"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.Ketakutan Kehilangan
"Aksa! Jangan tutup matamu! Aksa!" teriak Naya histeris. Ia mengguncang pelan bahu pria yang kini tak lagi merespons itu.
Air mata Naya tumpah semakin deras, menyatu dengan guyuran hujan yang terus menghantam tubuh mereka. Tangan Aksa yang sedingin es baru saja terlepas dari pipinya, jatuh membentur aspal berdarah dengan bunyi berdebum pelan. Naya menampar pelan pipi pucat Aksa dengan tangan kirinya, mencoba mencari setitik kesadaran dari sang CEO.
"Bangun, Aksa! Jangan bercanda di saat seperti ini! Kamu tidak boleh mati setelah membuat hidupku hancur! Kamu berutang banyak penjelasan padaku! Buka matamu sekarang juga!" raung Naya putus asa. Suaranya pecah dan serak, nyaris tenggelam dalam riuhnya kepanikan warga sekitar.
Insting dokter bedahnya berteriak sangat keras mengalahkan kepanikannya. Ia tahu persis kondisi pria ini sudah berada di batas paling fatal. Naya langsung merobek sisa kemeja Aksa yang sudah basah oleh darah dan lumpur. Ia menempelkan telapak tangan kirinya kuat-kuat di atas luka terbuka di kepala Aksa, berusaha menghentikan aliran darah yang terus keluar dari sana.
"Ambulans datang! Beri jalan! Beri jalan!" teriak seorang warga dari arah jalan raya yang gelap.
Suara sirine yang melengking nyaring membelah malam. Sebuah ambulans dari Rumah Sakit Medika Jaya berhenti mendadak tepat di dekat kerumunan. Dua orang paramedis melompat turun membawa tandu darurat dan tas medis, berlari menembus hujan badai mendekati lokasi kejadian.
"Dokter Naya!" seru salah satu paramedis terkejut melihat Kepala Bedah kebanggaan mereka duduk bersimbah darah di atas aspal.
"Cepat angkat dia ke tandu! Ada trauma kepala berat dan curiga patah tulang rusuk! Jangan banyak tanya, cepat bergerak sekarang!" perintah Naya dengan nada tegas dan keras, mengendalikan rasa paniknya yang nyaris meledak. Insting medisnya mengambil alih sepenuhnya.
Para petugas itu bergerak cepat tanpa bantahan. Mereka memindahkan tubuh besar Aksa ke atas tandu dengan hati-hati, lalu mendorongnya masuk ke dalam kabin ambulans. Naya langsung melompat naik menyusul ke dalam, sama sekali tidak peduli pada gips di tangan kanannya yang sudah kotor dan basah kuyup terkena lumpur.
Pintu ambulans dibanting tutup. Sirine kembali meraung keras saat mobil itu melesat membelah jalanan kota yang licin.
Di dalam kabin ambulans yang terang dan sempit, kepanikan kembali meledak.
"Pasang oksigen maksimal! Berikan cairan infus ringer laktat sekarang juga! Tekanan darahnya pasti anjlok parah!" perintah Naya cepat. Tangan kirinya langsung merampas tumpukan kasa steril dari lemari kabin dan menekannya kuat-kuat ke pelipis Aksa.
Darah kental langsung merembes membasahi kasa putih itu dalam hitungan detik. Naya menggigit bibir bawahnya keras-keras menahan tubuhnya yang gemetar. Tenaga tangan kirinya tidak cukup kuat menekan luka, sementara tangan kanannya benar-benar lumpuh tak bisa membantu sama sekali.
"Dokter Naya, tangan Dokter juga butuh perawatan! Biar aku yang menekan lukanya," ucap paramedis muda di seberangnya dengan wajah pucat melihat gips Naya ikut berlumuran darah.
"Jangan sentuh dia! Urus saja saluran infusnya dan pastikan cairan masuk lancar!" bentak Naya marah. Matanya menatap tajam paramedis itu, lalu kembali menunduk menatap wajah Aksa yang kini terlihat sedingin pualam.
Naya mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Aksa. Air mata wanita itu kembali menetes deras, jatuh mengenai dada bidang sang pria yang naik turun dengan sangat lambat.
"Kamu dengar aku, Aksa? Bertahanlah. Tolong, jangan menyerah di sini," isak Naya pelan. Suaranya bergetar hebat membelah suara mesin dan bunyi alat medis di dalam ambulans. "Kamu bilang kamu mau menebus semuanya. Kamu bilang kamu mau minta maaf seumur hidupmu. Kamu belum melakukan apa-apa, Bodoh! Bangun dan buktikan ucapanmu padaku!"
Mesin monitor EKG di samping tandu berbunyi dengan tempo yang sangat cepat namun lemah. Tit, tit, tit. Garis grafiknya naik turun tidak beraturan menandakan jantung Aksa sedang berjuang keras memompa sisa darah.
"Denyut jantung pasien semakin melemah, Dok! Saturasi oksigennya turun drastis ke angka tujuh puluh!" lapor paramedis dengan panik, matanya melotot ketakutan menatap layar monitor. "Kita kehilangan dia, Dokter!"
"Siapkan alat intubasi! Naikkan dosis cairannya! Jangan menyerah! Terus pompa kantong oksigennya!" teriak Naya kalap. Rasa takut kehilangan yang teramat besar kini mencekik lehernya rapat-rapat, merampas semua oksigen dari paru-parunya.
Naya terus menekan luka di kepala Aksa dengan tangan kirinya, meremas kemeja pria itu dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak peduli jika telapak tangannya kram atau mati rasa.
"Aksa, kumohon," Naya menangis tersedu-sedu, membuang semua sisa pertahanan dan dinding es yang ia bangun susah payah. "Aku memaafkanmu. Aku memaafkan semua kesalahanmu. Asalkan kamu membuka mata. Jangan tinggalkan aku sendirian lagi. Tolong, Aksa. Jangan pergi."
Naya mendekatkan bibirnya ke kening Aksa yang sedingin es, menciumnya lama dengan keputusasaan yang sangat dalam. Ia rela menukar tangannya, karir medisnya, bahkan sisa nyawanya sendiri asalkan jantung pria ini tetap berdetak malam ini.
Namun, seolah semesta enggan mendengar permohonan putus asa wanita itu, tepat ketika Naya menarik wajahnya mundur, suara ritmis dari mesin monitor EKG itu mendadak berubah.
Tit... tit... tit...
Garis hijau yang tadinya masih bergerak naik turun dengan lemah, kini mendadak ditarik lurus tanpa ampun di atas layar.
Tiiiiiiitttttt!
Suara melengking panjang itu meledak di dalam kabin ambulans yang sempit. Sangat nyaring, datar, dan mematikan.
Naya membeku seketika. Napasnya terputus di pangkal tenggorokan. Matanya membelalak lebar menatap ngeri garis lurus tak berujung di layar monitor tersebut. Suara melengking itu menembus tajam telinganya, seolah sebuah pisau raksasa baru saja membelah dadanya dan membuat jantung Naya ikut berhenti berdetak detik itu juga.
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak