NovelToon NovelToon
The Actress Who Fell For A Hidden Heir

The Actress Who Fell For A Hidden Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Duniahiburan
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.

Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.

Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.

Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.

Arka bukan sekadar mahasiswa.

Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.

Karena mencintai seseorang ternyata mudah.

Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Sederhana di Tengah Hujan Masalah — Part 2

Pukul sepuluh lewat dua puluh malam.

"And... Cut! Bungkus semuanya! Selesai untuk hari ini!"

Akhirnya. Teriakan magis dari sutradara itu meruntuhkan sisa-sisa tenaga semua orang di lokasi.

Beberapa kru langsung menghela napas lega dan merosot duduk di lantai. Sebagian saling memberikan tos kelelahan.

Alya menutup matanya rapat-rapat dan membuang napas panjang. Satu hari yang menyiksa ini akhirnya selesai.

Tanpa banyak berbasa-basi, Alya langsung berlari kecil menuju meja barang-barangnya dan menyambar tote bag serta ponselnya. Ia bahkan mengabaikan panggilan asistennya yang membawakan jaket tebal.

Alya berjalan setengah berlari keluar dari area produksi yang dipenuhi kabel. Begitu ia keluar dari zona terang benderang itu, matanya langsung tertuju ke arah bangku di bawah pohon ketapang.

Kosong.

Langkah Alya mendadak terhenti kaku.

"Arka?" bisiknya pelan.

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman fakultas. Gelap. Tidak ada siapa-siapa.

Untuk sesaat, sebuah hantaman rasa kecewa yang sangat nyata jatuh begitu saja di ulu hatinya. Arka pulang. Arka mungkin terlalu lelah menunggunya.

Tapi kemudian, sebuah bayangan muncul dari balik pilar gedung dan berjalan santai menghampirinya.

"Nyari saya?"

Alya tersentak dan berbalik.

Arka berdiri hanya beberapa meter darinya, masih mengenakan jaket denimnya. Tangannya menjinjing kantong plastik minimarket.

Alya menatap wajah pria itu tanpa berkedip. Jantungnya kembali berdetak dengan normal, bahkan sedikit lebih cepat.

"Kamu masih ada di sini rupanya," ucap Alya lega.

Arka berjalan mendekat dan mengangkat kantong plastiknya. "Kan aku udah bilang, bakal nunggu."

Alya tertawa kecil memegangi dadanya. "Aku kira kamu udah nyerah dan pulang daritadi. Sepi banget di situ."

"Mana mungkin aku tega ninggalin orang kelaparan sendirian di kampus malam-malam."

"Siapa yang kelaparan?"

"Kamu."

Alya menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Aku?"

"Iya. Tadi sore sebelum take terakhir kan kamu sendiri yang ngeluh perutnya bunyi karena belum sempat makan."

Alya terdiam. Ia bahkan sudah lupa pernah melontarkan keluhan remeh itu di sela-sela kepanikannya membaca revisi naskah.

Tapi Arka... mendengarkan dan mengingatnya.

"Nih, pegang." Arka menyodorkan sebotol minuman dingin kepadanya.

"Terima kasih." Alya menerimanya, lalu matanya melirik ke dalam kantong plastik di tangan pria itu. "Kalau yang di kantong itu apa?"

"Roti sobek cokelat. Penunda lapar."

Alya tertawa renyah hingga matanya menyipit. "Arka, kamu nungguin aku syuting sampai jam sepuluh malam di kampus sepi begini... cuma buat ngasih aku sepotong roti?"

Arka menatapnya lurus. "Bukan."

Alya menghentikan tawanya. "Terus?"

"Karena kita udah bikin janji mau makan malam bareng. Dan aku pantang ngingkar janji yang udah kubuat."

Alya kembali terdiam. Lidahnya kelu.

Ada sesuatu dari ketegasan dan kesederhanaan jawaban itu yang membuatnya merinding halus. Pria di hadapannya ini tidak menganggap sebuah janji kecil—meskipun hanya sekadar makan malam pinggir jalan—sebagai sesuatu yang bisa dibatalkan seenaknya karena alasan bosan atau lelah.

"Jadi..." Alya melirik jam di pergelangan tangannya. "Mengingat ini udah hampir jam setengah sebelas malam... kita masih jadi makan bareng?"

Arka mengangguk santai. "Jadi. Selama kamu masih punya tenaga buat ngunyah."

Alya menarik napas panjang. Rasa lelah di seluruh otot dan sendinya masih sangat terasa. Namun anehnya, beban di pikirannya mendadak menguap entah ke mana.

Ia membalas senyum Arka dengan cerah. "Masih. Aku kelaparan banget."

"Ya udah, ayo."

Mereka berdua berjalan bersisian meninggalkan area syuting yang bising.

Tidak ada lensa kamera televisi yang merekam. Tidak ada kilatan flash wartawan gosip. Tidak ada lampu HMI yang menyorot buta.

Hanya dua manusia biasa yang berjalan santai menembus malam yang mulai mendingin.

Setengah jam kemudian, mereka akhirnya memilih singgah di sebuah warung tenda pecel lele sederhana yang tidak jauh dari gerbang kampus.

Tempat itu lumayan sepi menjelang tengah malam. Alya memilih duduk membelakangi jalan raya di sudut tenda, sementara Arka duduk di hadapannya membaca menu spanduk.

"Mau pesan apa?" tanya Arka.

Alya melihat menu yang ditulis dengan spidol di papan. "Nasi uduk sama lele goreng sambal tomat."

Arka menurunkan pandangannya dan menatap Alya tak percaya. "Seriusan?"

"Kenapa? Aneh ya?"

"Enggak aneh. Cuma kirain kamu sebagai aktris A-list bakal protes diajak ke sini terus minta dibeliin salad mahal."

Alya mendengus sebal lalu tertawa. "Kenapa sih semua orang punya stigma kalau artis itu makannya harus selalu fancy dan mahal?"

"Karena citra kehidupan kalian yang terekspos di sosmed emang kelihatannya selalu begitu. Makan di restoran bintang lima, brunch cantik di kafe mahal."

"Itu cuma yang kelihatannya di kamera, Arka." Alya menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik. "Aslinya mah lidahku tetap cinta pecel lele."

Arka tersenyum lebar menampakkan lesung pipinya. "Kalau begitu, asumsi gue salah lagi."

"Berarti kita sama."

"Dalam hal apa?"

"Dalam hal selera." Alya menopang dagunya. "Sama-sama lebih suka makanan pinggir jalan yang murah dan rasanya jujur."

"Betul."

"Dan sama-sama pencinta es kopi kampus."

"Seratus."

"Dan..." Alya memelankan suaranya sedikit. "...sama-sama capek menghadapi ekspektasi orang."

Arka terdiam sebentar menatap mata cokelat wanita itu. "Yang itu seribu persen betul."

Mereka tertawa pelan bersama.

Percakapan malam itu mengalir begitu murni. Mereka tidak membahas soal foto paparazi amatir yang sedang viral di grup kampus. Tidak membahas keruwetan industri hiburan, atau beban berat status sosial sebagai pewaris konglomerat yang ditanggung Arka.

Untuk beberapa puluh menit yang berharga itu, Alya merasa bahwa dirinya hanyalah Alya. Seorang perempuan normal berusia 30 tahun yang sedang kelelahan. Bukan brand ambassador eksklusif.

Dan Arka bisa menjadi dirinya seutuhnya. Bukan bayang-bayang bisnis orang tuanya.

Mereka hanyalah dua orang yang kebetulan sedang mencari pelarian setelah hari yang panjang. Itu saja.

"Wah, gila. Sambelnya enak banget," komentar Alya begitu suapan pertamanya masuk.

Arka mengangguk puas. "Kan aku udah bilang, rekomendasi hidden gem mahasiswa enggak pernah salah."

"Kamu beneran sering nongkrong makan di warung sini, Ka?"

"Lumayan sering kalau pas ngerjain tugas malam."

"Berarti habis ini, aku punya list tempat rekomendasi baru lagi nih yang bisa didatangin."

Arka menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Nanti?"

Alya menghentikan suapannya. "Kenapa? Kok kaget?"

"Kamu ngomong 'nanti'."

Alya tersenyum simpul yang sangat menawan. "Iya. Emangnya kenapa kalau nanti aku ngajak kamu makan ke sini lagi?"

Arka mengangkat bahu, berusaha menyembunyikan senyumnya. "Enggak apa-apa. Boleh aja."

Namun, kalimat Alya yang baru saja terucap itu sukses menyentak kesadarannya sendiri.

Alya baru menyadari bahwa alam bawah sadarnya... kini mulai terbiasa membuat ekspektasi. Ia mulai terbiasa merencanakan dan membayangkan adanya pertemuan-pertemuan berikutnya dengan Arka di masa depan.

Sebuah pemikiran yang mulai terasa mengkhawatirkan bagi kariernya.

Bukan karena Arka pria yang buruk. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam kepalsuan... ada seseorang yang nyata yang mampu membuat hidupnya terasa utuh dan jauh lebih sederhana.

Tengah malam, mereka berjalan keluar dari warung tenda tersebut.

Udara malam berhembus cukup menusuk tulang. Alya berdiri di trotoar sambil menarik ritsleting jaketnya lebih tinggi menutupi leher.

"Terima kasih banyak ya, Ka."

Arka menoleh. "Untuk apa lagi sekarang?"

"Udah sabar banget nungguin sampai malam."

Arka tersenyum miring. "Udah aku bilang berulang kali, Al. Kita punya janji. Aku enggak akan batalin janji tanpa alasan."

Alya menatap wajah pria itu lekat-lekat selama beberapa detik. Rasa nyaman menjalar menghangatkan dadanya mengusir dingin. Ia lalu mengangguk mantap.

"Iya. Janji."

Mereka berdua berjalan perlahan menuju arah kendaraan masing-masing yang terparkir.

Namun sebelum benar-benar berpisah menuju mobil jemputannya, Alya menghentikan langkahnya.

"Arka."

"Hm?"

"Besok siang kamu sibuk enggak?"

Arka berpikir sejenak, melihat jadwal di kepalanya. "Lumayan. Gue harus ke perpus lagi ngelarin revisi bab tiga yang stuck."

"Oh." Alya mengangguk-angguk kecil menyembunyikan sedikit kekecewaan. "Sibuk ya."

"Kenapa emangnya?"

"Enggak." Alya tersenyum tipis dan menggeleng. "Cuma nanya aja kok."

Ia melambaikan tangan sekilas, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju mobil MPV hitamnya yang sudah menunggu.

Arka berdiri mematung di pinggir jalan, memandangi sosok itu. Ia terdiam cukup lama meresapi kejanggalan dari pertanyaan Alya barusan, sebelum akhirnya ia berbalik melangkah menuju motornya.

Malam itu terasa sempurna bagi mereka berdua. Tidak ada yang mereka curigai.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa... beberapa meter di seberang jalan dari warung tenda tempat mereka makan, sebuah mobil sedan gelap telah terparkir dengan mesin menyala sejak setengah jam yang lalu.

Di dalam kabin yang remang-remang itu, seseorang yang duduk di balik kemudi sedang memandangi layar kamera DSLR-nya dengan senyum penuh kemenangan.

Sebuah foto baru muncul di layar. Sangat tajam dan jelas.

Foto candid Alya dan Arka yang sedang berjalan keluar dari warung tenda di malam hari, berdiri berdekatan sambil saling melempar senyum penuh makna. Tidak ada lagi alibi keramaian kampus. Kali ini hanya ada mereka berdua, di tengah malam yang sepi.

Orang itu memperbesar resolusi foto ke arah wajah Arka, lalu mengirimkan file tersebut melalui aplikasi pesan.

"Sudah dapat bukti foto terbaru yang lebih HD. Kali ini mereka kepergok makan berdua di luar kampus sampai tengah malam."

Pesan terkirim ke markas redaksi.

Dan malam itu... sepasang manusia yang berniat mencari kehidupan biasa itu tidak tahu... bahwa hubungan sederhana mereka kini telah tergelincir masuk ke dalam pusaran skandal nasional yang tak akan bisa mereka hentikan.

Bersambung...

1
joikendil joikendil
Gokil sih kak, bab ini definisi "kamu boleh masuk ke duniaku, tapi duniaku juga bakal ngebongkar duniamu". Alya pulang happy bawa definisi kampus = liburan, Arka ditinggal sama berita nasional nama lengkap + wajah HD. Jurnalisnya udah mulai ngetik Skysea Group. Gak sabar bom kebohongan besar Arka meledak.
joikendil joikendil
Jujur awalnya agak takut baca age gap karena biasanya cringe, tapi di sini age gap nya justru bikin nyaman.

Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.

Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!

Semangat kak, ditunggu update-nya!
sphinxeditz77: Wah, makasih banyak kak sudah kasih 5⭐ dan review sepanjang ini 😭🙏 Senang banget bacanya, apalagi karena kakak sampai nangkep detail tentang Arka yang protective tapi tetap kasih Alya ruang untuk berkarier.

Aku memang pengin hubungan mereka terasa seperti dua orang yang saling menghargai, bukan sekadar trope age gap. Jadi komentar seperti ini jujur bikin semangat banget buat lanjut nulis 😂🔥

Semoga bab-bab berikutnya tetap bikin kakak betah ngikutin Arka dan Alya. 🙏
total 1 replies
joikendil joikendil
Alya: "Besok datang lagi kan Ka?"

Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"

AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭

Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
joikendil joikendil
Bab ini definisi "respect" kak. Arka yang awalnya mikir akting itu cuma hafal dialog + akting manis, sekarang lihat sendiri harus inget blocking, ekspresi, nada suara, arah kamera, vas bunga kesenggol aja harus ulang. Diulang 7x tanpa ngeluh. Terus Arka bilang "Aku respect sama kamu, Al" - bukan "cantik" bukan "akting bagus" yang klise. Alya aja kaget karena jarang ada yang ngomong gitu. Suka banget pergeseran Arka dari lihat Alya sebagai artis terkenal, jadi lihat Alya sebagai manusia pekerja keras. Tapi nomor portal gosip itu masih neror ya? Takut!
sphinxeditz77: Nahhh ini dia 😂🙏 Aku memang pengin momen itu jadi titik perubahan cara Arka melihat Alya. Bukan lagi sekadar “aktris terkenal”, tapi seseorang yang benar-benar bekerja keras di balik kamera. Dan setelah lihat take berkali-kali, menurut Arka kata “respect” jauh lebih tepat daripada sekadar bilang “cantik” atau “aktingmu bagus.” 😭🔥
total 1 replies
joikendil joikendil
Jujur nangis baca part ini kak. Arka gak muji gaun mahal, gak muji cantik, gak muji akting. Dia cuma bilang "Ngerti alasan logis kenapa tiap kita ketemu mata kamu selalu kelihatan sangat capek". ITU DALEM BANGET.

Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
sphinxeditz77: Waduh sampai nangis 😭😂 makasih banyak kak! Bagian Arka melihat rasa capek Alya sebagai manusia memang penting banget buat perkembangan hubungan mereka. Tapi soal “Selamat sore Mas Arka Pratama?”... wkwkwk mulai masuk wilayah berbahaya itu 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Akhirnya! Arka diajak lihat syuting langsung. Suka detailnya kak, bangunan heritage disulap jadi rumah mewah, kabel seukuran lengan, lampu HMI raksasa, take diulang 7 kali cuma gara-gara bayangan mic bocor.

Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
sphinxeditz77: Wkwkwk makasih kak 😂 Aku memang sengaja masukin detail-detail kecil di lokasi syuting supaya Arka dan pembaca sama-sama bisa melihat kalau dunia Alya ternyata nggak sesederhana “datang, cantik, lalu akting” 🤣 Dan 2 es kopi itu memang bentuk perhatian Arka yang paling sederhana 😂
total 1 replies
joikendil joikendil
Arka: "Punya foto kamu bukan keharusan buatku"

Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya

Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!
joikendil joikendil
Bab ini favorit aku sejauh ini kak! Alya yang biasanya dipuja-puja, histeris dimintain foto, tiba-tiba ketemu Arka yang cuma bilang "Oh." doang pas tau dia Alya Renata. No pansos, no minta tanda tangan. Justru itu yang bikin Alya insecure: "Apa muka aku biasa aja kalau tanpa makeup?" Padahal dia kangen diperlakukan normal. Psikologisnya dapet banget! Dan plot foto buram jaket denim di grup WA angkatan udah mulai nyebar, duhhh...
sphinxeditz77: Wkwkwk ini salah satu bagian yang paling aku suka juga 😂 Karena Alya sebenarnya bukan butuh orang yang terus-terusan mengaguminya, tapi orang yang bisa memperlakukannya sebagai Alya biasa. Dan Arka malah “Oh.” doang pas tahu dia Alya Renata 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Kak ini bab paling tegang sejauh ini! Dari Alya nge-remas gelas kopi sampe plastiknya bunyi, terus Arka yang langsung "Ikut ke belakang. Percaya sama aku" - itu keren banget, gak banyak cing-cong. Tapi endingnya... ya ampun 😭 yang moto dari balkon lantai 2 fakultas itu siapa?? Foto Alya senyum-senyum sama Arka udah kesebar kayak virus katanya. Plis jangan cliffhanger lama kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!