NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Perjalanan Dua Sahabat

"Sebenarnya... tempat terkutuk apa ini? Kenapa aku bisa berada di wilayah asing ini?"

Pria tampan yang tiga hari lalu baru saja bangkit dari dekapan kristal es abadi itu bergumam dengan nada suara yang teramat lirih. Suaranya terdengar parau, berat, dan pecah, seolah-olah pita suaranya yang perkasa baru saja dipaksa mencair setelah bertahun-tahun terkunci dalam kebekuan absolut yang menyiksa.

Selama tiga hari itu pula ia hanya berani berputar-putar di area hutan seberang sungai. Dan malam ini, ia nekat memasuki area ladang warga. Berhubung hari sudah gelap gulita, ia tidak merasa takut akan dituduh sebagai pencuri.

Niatnya hanya satu: ingin mencari makanan mentah untuk mengganjal perutnya, setelah itu mencari pertolongan dari penduduk sekitar. Ya, meskipun itu terasa mustahil karena sejauh mata memandang, semuanya hanyalah hamparan ladang gandum dan kentang yang sunyi. Tidak ada tanda-tanda pemukiman warga terdekat.

Ia melangkah maju dengan posisi tubuh yang sedikit kelimpungan dan goyang. Meski ia baru saja menghabiskan beberapa buah jagung mentah yang ia petik dari ladang tetangga, kedua kakinya masih terasa sangat kaku, tebal, dan berat. Seakan-akan jalinan sendi dan otot di tubuh tegapnya masih terikat kuat oleh sisa-sisa energi es yang tak kasat mata.

Pria itu berjalan menyusuri tepian aliran air sungai tanpa arah tujuan yang jelas. Jemari tangannya yang pucat sesekali bergerak menyentuh permukaan batang pohon ek di sekitarnya demi menjaga keseimbangan fisiknya agar tidak jatuh bertumpu pada tanah.

Kegelapan total malam kini telah sepenuhnya menelan area hutan perbatasan tersebut. Tanpa adanya bantuan alat penerangan sedikit pun, pria misterius itu hanya mengandalkan ketajaman insting supernaturalnya yang luar biasa sensitif untuk membaca medan di sekitarnya.

Pakaian beludru mewahnya yang bertakhtakan sulaman perak kini tampak teramat kontras dengan noda lumpur hitam dan sisa air sungai yang membasahi kainnya. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling vegetasi dengan sepasang manik mata hitam pekat yang memancarkan kombinasi antara kebingungan besar sekaligus kewaspadaan tingkat tinggi.

Tempat ini terasa teramat asing di indranya, sangat jauh dari memori terakhir yang terekam di kepalanya sebelum ia disegel dalam es abadi.

Sementara itu, di sebuah area yang berjarak beberapa ratus meter dari posisi pria misterius tersebut, dua orang pemuda tampak sedang berjalan konstan menembus rimbunnya belukar hutan malam.

Mereka adalah Alan dan Ethan. Dua sosok pria dengan perawakan tubuh yang teramat atletis, tegap, dan memancarkan aura dominasi pekat yang tidak lazim. Sebuah presensi yang secara instan akan membuat manusia biasa berlutut ketakutan hanya dengan merasakan aura mereka.

Alan berjalan di posisi paling depan dengan langkah kaki yang teramat pasti dan tanpa keraguan sedikit pun. Ia mengenakan jaket kulit hitam tebal yang membungkus sempurna postur tubuhnya yang tinggi besar. Sementara itu, sepasang matanya terus bergerak aktif memindai lingkungan sekitar dengan tingkat ketajaman yang setara dengan predator puncak di alam liar.

Ia saat ini sedang berada di tengah-tengah menjalankan sebuah misi suci yang krusial. Alan mencari keberadaan seseorang yang telah dinyatakan hilang secara misterius saat mereka melewati celah dimensi ruang dan waktu akibat hancurnya planet tempat mereka berasal bertahun-tahun silam.

Janji suci yang pernah ia ucapkan langsung di hadapan ayahnya untuk menemukan dan melindungi sosok berharga itu telah menjadi beban berat yang terus ia pikul di atas pundaknya.

Meskipun hingga detik ini, jejak keberadaan orang tersebut masih sepenuhnya tertutup oleh kabut misteri yang tebal.

Di posisi belakangnya, Ethan mengikuti langkah Alan dengan pembawaan gaya yang sedikit lebih santai namun tetap tidak menurunkan tingkat kewaspadaan indranya. Ethan baru sekitar empat hari ini memutuskan untuk bergabung dalam perjalanan panjang Alan. Langkah itu ia ambil bukan karena mendapatkan undangan resmi, melainkan lebih karena keinginan egoisnya sendiri untuk melarikan diri sejenak dari tekanan psikologis yang menghimpitnya di dalam rumah.

"Sampai kapan kamu berniat untuk terus berjalan mengikutiku seperti ini, Ethan? Ingat baik-baik, statusmu saat ini adalah seorang calon Alpha!"

Suara Alan memecah kesunyian malam di tengah hutan lebat Arcania. Ia berbicara dengan nada datar dan dingin, tanpa repot-repot menolehkan kepalanya. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu bot kulit hitam tetap melangkah konstan membelah semak belukar. Helaian rambut putih peraknya bergerak halus ditiup angin malam, kontras dengan jaket kulit hitam tebal yang membungkus postur tubuhnya yang tinggi besar.

"Mungkin dalam waktu dekat ini kamu sudah harus bersiap menggantikan posisi ayahmu untuk memimpin pack. Apa kamu benar-benar tidak memiliki tugas penting lain? Apa kamu sungguh-sungguh tidak memiliki ketertarikan sedikit pun untuk mengelola akademi lama milik klanmu seperti yang diminta secara khusus oleh ayahmu?" lanjut Alan, memberikan rentetan pertanyaan yang menuntut. Sepasang manik mata ungunya yang jernih—ciri khas murni penyintas ras Pegasus dari Planet Diamond—terus memindai kegelapan dengan tajam.

Ethan menghela napas dengan rona lelah yang teramat sangat. Kedua bahunya yang tegap merosot sedikit ke bawah. Calon Alpha dari Blue Light Pack itu sudah merasa teramat bosan harus terus-menerus mendengar interogasi yang sejenis dari sahabatnya. Ia menyugar rambut biru terangnya yang sedikit berantakan. Wajah tampannya berkerut, memancarkan rasa frustrasi yang mendalam dari sepasang manik mata merah pekatnya.

Ia mempercepat langkah, melompati sebuah jalinan akar pohon ek yang besar dan menonjol keluar dari tanah demi menyejajarkan posisinya tepat di samping Alan.

"Ck! Kamu tahu sendiri bagaimana situasiku yang sebenarnya, Alan! Hanya aku satu-satunya pria yang belum menikah dan belum berhasil menemukan keberadaan Mate sejati di antara semua jajaran calon pemimpin klan kita," sahut Ethan jengkel.

"Bukannya aku berniat untuk menolak jabatan Alpha yang terhormat itu, atau enggan mengurus tata kelola akademi milik ayahku. Tapi jujur saja, aku sudah teramat muak karena terus-menerus dihujani pertanyaan yang sama setiap hari di rumah," keluh Ethan panjang lebar.

"Kapan kamu akan bertemu Mate-mu? Kapan kamu akan memberiku cucu? Ayah ingin segera melihat penerus klan! Rentetan pertanyaan egois itu benar-benar membuatku tidak betah untuk berlama-lama tinggal di dalam Pack House."

Ethan menjeda kalimatnya. Ia menarik napas dalam-dalam ke paru-parunya, lalu mengembuskannya perlahan menjadi kepulan uap tipis ke udara malam yang dingin.

"Dan... ada satu fakta lagi yang membuatku merasa semakin terasing di dalam lingkungan keluargaku sendiri saat ini. Kamu juga pasti sudah mengetahui hal itu, Alan."

"Hal yang pasti sudah aku ketahui? Siapa yang mengatakannya padamu? Aku sama sekali tidak tahu-menahu mengenai urusan pribadimu, Ethan, karena fokusku terlalu sibuk terkuras pada urusanku sendiri," sahut Alan dengan nada datar dan acuh tak acuh.

Pikiran Alan saat ini memang masih sepenuhnya terfokus pada misi pencarian anak perempuan dari sahabat karib mendiang ayahnya yang terpisah saat mereka terlempar memasuki dimensi ruang dan waktu belasan tahun lalu. Bayi perempuan berambut salju yang kini tumbuh dewasa dengan nama White Emerson. Sebagai keturunan Pegasus, komitmen pada janji suci adalah segalanya, bahkan jika ia harus meninggalkan kediamannya yang berada jauh di dimensi Alfheim demi melacak keberadaan gadis itu di dunia fana ini.

Ethan hanya bisa memberikan anggukan pelan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Alan memang merupakan tipe pria kaku yang tidak akan pernah mau ambil pusing pada urusan domestik orang lain jika tidak diberitahu secara gamblang.

"Adik perempuanku... dia sudah berhasil menemukan Mate sejatinya," bisik Ethan, terdengar pahit di ujung lidahnya. "Semenjak hari itu, ayahku selalu saja membanding-bandingkan pencapaian hidupku dengan dirinya. Bayangkan saja, Alan, adikku itu statusnya masih seorang pelajar muda di akademi, tapi takdir sudah memberinya pasangan sejati yang sempurna. Sementara aku? Seorang calon Alpha dominan yang usianya sudah dua puluh empat tahun, namun masih saja sendirian tanpa seorang pendamping hidup."

Langkah kaki Alan mendadak terhenti seketika. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke samping, menatap lurus ke arah wajah Ethan dengan sorot mata ungu yang kini tampak bercampur antara rasa penasaran yang samar sekaligus sedikit simpati. Ia mengenal baik sosok adik perempuan dari sahabatnya itu.

"Lalu... siapa sebenarnya sosok yang menjadi Mate dari adikmu itu? Apakah dia seorang Werewolf dari klan yang sama juga denganmu?" tanya Alan hati-hati.

Ethan menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang sangat berat hingga membuat kedua bahunya kembali merosot. "Bukan. Pria itu bukan seorang Werewolf. Dan jujur saja, kamu pasti akan merasa sangat terkejut sekaligus tidak percaya saat mendengar namanya langsung dari mulutku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!