Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15. Dua Sisi Kebenaran
Setelah mendapat mandat dari sang ibu, Ellea langsung masuk ke dalam kamarnya. Sebuah nama yang selama ini seolah dikubur dari keluarga itu kembali muncul dalam pikirannya.
Ellea tahu kakaknya hanya menikahi perempuan tersebut selama beberapa jam, tetapi pernikahan sesingkat itu tentu saja meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Ellea membuka laptopnya, lalu mulai mengetik nama lengkap perempuan itu.
Althea Twina Darmawan.
Ia menemukan beberapa informasi yang berkaitan dengan pendidikan kedokteran Dea. Ada pula sejumlah unggahan kegiatan kampus dan praktik rumah sakit yang menampilkan perempuan itu.
Ellea memperhatikan salah satu foto Dea yang sedang berdiri bersama beberapa mahasiswa lainnya.
“Padahal dia secantik ini,” gumamnya.
Ia memperbesar foto tersebut, lalu mengamati wajah Dea dengan saksama.
“Memangnya apa yang terjadi? Atau, Kak Elden yang belum bisa melupakan Kak Linjar?”
Ellea kembali menggulir layar ponselnya.
Ia tidak menemukan jawaban yang dicari. Namun, sebuah unggahan dari akun mahasiswa lain menarik perhatiannya.
Unggahan itu membahas kegiatan praktik di rumah sakit tempat perempuan itu menempa pendidikan profesional kedokterannya. Di antara beberapa nama yang tercantum, ada nama Dea dan seorang mahasiswa bernama Adityo.
Ellea mengernyit. "Adityo?"
Sebuah nama itu tak asing baginya. Ia pernah mendengar nama tersebut dari beberapa kenalan keluarga. Namun, ia belum tahu apa hubungan pria itu dengan Dea.
“Hmm ... sepertinya aku harus mencari informasi lebih banyak.”
Ellea segera menyimpan nama itu dalam catatannya.
Ia tidak ingin buru-buru menyimpulkan apa pun. Jika ingin mengetahui kebenaran, ia harus mencari informasi dari sumber yang berbeda, bukan hanya mengandalkan cerita kakaknya.
Kalau kakaknya memang sengaja menyembunyikan sesuatu, pertanyaan langsung hanya akan membuat pria itu semakin tertutup.
Ellea tersenyum tipis.
“Baiklah, Kak. Seberapa pintar kau menyimpan rahasia itu?”
.
.
Di tempat lain, Dea sedang duduk di ruang kerjanya ketika pikirannya kembali tertuju pada rekaman CCTV yang diperiksanya.
Bayangan Stella yang membawa sebuah kotak menuju IGD terus terputar di kepalanya.
Ia masih mengingat dengan jelas label yang terlihat pada kotak tersebut.
Digoksin.
Dea tahu obat itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Penggunaannya harus diawasi dengan cermat, terutama karena kadar yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang berbahaya.
Namun, ia juga tahu bahwa menemukan nama obat pada sebuah kotak tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun.
Ia membutuhkan informasi yang lebih lengkap.
Apakah obat itu benar-benar berkaitan dengan penanganan yang salah terhadap pasien Linjaryani?
Dea membuka buku catatannya, kemudian menuliskan beberapa pertanyaan tersebut.
Ia harus menemukan cara untuk memeriksa informasi itu melalui jalur yang benar. Ia tidak ingin mengambil dokumen yang bukan menjadi haknya atau membuat tuduhan tanpa dasar.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang dikenalnya.
Profesor Adam:
[ Dea, bagaimana perkembangan pemeriksaan rekaman CCTV kemarin? Apakah kamu menemukan sesuatu yang perlu ditindaklanjuti? ]
Dea segera membalas.
[ Saya menemukan rekaman Stella memasuki area IGD sambil membawa sebuah kotak. Pada bagian kotak itu terlihat label obat, Prof. Namun, saya belum bisa memastikan apa hubungannya dengan kejadian saat itu. ]
Balasan dari Profesor Adam datang beberapa menit kemudian.
[ Kalau begitu, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Kita perlu memastikan fakta-faktanya terlebih dahulu. Saya akan membantu mengarahkanmu kepada pihak yang berwenang untuk memeriksa informasi yang relevan. ]
Dea membaca pesan itu berulang kali. Setidaknya, ia tidak sendirian dalam mencari kebenaran.
Namun, ia juga tahu bahwa bantuan Profesor Adam tidak akan membuat semuanya selesai dengan mudah. Ada prosedur yang harus diikuti, bukti yang perlu diverifikasi, dan kemungkinan bahwa beberapa informasi sudah tidak tersedia.
Dea menutup ponselnya.
“Stella, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan hari itu,” gumamnya. “Tapi, apapun itu, aku tak akan diam. Hidupku telah terlalu hancur.”
Ia kembali menatap catatannya.
.
.
Sementara itu, di kediaman keluarga Zarreti, Elden baru saja kembali dari luar rumah.
Di tangannya, beberapa kantong plastik berisi berbagai jenis buah yang baru dibelinya. Wajahnya tampak sedikit lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya, meskipun sesekali ia masih mengernyit karena rasa mual yang tak jelas.
Begitu memasuki ruang keluarga, ia mendapati Mireya sedang duduk bersama Nindy.
“Elden, ke sini sebentar,” titah Mireya.
Elden berhenti melangkah. “Ada apa, Bu?”
Mireya menatap putranya dengan saksama. “Kamu sudah makan?”
“Sudah.”
“Makan apa?”
“Rujak.”
Mireya memejamkan mata sejenak, seolah sedang mengumpulkan kesabaran.
“Elden, Ibu serius. Kamu sudah beberapa hari ini muntah terus. Sekarang kamu tak berhenti menginginkan makanan yang tidak kamu sukai. Kamu harus segera memeriksakan diri.”
Elden mengembuskan napas. “Baiklah, besok aku ke dokter.”
“Janji?”
“Iya.”
Mireya akhirnya mengangguk, meskipun raut wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran.
Namun, sebelum Elden sempat pergi, Nindy tiba-tiba bertanya, “Elden, Om Jeno bilang kamu akhir-akhir ini kamu tak keluar rumah. Kamu nggak bekerja memantau para pekerja di kebun?"
Elden mengerutkan kening. “Memangnya kenapa?”
“Pakai nanya, emang kenapa?" Nindy sedikit meninggikan suaranya. "Mama ini khawatir tau!”
Elden tidak menjawab. Ia meletakkan kantong plastiknya di meja, lalu berjalan menuju tangga.
“Elden!”
Langkahnya terhenti ketika Mireya kembali memanggil. “Ada sesuatu yang ingin Ibu tanyakan.”
Elden menoleh. “Apa?”
Mireya tampak ragu sesaat sebelum akhirnya bertanya, “Masalah pernikahanmu dengan Dea.”
Tubuh Elden menegang. “Kenapa Ibu tiba-tiba bertanya tentang dia?”
Mireya memperhatikan perubahan ekspresi putranya. “Karena Ibu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian.”
Elden mengatupkan bibirnya.
Nindy ikut menatapnya, menunggu jawaban.
Namun, Elden justru mengalihkan pandangan. “Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Ia kembali melanjutkan langkah.
“Elden, tunggu!” Mireya bangkit dari sofa.
“Kalian menikah, lalu berpisah begitu saja. Ibu bahkan tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Kamu hanya mengatakan bahwa dia mengusirmu. Karena apa? Atau, sebenarnya kamu yang membuangnya karena masalah Linjaryani?”
Elden mengepalkan tangan.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella