Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 KEJUTAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Beberapa minggu berlalu sejak Zain pertama kali menginjakkan kaki di asrama, perlahan namun pasti ia mulai mengenal setiap sudut tempat itu. Mulai dari lorong yang selalu remang-remang di sore hari, hingga pohon mangga besar di halaman belakang tempat para siswa sering berkumpul saat hari libur. Kehadiran Rian, Bima, dan Dimas membuatnya merasa tidak terlalu sendirian, meski di dalam hatinya masih ada ruang yang terasa kosong dan rindu pada kehidupan lamanya. Namun yang paling tak terduga adalah kehadiran Vanya, gadis ceroboh yang entah bagaimana caranya selalu bisa membuat hari-harinya terasa lebih hidup sekaligus lebih kacau di saat yang bersamaan.
Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lainnya, namun ada sesuatu yang berbeda di udara. Zain baru saja selesai merapikan tempat tidurnya ketika suara pengumuman terdengar dari pengeras suara di lorong.
‘SEMUA SISWA HARAP BERKUMPUL DI AULA UTAMA PUKUL DELAPAN PAGI, ADA PENGUMUMAN PENTING TERKAIT PROGRAM BARU SEKALIGUS KEDATANGAN SISWA PINDAHAN BARU’
Rian menaikkan alis sambil memakai sepatunya.
"Siswa pindahan baru ? Biasanya penerimaan siswa sudah tutup sejak minggu lalu" Ujar Rian merasa bingung
"Mungkin ada yang pindah masuk di tengah semester" Sahut Bima tenang.
"Ayo kita cepat, jangan sampai terlambat" Ajak Dimas
Mereka berempat berjalan menuju aula bersama-sama, di lorong Vanya berlari menyusul mereka dengan napas terengah-engah.
"Tunggu aku, kalian jalannya cepat sekali pagi ini" Ucap Vanya
*****
Sesampainya di aula, tempat itu sudah cukup penuh. Mereka duduk di baris tengah, menunggu dengan rasa penasaran yang mulai tumbuh. Tak lama kemudian, Kepala Sekolah berjalan masuk ke atas panggung diiringi seorang gadis yang berjalan di sebelahnya. Saat gadis itu menatap ke arah para siswa yang hadir, mata Zain terbelalak tak percaya dengan jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
Gadis itu adalah Keira Cattleya Wiratama.
Dunia Zain terasa berhenti berputar sejenak, Keira adalah gadis yang menjadi kekasihnya sejak sekolah yang dulu, gadis yang terakhir kali ia temui dengan perasaan yang belum sempat ia sampaikan sepenuhnya, kini berdiri di hadapannya di tempat yang sama sekali tidak ia duga.
"Ini Keira Cattleya Wiratama, siswa pindahan baru yang akan bergabung dengan kita mulai hari ini," Ucap Kepala Sekolah dengan senyum ramah.
"Silakan berikan sambutan hangat untuknya" Lajut Kepala Sekolah
Tepuk tangan terdengar di seluruh ruangan, namun Zain sama sekali tidak bergerak. Matanya masih terpaku pada sosok gadis di atas panggung itu, Keira menatap ke sekeliling ruangan, dan saat matanya bertemu dengan mata Zain. Ia terlihat terkejut namun kemudian senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang dulu selalu mampu menenangkan hati Zain kapan pun ia sedang dalam masalah.
Setelah upacara selesai, para siswa mulai berhamburan keluar aula. Zain berjalan terhuyung-huyung menuju pintu keluar, ingin segera pergi sebelum Keira sempat mencarinya. Namun belum sempat ia melangkah jauh, suara yang sangat ia kenal terdengar memanggil namanya dari belakang.
"Zain !"
Langkah Zain terhenti, ia menelan ludah lalu perlahan berbalik. Keira berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dengan campuran rasa senang dan sedih yang sulit dijelaskan.
"Kamu, apa yang kamu lakukan di sini ?" Tanya Zain, suaranya terdengar lebih bergetar dari yang ia duga.
Keira tersenyum tipis.
"Aku pindah ke sini, Zain. Ayahku dipindahkan tugas ke kota ini, jadi aku ikut serta. Siapa yang menyangka, kita akan bertemu di tempat seperti ini" Jawab Keira
Zain menghela napas panjang, rasanya begitu banyak hal yang ingin ia ucapkan namun lidahnya terasa kelu.
"Aku tidak percaya ini sungguhan, Leya ?" Tanya Zain
"Benar-benar sungguhan" Jawab Keira lembut.
"Dan aku sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi" Lanjut Keira
Belum sempat Zain menjawab, Vanya tiba-tiba muncul di sampingnya sambil tersenyum ceria.
"Hai Zain, kamu kenal dengan siswa baru ini ya ? Perkenalkan aku Vanya, teman sekelas Zain. Kamu teman lamanya ?" Ujar Vanya
Keira menatap Vanya sekilas, lalu kembali menatap Zain dengan tatapan yang sedikit berubah seakan ada sesuatu yang menggelayuti di antara mereka yang belum terjawab.
"Ya, aku kenal Zain sejak lama" Jawab Keira pelan, matanya tak beralih dari wajah Zain.
"Kami, dekat sekali dulu" Tambah Keira
Vanya yang polos hanya tersenyum lebar.
"Wah, ternyata begitu. Jadi kalian pasti punya banyak cerita lama untuk dibagikan, aku permisi dulu ya, ada yang harus aku kerjakan di kantin. Sampai jumpa" Ucap Vanya
Saat Vanya pergi, suasana di antara mereka berdua menjadi hening seketika. Zain merasa canggung sekaligus gembira yang tak bisa ia sembunyikan. Keira masih menatapnya dalam, seakan ingin memastikan bahwa sosok yang berdiri di hadapannya ini benar-benar Zain yang ia kenal.
"Kamu terlihat berbeda, Zain" Ucap Keira akhirnya, memecah keheningan.
"Tapi matamu belum berubah, masih sama seperti dulu" Lanjut Keira
Zain tersenyum getir.
"Aku bukan orang yang sama seperti dulu, Leya. Banyak hal yang berubah sejak terakhir kali kita bertemu" Jawab Zain
"Mungkin begitu" Jawab Keira pelan, langkahnya mendekat sedikit.
"Tapi aku percaya padamu dan aku senang kita bisa bertemu lagi di sini, mungkin ini memang waktu yang tepat untuk memperbaiki semuanya bersama-sama" Lanjut Keira
Hari itu berakhir dengan perasaan yang campur aduk di hati Zain, di satu sisi kehadiran Keira membuatnya merasa seperti bagian dari dunia lamanya kembali kepadanya. Namun di sisi lain, ia juga menyadari bahwa di asrama ini, kehidupannya bukan lagi miliknya sendiri karena ia memiliki teman-teman baru, rutinitas baru, dan masa depan yang belum tentu berjalan sesuai rencananya. Dan di antara dua dunia itu, ada Vanya yang tanpa sadar perlahan menjadi bagian dari hari-harinya yang tak tergantikan.
Zain tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, namun satu hal yang ia sadari dengan pasti hidup di asrama ini tidak akan pernah sesederhana yang ia kira.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...