NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabur

**

​Setelah hari itu di restauran, mereka menjalani kehidupan seperti biasanya. Sekarang, mereka lebih saling mengabaikan dari yang biasanya.

​Rafa lebih memilih banyak lembur, ataupun jika tidak lembur dia akan memilih mampir ke rumah orangtuanya dan baru pulang di atas jam 9 malam. Rutinitas seperti ini, sebenarnya mempengaruhi intensitas kebersamaan Rafa dengan Elvan, tapi dia masih punya hari Minggu yang khusus digunakan berdiam diri di Apartemen untuk Elvan. Walaupun, dengan Felisa masih kembali saling mengabaikan pada hari itu.

​Seberapa keras mereka terus mengabaikan, ada masa dimana mereka harus kembali terlibat untuk menjalankan sebuah peran bersama.

​Setelah dua Minggu terlewat begitu saja, tiba hari ini Elvan tiba-tiba menelepon mereka berdua untuk datang menjemput ke sekolah. Tapi saat tiba di sana, keduanya sama-sama tidak tahu jika Elvan menelepon keduanya. Sementara anak itu, memilih pergi untuk main ke rumah Cia.

​Saat Alexa melewati Rafa yang masih kebingungan, dia mendekatkan mulutnya ke telinga Rafa untuk berbisik. "Nikmati waktu kencan kalian berdua."

​Rafa tahu ini semua bukan ulah Elvan, tapi ini ulah adik laknatnya itu!

​Sebelum Rafa sempat protes, mobil itu sudah berlalu melaju dari hadapannya. Sekarang, disana hanya ada mereka berdua yang penuh dengan kecanggungan. Dua Minggu ini, mereka berdua sama sekali tidak pernah saling bertegur sapa sedikitpun.

​"Ayo, kita pulang ...." ajak Rafa canggung, masih mengalihkan pandangan ke arah lain.

​"Gak balik kantor? Saya bisa balik sendiri, kok," jawab Felisa tak kalah canggung. Kenapa situasinya jadi canggung begini, sih?

​"Lagian arah apart kelewat, sekalian aja!"

​Felisa terdiam sesaat, setelahnya mengangguk pelan. "Ok."

​Di dalam mobil, mereka kembali terdiam tak ada yang bersuara. Bahkan, mereka sama-sama enggan untuk menyalakan musik karena saking terbiasa dengan keheningan ini.

​Sampai suara ponsel Rafa di dashboard terdengar berisik, apalagi nada deringnya menggunakan suara musik rock.

​"Ehemmmmm ...." Felisa mencoba berdehem, semoga dia sadar orang yang di sampingnya terganggu oleh suara berisik itu.

​"Kamu tahu kan, tangan saya dua dan dua-duanya dipakai buat menyetir." Rafa melirik Felisa tajam. "Kalau mau saya angkat telepon, saya tidak jamin kalau kita gak tabra--"

​"Alah ... ngomong aja biar diangkatin." Felisa mengambil kasar ponsel Rafa. "Ini dari Bos besar, angkat?"

​"Iya, buruan cepat. Loudspeaker sekalian!" titah Rafa yang masih fokus ke depan.

​Felisa mendengus. "Tukang perintah!"

​Walau masih mengomel, Felisa mengangkat panggilan itu. Tubuhnya dibuat condong ke samping untuk mendekatkan ponsel itu ke Rafa.

​"Hallo, Rafa kamu di mana?"

​Rafa berdehem. "Saya lagi di jalan mau mencari makan siang, Pak."

​"Kebetulan sekali, ada client yang meminta bertemu mendadak disalah satu restauran. Dia sudah ada di sana sekarang, tolong kamu temui dia untuk mengambil beberapa dokumen kerjasama. Segera ke sana karena waktu dia tidak lama. Jika tidak diambil sekarang, dua Minggu ini dia akan ke Singapur. Ini saja 30 menit lagi, dia mau ke bandara. Tolong, segera ke sana!"

​Rafa melirik Felisa sekilas. "Iya Pak, tolong kirim alamatnya."

​Tuttt

​Terdengar suara panggilan terputus, Felisa melirik Rafa. "Udah?"

​Rafa mengangguk, pandangannya masih fokus ke depan. "Tolong, cek chat dari bos. Sebutin alamat restauran yang dia kirim."

​"Ok." Entah kenapa Felisa menurut begitu saja tanpa protes, dia sendiri juga tidak tahu kenapa.

​Setelah Felisa menyebutkan alamatnya, tidak lebih dari 5 menit Rafa memutar arah perjalanan. Felisa yang sadar buru-buru protes, tapi sayang Rafa tidak menerima protes. Felisa bahkan meminta turun, tapi Rafa melarang karena sekalian Felisa bisa ikut makan siang di sana. Terlalu lelah protes, akhirnya Felisa memilih diam.

​Sesampainya di restauran, Rafa memilihkan Felisa meja lain yang tidak jauh dari dirinya yang akan bertemu client yang memang sudah berada di sana.

​Felisa menikmati pesanannya, sambil sesekali memperhatikan Rafa yang terlihat serius sedang berbicara dengan client-nya.

​"Dia emang tampan, sih. Tapi tampan aja kan, gak cukup buat nikah," gumam Felisa masih memperhatikan Rafa. "Dia bukan orang kaya yang hartanya gak habis-habis, tapi dia udah punya pekerjaan yang karirnya bagus. Walaupun ceroboh, tapi dia lelaki yang bertanggungjawab sebenarnya. Eh ... tunggu, kenapa aku mikirin segala hal tentang dia?"

​Felisa menggeleng cepat, memukul kepalanya berulang. "Sesempurna apapun Rafa, dia bukan calon yang sempurna yang bisa dibawa pulang ke rumah. Rafa masih jauh dari kriteria mereka, apalagi image dia udah buruk dari awal karena udah menghamili di luar nikah."

​"Kenapa, gila?"

​Pertanyaan Rafa menghentikan aksi Felisa, balik menatap Rafa kaget.

"Eh ... udah?"

​Rafa mengangguk. Mencomot kentang di piring Felisa. "Gak sekalian pesankan saya makan?"

​Felisa menggeleng. Memukul tangan Rafa yang kembali mencomot kentang. "Saya pikir kamu sekalian makan bareng mereka. Pesan sendiri ih, sana!"

​"Pelit, saya juga yang bayar!"

​Mereka menghabis makannanya kembali saling diam. Setelah selesai mereka memilih segera pulang. Tapi, tepat saat keluar dari restauran dua orang lelaki yang mirip seperti preman menghentikan langkah mereka.

​"Nona Felisa?"

​Felisa tanpa sadar menggenggam tangan Rafa erat karena takut. Rafa yang belum mengerti situasinya hanya terdiam memandangi dua orang didepannya, tapi cengkraman Felisa menyandarkan Rafa jika mereka di depan itu berbahaya dan membuat Felisa takut.

​"Nona, tolong pergi baik-baik dengan kami. Jika tidak, kami terpaksa akan membawa paksa Nona."

​"Kalian siapa?" Rafa memberanikan diri bertanya, sekaligus memutus kontak mata dua orang itu terhadap Felisa dengan semakin menyembunyikan di belakang tubuhnya.

​"Maaf Tuan, kami tidak ada urusan dengan anda. Urusan kami dengan Nona di belakang Anda!" ujar salah satu dari mereka tegas.

​"Nona di belakang saya ini, bukan milik saya atau kalian. Jadi, dia tidak ada kewajiban untuk kalian ambil dan saya berikan!" Rafa balik menatap tajam ke arah mereka berdua.

​"Sekali lagi, kami tidak melukai orang asing. Jadi, kami mohon dengan baik segera berikan nona Felisa sekarang!"

​"Saya ti--"

​"Kabur, ayo kabur," bisik Felisa di belakang. "Kamu gak akan bisa nanganin mereka. Ayo, kabur! Tapi jangan pakai mobil, kita lari!"

​"Kenapa tidak pakai mobil?" Rafa balik berbisik dengan menolehkan kepala ke belakang.

​"Kita jangan sampai ambil risiko di masa mendatang dengan pakai mobil kamu. Ayo, lari!"

​"Nona, ayo ikut kami sekarang! Jika tidak, kami benar-benar akan melakukan dengan cara paksa!" titah salah satu orang itu, memutus diskusi Rafa dan Felisa.

​"Tunggu sebentar!" jawab Rafa tanpa menolehkan kepala, memutus langkah mereka dengan lambaian tangan.

​"Ayo, kabur!"

​"Ok, tapi saya butuh penjelasan untuk ini nanti." Felisa mengangguk terburu. "Dalam hitungan tekanan tangan saya di kamu, Kita lari."

​Rafa memberi contoh menekan pergelangan tangan Felisa, yang langsung diangguki oleh wanita itu.

​Rafa kemudian berbalik, memberikan senyuman manis ke arah dua orang itu. Di belakang, tangannya sudah mulai mengaba-aba menghitung. Tepat dihitungan ketiga, tanpa bersuara mereka berlari kencang dengan saling bergandengan.

​"Kita mau kemana?" tanya Rafa yang masih sempat-sempatnya bertanya disela-sela mereka berlari.

​Felisa mendengus, mulai terlihat ngos-ngosan juga. Sementara dua orang di belakang mereka masih mengejar. "Di depan nanti ada tempat karaoke, masuk ke sana dan cari kamar!"

​"Hah, karaoke?"

​"Gak ada waktu buat mikir dan bertanya!" sanggah Felisa cepat.

​Meski kesal dan bingung, akhirnya Rafa menurut. Tak jauh di depan mereka, memang benar-benar menemukan tempat bangunan yang bertuliskan karaoke. Rafa sempat memicing sesaat, kenapa wanita ini bisa tahu bangunan ini? Apa dia sering pergi ke tempat seperti ini?

​Sebenarnya mereka jika masuk biasa akan susah, karena harus mendaftar dulu. Tapi, saat pegawai di sana melihat Felisa yang mengangkat satu tangan, pegawai itu mengangguk dan tersenyum.

​Sekarang, gantian Felisa yang berlari di depan dan menarik Rafa. Mereka terus berlari di tengah lorong sambil sesekali mengintip keadaan kamar untuk menemukan yang kosong.

​"Di sini," seru Felisa saat berhasil menemukan ruangan kosong.

​Rafa hanya mengikuti Felisa masuk ke dalam. Belum sempat Rafa memahami situasi, bahkan bernapas yang benar saja belum, tiba-tiba lelaki itu dibuat kaget saat Felisa membuka sweater dan kaosnya yang menyisakan tinggal bra.

​"Heh, mau ngapain?" tanya Rafa panik, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.

​"Jangan sok jadi perjaka suci, deh!" omel Felisa yang menarik paksa Rafa agar kembali menghadap ke arahnya. "Buka cepat kemejanya!"

​"Heh, mau ngapain?" Rafa benar-benar panik apalagi sekarang Felisa sudah mulai membuka kancing kemejanya cepat.

​"Udah, diam!" Felisa seakan mempunyai kekuatan baru dan berhasil membuka cepat kemeja Rafa, sehingga cowok itu sekarang benar-benar sudah telanjang dada.

​Rafa menatap horor ulah Felisa, buru-buru menutup dadanya dengan kedua tangan. "Pemerk*sa*n!"

​"Please ... Anda udah gak perj*ka lagi!" Felisa berseru kesal. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah ribut yang semakin mendekat. "Mereka datang, ayo!"

​Rafa tidak sempat menolak, saat Felisa menarik tubuhnya sehingga terbaring di sofa yang menghadap ke pintu masuk, setelahnya wanita itu ikut terbaring di atasnya dan tanpa permisi mencium bibirnya.

​Rafa masih kaget, posisi mereka terlalu intim dan dirinya belum pernah berada diposisi ini. Jika menyangkut kejadian waktu proses pembuatan Elvan, masih sekedar berupa ingatan samar.

​Logikanya mengatakan untuk mendorong Felisa, tapi entah kenapa perlahan Rafa mulai menikmati sensasi panas yang ditimbulkan. Rafa masih terdiam saat Felisa mulai menggerakkan bibir, mengecap miliknya secara perlahan. Entah kenapa, seketika ingatan malam itu perlahan muncul. Tidak tahu bagaimana caranya, Rafa yang benar-benar polos soal seperti ini kalah oleh naluri alami yang dimiliki oleh seorang lelaki.

​"Hhhh ...." Felisa meringis kecil saat Rafa membalik tubuhnya, sehingga dirinya sekarang berada di bawah lelaki itu.

​Sekarang, alur permainan berubah karena Rafa mendadak menjadi sangat ahli dan memimpin aksi saling mengecap bibir itu, sampai Felisa sedikit kewalahan. Felisa jadi ragu jika Rafa benar-benar masih suci dan polos, karena apa yang dilakukan ini sudah termasuk ahli!

​Brakkk

​Terdengar suara pintu yang sepertinya ditendang kasar. Felisa mengintip sekilas, dan benar jika itu dua orang yang tadi mengejar mereka. Felisa buru-buru mengeratkan dekapannya di kepala Rafa, semakin menekan ciuman mereka sekaligus menutupi wajah mereka. Beruntung Rafa sepertinya benar-benar sudah dikuasi sesuatu yang bisa kita sebut 'nafsu'.

​"Anak muda Zaman sekarang, bisa-bisanya tempat karaoke dijadikan tempat mesum!" ujar salah satu dari mereka.

​Felisa tersenyum tipis disela-sela ciumannya, sepertinya rencana ini berhasil dan mereka tidak ketahuan.

​"Sudah biarkan saja, bukan urusan kita. Ayo, kita cari lagi nona Felisa dan bawa ke Bos!"

​Terdengar langkah kaki mereka menjauh, Felisa akhirnya bisa bernapas lega. Sebelum pintu tertutup, terdengar seruan dari salah satu dari mereka. "Tolong ... cari hotel!"

​Ketegangan yang tadi Felisa rasakan, perlahan hilang tapi tunggu, sepertinya tidak juga! Wanita itu masih kewalahan mengimbangi ciuman Rafa yang semakin liar!

​Ini yakin, kata Meri ini lelaki belum pernah pacaran, ciuman! Ini mah pro, parah!

​Apa karena selama 28 tahun ini, nafsu dia cuman tanpa sadar tersalur malam itu. Jadinya, otak mesum yang udah lumutan itu, dipancing dikit yah, gini!

​Felisa sendiri, tidak tabu dengan sebuah ciuman karena dia pernah beberapa kali melakukannya dengan para mantannya, tapi hanya sekedar ciuman tidak lebih dan lebihnya malah dengan lelaki di atasnya waktu itu. Sepertinya, lelaki ini sudah terlalu jauh melangkah. Felisa merasakan sebuah tangan mulai menggerayangi area dadanya.

​Seketika Felisa sadar, jika itu sudah kelewatan. Felisa berusaha mendorong Rafa, kebetulan pasokan oksigen dia juga mulai menipis. Tapi lelaki itu, seolah mempunyai kekuatan super karena sama sekali tidak bergeming.

​Napas Felisa sudah pendek. Tidak lucu bukan, dia mati karena kehabisan napas saat sedang berciuman?

​Lelaki ini vampir, yah? Gak butuh napas!

​Rafa akhirnya melepas tautan bibir mereka, bukan menjauh sebenarnya karena bibir lelaki itu sekarang malah singgah di leher Felisa dan sebelah tangannya masih sibuk di area dada Felisa.

​"Ple--ase ... hh Elvan be--lum bu--tuh adik!" Dengan susah payah Felisa berusaha mengatakannya, karena bagaimanapun tubuhnya terasa sangat panas.

​Rafa akhirnya mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu. Felisa meneguk ludah, saat melihat tatapan liar Rafa yang seakan ingin memakannya. Lelaki itu tersenyum tipis, setelah itu kembali menyambar bibir Felisa tak kalah liar dari tadi.

​Felisa rasanya sudah lemas, tidak bisa melawan, apalagi tubuhnya juga ikut menikmati. Sampai tiba-tiba suara telepon yang berbunyi berkali-kali, membuat Felisa akhirnya mempunyai tenaga untuk mendorong Rafa sampai lelaki itu terjauh dari sofa.

​Felisa melirik kaget, saat melihat Rafa yang terduduk di bawah. Itu tadi, pasti sakit. "Ponsel kamu ... bunyi."

​Rafa masih terdiam seperti masih syok, sampai akhirnya terlihat sadar karena suara ponsel di saku celananya kembali berbunyi.

​Rafa berdiri, masih menatap Felisa sampai membuat wanita itu salah tingkah. Apalagi posisi Rafa yang menjawab telepon mengahadap ke arahnya. Felisa baru sadar, jika tubuh Rafa dipenuhi dengan otot-otot yang pas membuat Felisa meneguk ludah. Tadi, dia tidak memperhatikan karena diserang panik. Sekarang, semua keindahan itu berada jelas di depan matanya.

​"Hallo ... Xa!" Pandangan Rafa masih fokus melihat Felisa, lalu tersenyum tipis.

​Felisa tidak kuat, ketampanan ditambah roti sobek terus diberikan senyuman manis, sungguh rasanya Felisa mau melambai saja ke kamera.

​Tolong ... ini kamera sebelah mana!

​"Iya, kita ke sana jemput Elvan sekarang!"

​Rafa memutus sambungan telepon, lelaki itu memutus kontak mata dengan Felisa. Pandangannya mengitari sekitar untuk menemukan kemejanya dan setelah menemukan langsung memakainya. Kemudian kembali menunduk untuk mengambil baju Felisa, setelahnya berjalan ke arah wanita itu. Semua tindakan Rafa itu tak luput dari pandangan Felisa, yang rasanya sudah mau mimisan.

​"Pakai! Elvan nangis, mau pulang katanya."

​Felisa buru-buru menggeleng kuat, karena entah kenapa suara Rafa malah terdengar sexy. "Sadar ... Fel ... tolong!"

​"Gak mau balik?"

​Felisa mengerjap, akhirnya sadar. "Mau, lah!"

​Dengan terburu-buru meraih pakaiannya di tangan Rafa, memakainya lalu meringis baru sadar jika Rafa sedari tadi melihat penampilan dia dengan hanya menggunakan bra yang bahkan wujudnya sudah tidak di tempat yang benar.

​Setelah keluar dari ruang karaoke, mereka berjalan sedikit jauh karena entah kenapa kecanggungan itu kembali hadir.

​Rafa bahkan meremas dokumennya kuat, serta merutuki dirinya karena terpaksa hari ini harus izin masuk setengah hari. Jiwa liarnya juga perlahan tergantikan dengan jiwa kucing malu-malu, setelah keluar dari ruang karaoke.

​"Eh?" Mereka mengerjap bersama karena tangan mereka tanpa sadar saling bersentuhan.

​Aneh, hanya tangan tak sengaja bersentuhan tapi mereka malah luar biasa malu. Terus, tadi di dalam mereka melakukan apa? Hampir saja, adik Elvan dalam proses!

##

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!