NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Malam yang terasa Panjang

Malam di mansion mewah Aris terasa jauh lebih pekat dan mencekam dibanding biasanya. Di dalam kamar utama, Raya dan Cyla sudah tertidur lelap.

Napas teratur balita mungil itu berpadu dengan desis halus pendingin udara, menciptakan suasana damai yang justru bertolak belakang dengan gemuruh kekacauan di dada Aris.

Aris berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya di lantai dua. Jas formalnya sudah terlepas, kemeja putihnya berantakan dengan tiga kancing teratas yang terbuka, dan lengan bajunya digulung sampai siku.

Di atas meja marmer di belakangnya, secangkir kopi hitam yang diseduhnya tiga jam lalu telah mendingin tanpa pernah tersentuh barang setetes pun.

Pukul sepuluh malam. Pukul sebelas malam. Pukul dua belas malam.

Waktu berjalan merangkak dengan sangat lambat. Setiap kali lampu sorot mobil melintas perlahan di luar gerbang depan, jantung Aris melonjak ke tenggorokan, mengira itu adalah mobil Hendra yang kembali dari kediaman utama keluarga Prakasa.

"Apa yang sedang dibicarakan oleh ayahku padanya?" batin Aris terus-menerus berputar dalam lingkaran paranoia yang menyiksa. "Apakah Ayah sudah mengetahui semuanya? Apakah Hendra diinterogasi habis-habisan? Jika Hendra dipaksa menceritakan kebenaran tentang kecelakaan malam itu... bagaimana reaksi orang tuaku? Apakah mereka akan mendatangi rumah ini malam ini juga dan menyeret Raya pergi dariku?"

Bayangan-bayangan mengerikan itu berkelebat liar di kepala Aris. Ia mencengkeram ambang jendela dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulitnya memerah.

Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kembali membuncah, menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Ia merasa dirinya seperti seorang tahanan yang sedang menunggu algojo mengeksekusi matinya.

Pukul dua pagi, akhirnya bunyi deru mesin mobil sedan hitam terdengar memasuki area pelataran parkir mansion.

Aris tidak menunggu lagi. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya, menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, dan langsung membuka pintu utama sebelum sempat diketuk.

Di teras depan, di bawah pendar lampu pilar yang temaram, Hendra berdiri seorang diri. Penampilan sekretaris pribadi itu tampak sedikit letih, raut wajahnya menyiratkan kelelahan mental yang amat sangat setelah melewati malam yang luar biasa menegangkan di kediaman utama.

Begitu melihat Aris berdiri di ambang pintu dengan mata merah menahan cemas, Hendra menundukkan kepalanya sejenak.

"Hendra..." panggil Aris dengan suara parau yang begitu berat dan bergetar. Ia menarik lengan jas Hendra, dan memaksa pria itu masuk ke dalam rumah. "Masuk. Cepat masuk."

Begitu pintu utama tertutup rapat, Aris langsung menatap tajam ke dalam manik mata asisten setianya itu, seolah mencari-cari jawaban dari ekspresi wajah Hendra.

"Apa yang terjadi di sana?" cecar Aris tanpa basa-basi, suaranya naik setengah nada, mencerminkan kepanikan yang sudah mencapai puncaknya. "Apa yang ditanyakan oleh ayahku padamu? Apakah mereka menanyakan tentang Raya? Apakah mereka tahu tentang kecelakaan itu, Hendra?! Jawab aku!"

Hendra tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu menatap Aris dengan sorot mata yang tenang namun menyiratkan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.

"Tenanglah dulu, Pak Aris," jawab Hendra dengan nada rendah dan terkontrol.

"Bagaimana aku bisa tenang?!" sergah Aris, emosinya meledak dalam bisikan tertahan. Ia lalu mencengkeram kerah jas Hendra dengan kedua tangannya. "Orang tuaku tidak pernah memanggilmu selarut itu tanpa alasan besar! Ayahku pasti mencurigai sesuatu! Katakan padaku, Hendra... apa saja yang sudah kamu katakan pada mereka? Apakah kamu... apakah kamu membocorkan rahasia itu?"

Hendra menatap Aris lekat-lekat, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun atas kemarahan atasannya. Ia perlahan mengangkat tangannya, dan melepaskan cengkeraman tangan Aris dari kerah jasnya dengan lembut.

"Saya tidak membocorkan apa pun yang bisa menghancurkan Anda, Pak," jawab Hendra.

Aris tertegun. Napasnya memburu. "Lalu... apa yang mereka katakan? Kenapa mereka memanggilmu?"

Hendra memalingkan pandangannya sejenak ke arah sudut ruangan yang kosong, sebelum kembali menatap Aris dengan sorot mata yang penuh beban rahasia.

"Orang tua Anda... bukanlah orang sembarangan, Pak Aris," ucap Hendra perlahan. "Mereka adalah pengusaha berdarah dingin yang memimpin konsorsium besar. Mereka tidak butuh waktu lama untuk menyadari ada kejanggalan besar di balik keputusan Anda mengurung diri di rumah ini bersama seorang wanita amnesia dan seorang balita."

Aris merasakan sekujur tubuhnya mendadak lemas. "Jadi... mereka sudah tahu?"

"Mereka mendesak saya, Pak," lanjut Hendra dengan suara yang makin parau. "Mereka menuntut kebenaran. Mereka tahu bahwa alasan yang Anda berikan tidak sepenuhnya logis untuk standar keluarga Prakasa."

Aris memundurkan langkahnya, dan terjatuh terduduk di sofa ruang tamu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dunia di sekitarnya terasa runtuh.

Jika orang tuanya sudah tahu, maka tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk turun tangan, membuang Raya, dan menghancurkan seluruh kehidupan damai yang baru saja ia bangun.

"Habis sudah..." bisik Aris putus asa di balik celah jemarinya. "Semuanya sudah berakhir..."

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!