Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Jebakan di Kediaman Tua
Malam Minggu di kawasan elit Menteng diselimuti hujan gerimis yang tak kunjung reda. Pepohonan tua yang rimbun menaungi gerbang besi tempa Kediaman Rumah Tua Dirgantara—sebuah rumah bergaya kolonial megah milik Almarhum Kakek Wijaya yang sudah beberapa bulan kosong.
Sebuah sedan hitam melaju pelan membelah pelataran berkerikil, menghentikan jalurnya tepat di depan teras utama.
Arvin turun terlebih dahulu membawa payung hitam tebal, lalu membukakan pintu untuk Dania. Dania melangkah keluar mengenakan mantel kain berwarna beige yang rapi. Meski wajahnya tampak tenang, jemari tangannya yang saling menggenggam rapat di dalam saku mantel tidak bisa menyembunyikan ketegangan yang merayap di dadanya.
Arvin melirik pergerakan halus itu. Tanpa menguarkan kata-kata romantis yang manis, Arvin mengulurkan lengan sikunya secara kaku namun tegas ke arah Dania.
"Pegang lenganku," kata Arvin dengan suara bariton rendah yang tertutup gemuruh hujan. "Lantai teras ini licin karena lumut. Aku tidak ingin kamu jatuh sebelum kita menyelesaikan urusan ini."
Dania menatap lengan Arvin sejenak, lalu menyusupkan jemarinya ke dalam lipatan siku pria itu. Kehangatan jas tebal Arvin dan cengkeraman kokoh lengan pria itu seketika memberi rasa aman yang sangat dibutuhkan Dania saat ini.
Mereka melangkah bersama memasuki pintu kayu jati raksasa rumah tua tersebut.
Di dalam, lampu gantung kristal yang temaram menerangi ruang tamu bernuansa kayu mahoni tua. Di tengah ruangan, tepat di dekat meja kerja antik peninggalan Kakek Wijaya, sudah berdiri dua orang yang menanti mereka.
Ibu Helen dan Dion.
Dion mengenakan jaket kulit gelap dengan wajah yang tampak tirus dan berantakan—sisa kemarahan akibat pembekuan jabatannya minggu lalu. Sementara Ibu Helen berdiri tegak dengan gaun mewahnya, memegang tas tangan dengan cengkeraman kencang.
"Kamu benar-benar datang membawa wanita ini, Arvin," sapa Ibu Helen dengan senyum tipis yang penuh racun. "Umpan dokumen pengalihan aset yang kamu bocorkan lewat Rian sore tadi cukup membuat kami penasaran."
Arvin melepas payungnya, menyerahkannya pada Rian yang berdiri siaga di dekat pintu masuk bersama dua pengawal bertubuh tegap. Pria tinggi besar itu kemudian berjalan perlahan meniti lantai kayu, mengikis jarak hingga berhenti tiga meter di depan meja kerja Kakeknya.
"Aku sengaja memanggil kalian ke rumah ini, Auntie Helen," ujar Arvin dingin, suaranya mengudara mantap di ruangan yang luas itu. "Karena di rumah inilah, dua puluh tahun lalu, suami Auntie dan kelompok kalian merusak karier ayah Dania—Hendra Kirana."
DEG!
Wajah Ibu Helen seketika memucat sesaat begitu nama Hendra Kirana tersebut dari mulut Arvin. Namun, dengan cepat ia menguasai kembali ekspresi kaku di wajahnya.
"Jangan membawa-bawa nama orang mati yang tidak ada hubungannya dengan urusan saham perusahaan, Arvin!" potong Ibu Helen tajam. "Kami ke sini karena Rian bilang kamu memegang draf asli bukti pengalihan aset luar negeri. Serahkan dokumen itu sekarang, dan kita bisa bicarakan pembagian saham lima puluh satu persen itu secara kekeluargaan!"
Dania melangkah satu pijakan ke depan menyamai posisi Arvin. Pandangan matanya yang jernih dan tajam menatap Ibu Helen tanpa ada sedikit pun getaran takut.
"Urusan ini sangat ada hubungannya dengan ayah saya, Ibu Helen," kata Dania dengan suara berwibawa yang mengesankan. "Kakek Wijaya tidak pernah menyerahkan saham Dirgantara Group pada Anda karena Kakek tahu... Anda dan Dion yang memalsukan laporan keuangan proyek masa lalu dan menjebak ayah saya hingga bangkrut."
"Tutup mulutmu, wanita benalu!" bentak Dion seraya maju satu langkah dengan wajah memerah murka. Tangannya menunjuk wajah Dania dengan kasar. "Kamu cuma gadis miskin yang menjual tanda tangan pernikahan demi bayaran rumah sakit adikmu! Kamu tidak punya hak berbicara di dalam rumah keluarga Dirgantara!"
"Dion."
Satu panggil dingin dari Arvin seketika memotong teriakan Dion.
Arvin melangkah maju menghalangi Dania sepenuhnya dari jangkauan Dion. Aura intimidasi yang terpancar dari tubuh tegap Arvin begitu pekat hingga membuat Dion refleks melangkah mundur satu pijakan.
"Satu kali lagi kamu menunjuk atau membentak istriku..." desis Arvin dengan mata yang memancarkan kilat berbahaya. "Aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari di luar penjara lagi."
"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu, Arvin?!" teriak Dion seraya merogoh saku dalam jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah kilatan logam perak yang tajam—sebilah pisau lipat taktis! "Serahkan dokumen asli Kakek sekarang, atau malam ini aku pastikan pernikahan rahasiamu berakhir dengan darah!"
"Dion! Jangan gila!" seru Ibu Helen panik melihat putranya mengacungkan senjata tajam.
Dania menahan napasnya seketika saat melihat mata pisau itu mengkilat di bawah lampu gantung. Namun, Arvin tidak sedikit pun menunjukkan kepanikan atau mengundurkan langkahnya. Wajah kaku sang CEO justru makin dingin bagai es.
"Kamu selalu bodoh dan emosional, Dion," gumam Arvin datar seraya menepuk tangannya dua kali.
CRAK!
Pintu-pintu samping dan lorong belakang kediaman tua itu seketika didorong terbuka secara bersamaan. Enam petugas kepolisian berseragam lengkap bersama tim reserse bersenjata masuk dengan cepat, memblokir seluruh akses keluar rumah.
"Kepolisian! Jangan bergerak! Jatuhkan senjatamu sekarang!" teriak Komandan Polisi dengan pistol terarah lurus pada Dion.
Dion membeku di tempatnya. Pisau di tangannya bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh berdenting menghantam lantai kayu. TAK!
Dua petugas polisi dengan sigap merangsek maju, memiting kedua tangan Dion ke belakang dan memasangkan borgol besi dengan cepat. Dion berteriak dan meronta-ronta meluapkan kemarahannya yang sia-sia.
"Arvin! Kamu menjebakku! Arvin!" raung Dion saat diseret ke arah pintu keluar.
Sementara itu, dua petugas reserse lainnya mendekati Ibu Helen, menyodorkan surat perintah penangkapan resmi yang sudah berstempel kejaksaan.
"Nyonya Helen Dirgantara," ujar Perwira Polisi tegas. "Anda ditangkap atas dugaan penyalahgunaan dana perusahaan, pemalsuan dokumen aset negara, serta keterlibatan dalam sabotase fisik di lokasi konstruksi Grand Dirgantara Tower."
Ibu Helen terduduk lemas di atas sofa kayu tua, wajah mewahnya kini berubah pucat pasi bagai mayat. Tas mahal di tangannya terlepas, menumpahkan barang-barang mewahnya ke atas lantai tanpa ada lagi sisa keangkuhan.
Satu jam kemudian, mobil-mobil polisi dan sirine ambulans telah pergi meninggalkan kediaman tua yang kembali diselimuti suara derai hujan.
Di dalam ruang tamu yang kini hening, Dania berdiri di dekat jendela besar, menatap tetesan air hujan yang mengalir di kaca. Beban berat dan penderitaan nama baik ayahnya yang terpikul selama belasan tahun akhirnya resmi terangkat malam ini.
Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Arvin berdiri di samping Dania, menyodorkan secangkir teh melati hangat yang baru diseduh oleh Rian.
Dania menerima cangkir itu, merasakan hangatnya menjalar ke jemarinya yang dingin. "Terima kasih, Arvin."
Arvin menatap pemandangan hujan di luar tanpa menoleh. "Aku hanya menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan oleh Kakekku bertahun-tahun lalu."
"Tapi Anda melakukannya untuk saya dan keluarga saya," kata Dania tulus, menoleh menatap profil samping wajah Arvin yang tegas. "Terima kasih sudah melindungi saya tadi saat Dion mengeluarkan pisau itu."
Arvin diam sejenak. Rahangnya berkedut tipis sebelum ia berpaling menatap mata Dania.
"Aku sudah katakan sebelumnya, Dania," ujar Arvin dengan suara baritonnya yang rendah dan mantap. "Selama kontrak pernikahan rahasia ini berjalan... keselamatan dan kehormatanmu adalah tanggung jawab mutlakku."
Dania tersenyum tipis—sebuah senyum hangat yang tulus tanpa benteng pertahanan. "Dan sekarang... ancaman dari Dion dan Ibu Helen sudah selesai. Posisi Anda sebagai CEO sudah mutlak aman."
Arvin menatap senyuman Dania yang langka itu. Untuk pertama kalinya di dalam rumah tua yang dingin itu, ada getaran tak terucapkan yang sangat halus merayapi dada sang CEO—sebuah kesadaran bahwa wanita yang berdiri di sampingnya ini bukan lagi sekadar nama di atas draf kertas perjanjian.
"Pekerjaan kita di perusahaan memang aman," sahut Arvin pelan, suaranya terdengar kaku namun pekat. "Tapi kehidupan kita di penthouse... baru saja dimulai."