NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Putri yang Mau Jualan

Bab 2 — Putri yang Mau Jualan

Pagi itu, Rania berdiri di depan lemari raksasa yang isinya membuatnya pusing sendiri.

Kain-kain panjang dengan warna lembut tersusun rapi berjajar. Ada kebaya beludru, jarik bermotif rumit, selendang sutra, dan beberapa pakaian dengan bordiran emas yang menurut Rania sekali pandang saja sudah terlihat harganya bisa buat bayar kos setahun.

Ia mengambil salah satunya, mengangkatnya tinggi-tinggi untuk melihat lebih jelas.

"Ini dipakai buat tidur?"

[Tidak.]

"Buat mandi?"

[Tidak.]

"Terus buat apa?!"

[Pakaian.]

Rania menatap ke arah kosong, seolah sistem punya wujud yang bisa ia lototi.

"Aku tahu itu pakaian, Sis. Maksudku dipakai kapan."

Sistem tidak menjawab lagi, seperti memutuskan pertanyaan itu terlalu remeh untuk ditanggapi.

Akhirnya, setelah bongkar pasang hampir sepuluh potong, Rania memilih pakaian yang menurutnya paling sederhana meski tetap saja terlihat seperti gaun pesta kalau dipakai di dunianya dulu.

Setelah selesai berganti, ia keluar kamar dengan langkah percaya diri. Baru beberapa langkah menyusuri koridor berlantai marmer, dua orang dayang yang berdiri di depan kamar langsung membungkuk serempak, secepat refleks.

"Putri."

Rania berhenti, menoleh ke kanan lalu ke kiri, mencari-cari siapa yang dimaksud.

Tidak ada orang lain di koridor itu selain mereka bertiga.

Oh. Berarti dirinya.

"Iya?" jawabnya, agak canggung.

Kedua dayang itu saling melirik singkat, seperti menunggu perintah lanjutan.

Rania tersenyum, mencoba terdengar santai. "Panggil saja Rania."

Keduanya semakin bingung, seolah baru saja diminta melanggar hukum kerajaan.

"Ra... Rania?" salah satu dayang mengulang dengan ragu, seperti mencicipi nama asing di lidahnya.

"Iya, gitu aja. Nggak usah pakai gelar-gelaran."

Rania melanjutkan langkahnya, merasa cukup puas dengan negosiasi kecil itu. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti lagi, teringat sesuatu yang lebih penting.

"Tunggu."

Salah satu dayang bergegas mendekat. "Ada yang Putri butuhkan?"

"Apakah saya boleh keluar istana?"

Dayang itu tampak ragu sejenak, matanya sedikit melirik ke arah kamar seolah mempertimbangkan sesuatu. "Putri ingin pergi ke mana?"

"Pasar."

"...Pasar?" Nada suaranya naik satu oktaf, seperti tidak yakin telinganya bekerja dengan benar.

Rania mengangguk mantap. "Mau lihat-lihat aja."

Ia tentu saja tidak mungkin menjelaskan bahwa alasan sebenarnya adalah untuk mencari cara mendapatkan poin demi membeli latte. Itu memalukan. Apalagi kalau sampai ketahuan bahwa seorang putri kerajaan ternyata miskin poin sistem.

Setelah proses izin yang memakan waktu lebih lama dari dugaan termasuk pengawal tambahan yang dikerahkan tanpa Rania minta akhirnya ia berhasil keluar istana, ditemani seorang dayang bernama Sari yang tampaknya paling berani di antara yang lain.

Begitu melewati gerbang besar istana, suasana langsung berubah drastis.

Suara orang tawar-menawar bersahutan. Pedagang berteriak menawarkan dagangan dengan nada khas yang penuh semangat. Anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa sambil tertawa. Aroma ikan asin bercampur dengan wangi rempah-rempah dan asap dari makanan yang sedang digoreng di gerobak pinggir jalan.

Rania berhenti sejenak. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke taman bermain.

"Ini pasar?"

"Benar, Putri," jawab Sari, sedikit heran melihat reaksi berlebihan itu.

Rania berjalan perlahan, memperhatikan setiap sudut dengan antusias. Kerajaan Wanunggalih ternyata tidak sebesar bayangannya—lebih mirip kota pesisir kecil dengan jalanan tanah yang dipadatkan dan bangunan-bangunan kayu berjejer rapi. Tapi pasarnya cukup ramai untuk ukuran tempat sekecil itu.

Dari kejauhan, ia bisa melihat deretan perahu nelayan berlabuh di dermaga. Orang-orang hilir mudik membawa keranjang berisi hasil laut segar. Ada tumpukan garam putih yang berkilau diterpa matahari, ikan-ikan yang masih menggeliat di ember, kelapa yang ditumpuk seperti piramida kecil, kain-kain warna-warni yang dijemur di tali, buah-buahan tropis yang belum pernah Rania lihat sebelumnya, sampai jajanan tradisional yang aromanya langsung menggoda perutnya yang belum sarapan.

Rania tersenyum lebar. "Kayaknya bisa nih."

Sari menoleh, alisnya terangkat. "Bisa apa, Putri?"

"Jualan."

"...Putri mau jualan?" Sari nyaris tersedak ludahnya sendiri.

Rania tidak menjawab, sibuk mengamati satu per satu dagangan yang ada dengan tatapan serius, seolah sedang melakukan riset pasar dadakan. Ia memang tidak punya modal. Tidak punya toko. Bahkan tidak punya uang sepeser pun di dunia ini.

Tapi ia punya satu senjata rahasia yang orang-orang di sini pasti belum kepikiran.

Pengetahuan dari zaman modern.

Ia berhenti di depan seorang pedagang kelapa yang duduk bersila di atas tikar, dikelilingi tumpukan kelapa cokelat.

"Pak."

Pedagang itu langsung membungkuk buru-buru, hampir menjatuhkan parutnya sendiri. "Ampun, Putri."

"Eh, jangan gitu," Rania buru-buru melambaikan tangan, sedikit tertawa canggung. "Santai aja, Pak."

Pedagang itu mengangguk kaku, masih setengah tidak percaya seorang putri bisa berdiri sedekat itu dengannya.

"Kelapanya boleh saya lihat?"

Pedagang itu buru-buru mengambil satu butir kelapa terbaiknya, menyerahkannya dengan kedua tangan gemetar.

Rania memeriksanya, mengetuk-ngetuk permukaannya seperti orang yang tahu apa yang ia lakukan padahal sebenarnya cuma meniru gaya ibu-ibu di pasar tradisional dekat kosannya dulu. Kemudian matanya beralih ke sekeliling, menangkap gula merah yang dijual pedagang sebelah, santan segar dalam wadah bambu, dan beberapa bahan lain yang tersusun di lapak-lapak berdekatan.

Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya, perlahan menyusun sendiri seperti puzzle.

Ia tersenyum lebar. "Kayaknya aku tahu mau jual apa."

[Ting!]

Sistem tiba-tiba muncul, membuat Rania nyaris menjatuhkan kelapa di tangannya.

[Ide produk terdeteksi.]

Rania mengangkat alis, sedikit terkesan. "Cepet juga responnya."

[Apakah Host membutuhkan bantuan resep?]

Mata Rania langsung berbinar penuh harap. "Boleh banget!"

[Poin tidak mencukupi.]

Senyumnya langsung luntur seketika, seperti balon kempes.

"..."

Sistem ini, pikirnya, benar-benar tidak tahu waktu.

Rania menghela napas, menatap kelapa di tangannya dengan tatapan pasrah campur determinasi.

"Ya sudah. Aku cari cara sendiri."

Ia mengembalikan kelapa itu ke pedagangnya sambil tersenyum minta maaf, lalu berjalan mondar-mandir di antara lapak-lapak sambil menyusun rencana di kepala mengingat-ingat resep sederhana yang dulu sering ia lihat dibuat neneknya, sesuatu yang cukup familiar untuk dibuat namun cukup asing di lidah orang-orang Wanunggalih untuk terasa istimewa.

Sari mengikutinya dari belakang dengan wajah bingung campur khawatir, tidak yakin harus melaporkan kejadian ini ke istana atau tidak.

Rania belum tahu bahwa keputusan kecilnya untuk berjualan di pasar pesisir itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar bagaimana namanya perlahan mulai dikenal rakyat, bukan sebagai Putri Wening yang pendiam seperti biasanya, melainkan sebagai putri aneh yang tiba-tiba muncul di pasar dan sok tahu soal kelapa.

Dan tanpa disadarinya, langkah kecil itu juga yang perlahan akan menuntunnya pada pertemuan dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah masuk ke dalam takdir Putri Wening Sasikirana.

Tapi itu, urusan nanti.

Untuk sekarang, yang ada di kepala Rania cuma satu.

Cara bikin jajanan kekinian dari bahan-bahan pasar tradisional tanpa bantuan sistem yang pelit poin.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!