Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEREBUTAN SINGGAHSANA
Kaneo meletakkan cangkir susunya dengan gerakan tenang namun terdengar nyaring memecah keheningan kafetaria. Ia berdiri tegak, bahu membusung, langkah kakinya mantap dan berat seakan setiap hentakan menegaskan kekuasaan yang tak boleh diganggu gugat ia berjalan lurus menuju ke arah Ivan dan Renzo. .
Melihat itu, mata para narapidana bersinar tak sabar. Pertikaian yang tak terhindarkan akhirnya tiba. Namun di sisi lain, mereka yang sudah pernah menyaksikan langsung betapa ganasnya Renzo dan Ivan hanya menggeleng pelan. Dalam hati mereka sudah menjatuhkan vonis mati kepada Kaneo. Bagi mereka yang belum pernah melihat kekuatan sejati kedua orang itu, mustahil untuk memahami seberapa dahsyat badai yang sedang ia cari sendiri.
Sementara itu Kaneo — sosok yang dikenal sombong dan arogan jelas tak akan berdiam diri melihat kehormatannya diinjak dan singgahsana kekuasaannya hendak direbut. Api perselisihan sudah menyala, tinggal menunggu waktu meledak menjadi pertarungan besar.
Para sipir yang menyadari ketegangan memuncak serentak mengangkat tongkat listrik, tubuh mereka menegang siap mencegah. Aturan tetaplah aturan — dilarang ada pertarungan di kafetaria. Namun kepala sipir justru mengangkat tangan, memberi isyarat menahan mereka semua.
"Saudara Kaneo, aku izinkan kau menegakkan aturan keluarga di tempat ini!" serunya lantang, nada bicaranya terdengar mendukung namun terselip makna lain yang tak disadari Kaneo. .
Kaneo berhenti sejenak, lalu menyeringai lebar penuh kepuasan,
"Terima kasih, Kepala Sipir!"
Ia terlalu larut dalam egonya, tak menyadari sarkasme yang terselip di ucapan itu. Bagi kepala sipir, ini adalah cara tercepat mengetahui siapa yang benar-benar berkuasa di gedung ini — biarkan mereka saling menguji sendiri.
Kaneo kembali melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan Renzo, menatapnya tajam seakan ingin menembus jiwa lawan.
"Kau Renzo?" suaranya terdengar datar namun penuh penekanan yang menusuk. "Kau yang membunuh Chalk?"
Ivan yang duduk di samping Renzo menatap Kaneo penuh tantangan, namun Kaneo seakan tak melihatnya — mengabaikan sosok berbahaya di ruangan itu hanya karena ingin merendahkan Renzo.
Lebih dari sepuluh detik berlalu, Renzo hanya diam, menatap tenang tanpa menanggapi sepatah kata pun.
Perlahan namun pasti, beberapa narapidana bangkit berdiri di belakang Kaneo. Pengikut-pengikut setianya. Kaneo masih memiliki pengaruh besar, terutama di mata para tahanan lama yang sudah lama menghormatinya, meski tahtanya kini mulai dipertanyakan. .
Di tengah ketegangan yang mencekam, salah satu anak buah Kaneo mendekat berbisik cemas hendak memperingatkan tuannya.
"Tu... Tuan... jangan provokasi mer—"
Belum sempat kalimat itu selesai, Riko — si Maling Internasional kelas kakap yang dijuluki Tangan Hantu, langsung bergerak.
Gerakannya begitu cepat nyaris tak tertangkap mata. Tangan kanannya menyambar garpu plastik di piring, mengayunkannya sekali, dan benda itu melesat bagai anak panah lepas dari busurnya. .
Sreeekk!!!
Ujung garpu menancap tepat di kerongkongan anak buah Kaneo dengan presisi yang mengerikan — menghancurkan saluran napas tanpa menembus terlalu dalam. Pria itu terhuyung mundur, matanya membelalak penuh ketakutan, tangan terangkat gemetar menyentuh lehernya yang kini mengeluarkan bunyi desihan pelan. Ia jatuh berlutut, tak mampu mengeluarkan suara apa pun.
Suasana hening seketika. Semua mata tertuju pada Riko. Bagaimana mungkin garpu plastik yang seharusnya mudah patah bisa dilemparkan dengan kekuatan dan ketepatan sedahsyat ini?
Kaneo terkejut sesaat sebelum amarah meledak di wajahnya.
"Riko! Kau cari mati!!"
Dengan gerakan kilat ia menyambar bangku kayu berat di sampingnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, lalu menghantamkannya ke arah Riko sekuat tenaga.
Wusss...!
Namun kepalan tangan lain lebih dulu menghantam permukaan bangku itu di udara.
Braaaakk...!!!
Bangku itu hancur berkeping-keping, kayu-kayu terlempar ke segala arah.
Swussshh...!!!.
Satu tendangan meluncur cepat menghantam dada Kaneo. Tubuh raksasa itu terlempar mundur, menabrak dua meja makan sebelum akhirnya berhenti terguling di lantai.
Para tahanan dan sipir melongo tak percaya. Yang menghancurkan bangku dengan kepalan tangan telanjang adalah Gavien — sang Algojo Kartel. Dan yang menendang Kaneo hingga terbang adalah Kayden — si petarung jalanan yang dijuluki Zombie.
Gerakan mereka begitu serasi, begitu terkoordinasi tanpa aba-aba, membuktikan bahwa kerja sama mereka berdua sama sekali tak bisa diremehkan.
Kayden menyeringai, menatap ke arah Kaneo yang berusaha bangkit.
"Seorang tikus putih yang baru keluar dari rumah sakit sama sekali tak layak untuk berhadapan langsung dengan Saudara Renzo dan Saudara Ivan." .
Ivan memiringkan kepalanya, tersenyum licik.
"Hei, bukankah kau Kaneo — Raja Gedung Naga Neraka? Mereka ini saudara baruku. Jika kau ingin berhadapan denganku, hadapi mereka dahulu. Jika kau masih bisa berdiri setelahnya, barulah aku akan bermain denganmu. Setuju?"
Wajah Kaneo memerah padam, urat-urat di leher dan keningnya menonjol jelas.
"Apakah kau pikir hanya dirimu yang memiliki anak buah?!"
Para pengikut Kaneo melangkah maju dengan langkah ragu-ragu, berdiri di samping tuannya. Ketakutan tergambar jelas di wajah mereka, namun tak ada yang berani menolak perintahnya.
"Gavien, Kayden, Riko... kalian semua sekarang berani menyerangku, ya? Dan menjadi kacung dua rendahan ini? Hahaha...!!" Kaneo tertawa keras penuh penghinaan. "Baiklah jika itu keinginan kalian! Hari ini kita buktikan siapa yang pantas duduk di singgahsana Naga Neraka!"
Kayden mendengus pelan, kakinya menggesek lantai siap meluncur.
"Jika ingin bertarung, kenapa banyak bicara?"
Tubuhnya berputar cepat, bayangannya kabur di mata orang-orang yang menyaksikan. Dalam sekejap, ia lenyap menyusup ke kerumunan, menghilang tanpa jejak.
Di saat yang sama, Gavien meraung keras melampiaskan seluruh tenaganya. Ia melompat tinggi, tubuhnya melengkung di udara, lalu meluncur dengan tendangan tajam mengarah lurus ke dada Kaneo. .
Riko meraih dua potong kaki bangku yang patah di lantai, memutarnya dengan kecepatan luar biasa hingga benda itu tampak seperti piringan yang berputar — nyaris tak terlihat oleh mata biasa.
Ketiganya bergerak dalam keselarasan sempurna: satu menyerang dari atas, satu menghilang menunggu celah, satu memutar senjata buatannya bersiap menyerang.
Anak buah Kaneo tak tinggal diam, mereka bergerak maju hendak memblokade serangan Gavien maupun Riko. Namun anggota Naga Neraka yang lain bergerak lebih cepat.
Takeshi Rengoku seorang Yakuza Ahli Katana melesat cepat bagai bayangan hitam, kakinya menyapu bersih anak buah Kanea— satu, dua, tiga, empat, lima, enak lebih dari enam orang terhempas jatuh sebelum sempat mengangkat tangan akibat tendangan beruntun Rengoku. .
Gaban seorang ketua preman jalanan bertubuh raksasa penghuni sel 511, berdiri tegak bagai tembok menghadang sisa pengikut Kaneo. Ia meraung rendah, meraih mereka satu per satu dengan tangan besarnya bagaikan gorila yang mengamuk, lalu melemparkan mereka satu persatu ke samping seakan mereka hanyalah batu kecil yang tak berharga.