Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Gibran langsung menjatuhkan tubuh nya di sofa yang ada di ruang tamu rumah bu Siti, fisik dan mental nya sangat lelah hari ini. Apalagi mereka baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kampung halaman nya Santi.
"Tubuh ku rasa nya seperti orang yang baru habis di hajar saja!" Guman Gibran.
"Bapak juga lelah banget!" Pak Burhan menjatuhkan tubuh nya tepat di samping Gibran.
Kedua nya melepaskan lelah di rumah bu Siti, sofa yang saat ini tengah mereka duduk ini di beli dengan uang nya bu Meri. Hampir setiap bulan pak Burhan mencuri uang nya bu Meri, uang itu dia berikan pada Bu Siti.
Bahkan seluruh perabotan yang ada di dalam rumah ini semua nya di beli dengan uang nya bu Meri, sudah cukup banyak pak Burhan mencuri dari bu Meri.
"Kalian istirahat lah dulu, aku juga ingin beristirahat!" Bu Siti berkata pada kedua nya.
Setelah mengatakan itu, bu Siti langsung masuk ke dalam kamar nya. Sedangkan Gibran dia sudah tidak sanggup lagi untuk beranjak, dia dan pak Burhan memilih untuk beristirahat di sofa ruang tamu.
*****
Pagi ini, cuaca sangat cerah. Bu Meri dan Sarah memasak berdua, mereka menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Ibu, aku yakin hari ini Mas Gibran pasti akan datang ke rumah ini!" Sarah membuka percakapan di antara mereka.
"Biarkan saja mereka datang nak, ibu ingin tahu apa yang akan mereka lakukan!" Jawab Bu Meri dengan tenang.
"Aku sendiri sangat yakin, bahwa mas Gibran pasti akan meminta ku rujuk kembali. Setelah dia mengetahui semua kebenaran ini!" Kembali Sarah berkata.
"Lalu, apa kau mau menerima nya kembali saat dia mengajak mu rujuk nanti?" Bu Meri bertanya pada Sarah.
"Tidak bu, aku tidak mau rujuk dengan mas Gibran!" Jawab Sarah sambil menggelangkan kepala nya.
"Nak, ibu mendukung apapun yang menjadi keputusan mu. Kau masih muda, kau berhak bahagia. Selama ini, Gibran sudah melakukan hal yang melukai hati dan perasaan mu. Ini sudah saat nya kau bahagia!" Bu Meri berkata sambil menggenggam erat tangan Sarah.
"Terima kasih banyak bu, karena ibu sudah mendukung ku. Tapi ada satu hal yang mau aku bicarakan sama ibu!" Sarah berkata sambil menunduk kan kepala nya.
"Katakan nak, jangan takut!" Ujar Bu Meri.
"Aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi bu, aku dan mas Gibran sudah berpisah. Aku yakin, mas Gibran pasti akan datang ke rumah ini. Dan aku tidak mau lagi tinggal di bawa satu atap dengan nya!" Sarah menjelaskan apa yang mengganjal di hati nya.
"Ibu mengerti dengan perasaan mu nak, ibu tidak akan mencegah mu. Ibu sadar, masa depan mu masih panjang. Kau berhak bahagia, selama 10 tahun menikah dengan Gibran, dia sudah membuat mu menderita!" Bu Meri mengerti dengan apa yang tengah di rasakan oleh Sarah saat ini.
"Terima kasih banyak, bu!" Jawab Sarah yang akhir nya merasa lega.
Kedua nya melanjutkan sarapan mereka, masih banyak hal yang akan mereka hadapi. Kedua nya sadar, masalah ini belum selesai. Gibran dan yang lain nya pasti akan datang, untuk mengganggu ketenangan mereka berdua.
*******
Hari sudah beranjak siang, bahkan waktu saat ini menunjuk kan sebentar lagi tengah hari. Gibran menggeliatkan tubuh nya, badan nya terasa sakit semua karena semalaman dia tidur di atas sofa.
Gibran melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, dan saat itu juga dia baru sadar ini hampir tengah hari.
"Sudah siang rupa nya, wajar saja perut ku terasa perih!" Guman Gibran sambil memegangi perut nya.
Gibran langsung berjalan ke dapur, saat ini pak Burhan dan bu Siti masih tertidur dengab nyenyak. Gibran pergi ke kamar mandi, dia langsung mencuci muka nya. Setelah itu, dia membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk mengganjal perut nya.
"Tidak ada apa - apa, padahal perut ku lapar sekali!" Guman Gibran pada diri nya sendiri.
Gibran kembali ke ruang tamu, sambil memegangi perut nya yang lapar. Saat ini pak Burhan seperti nya sudah bangun, dia duduk bersandar di sofa.
"Yah, perut ku lapar banget. Suruh kekasih ayah itu masak, masa jam segini masih tidur saja!" Gibran berkata pada pak Burhan.
"Perut ku juga udah lapar banget!" Pak Burhan ikut bekata.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan bu Siti keluar dati sana, dia langsung bergabung dengan Gibran dan pak Burhan di ruang tamu.
"Mas, perut ku lapar. Aku belum makan sejak tadi malam!" Bu Situ berkata dengan nada manja.
"Sama saja, kami juga belum makan sejak semalam. Buruan kamu masak sana, kami lapar dan mau makan!" Pak Burhan memberi perintah pada bu Siti.
"Aku lagi malas masak, lagi pula di dapur semua nya pada habis. Mas belum memberikan aku uang bulan ini, sebaik nya pesan saja makanan dari luar!" Bu Siti menolak perintah pak Burhan.
"Aku juga tidak punya uang, Meri belum memberikan aku uang untuk bulan ini!" Jawab Pak Burhan.
"Gibran, kamu punya uang kan? Buruan pesan makanan untuk kita semua!" Bu Siti berkata pada Gibran.
"Aku tidak punya uang, selama ini uang tabungan ku habis ku berikan pada Santi semua!" Jawab Gibran.
"Kalian bagai mana sih? Masa ayah dan anak sama saja, semua nya tidak punya uang!" Omel Bu Siti.
"Kalau begitu, aku mau ke rumah ibu saja. Aku akan makan di sana saja, di rumah ibu pasti banyak makanan!" Gibran berkata sambil berdiri dari tempat duduk nya.
"Aku ikut, aku makan di sana saja!" Pak Burhan langsung menimpali.
"Kalau kalian berdua makan di sana, lalu bagai mana dengan ku?" Tanya Bu Siti dengan wajah cemberut.
"Kamu makan di rumah saja, lagi pula kami kesan bukan cuma mau makan. Kami mau minta uang, kami mau membahas masalah harta nya Meri!" Jelas pak Burhan.
"Ya udah deh, jangan lupa setelah uang nya cair aku mau membeli rumah. Aku tidak betah lagi tinggal di rumah kontrakan ini!" Jawab Bu Siti pada akhir nya.
"Iya, kamu tenang saja. Aku pasti akan membelikan mu rumah!" Jawab Pak Burhan.
Wajah cemberut milik bu Siti tadi, langsung berganti wajah cerah dan sumringah. Keinginan nya untuk memiliki rumah sendiri akan segera terwujud dalam waktu dekat ini, dia tidak perlu lagi tinggal di rumah kontrakan sempit ini.
"Akhir nya, sebentar lagi aku akan punya rumah sendiri!" Guman Bu Siti.
Bu Siti mengedarkan pandangan nya ke seluruh bagian rumah, semua isi rumah ini di beli dengan uang dari pak Burhan. Uang yang pak Burhan cuti dari bu Meri selama ini, semua nya dia berikan pada bu Siti.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah