Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ponsel itu dilempar ke dinding dan pecah menjadi tiga bagian. Serpihan layarnya berhamburan di atas karpet, dan salah satu pecahan berputar sebentar sebelum diam di dekat kaki meja. Ruangan itu tidak punya jendela. Satu-satunya cahaya datang dari lampu baca di sudut, jatuh pada kursi kulit yang masih bergoyang ringan setelah ditinggalkan dengan tergesa.
Pria itu berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan terkepal. Napasnya keluar pendek-pendek lewat hidung. Kerah kemejanya lembap, dan dahinya mengilap oleh keringat dingin yang tidak ia sadari sudah muncul sejak kalimat bocah lima tahun itu terdengar di telinganya.
'Bocah lima tahun.' Rahangnya mengeras. 'Anak sombong itu menertawakanku.'
Ia berjalan ke meja kerja, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan ponsel kedua yang masih terbungkus plastik. Jarinya agak gemetar ketika merobek bungkusnya. Ia menarik napas dalam dan menghitung sampai lima sebelum menyalakan layarnya, seperti orang yang sedang mengajari dirinya sendiri untuk tenang.
Sarung tangan hitam di tangan kirinya terasa dingin, hampir berat. Ia mengusap punggung tangannya dengan ibu jari kanan, perlahan, sebagaimana orang menenangkan binatang peliharaan yang gelisah. Kemudian ia menekan satu nomor yang sudah ia hafal di luar kepala dan memilih panggilan video.
Layar menyala. Dua dering, dan wajah Dimas Nugroho muncul di sana, duduk di ruang kerja yang rapi dengan jam dinding di belakangnya. Kemejanya sudah tersetrika, dan rambut peraknya tersisir ke belakang. Jam di pojok layar menunjukkan pukul enam lewat sepuluh.
"Tuan." Dimas menunduk sedikit. "Anda menghubungi saya sepagi ini."
"Aku tidak punya waktu untuk basa-basi, Dimas." Pria itu menarik kursi dan duduk, tetapi punggungnya tidak bersandar. "Anakmu. Si bungsu. Dia menolak."
Alis Dimas terangkat sedikit saja. "Maksud Tuan, Elang?"
"Siapa lagi?" Pria itu mengetuk meja dengan jari telunjuk, dua kali. "Dia punya apa yang kuinginkan. Dan dia menertawakan permintaanku seperti sedang mendengar lelucon di acara anak-anak."
Dimas terdiam. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja, dan ibu jarinya saling menggosok dengan gerakan kecil yang tidak tertangkap kamera kalau pria itu tidak memperhatikan dengan teliti.
"Saya minta maaf atas kelakuan anak saya," katanya akhirnya. "Dia memang keras kepala sejak kecil."
"Aku tidak butuh maafmu." Pria itu mencondongkan tubuh sampai wajahnya hampir menyentuh layar. "Aku butuh dia kembali. Ke keluarga Nugroho. Ke rumahmu. Ke tempat ia bisa kau jangkau dengan satu panggilan."
"Dia sudah memutuskan hubungan dengan kami, Tuan. Di depan semua orang."
"Karena itu kau yang harus membujuknya." Suara pria itu merendah, dan kata-katanya keluar satu per satu. "Pakai dirimu, pakai ibunya, pakai apa saja yang membuat anak muda itu merasa masih punya pintu pulang. Dan setelah dia kembali, kau minta sarung tangannya."
Dimas tidak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, melirik sesuatu di luar bingkai kamera, lalu menatap layar lagi.
"Kalau dia menolak?"
"Ambil paksa." Jawaban itu keluar tanpa jeda. "Atau tidak." Pria itu berhenti dan mengambil napas pendek. "Bunuh dia. Aku tidak peduli caranya. Yang kupedulikan, sarung tangan itu tidak boleh terus berada di tangan orang yang tertawa seperti itu."
Dimas menatapnya cukup lama. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, dan tidak pula kesedihan yang biasa muncul di wajah seorang ayah. Hanya ada kelelahan di sudut matanya, tipis, dan keheningan yang agak terlalu panjang.
Lalu ia mengangguk, sekali, pelan.
"Baik, Tuan."
Di belakang Dimas, pintu ruang kerja terbuka dan seorang perempuan paruh baya berdiri di ambang dengan baki teh. Rambutnya digelung sederhana, dan di tangannya ada dua cangkir porselen. Ia tampak ragu untuk masuk ketika melihat suaminya sedang berbicara di layar.
"Ratna," kata Dimas tanpa menoleh, dan nadanya datar. "Taruh tehnya. Lalu bersiap-siaplah. Kau pergi ke rumah Elang pagi ini."
Perempuan itu berhenti di tempat. Cangkir di bakinya berdenting pelan. "Elang? Dia mau menemui aku?"
"Kau yang menemuinya." Dimas akhirnya berbalik sedikit, hanya cukup untuk menatap istrinya. "Bilang padanya Ibu rindu. Bilang rumah ini terasa sepi. Apa pun, asal dia mau membukakan pintu."
Pria di balik layar mengamati percakapan itu tanpa suara. Bibirnya melengkung tipis, dan kerutan di antara alisnya mulai mengendur.
Ratna menaruh baki di meja dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap. Ia menatap suaminya, lalu menatap layar ponsel yang memantulkan wajah pria asing itu, dan matanya cepat-cepat turun ke lantai.
"Baik," bisiknya. "Aku siap-siap."
Ia keluar dan menutup pintu tanpa suara. Dimas kembali menghadap layar.
"Sebelum siang, Tuan akan mendengar kabar dari saya."
"Bagus." Pria itu mengangguk dan menyandarkan punggung untuk pertama kalinya sejak panggilan dimulai. "Aku tunggu."
Layar padam. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap sarung tangan di tangan kirinya dalam cahaya redup lampu baca.
"Kanan sialan," bisiknya. "Kau akan kuambil dengan caraku sendiri."