harder.
"Pergilah ke tuan mu dengan baik. Jangan mampir-mampir ya."
Harder langsung mengepakkan sayapnya. Burung hantu itu benar-benar mengerti apa yang dikatakan manusia.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Harder untuk kembali ke sisi Lucien. Lucien juga berada di depan rumah, menunggu datangnya Harder. Dia tahu bahwa Erson pasti segera menjawab.
"Anak pintar," ucap Lucien saat Harder hinggap di lengannya. Ia lalu menyalurkan energi sihir pada Harder. Burung tersebut tampak menyerap, seolah tengah makan.
"Binatang sihir memang haus dengan aura energi sihir. Nah sekarang pergilah. Bawakan informasi yang berguna untukku."
Lucien kembali melepas Harder. Ia kemudian membuka gulungan kertas yang diikat pada kaki Harder.
{Lambang bunga mawar merah dengan duri hitam adalah lambang dari keluarga Marquis Winslow}
Lucien menarik satu sudut bibirnya. Dugaannya bahwa Cattleya adalah putri bangsawan benar adanya.
"Menarik, ini akan menjadi mudah nantinya. Putri seorang marquis ya. Tapi, kenapa Catty dikirimi seorang pembunuh seperti itu?"
Lucien mengusap dagunya dengan ujung ibu jari dan jari telunjuknya. Kepalanya bergejolak, beberapa dugaan munc di sana.
"Baiklah, mari kita pikirkan esok. Sekarang lebih baik kembali tidur. Ah menyenangkan, aku benar-benar bisa menikmati tidur yang nyenyak ketika ada di sini. Tidak harus mendengarkan ocehan Erson tentang pekerjaan dan rapat kenegaraan. huft."
Lucen menggerutu, selama menjadi kaisar baru kali ini dia menggerutu seperti ini. Baru sekarang juga dia mengeluhkan tentang pekerjaannya.
Mata Lucien menangkap pemandangan yang menurutnya paling indah seumur hidupnya. Cattleya dan Leoric yang tengah tidur bersama dan saling memeluk, ia tak menyangka akan sesenang ini melihatnya.
Ia yang mendambakan sebuah keluarga lagi setelah kedua orang tuanya tiada, sangat senang saat mengetahu bahwa Leoric adalah putranya. Dengan begini, Lucien merasa dirinya tak perlu dikejar-kejar lagi untuk memilik istri dan juga penerus.
"Permasuri ku ya istriku, dia lah yang akan jadi ibu dari Kekaisaran Kalistar, dan Leoric adalah penerusku yang akan jadi putra mahkota. Sekarang aku hanya mencari cara agar Catty bisa ikut bersamaku ke kaisaran. Untuk keluarga Winslow, aku harus cari tahu mengapa Catty diperlakukan seperti itu."
Lucien menganggukkan kepalanya. Saat ini dirnya sudah banyak memiliki rencana kehidupan bersama Cattleya dan Leoric.
Lucien pun juga sudah bersiap jika keluarga Cattleya menjad penghalang bagi rencananya.
Sedangkan itu di sisi lain, orang yang tadi sore dihajar oleh Cattleya, datang dengan tubuh yang babak belur ke sebuah mansion. Prajurit yang ada di depan gerbang langsung membukakan pintu.
"Tuan Marquis, apa beliau ada?"
"Ada, mari."
Dengan tertatih, pria itu berjalan menuju ke dalam. Dia dibawa ke ruang tamu. Malam yang sudah larut tentu merupakan waktu istirahat bagi sang Marquis. Akan tetapi mendengar bahwa orang suruhannya datang, Marquis Winslow pun bangun dari posisi tidurnya dan bergegas menemui.
"Dimana, apa kamu berhasil membawanya," ucap pria dengan rambut coklat sepanjang punggung. Ia tampak bersemangat. Tapi melihat orang suruhannya hanya sendirian di sana, pria itu langsung menunjukkan wajah penuh kekesalan.
"Maaf Tuan, saya tidak berhasil membawa pulang Nona Muda. Beliau, belau berhasil mengalahkan saya. Beruntung saya bisa pulang. Pasalnya orang-orang yang sebelum saya pasti sudah mati."
Dugh!
Bukan mendapatkan pujian, pria yang duduk dengan penuh luka itu malah dapat tambahan bogem mentah dari sang Marquis. Mata Marquis nampak menyala-nyala sekarang.
"Hanya membawa satu orang wanita saja tidak becus. Dasar sialan!" pekik Marquis Winslow.
"Haah, adikku yang cantik dan baik. Entah kenapa dia jadi kelihatan berbeda seperti ini. Seolah dia menjadi orang lain. Adikku yang selalu patuh bak boneka, kini menjadi pemberontak. Agaknya sudah cukup bermain-mainnya. Catty tidak bisa dibiarkan berkeliaran diluaran begini terlalu lama. Aku pikir dia hanya bermain-main, tapi ternyata anak itu sangat nakal karena membuat kakaknya kesulitan seperti ini. Siapkan prajurit, aku akan menjemput adik kesayanganku itu."
"Baik Tuan."
Marquis Cale Winslow, dia adalah putra tertua dari keluarga Winslow yang kini mewarsi gelar marquis. Namun dia dan Catleya memilki rambu dan warna mata yang berbeda. Itu karena mereka lahir dari ibu yang berebeda.
Selama ini Cale membiarkan Cattellya berkeliaran, dan hanya sesekali saja mengirim orang. Namun dia tidak menyangka bahwa adiknya itu nyaman dengan kehidupannya sebagai rakjat jelata.
"Tuan, Nona Muda kabur setelah pesta."
"Biarkan, apa yang bisa dilakukan bocah manja itu di luar sana. Tanpa aku, dia tak bisa melakukan apapun."
Begitulah pikiran Cale waktu itu. Namun ternyata ia salah, setelah berbulan-bulan Cattleya tidak kembali. Cale lalu mengutus orang, namun adiknya itu sama sekali tak ditemukan.
Cale murka, dia mengerahkan orang untuk mencari adiknya. Hingga akhirnya keberadaan Cattleya di Green Village pun diketahui.
Melhat Cattleya yang kesulitan, membuat Cale menikmatinya. Namun lama-lama Cale terusik, pasalnya Cattleya tak pernah kembali. Dan dia terkejut saat orang yang dikirimnya pulang dengan kondisi buruk.
"Aneh, adikku aneh. Dia seperti bukan adikku. Adikku yang pemalu, penakut dan juga tak bisa hidup tanpa ku, kini dia bisa berdiri sendiri. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan."
Semenjak itu, Cale dalam rentan waktu beberapa minggu, dia mengirim orang, namun hasilnya nihil. Mereka tak pernah bisa membawa Cattleya.
Sekarang kesabaran Cale sudah mencapai batas. Cattleya harus pulang, bagaimanapun adiknya itu sangat berguna untuk dilempar pada pasar pernikahan.
"Awas saja kamu Catty, saat aku berhasil membawamu kembali ke rumah, aku akan mengurungmu dan tak akan pernah membiarkan mu melihat matahari."
TBC