NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Senin, 24 Oktober 2016 — Sore Hari

Hujan tipis mulai membasahi jalanan Queens ketika Arthur Sterling keluar dari gedung kampus.

Langit kelabu menggantung di atas kota, membuat lampu-lampu kendaraan tampak lebih terang daripada biasanya. Arthur merapatkan jaketnya dan berjalan menuju halte bus sambil memikirkan dua hal yang terus memenuhi pikirannya sejak pagi: proyek Lawson Market dan pengumuman uji klinis Aurelia Therapeutics yang semakin dekat.

Keduanya berada di dunia yang berbeda.

Yang pertama bergantung pada kemampuan Arthur dan Daniel untuk memahami masalah pelanggan, menawarkan solusi yang masuk akal, lalu membuktikan hasilnya. Yang kedua bergantung pada sebuah peristiwa yang tidak bisa mereka kendalikan.

Namun, untuk saat ini, keduanya sama-sama menguji kesabarannya.

Ponsel Arthur bergetar.

Pesan dari Daniel muncul di layar.

Daniel: Lawson baru mengonfirmasi. Kita bisa datang besok pukul sepuluh pagi. Dia akan menyiapkan catatan penjualan toko kedua.

Arthur segera membalas.

Arthur: Bagus. Minta dia menyiapkan data yang paling mudah diakses saja. Kita tidak membutuhkan laporan sempurna.

Daniel: Sudah kubilang begitu. Dia malah bertanya apakah kita bisa menganalisis seluruh pembukuan tokonya.

Arthur tersenyum kecil.

Arthur: Jelaskan bahwa itu di luar lingkup proyek kita saat ini. Kalau dia ingin analisis yang lebih lengkap, kita perlu membahas waktu, biaya, dan kebutuhan datanya terlebih dahulu.

Daniel: Aku tahu. Aku hanya berharap suatu hari nanti kita punya cukup uang untuk mempekerjakan seseorang yang tugasnya menjelaskan batasan pekerjaan kepada pelanggan.

Arthur: Untuk sekarang, pekerjaan itu milikmu.

Daniel: Aku mulai menyesali persahabatan ini.

Arthur memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Hubungannya dengan Daniel berkembang dengan baik. Mereka mulai memahami cara berpikir satu sama lain. Daniel memiliki kemampuan teknis yang tidak bisa digantikan oleh pengetahuan Arthur tentang masa depan, sementara Arthur mampu membantu mereka menentukan prioritas dan menghindari keputusan yang terlalu terburu-buru.

Namun, Arthur tahu bahwa persahabatan saja tidak cukup untuk menjaga sebuah bisnis tetap sehat.

Mereka membutuhkan pembagian tugas yang jelas, kesepakatan mengenai uang, dan keberanian untuk saling mengkritik ketika salah satu mengambil keputusan buruk.

Ia pernah melihat banyak perusahaan hancur bukan karena produknya jelek, melainkan karena orang-orang di dalamnya tidak lagi mampu mempercayai satu sama lain.

Kali ini, ia ingin membangun sesuatu dengan fondasi yang berbeda.

Setibanya di apartemen, Arthur meletakkan tasnya di atas kursi dan langsung menyalakan laptop.

Ia membuka informasi terbaru mengenai Aurelia Therapeutics.

Tidak ada pengumuman resmi.

Harga sahamnya bergerak naik turun dalam kisaran yang masih bisa dianggap wajar. Aktivitas opsi tetap menarik perhatian, tetapi belum ada informasi baru yang dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pengumuman sudah dekat.

Arthur memeriksa posisi yang dimilikinya.

Nilainya masih lebih tinggi daripada modal awal, setidaknya berdasarkan harga pasar saat itu. Namun, keuntungan tersebut belum direalisasikan. Jika harga saham turun tajam atau waktu yang tersisa sampai opsi berakhir semakin pendek, nilai investasinya bisa menyusut dengan cepat.

Ia membuka buku catatan hitam.

Di halaman yang berisi tiga skenario sebelumnya, ia menambahkan beberapa pertanyaan.

Apakah harga sudah mencerminkan ekspektasi keberhasilan?

Seberapa besar penurunan nilai opsi yang mungkin terjadi setelah pengumuman?

Jika hasilnya positif, apakah keuntungan potensial masih sebanding dengan risiko mempertahankan posisi?

Arthur menatap pertanyaan terakhir cukup lama.

Dalam kehidupan pertamanya, ia sering membuat keputusan investasi dengan mempertimbangkan berapa banyak uang yang bisa diperolehnya. Setelah kembali ke masa lalu, ia masih memiliki kecenderungan yang sama. Perbedaannya, sekarang ia menyadari betapa berbahayanya membiarkan potensi keuntungan mengalahkan penilaian terhadap risiko.

Ia mengambil selembar kertas kosong dan membuat tabel sederhana.

Di satu sisi, ia menulis alasan untuk mempertahankan posisinya. Di sisi lain, ia mencatat alasan untuk menjual sebagian atau seluruhnya sebelum pengumuman.

Ia tidak berusaha membuat tabel itu membenarkan keputusan yang sudah diinginkannya. Ia justru ingin menemukan alasan yang mungkin bertentangan dengan keyakinannya.

Hasil uji klinis yang positif memang menjadi dasar utama pandangannya. Namun, ada beberapa hal yang tetap tidak bisa ia pastikan: apakah pasar akan bereaksi sesuai perkiraannya, apakah informasi tersebut sudah tercermin dalam harga, dan seberapa besar perubahan volatilitas akan memengaruhi nilai opsi setelah ketidakpastian berakhir.

Arthur menyandarkan punggungnya.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah mengelola investasi bernilai miliaran dolar. Ia memiliki analis, penasihat hukum, tim manajemen risiko, dan akses kepada informasi publik yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Sekarang, ia hanya seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun dengan modal terbatas, laptop tua, dan ingatan tentang masa depan.

Ia tidak boleh membiarkan pengalaman dari kehidupan sebelumnya membuatnya meremehkan keterbatasannya saat ini.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, pesan tersebut berasal dari Clara.

Clara: Aku sudah mengirimkan versi terbaru tabel Samuel melalui surel. Aku menyederhanakan bagian jumlah transaksi dan menambahkan ruang untuk catatan khusus.

Arthur membuka surel itu dan memeriksa lampirannya.

Perubahannya cukup baik. Clara menghapus kolom yang sulit diisi dan menyisakan informasi yang benar-benar berguna bagi pemilik restoran. Ada petunjuk singkat di bagian atas, menjelaskan bahwa angka yang tidak tersedia sebaiknya dibiarkan kosong daripada diisi dengan perkiraan yang tidak jelas.

Arthur segera membalas.

Arthur: Ini jauh lebih praktis. Aku akan meminta Samuel mengujinya selama beberapa hari lagi.

Clara: Bagus. Aku ingin melihat apakah dia benar-benar menggunakannya, bukan sekadar mengatakan bahwa tabelnya bagus.

Arthur tersenyum.

Arthur: Itu juga yang ingin kuketahui.

Beberapa detik kemudian, Clara mengirim pesan lagi.

Clara: Ngomong-ngomong, kau pernah merasa bahwa memulai sesuatu dari nol itu melelahkan? Maksudku, ketika kita tahu apa yang ingin kita lakukan, tetapi belum punya cukup sumber daya untuk melakukannya.

Arthur terdiam.

Pertanyaan itu bisa saja hanya berkaitan dengan proyek kecil mereka. Namun, ia teringat ucapan Clara beberapa hari sebelumnya, ketika gadis itu mengatakan bahwa banyak hal dalam hidupnya terasa seperti sudah ditentukan oleh orang lain.

Arthur tidak ingin membuat kesimpulan tentang kehidupan pribadi Clara tanpa mengetahui kenyataannya.

Ia mengetik jawaban dengan hati-hati.

Arthur: Pernah. Kadang-kadang kita punya gambaran besar, tetapi hanya bisa mengambil langkah kecil. Itu bisa membuat kita frustrasi.

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

Arthur: Tapi langkah kecil tidak selalu berarti kita tidak mengalami kemajuan. Kadang-kadang, kita hanya sedang membangun sesuatu yang belum terlihat hasilnya.

Clara tidak langsung membalas.

Arthur meletakkan ponsel dan kembali memeriksa catatan investasinya. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan baru muncul.

Clara: Aku suka cara pandang itu. Terima kasih, Arthur.

Arthur membaca pesan tersebut dengan senyum tipis.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dihadapi Clara. Ia hanya berharap gadis itu dapat menemukan ruang untuk menentukan pilihannya sendiri, tanpa merasa harus memenuhi harapan semua orang.

Untuk saat ini, itu sudah cukup.

Selasa, 25 Oktober 2016 — Pukul 09.40

Arthur dan Daniel tiba di Lawson Market sepuluh menit sebelum jadwal pertemuan.

Toko itu berada di sudut jalan yang cukup ramai. Di seberangnya terdapat halte bus kecil, sementara beberapa blok dari sana berdiri sebuah supermarket yang lebih besar dengan area parkir luas.

Daniel memandang ke arah supermarket tersebut sebelum membuka pintu toko.

"Kalau pelanggan ingin membeli banyak barang sekaligus, tempat itu jelas lebih menarik," katanya. "Pilihan produknya lebih banyak, dan mereka bisa berbelanja sambil memarkir mobil."

Arthur mengangguk.

"Itulah sebabnya kita tidak boleh menganggap promosi sederhana akan menyelesaikan semuanya."

Mereka masuk dan menemukan Peter Lawson sedang berdiri di belakang meja kasir. Pria itu mengenakan kemeja biru dengan lengan digulung hingga siku. Di belakangnya, beberapa kotak barang belum sempat dibuka.

"Arthur, Daniel. Kalian datang tepat waktu."

Lawson menjabat tangan mereka, lalu mengajak keduanya ke sebuah meja kecil di bagian belakang toko.

Di atas meja terdapat beberapa lembar catatan penjualan dan sebuah buku tulis tebal.

"Ini bukan laporan yang rapi," katanya. "Aku biasanya mencatat penjualan harian dan pengeluaran utama. Untuk beberapa barang, aku punya catatan stok, tetapi tidak semuanya."

Arthur memeriksa lembaran tersebut.

"Ini sudah cukup untuk langkah pertama, Pak Lawson. Kami tidak perlu memeriksa seluruh pembukuan sekarang."

Lawson terlihat sedikit lega.

"Bagus. Karena kalau kalian meminta semua catatan selama setahun, mungkin aku perlu waktu dua minggu untuk menemukannya."

Daniel tertawa kecil.

"Kami tidak ingin membuat Anda menghabiskan waktu mencari dokumen ketika toko ini masih harus beroperasi."

Arthur mulai mengajukan pertanyaan.

Ia ingin mengetahui kapan penjualan toko kedua mulai menurun, apakah penurunan tersebut terjadi pada hari tertentu, dan apakah perubahan itu juga terlihat pada toko pertama. Ia juga bertanya apakah Lawson mengubah harga, pemasok, atau jenis barang yang dijual dalam beberapa bulan terakhir.

Lawson menjawab satu per satu.

Penjualan toko kedua mulai melemah sekitar dua bulan sebelumnya. Penurunan paling terasa pada sore hari, terutama setelah pukul empat. Pada pagi hari, toko itu masih memiliki pelanggan tetap, kebanyakan pekerja lokal dan orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar.

Namun, setelah jam kerja berakhir, banyak orang memilih berbelanja di supermarket yang lebih besar.

"Awalnya aku pikir ini hanya masalah harga," kata Lawson. "Aku sudah menurunkan harga beberapa barang, tetapi hasilnya tidak banyak berubah."

Arthur mencatat informasi tersebut.

"Apakah Anda tahu barang apa yang paling sering dibeli pelanggan pada sore hari?"

Lawson menggeleng.

"Aku tahu beberapa barang yang laku, tetapi tidak pernah mencatatnya berdasarkan jam."

"Kalau begitu, kita belum bisa memastikan apakah masalahnya benar-benar harga atau justru pilihan barang dan kebiasaan pelanggan."

Lawson menyilangkan tangan.

"Jadi, kalian belum punya solusi?"

"Kami punya beberapa dugaan," jawab Arthur. "Tetapi saya tidak ingin menyebut dugaan sebagai solusi sebelum kami memiliki cukup bukti."

Untuk sesaat, Lawson tampak kecewa. Arthur bisa memahaminya. Sebagai pemilik bisnis, pria itu ingin melihat perubahan nyata, bukan mendengar penjelasan panjang mengenai keterbatasan data.

Namun, setelah memandang catatan penjualannya sendiri, Lawson menghela napas.

"Baiklah. Apa yang harus kami lakukan?"

Arthur mengeluarkan satu lembar tabel sederhana.

"Kami ingin Anda mencatat jumlah transaksi pada tiga rentang waktu: pagi, siang, dan sore. Tidak perlu menghitung setiap orang yang masuk. Cukup catat transaksi yang benar-benar terjadi."

Daniel menambahkan, "Kalau memungkinkan, catat juga lima atau sepuluh barang yang paling sering dibeli selama jam-jam tersebut. Kita tidak perlu mencatat semua produk sekaligus."

Arthur melanjutkan, "Setelah beberapa hari, kita bisa membandingkan pola penjualan. Jika jumlah transaksi sore hari rendah, kita akan mencari cara menarik pelanggan. Jika jumlah transaksinya cukup tinggi tetapi nilai belanjanya rendah, kita mungkin perlu memeriksa kombinasi produk atau kebutuhan pelanggan."

Lawson menatap tabel itu.

"Dan setelah itu kalian akan membuat promosi?"

"Jika datanya mendukung," jawab Arthur. "Kami bisa mencoba promosi kecil pada beberapa barang yang sesuai. Tetapi kita juga perlu memperhitungkan margin keuntungan. Diskon yang membuat penjualan naik belum tentu meningkatkan laba."

Lawson mengangguk perlahan.

"Baiklah. Aku akan meminta pegawai mencatatnya."

Arthur segera menambahkan, "Kita sebaiknya membatasi pencatatan pada beberapa barang terlebih dahulu supaya tidak mengganggu pekerjaan mereka. Kalau terlalu merepotkan, data yang kita dapatkan justru tidak akan konsisten."

Pertemuan itu berlangsung sekitar empat puluh menit.

Mereka tidak pulang membawa kontrak baru atau janji bahwa penjualan akan meningkat. Sebaliknya, mereka mendapatkan sesuatu yang lebih berguna: gambaran awal tentang masalah yang sedang dihadapi Lawson dan data yang bisa membantu mereka menentukan langkah berikutnya.

Di luar toko, Daniel mengembuskan napas panjang.

"Entah kenapa, aku merasa kita baru saja menghabiskan empat puluh menit untuk mengatakan bahwa kita belum tahu apa-apa."

Arthur memasukkan catatannya ke dalam tas.

"Kita sekarang tahu lebih banyak daripada sebelum masuk."

"Benar. Tapi kita belum dibayar untuk mengumpulkan informasi."

"Kita sudah dibayar untuk pekerjaan yang disepakati. Dan kalau kita menemukan bahwa masalah Lawson berada di luar kemampuan proyek itu, kita harus mengatakannya dengan jujur."

Daniel menatapnya.

"Kau sungguh-sungguh tidak mau mengambil pekerjaan tambahan tanpa kesepakatan baru, ya?"

"Tidak. Kalau lingkup pekerjaan berubah, kita perlu membicarakannya."

Daniel tersenyum kecil.

"Bagus. Setidaknya aku tidak perlu khawatir suatu hari nanti kau akan menjanjikan seluruh hidup kita kepada seorang pelanggan hanya karena dia terlihat kaya."

Arthur tertawa.

"Kalau pelanggan itu sangat kaya, aku mungkin akan meminta uang muka yang lebih besar."

"Arthur!"

"Aku bercanda."

Daniel menggeleng, tetapi ia ikut tertawa.

Di tengah percakapan ringan itu, Arthur merasakan sesuatu yang tidak pernah ia miliki dalam kehidupan pertamanya pada usia dua puluh tahun.

Ia tidak sedang membangun bisnis sendirian.

Sore harinya, setelah kembali ke kampus, Arthur menerima surel dari Richard Coleman.

Subjeknya berbunyi: Pembaruan Analisis Aurelia Therapeutics.

Arthur membuka pesan itu.

Richard menulis bahwa ia berharap Arthur tetap mengikuti perkembangan perusahaan tersebut dan memperbarui analisisnya setelah pengumuman klinis dirilis. Ia juga mengingatkan bahwa penilaian yang baik harus mampu menjelaskan hasil yang tidak sesuai perkiraan, bukan hanya hasil yang mendukung tesis awal.

Di bagian akhir, Richard menambahkan satu kalimat.

Jika Anda ingin memahami pasar dengan serius, jangan hanya bertanya apakah prediksi Anda benar. Tanyakan juga apakah proses yang membawa Anda pada prediksi itu dapat dipertanggungjawabkan.

Arthur membaca kalimat itu beberapa kali.

Ia kemudian membuka draf analisis Aurelia yang pernah dikirimkannya kepada Richard. Dokumen itu menjelaskan tahap pengembangan perusahaan, kebutuhan pendanaan, risiko dilusi, dan perbedaan antara keberhasilan klinis dengan keberhasilan komersial.

Namun, Arthur menyadari bahwa ada satu bagian yang perlu diperjelas.

Ia belum cukup menekankan bahwa keberhasilan sebuah uji klinis tidak menghapus risiko lainnya. Perusahaan farmasi masih dapat menghadapi masalah manufaktur, persetujuan regulator, kebutuhan modal tambahan, persaingan, atau kesulitan menjual produknya secara menguntungkan.

Ia memperbaiki bagian tersebut dan menyimpan versi terbaru.

Arthur belum mengirimkannya kepada Richard. Ia ingin menunggu sampai ada informasi baru yang benar-benar dapat mengubah analisisnya.

Setelah itu, ia memeriksa pasar sekali lagi.

Harga Aurelia masih bergerak tanpa pengumuman resmi yang dapat memastikan hasil uji klinis. Ia tidak menambah posisi dan tidak melakukan transaksi hanya karena merasa waktu semakin dekat.

Namun, ketika ia hendak menutup laptop, sebuah pemberitahuan berita muncul di layar.

Arthur membacanya sekilas.

Beberapa perusahaan farmasi kecil sedang bersiap mengumumkan hasil penelitian mereka dalam beberapa hari mendatang. Berita itu tidak secara khusus menyebut Aurelia, dan Arthur tidak menganggapnya sebagai tanda bahwa pengumuman perusahaan tersebut akan terjadi hari itu juga.

Ia menutup pemberitahuan tersebut.

Besok, lusa, atau beberapa hari lagi—ia tidak dapat mengendalikan kapan pengumuman itu akan muncul.

Yang bisa ia kendalikan adalah bagaimana ia mempersiapkan diri.

Malam itu, Arthur duduk di meja kecil apartemennya sambil memandang dua dokumen yang terbuka di layar laptop.

Dokumen pertama berisi analisis investasi Aurelia Therapeutics.

Dokumen kedua berisi rancangan sederhana untuk mengukur penjualan Lawson Market.

Keduanya mengajarkan pelajaran yang sama dari sudut berbeda.

Angka dapat memberi petunjuk, tetapi tidak selalu memberikan jawaban. Prediksi dapat membantu seseorang mengambil keputusan, tetapi tidak menghilangkan ketidakpastian. Dan sebuah hasil yang baik tidak selalu membuktikan bahwa proses yang digunakan sudah benar.

Arthur menutup dokumen investasi dan memusatkan perhatian pada catatan bisnisnya.

Ia menulis perkembangan hari itu: Lawson bersedia mengumpulkan data penjualan berdasarkan waktu, Daniel akan memperbarui halaman promosi setelah informasi dasar dikonfirmasi, dan mereka belum akan mengusulkan diskon sebelum memahami pola transaksi.

Kemudian ia menambahkan pengingat untuk dirinya sendiri.

Jangan menjual kepastian ketika yang dimiliki hanya kemungkinan.

Arthur meletakkan pena.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah memimpin perusahaan-perusahaan besar dengan ribuan pegawai. Ia mengetahui bagaimana membuat keputusan yang memengaruhi pasar dan bagaimana membangun kekayaan dari peluang yang dilihat orang lain terlalu lambat.

Namun, ia juga tahu bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi yang tidak bisa dihapus hanya dengan menyesali hasilnya.

Kini, ia sedang belajar kembali dari awal.

Beberapa hari ke depan akan menjadi ujian bagi investasi Aurelia. Jika ingatannya benar, hasil yang dinantikan akan segera muncul. Jika ingatannya meleset dalam hal waktu atau reaksi pasar, ia harus menerima bahwa pengetahuan dari kehidupan sebelumnya bukanlah jaminan keuntungan.

Arthur mematikan laptopnya.

Ia tidak tahu apakah pengumuman itu akan menjadi awal dari modal besar pertamanya atau justru pelajaran mahal tentang batas ingatannya sendiri.

Tetapi satu hal sudah jelas.

Ia tidak akan membiarkan satu transaksi menentukan siapa dirinya.

Di luar jendela, hujan kembali turun membasahi jalanan Queens.

Dan di suatu tempat di pasar yang belum tidur, waktu terus bergerak menuju hari ketika Aurelia Therapeutics akhirnya harus membuka hasil penelitiannya kepada dunia.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!