NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Soal Perasaan Kamu

"Gimana kalau kita panggil Reyna ke sini? Sekalian biar dia tahu," usul Bagas tiba-tiba, memecah keheningan kamar.

Perkataan Bagas yang terlontar begitu saja bak petir di siang bolong. Agnia dan Dikta seketika menoleh ke arah pria itu dengan ekspresi yang sangat bertolak belakang, Agnia melotot tak percaya, sementara Dikta hanya menaikkan sebelah alisnya dengan pandangan menilai.

​"Mas! Kamu gila ya?" semprot Agnia dengan nada berbisik namun penuh penekanan.

​"Daripada kita cuma berasumsi dan bikin rencana muter-muter kayak komedi putar," jawab Bagas santai, sama sekali tak merasa bersalah.

Bagas bangkit dari tepi ranjang dan mendekati Agnia, "Mumpung momentumnya pas, Yang. Dikta udah bilang dia mau dan serius, bukan mau pacaran main-main. Nah, tinggal Reyna-nya. Kalau Reyna juga ada rasa tapi ragu, kehadiran kita bertiga di sini justru bisa jadi saksi kejelasan hubungan mereka. Kamu juga bisa meyakinkan Reyna secepatnya," lanjutnya.

​Agnia menggigit bibir bawahnya, keraguan mulai menguasai pikirannya, "Tapi Mas, ini terlalu cepat...," balas Agnia ragu.

​"Tidak terlalu cepat kalau niatnya baik," sahut Dikta tiba-tiba.

​Suara bariton Dikta yang tenang memotong keraguan di dalam kamar tersebut. Pria itu berdiri dari sofanya dan membetulkan letak jam tangan kulitnya, lalu menatap Agnia lurus-lurus.

​"Panggil Reyna ke sini, kalau memang kamu mau memastikan perasaan dia dan tidak ingin Anton atau pria lain mengganggunya, kita bicarakan sekarang secara baik-baik," lanjut Dikta.

​Agnia tersentak, keberanian dan ketegasan Dikta yang tanpa keraguan sedikit pun berhasil melumpuhkan semua argumentasinya. Ia memandang Bagas yang mengangguk, lalu mengembuskan napas pasrah.

​"Oke... oke, gue panggil Reyna. Tapi ingat ya kalian berdua, ngomongnya halus-halus! Jangan bikin Reyna takut!" ancam Agnia seraya menunjuk Bagas dan Dikta bergantian sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.

​Di sisi lain. Di dalam kamarnya, Reyna baru saja selesai mengeringkan rambut dengan handuk. Ia mengenakan sweater rajut longgar berwarna krem dan celana kain panjang yang nyaman, baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya di kasur, ketukan di pintunya terdengar.

​Tok! Tok! Tok!

​"Rey! Ini aku, Agnia. Bisa ikut aku sebentar nggak? Ada yang mau aku dibicarain," panggil Agnia dari luar.

​Reyna menyisir rambutnya sebentar dengan jemari, lalu membuka pintu. "Ada apa, Ni?" tanyanya.

​"Udah, ikut aku dulu sebentar ya," ucap Agnia dengan nada suara yang agak aneh, campuran antara gugup dan bersemangat.

​Tanpa curiga sedikit pun, Reyna melangkah mengekor di belakang sahabatnya menuju kamar yang ditempati Bagas dan Agnia. Namun, baru saja Reyna masuk, tiba-tiba pintu langsung dikunci rapat oleh Agnia dari dalam, perasaan Reyna mulai tidak enak.

​Di dalam kamar, Bagas duduk di tepi ranjang dengan senyum penuh arti. Sementara Dikta berdiri tegap di dekat jendela besar yang menghadap ke arah lembah Dieng, tatapan mata hitam Dikta yang dalam langsung tertuju padanya begitu ia melangkah masuk.

​"Lho... ini ada apa? Kok pintunya dikunci?" tanya Reyna bingung, matanya bergeser menatap Agnia, Bagas, lalu berhenti di sosok Dikta.

​"Rey, duduk dulu sini," ajak Agnia seraya menuntun Reyna untuk duduk di sofa tunggal tempat Dikta duduk tadi, sementara Agnia dan Bagas berdiri tidak jauh dari sana.

Dikta memilih tetap berdiri, menyandarkan separuh tubuhnya pada pinggiran meja kayu di dekat jendela. ​Atmosfer di dalam kamar mendadak terasa begitu intens dan serius, membuat napas Reyna tertahan.

​"Rey...," Agnia membuka suara dan menatap sahabatnya dengan raut serius.

"Aku mau tanya satu hal sama kamu dan aku mohon kamu jawab dengan jujur dari hati kamu yang paling dalam, jangan ada yang ditutup-tutupi," ucap Agnia.

​"Soal... soal apa, Ni?" bisik Reyna, jemarinya mulai saling bertautan erat di atas pangkuannya dan refleks tubuhnya setiap kali merasa gugup.

​"Soal perasaan kamu. Jujur sama aku, selama beberapa hari ini... gimana perasaan kamu ke Dikta? Apa kamu ada rasa tertarik atau merasa nyaman sama dia? Atau kamu cuma menganggap dia sekadar temannya Mas Bagas?" tanya Agnia.

​Deg!

​Jantung Reyna rasanya melompat keluar dari dada, wajahnya seketika memerah padam hingga ke ujung telinga. Ia sama sekali tidak menyangka Agnia akan bertanya soal perasaannya secepatnya ini, apalagi di dalam kamar itu juga ada Dikta.

​Reyna refleks melirik ke arah Dikta. Pria itu tidak menghindar, mata elangnya menatap Reyna dengan kehangatan dan ketenangan yang luar biasa, seolah memberikannya kebebasan untuk berbicara tanpa perlu merasa dihakimi.

​"Nia... kenapa tiba-tiba tanya begitu?" cicit Reyna, suaranya hampir tak terdengar karena tertutup rasa malu yang membumbung tinggi.

"Aku... aku sangat menghargai Dikta karema dia temannya Bagas, dia orang yang sangat baik dan udah bantu aku banyak hal dari awal...,"

​"Reyna," potong Dikta lembut namun tegas.

​Suara bariton Dikta menghentikan kalimat defensif Reyna. Dikta melangkah pelan mendekat, lalu menarik sebuah kursi kayu kecil dan duduk tepat di hadapan Reyna, jarak mereka kini hanya terpaut satu meter.

​"Jangan jawab karena rasa segan atau rasa terima kasih," ucap Dikta dan menatap lurus ke dalam manik mata Reyna yang bergetar.

"Iya, jawab berdasarkan apa yang kamu rasakan, Rey," ucap Agnia.

"Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal itu?" tanya Reyna.

"Kamu jawab dulu," ucap Agnia.

"Kamu jawab dulu, kenapa kamu tanya itu?" tanya Reyna.

"Agnia mau menjodohkan kita, aku setuju dengan perjodohannya. Tapi, aku mau tahu bagaimana kamu, kalau kamu setuju, aku bakal segera menikahi kamu," ucap Dikta.

Perkataan blak-blakan yang keluar dari bibir Dikta seolah menghentikan aliran udara di dalam kamar tersebut.

​Reyna terpaku, matanya melebar sempurna menatap pria berwajah tegas di hadapannya, jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging dan merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong.

​"Dikta! Gue kan udah bilang, jangan ngomong langsung to the point kayak gitu! Kasihan Reyna, dia kaget!" semprot Agnia setengah berbisik seraya menepuk jidatnya sendiri.

​Bagas yang berdiri di samping Agnia terbatuk kecil, menahan senyum geli melihat kejujuran sahabatnya yang terlampau frontal.

​Namun, Dikta tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Reyna, manik mata hitamnya tetap menatap penuh kesungguhan dan ketenangan.

​"Gue nggak suka berbelit-belit," ucap Dikta santai tanpa menoleh, lalu kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada gadis di depannya.

"Reyna... maaf kalau perkataan saya mengejutkan kamu. Tapi apa yang saya katakan itu jujur," ujarnya.

​Reyna mencengkeram tepi sweater krem yang dikenakannya, dadanya naik turun mengatur napas yang mendadak sesak karena gugup dan kecewa.

"Agnia," panggil Reyna.

"Iya, Rey?" jawab Agnia.

"Aku aku se-nggak laku itu ya sampai kamu tawarin aku kesana sini?" tanya Reyna.

.

.

.

Bersambung.....

1
Valen Angelina
tuh kan salah paham jdinya wjwkkw😂
Evi Rachmawati
kasian reyna di jodoh"in.. smoga dikta tdk terpaksa menerima reyna.. dan smoga dikta mmg ada rasa sm reyna..
smoga berjodoh..
😎
falea sezi
Agnia maksa amat 😕 kasian Reyna kesannya kayak. dagangan aja di. tawar tawarin kayak. gk. laku gt😒
Aidil Kenzie Zie
ayo gaskan Nia jadi Mak Comblang 🤭🤭🤭🤭
lia juliati
kaga kebayang gimana perasaan Reyna klo denger obrolan meraka..... rasanya mau kabur aja..... kesannya Reyna butuh pasangan bgt.... mentang2 Agnia udah berstatus.... puas2 in nikmatin hidupmu rey
lia juliati
klo kata dikta terserah Reyna mau d deketin orng lain..... gppp sih......
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil
Rizky Manik
tanyak langsung aja sama orangnya dik, masak nanyak sama Agnia sih🤭
Rizky Manik
bener kata agnia, Dikta kurang gercep jadi kurang greget deh
Felycia Fernandez
gue lagi nggak pengen pacaran katanya...mungkin langsung nikah kali ya 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Keisengan belaka ya bagusnya
lia juliati
ayo anton pepet terooooosssss,
falea sezi
lagian krja kantoran masak sepatu pesta satu aja kaga punya 🤣🤣 bloon
falea sezi
bodoh resain lah
Rizky Manik
bagus Anton dekatin aja Reyna,aku liat reaksi Dikta kekmana🤭🤭🤭
lanjut thor
Rizky Manik
meleleh adk pak dokter🤭🤭🤭
Sastri Dalila
🤣🤣
Felycia Fernandez
duuuuh Dikta...kamu bisa bisa buat Reyna baper ...katanya nggak mau pacaran
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😘😘😘
Syifa Fauziah
so sweet dikta😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!