Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Aku Tak Butuh Uangmu, Bajingan Sok Tinggi
Kayana mengikuti Karolina menyusuri koridor hingga ke bagian lain, tempat sekelompok pengawal lain berdiri di depan sebuah pintu.
"Ampun, organisasi pengawal pasti sedang untung besar dengan banyaknya orang yang menyewa mereka," pikir Kayana.
Ketika para pria itu melihat Karolina, mereka mempersilakannya lewat. Mereka profesional terlatih yang tak melirik Kayana sedikit pun. Sebaliknya, mata mereka tetap lurus ke depan, waspada terhadap segala kemungkinan.
Begitu pintu terbuka, seolah angin dari Antartika berembus, sebab Kayana bergidik saat merasakannya, dan tatapannya yang penuh selidik jatuh pada seorang pria yang luar biasa tampan, tetapi mencekam.
Matanya buas, warnanya lebih pekat dari tinta dan malam itu sendiri. Aura yang terpancar dari dirinya dingin, gelap, dan menakutkan. Terlepas dari getaran mengintimidasi itu, ia sangat tampan dengan bibir tipis, hidung mancung, dan rahang setajam yang mungkin sanggup memotong kaca.
Kayana tak siap berhadapan dengan sosok yang begitu mematikan dan berwibawa.
Kerongkongannya mengering.
Akhirnya ia paham mengapa begitu banyak perempuan menjatuhkan diri ke kaki pria ini. Dengan wajah dan aura semacam itu, siapa yang tak akan begitu?
"Aduh, Kakak, kenapa marah-marah?" Karolina mengembuskan napas, meletakkan tasnya.
Darian mengernyit, matanya berkilat jengkel. "Mungkin karena borgol sialan ini."
Kayana terkejut mendengar suaranya yang ternyata tidak kasar maupun garang. Sebaliknya, dalam dan lembut, bagaikan cokelat susu terbaik.
Berdiri di samping pintu, Kayana tak yakin apakah ia ingin masuk ke kamar itu atau tidak. Pria itu jauh lebih menakutkan secara langsung. Meski api berkobar di matanya, wajahnya luar biasa tenang.
Ia berpikir dalam hati, 'Apakah ini yang orang maksud dengan ketenangan sebelum badai?'
"Kalau tidak kuborgol, kau pasti sudah keluar dari kamar ini. Lalu tubuhmu tak akan pulih..." Suara Karolina memudar saat Darian melemparinya tatapan tajam menusuk. Meski telah mengenalnya seumur hidup, tatapan Darian yang mengerikan tetap membuatnya gentar.
"Aku baik-baik saja. Aku tak butuh perawatan tambahan," balas Darian keras kepala, bibirnya membentuk garis tak menyenangkan.
Karolina terhenti oleh tatapan dan suaranya.
"Lepaskan borgolnya." Suara garang itu begitu berwibawa hingga Karolina harus mengerahkan seluruh keteguhan hatinya untuk menolak permintaan itu.
"Tidak." Karolina menampik permintaannya dengan keras kepala, menaruh tangan di pinggang.
Dengan satu kata itu saja, suasana menjadi semakin dingin. Mata beku Darian menurunkan suhu di sekitarnya, mengirim getaran dingin menyusuri tulang belakang Kayana.
"Itu bukan usulan." Suaranya menjadi begitu gelap hingga terasa memaksa siapa pun untuk maju selangkah.
Merasakan keengganan sahabatnya yang jelas terhadap kakak yang menjadi penguasa mutlak itu, Kayana datang membantu Karolina. "Jangan kasar begitu. Dia cuma memedulikanmu."
Mata Darian beralih ke Kayana. Ia tak terkejut oleh kehadirannya. Bahkan, ia memang menantikan kedatangannya.
Kayana: mantan tunangan Kevin Santoso, sahabat karib adik kesayangannya yang manja. Darian tahu latar belakangnya. Ia selalu menyelidiki teman-teman Karolina untuk memastikan tak ada satu pun dari mereka yang punya rekam jejak kriminal atau berbahaya.
Ia sudah menduga Kayana bergaul dengan adiknya, tetapi ia tak menyangka karisma perempuan itu yang memikat dan temperamennya yang berani. Apa dia memang selalu begini? Mengapa ia tak takut padanya?
Tentu saja, perempuan ini cantik tak terkira. Berbeda dari kebanyakan perempuan seusianya, ia tak berpakaian mencolok atau manja. Sebaliknya, ia rapi mengenakan busana profesional yang menyiratkan sosok mandiri. Darian nyaris mempertanyakan mengapa Kevin Santoso meninggalkan Kayana demi perempuan dari kelas yang jauh lebih rendah.
Kayana tak gentar di bawah tatapan menyelidiknya. Ia terlalu akrab dengan tatapan semacam itu. Kulitnya telah lama mengeras oleh pandangan penuh iri dari orang-orang kalangan atas lainnya.
"Aku tak mengundangmu ke percakapan ini. Pergi." Suara Darian dingin dan kejam, mengiris apa saja yang disentuhnya.
Kayana menyipitkan mata dan menaruh tangan di pinggang. "Kalau begitu, aku mengundang diriku sendiri ke percakapan ini."
Darian melepaskan tawa tanpa humor. "Apa yang membuatmu memenuhi syarat untuk ikut dalam percakapan ini?"
Kayana merasakan bibirnya berkerut. "Aku mendonorkan banyak darah hanya untuk menyelamatkan nyawamu. Kurasa aku berhak bersuara dalam percakapan ini."
Darian terkejut oleh informasi baru yang tersaji di hadapannya. "Kau pendonor darahnya?"
"Ya, memang aku. Kalau bukan karena itu, kenapa aku ada di sini?" Kayana bersedekap. "Aku nyaris pingsan saat mendonorkan darah untukmu. Bagaimana kau bisa membalas segala jerih payahku menyelamatkanmu?" Baiklah, ia berbohong soal bagian terakhir itu. Tapi ia butuh sesuatu untuk membuat pria itu merasa bersalah.
Darian seketika salah menafsirkan kata-katanya. Perempuan ini menginginkan imbalan atas nyawa yang telah diselamatkannya... Tentu saja.
Ia merasa bodoh telah mengira perempuan ini mungkin berbeda dari perempuan-perempuan lain yang mengelilinginya. Namun sayang, ia hanyalah lalat lain dengan motif tersembunyi.
"Baik, kau mau bayaran? Karolina, ambilkan buku ceknya." Darian memerintah tanpa humor, suaranya penuh kejengkelan.
Karolina berkedip terkejut. Ia tak menyangka kakaknya selalu membawa buku cek. Penasaran apakah Darian bicara sungguh-sungguh, ia mendekati jas kakaknya dan mengeluarkan sebuah buku cek berbalut kulit.
"Astaga, Kak, kau benar-benar membawanya!" Karolina takjub akan keberadaan buku itu. Ia tak mengira kakaknya sungguh menyimpan benda ini! Kakaknya jenis manusia macam apa?
Kayana merasa kesabarannya habis saat Darian menyambar buku itu, membukanya, dan menandatangani namanya di bagian bawah halaman pertama. Ia menyobek lembarnya dan menyodorkannya.
"Karena kau begitu menginginkan uang, tulislah angka nol sebanyak yang kaumau." Suaranya bercampur rasa muak.
Kayana mengernyit mendengar hinaan tersirat itu. Darian bahkan tak menatapnya saat menyodorkan lembar itu, menyiratkan seolah Kayana semacam pelacur atau perempuan pemburu harta tak bermoral.
Memangnya dia pikir dirinya siapa?
Kayana menyelamatkan nyawanya, dan beginilah cara pria itu membalasnya? Dengan menyiratkan bahwa ia perempuan yang mengincar uangnya?
Kayana nyaris mendengus melihat sikapnya yang sok tinggi. Ia merenggut kertas kecil itu dari tangan Darian dengan kasar dan mengambil pena.
Darian merasa harapan dan kesannya terhadap Kayana anjlok lebih rendah dari sebelumnya. Ia tak percaya penilaian adiknya soal orang bisa seburuk itu hingga bersedia menjadi sahabat perempuan macam ini.
Ia mengamati Kayana menulis setidaknya tujuh angka nol. Ketika Kayana meletakkan penanya, Darian membuka mulut, "Sekarang pergi..."
Darian benar-benar terkejut ketika Kayana tiba-tiba merobek kertas itu berkeping-keping.
"Apa yang kaulakukan?"
Kayana melempar kepingan kertas itu ke wajahnya, serpihan-serpihan putih kecil beterbangan di atas kulitnya yang berwarna madu.
Melihat gestur tak sopan itu, kamar itu senyap. Ruangan dipenuhi keheningan yang memekakkan. Suhu kamar turun begitu drastis hingga Darian nyaris bergidik. Ia melirik termometer dan terkejut melihat angkanya menunjukkan suhu ruangan normal, kendati suasana terasa sedingin es.
Mengapa terasa seolah angin dari Antartika masuk lewat jendela? Udara di sekeliling Darian begitu dingin hingga mengherankan dinding tak berselimut es dan jendela kaca tak membeku!
Tatapan yang Darian layangkan pada Kayana begitu menusuk hingga Karolina pun mundur selangkah.
"Kau pasti punya nyali besar untuk melakukan itu." Suaranya begitu penuh amarah yang ditahan hingga Karolina nyaris berlari keluar pintu karena ketakutan.
Namun Kayana sudah terbiasa dengan pria semacam ini, yang mengira tatapan mengintimidasi dan ancaman mereka bisa membuat seorang perempuan lari terbirit-birit.
Setelah kulitnya mengeras oleh semua ancaman dan tatapan Kevin, Kayana mati rasa terhadap perilaku umum semacam ini. Tentu, pria ini lebih hebat daripada Kevin, tetapi Kayana tak peduli.
Kayana mengabaikan lonceng peringatan di kepalanya dan bendera merah yang jelas berkibar di udara.
Darian menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tak perlu kehilangan kendali demi perempuan sederhana dan rendahan seperti dia.
"Kau perempuan gila." Suaranya memudar oleh peristiwa yang sama sekali tak terduga. Tak pernah dalam sejuta tahun ia akan menyangka adegan berikutnya yang terjadi.
Kayana mengambil tasnya, membukanya, lalu melemparkan ratusan, bahkan mungkin ribuan lembar uang ke arah Darian. Warna uang itu menangkap cahaya, dan dengan jumlah yang ia lemparkan, seakan kamar itu dihujani konfeti dari uang.
Lembaran uang menghujani Darian, berjatuhan di atas tubuh dan ranjangnya. Itu membuatnya tampak seperti gigolo murahan yang dilempari uang oleh perempuan-perempuan tua kaya.
"Ooooh, keadaan berbalik begitu saja..." bisik Darian pelan.
"Aku tak butuh uangmu, bajingan sok tinggi!" Kayana menggeram padanya sebelum bergegas keluar dari kamar rumah sakit itu.