seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LELANG KEMATIAN
Keheningan yang mencekik merayap di dalam ruang pelelangan bawah tanah Sektor 4. Ratusan pasang mata yang terbiasa melihat darah dan konspirasi kini membelalak menatap dua pemuda yang baru saja merusak pintu perunggu berkeamanan mutlak. Musik klasik yang mengalun dari gramophone sihir di sudut ruangan tiba-tiba terasa seperti lagu pengiring pemakaman.
Lampu gantung kristal di langit-langit berkedip redup, seolah cahaya itu sendiri ketakutan untuk menyentuh jubah hitam yang dikenakan Andre.
Seorang pria gemuk dengan pakaian berhiaskan permata—Lord Vane, salah satu penyokong dana utama untuk kampanye politik Asosiasi Pusat—menggebrak meja lelangnya. Wajahnya memerah karena amarah yang menutupi rasa paniknya.
"Apa-apaan ini?!" raung Lord Vane, menunjuk ke arah Bastian dan Andre dengan jari bergetar. "Di mana Brutus? Di mana penjaga Titan?! Kalian berdua berandalan tengik, kalian tahu tempat apa yang baru saja kalian masuki? Ini adalah zona absolut! Penjaga, bunuh mereka dan buang mayatnya ke selokan!"
Master Kael, sang juru lelang yang juga merupakan seorang Enchanter Level 68 dari Guild Phoenix, dengan cepat memukul palu kayunya ke atas meja mimbar.
Bukan suara ketukan biasa yang terdengar, melainkan gelombang sihir resonansi tingkat tinggi. Seketika, dinding berlapis emas di ruangan itu memancarkan formasi rune berwarna merah darah.
"Absolute Suppression Field: Activate!" teriak Kael, mengangkat kedua tangannya.
Medan penekan gravitasi dan mana seketika membebani seluruh ruangan. Sihir ini dirancang khusus untuk memotong lima puluh persen dari total atribut siapa pun yang tidak mengenakan cincin pelindung VIP. Bersamaan dengan aktifnya formasi tersebut, langit-langit ruangan terbuka. Dua belas Iron Golem bersenjatakan pedang gergaji—mesin pembunuh otomatis bernilai miliaran koin emas yang masing-masing setara dengan petarung Level 60—jatuh berdebum ke lantai marmer, mengepung Andre dan Bastian.
Ratusan elite politik dan penguasa pasar gelap di ruangan itu menghela napas lega, senyum arogan kembali menghiasi wajah mereka.
Namun, senyum itu tidak bertahan lebih dari dua detik.
Bastian Valerius memutar lehernya, membunyikan persendiannya dengan santai. Ia bahkan tidak memanggil perisai Legendary-nya. Sang pewaris Valerius itu hanya memasukkan sebelah tangan ke saku celana jasnya. Tekanan dari Suppression Field yang seharusnya membuat seorang Third Job kesulitan bernapas, sama sekali tidak menggeser postur tubuhnya.
Di level 75, dengan stat pertahanan yang telah menembus batas kewajaran akibat ditempa oleh hantaman Raja Iblis, pemotongan lima puluh persen dari atribut Bastian masih menyisakan kekuatan yang melampaui seluruh orang di ruangan itu.
Dua Iron Golem melesat ke arah Bastian, pedang gergaji mereka berputar dengan kecepatan mematikan, mengincar leher dan pinggang pemuda itu.
Bastian hanya menguap pelan, lalu meninju udara kosong di depannya tanpa menggunakan skill apa pun.
Ledakan tekanan fisik murni dari kepalan tangan sang Guardian menghantam dada kedua golem baja itu. Suara logam yang remuk terdengar menyayat hati. Dua mesin pembunuh seberat tiga ton itu terlempar ke belakang, dada mereka berlubang tembus hingga ke punggung, sebelum akhirnya menabrak dinding formasi dan hancur berkeping-keping.
"Benda rongsokan ini membuat setelanku berdebu," gerutu Bastian, mengibaskan serpihan logam dari lengan jasnya.
Lord Vane dan para konglomerat lainnya memucat. Iron Golem yang dirancang untuk menahan serangan Calamity tingkat bawah baru saja dihancurkan hanya dengan satu pukulan fisik kosong.
Master Kael mundur selangkah di atas panggung, keringat dingin membanjiri wajahnya. "F-Formasi pertahanan lapis kedua! Tembak mereka!"
Namun, sebelum sisa sepuluh Iron Golem itu sempat memproses perintah Kael, udara di dalam ruangan itu mendadak membeku.
Andre melangkah maju. Pemuda berbaju hitam itu tidak berlari, tidak juga menggunakan kuda-kuda bertarung. Ia hanya berjalan santai melewati sisa-sisa Iron Golem yang hancur.
Tiga Iron Golem mengayunkan pedang raksasa mereka secara serentak, mencoba membelah Andre dari atas.
Mata Andre yang segelap obsidian memancarkan kilatan petir hitam. Stigmata mahkota di dadanya berdenyut satu kali.
ZRRAAAK!
Sebuah jaring petir hitam pekat meledak dari tubuh Andre, menyambar ke segala arah tanpa mengeluarkan suara guntur. Petir itu melilit tubuh sepuluh Iron Golem yang tersisa, mengabaikan ketahanan magis baja mereka, dan melelehkan inti inti mana (mana core) di dalam dada mereka secara instan. Kesepuluh mesin raksasa itu membeku di tempat, lalu ambruk menjadi tumpukan besi leleh yang tak berguna.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang lelang. Ratusan kaum elite yang tadi bersorak menuntut darah kini menggigil ketakutan. Beberapa di antaranya bahkan kehilangan kendali atas kandung kemih mereka, menyadari bahwa eksistensi yang melangkah di tengah mereka bukanlah manusia, melainkan bencana yang berjalan.
Andre tiba di depan panggung lelang. Master Kael, dengan sisa-sisa keberanian dan keputusasaannya, merapalkan mantra terkuatnya. Sebuah tombak api setinggi tiga meter yang memancarkan panas sepanas lahar gunung berapi melesat langsung ke arah dada Andre.
Tanpa menghentikan langkahnya, Andre hanya mengangkat tangan kirinya dan menepis tombak api itu seolah ia sedang mengusir lalat. Efek dari petir bayangannya menyerap dan menghapus elemen api itu ke dalam ruang hampa, meninggalkannya menjadi kepulan asap tipis.
Andre melompat ringan ke atas panggung, berdiri tepat di hadapan Kael. Sang juru lelang itu jatuh terduduk, tongkat sihirnya terlepas dari genggamannya yang gemetar.
"Aku... aku adalah pejabat eksekutif Phoenix!" jerit Kael, suaranya pecah oleh teror. "Kau tidak bisa melakukan ini! Asosiasi akan memburumu!"
"Asosiasi kalian sudah memburuku sejak sepuluh tahun lalu, dan tebak? Aku yang menang," bisik Andre dingin.
Ia melangkah melewati Kael yang menangis tersedu-sedu, memusatkan perhatiannya pada kotak kaca di tengah mimbar. Di dalamnya, melayang sebuah pecahan artefak perak yang memancarkan pendaran cahaya suci. Benda yang tadinya akan dilelang dengan harga fantastis itu adalah serpihan Holy Beacon—sebuah purwarupa penyebar doktrin pikiran yang dipasok langsung oleh faksi Arthur dari Eden.
Andre menatap artefak itu dengan jijik. Ia mengangkat tinjunya yang diselimuti petir hitam dan menghantam kotak kaca tersebut. Pecahan kaca berhamburan, dan artefak suci itu hancur menjadi debu di bawah tekanan penghancuran mutlak Black Lightning.
"Satu lagi mata Arthur yang membuta," gumam Andre.
Ia memutar tubuhnya, menghadap ke arah ratusan kaum elite yang kini saling berpelukan dan bersembunyi di bawah kursi-kursi pualam mereka.
"Dengarkan baik-baik," suara Andre tidak keras, namun bergema langsung di dalam tengkorak setiap orang di ruangan itu berkat tekanan mananya. "Selama sepuluh tahun, kalian menggemukkan perut kalian dengan membiayai eksperimen kotor para guild besar dan menjadi donatur bagi pemerintahan busuk di Eden. Kalian pikir uang kalian bisa membeli keselamatan saat kiamat datang?"
Andre berjalan ke tepi panggung, membiarkan jubahnya berkibar dramatis. "Mulai malam ini, Rishing Guild mengambil alih seluruh perputaran aset di Sektor Pusat. Setiap keping emas, setiap kristal mana, dan setiap dokumen kepemilikan aset yang kalian bawa malam ini, adalah milik kami. Lepaskan cincin spasial kalian, letakkan di atas meja, dan berjalanlah keluar dengan pakaian yang melekat di tubuh kalian."
Lord Vane, sang politisi gemuk, memaksakan diri untuk berdiri, meski lututnya bergetar. "Kau... kau gila! Kami adalah pilar ekonomi Sektor Pusat! Jika kau merampok kami, seluruh sistem kota ini akan runtuh! Petinggi Asosiasi tidak akan membiarkanmu—"
Andre tidak membiarkan Vane menyelesaikan kalimatnya. Pemuda itu menghilang dari panggung.
Dalam seperseribu detik, Andre sudah berdiri di depan Lord Vane. Tangannya mencengkeram leher politisi berbobot lebih dari seratus kilogram itu, mengangkatnya ke udara dengan satu tangan seolah pria itu hanya seberat boneka kapas.
Vane meronta-ronta, wajahnya berubah keunguan karena kehabisan napas. Mata Andre menatap lurus ke dalam pupil Vane yang membelalak dipenuhi ketakutan absolut.
"Aku bukan pencuri, Vane. Aku adalah penagih utang," bisik Andre, suaranya sedingin es abadi. "Kalian meminjam kedamaian dari darahku di masa lalu, dan sekarang saatnya membayar bunga."
Andre melemparkan tubuh raksasa Vane hingga menghantam meja pualam di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. Pria gemuk itu mengerang kesakitan, beberapa tulang rusuknya patah, darah segar menetes dari sudut bibirnya. Ia buru-buru melepas cincin spasial bertahtakan berlian dari jarinya dan melemparnya ke lantai dengan panik.
"Ambil! Ambil semuanya! Tolong jangan bunuh aku!" jerit Vane histeris.
Melihat pria paling berpengaruh di pasar gelap Sektor 4 itu bertekuk lutut seperti cacing, perlawanan mental kaum elite lainnya hancur total. Suara gemerincing logam memenuhi ruangan saat ratusan konglomerat, ketua faksi, dan politisi kotor secara serentak melucuti cincin spasial, kalung artefak, dan perhiasan sihir mereka.
Bastian berjalan santai mengelilingi ruangan, memegang sebuah kantong kulit magis berkapasitas tanpa batas, dan menyapu seluruh kekayaan itu ke dalamnya dengan senyum lebar.
"Bagus sekali, para penyumbang yang budiman," ucap Bastian riang. "Dana segar ini akan sangat membantu kami membangun panti asuhan. Atau mungkin membeli beberapa rudal balistik magis, siapa yang tahu?"
Setelah Bastian selesai mengumpulkan harta rampasan yang nilainya mungkin setara dengan anggaran militer satu benua, ia berdiri di samping Andre.
Andre menatap lautan manusia pengecut yang kini meringkuk di hadapannya.
"Kalian boleh pergi," perintah Andre. "Tapi, pastikan kalian menghubungi tuan kalian di Eden. Hubungi Arthur sang Hakim Suci. Katakan padanya bahwa Kaisar telah kembali untuk menagih takhtanya. Dan jika dia ingin mempertahankan kepalanya, dia harus bersiap."
Kerumunan itu berhamburan keluar dari ruang lelang seperti kawanan tikus yang melarikan diri dari kapal karam. Mereka saling injak, berteriak, dan menangis, meninggalkan ruangan mewah itu hancur berantakan.
Bastian menimbang kantong magis di tangannya, bersiul panjang. "Kita baru saja memutus urat nadi logistik Phoenix dan Titan di kota ini, Andre. Besok pagi, nilai saham mereka akan anjlok ke titik nol, dan Arthur tidak akan memiliki dana cair untuk mengirimkan lebih banyak malaikat ke perbatasan."
"Ini baru langkah pertama," Andre berbalik, berjalan menuju lorong keluar yang gelap. "Kita telah membakar ladangnya. Sekarang, kita tunggu sang petani keluar dari istananya."