Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 10
Setelah Rey yang sempat tak sadarkan diri akhirnya kembali sadar, Dwi segera membawanya ke laboratorium untuk menemui Dokter Haris. Ia meminta dokter tersebut memeriksa kondisi kesehatan Rey sekaligus memberikan beberapa botol kecil berisi obat penenang.
Sementara itu, Dwi pergi ke tempat lain untuk mengobati bahunya yang terluka, meninggalkan Rey bersama Dokter Haris.
Rey duduk berhadapan dengan Dokter Haris.
Dokter Haris segera membuka percakapan.
"Rey... Dwi mengatakan bahwa dirimu masih dihantui oleh keberadaan almarhum mamamu."
"Iya."
Dokter Haris kemudian mengambil selembar tisu yang telah diberi alkohol.
Ia meraih jari telunjuk kiri Rey, lalu mengusap ujung jarinya dengan tisu tersebut.
Setelah itu, Dokter Haris mengambil sebuah pen lancet. Ia membuka penutupnya, memasukkan jarum baru, kemudian memutar pelindung kepala jarum hingga terlepas.
Dokter Haris kembali memasang tutup pen lancet tersebut, lalu menempelkannya pada ujung jari telunjuk Rey.
"klikk"
Suara kecil dari alat itu terdengar.
Dokter Haris segera melepaskan alat tersebut. Seketika, setetes darah muncul di ujung jari telunjuk Rey.
Ia kemudian mengambil sebuah wadah kaca kecil dan memiringkan jari Rey hingga setetes darah tersebut jatuh ke permukaannya.
Setelah itu, Dokter Haris membawa wadah kaca yang berisi darah Rey menuju sebuah alat laboratorium.
Ia memasukkan sampel tersebut ke dalam alat dan menunggu hasil pemeriksaan.
Begitu hasilnya keluar, Dokter Haris segera menatap Rey.
"Rey, ayo ikuti saya."
Rey menurut dan mengikuti Dokter Haris menuju ruang pemeriksaan.
Di sepanjang lorong, terdapat kaca-kaca besar di kedua sisinya. Di balik setiap kaca, tampak sosok-sosok anomali yang mengamuk. Mereka berusaha menyerang siapa pun yang berjalan melewati lorong, tetapi gerakan mereka terhalang oleh rantai yang terpasang di leher serta lapisan kaca supertebal yang memisahkan mereka.
Tiba-tiba, salah satu anomali membenturkan tubuhnya dengan keras ke arah kaca.
BRAKKK!!!
Suara benturan itu menggema di sepanjang lorong.
Namun, Dokter Haris dan Rey tetap berjalan dengan santai, seolah tidak terganggu oleh para anomali yang terus berusaha menyerang mereka secara agresif.
Hingga akhirnya, mereka tiba di ruang pemeriksaan.
Ruangan tersebut lebih menyerupai ruang operasi. Berbagai peralatan bedah tertata di samping sebuah ranjang.
Rey mengamati sekeliling ruangan dengan perasaan was-was.
Di dalam ruangan itu terdapat dua orang perawat yang sudah mengenakan pakaian khusus untuk operasi.
"Selamat malam, Dokter Haris."
Salah satu perawat menyapa.
"Malam juga."
Dokter Haris kemudian mengambil pakaian bedah dari dalam lemari dan memberikannya kepada Rey.
"Rey, cepat pakai ini."
Namun, Rey merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia langsung menepis pakaian tersebut dengan satu tangan hingga terjatuh ke lantai.
"APA-APAAN INI?! AKU DI SINI UNTUK MENGECEK KESEHATAN, BUKAN MENJALANI OPERASI!"
Suara Rey terdengar keras. Salah satu matanya bahkan berubah menjadi merah.
Dokter Haris hanya terdiam.
Tanpa Rey sadari, salah satu perawat yang berada di belakangnya segera menutup mulut dan hidung Rey menggunakan tisu yang telah diberi obat bius.
Seketika, tubuh Rey mulai terasa lemas.
Rasa kantuk yang sangat berat menyerangnya. Pandangannya mulai kabur dan pikirannya terasa kacau.
Beberapa saat kemudian, tubuh Rey kehilangan kekuatannya dan ia pun jatuh pingsan.
*****
Rey kembali tersadar.
Ia benar-benar kebingungan. Tubuhnya terasa mati rasa akibat pengaruh anestesi. Namun, di balik rasa kebas tersebut, ia mulai merasakan nyeri yang menjalar dari bagian perutnya.
Dalam kondisi setengah sadar, Rey mencoba mengangkat tangannya untuk memegang perut.
Namun, Dokter Haris segera meraih salah satu tangannya dan menahannya.
"Jangan khawatir, Rey. Memang terasa nyeri, tetapi ini akan membuatmu semakin kuat."
"Ma- maksudnya, Dok?"
Suara Rey terdengar lemah dan terbata-bata karena masih berada dalam kondisi setengah sadar.
Dokter Haris menatapnya dengan tenang.
"Kami hanya menjalankan perintah dari Dwi."
Rey perlahan menolehkan kepalanya ke arah kanan.
Begitu matanya menangkap pemandangan di sana, tatapannya langsung tertuju pada berbagai alat bedah yang sebelumnya ia lihat saat pertama kali memasuki ruangan.
Namun, yang awalnya tampak begitu bersih, kini telah dipenuhi oleh darah.
Rey hanya bisa menatap semuanya dengan pasrah.
Keesokan harinya, Rey kembali menjalankan tugas. Kali ini, ia ditemani Sasha, asisten baru yang baru pertama kali turun langsung ke lapangan bersamanya.
Mereka mendapatkan tugas untuk menghadapi dan menyerang sebuah anomali.
Di hadapan mereka berdiri sosok anomali yang menjulang tinggi, hampir setinggi rumah dua lantai. Tubuhnya sangat ramping, sementara kedua tangan dan kakinya terlihat panjang serta kurus secara tidak wajar.
Sasha langsung terdiam.
Tubuhnya terasa merinding melihat sosok tersebut berdiri tepat di hadapannya. Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan anomali, bukan sekadar melihatnya melalui televisi atau video di ponselnya. Tas besar yang ia jinjing terasa semakin berat di tangannya.
Rey melirik ke arah Sasha.
Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi kebingungan sekaligus ketakutan di wajah asistennya itu.
"Ini pertama kalinya dirimu melihat anomali secara langsung, bukan?"
"Iya, Biasanya aku cuma melihatnya dari televisi dan video di HP."
"Hahahaha... sekarang kamu bisa melihatnya secara langsung."
Rey tiba-tiba berlari menuju anomali tersebut sambil membawa kedua pedangnya.
"Jadi, sekarang kamu bisa membanggakan kedua orang tuamu untuk terakhir kalinya atau tidak?"
Sasha langsung melihat Rey dengan bingung.
"Apa maksudmu?"
Belum sempat mendapatkan jawaban, anomali itu tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya yang panjang dan kurus ke arah Rey, berusaha menangkapnya.
Namun, Rey bergerak lebih cepat.
Dalam satu gerakan, ia menebaskan kedua pedangnya.
srett!!
Kedua tangan anomali tersebut langsung terpisah dari tubuhnya.
Rey tidak berhenti.
Ia segera berlari menuju kedua kaki anomali dan kembali mengayunkan pedangnya.
Namun, kali ini tebasannya tidak cukup kuat untuk memutus kedua kaki tersebut. Hanya luka besar yang terbuka di bagian kakinya, membuat anomali itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke tanah.
Rey tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Ia langsung berlari menuju wajah anomali tersebut.
Anomali itu tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar dan mencoba menggigit Rey.
Namun, Rey dengan cepat menusukkan salah satu pedangnya tepat ke dalam mulut anomali tersebut.
Pedang itu menembus hingga ke bagian belakang kepalanya.
Setelah memastikan serangannya mengenai sasaran, Rey segera kembali ke sisi Sasha.
Ia berdiri dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maksudku, berdoalah agar dirimu tetap hidup. Karena setiap anomali memiliki tingkat kelas yang berbeda."
Sasha masih menatap anomali yang terkapar itu dengan wajah tegang.
"Hah? Emangnya ini anomali kelas apa?"
"Tenang saja. Anomali ini tingkat kelas B. Cukup mudah. Namun, dia memiliki kemampuan khusus untuk meregenerasi tubuhnya yang rusak."
Sasha belum sempat berkata apa-apa ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Anomali tersebut perlahan bangkit.
Tubuhnya bergerak kembali.
Kedua tangan yang sebelumnya telah terputus mulai tumbuh kembali dengan sangat cepat. Luka besar di kedua kakinya pun perlahan menutup dan kembali pulih seperti semula.
Anomali itu kemudian meraih pedang yang masih tertancap di mulutnya.
Ia mencabutnya dengan satu gerakan.
Begitu pedang tersebut terlepas, luka di mulutnya kembali menutup dan sembuh seperti semula.
Anomali itu berdiri tegak.
Kemudian, perlahan ia mengangkat kepalanya.
Tatapannya tertuju kepada Rey dan Sasha.
Tatapan itu begitu tajam dan mengintimidasi layaknya seekor predator yang baru saja menemukan mangsanya.