NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Akhir Perjalanan

Takhta Kaisar Langit berdiri sebagai lambang kekuasaan tertinggi di atas segalanya. Sepanjang zaman, para kultivator mempertaruhkan nyawa demi mendekatinya. Namun, jangankan menggapai, melihat bayangannya saja merupakan hal yang mustahil bagi siapa pun.

Benda itu tetap sunyi di balik kabut keabadian, menyimpan misteri besar yang tak tersentuh waktu.

***

Tanah pegunungan itu terbelah dalam sunyi. Sisa-sisa energi bergolak liar di udara yang pekat.

Ye Chan berdiri dengan napas tersengat luka. Jubahnya robek di banyak tempat, menampakkan darah yang merembes pelan ke atas batu karang.

Di hadapannya, Shi Zhong menatap dengan seringai tajam. Tidak ada lagi sisa rasa hormat atau tunduk dari seorang murid kepada gurunya.

'Ada yang aneh dengan aliran darahnya,' batin Ye Chan, menyipitkan mata saat merasakan gelombang Qi yang asing dan gelap mengalir dari tubuh Shi Zhong.

Shi Zhong melangkah maju perlahan. Suaranya memecah keheningan yang tersisa di antara reruntuhan medan perang.

"Semua yang kau miliki di dunia ini seharusnya sudah sejak dulu menjadi milikku," ucap Shi Zhong dengan nada meremehkan.

Ye Chan tidak langsung meradang atau memohon belas kasihan. Ia membiarkan napasnya teratur sembari menghitung peluang tipis untuk bertahan hidup di tempat terpencil itu.

'Seni terlarang itu telah merusak fondasi meridiannya, tapi kekuatannya justru melampaui batas normal,' pikir Ye Chan menganalisis situasi dengan kepala dingin.

"Keserakahan membuat manusia lupa cara berdiri dengan kaki sendiri," balas Ye Chan datar.

Shi Zhong mendengus keras. Pandangannya menyiratkan kebencian yang telah lama dipendam di balik senyum patuh selama bertahun-tahun melayani di perguruan.

"Simpan ceramah basi itu untuk dirimu sendiri," sergah Shi Zhong. "Hari ini, kultivasi Puncak Pembentukan Inti yang kau banggakan akan berpindah padaku."

Ye Chan mengamati setiap gerak-gerik mantan muridnya itu. Ia tahu persis betapa mengerikannya risiko dari teknik yang sedang digunakan Shi Zhong.

"Kau pikir merampas inti orang lain akan membuatmu mencapai puncak yang sebenarnya?" tanya Ye Chan, suaranya tetap tenang tanpa secercah kepanikan.

Shi Zhong menghentakkan kaki ke tanah, menciptakan retakan baru di bawah pijakannya. Energi hitam mengepul pekat di sekeliling telapak tangannya.

"Setidaknya aku tidak akan mati sebagai guru yang tertinggal," jawab Shi Zhong tajam.

Ye Chan menghela napas pelan. Ia mengangkat pedangnya yang telah kehilangan kilau aslinya, bersiap menyambut hantaman berikutnya.

Pedang Ye Chan menebas lurus, membelah udara dengan sisa Qi terakhir miliknya. Cahaya biru melesat cepat, mengarah tepat pada dada Shi Zhong.

Namun, Shi Zhong hanya memiringkan tubuh sedikit. Ia menepis ujung bilah pedang itu dengan punggung tangannya yang dilapisi energi hitam. Benturan keras itu memicu ledakan kecil, melontarkan serpihan batu ke segala arah.

Ye Chan tersentak mundur beberapa langkah. Dadanya terasa sesak, napasnya makin memburu.

'Tarung jarak dekat dalam kondisi ini sama saja menyerahkan nyawa,' pikir Ye Chan cepat.

Tangannya bergerak ke pinggang. Tanpa ragu, ia merogoh cincin ruangnya dan melemparkan segenggam jimat pertahanan ke udara.

Seketika, tiga lapis dinding cahaya keemasan terbentuk di depannya. Belum cukup, Ye Chan menelan tiga pil pemulih sekaligus, lalu mengeluarkan sebuah cermin pusaka untuk memperkuat pelindungnya.

Shi Zhong menghentikan langkah, matanya sedikit melebar melihat tumpukan barang yang mendadak muncul itu.

"Kau benar-benar tikus penimbun," ejek Shi Zhong, bibirnya menyunggingkan tawa meremehkan.

'Untung aku punya kebiasaan menyimpan apa saja,' gumam Ye Chan dalam hati. Ia tidak peduli pada ejekan itu; baginya, bertahan hidup adalah segalanya.

Shi Zhong menerjang maju. Pukulan bertubi-tubi berlapis energi hitam menghantam dinding pelindung Ye Chan. Satu demi satu, jimat dan pusaka itu retak lalu hancur menjadi abu.

Melihat pertahanan Ye Chan mulai rontok, Shi Zhong menarik napas dalam. Wajahnya menggelap, pembuluh darah di sekitar pelipisnya menonjol kemerahan saat ia mengaktifkan seni terlarangnya.

Tekanan di udara mendadak turun drastis, membuat Ye Chan kesulitan bernapas. Udara di sekeliling Shi Zhong seolah tersedot masuk ke dalam telapak tangannya yang kini membara kelabu.

Ye Chan mencoba menusukkan pedangnya sekali lagi, mengerahkan seluruh sisa kekuatan untuk menahan laju serangan lawan. Namun, arah serangan Shi Zhong mendadak berubah, tidak lagi mengincar dadanya.

Tangan Shi Zhong meluncur lurus ke arah perut bagian bawah Ye Chan.

'Sasarannya ... inti kultivasiku!' jerit Ye Chan di dalam kepalanya.

Ia mencoba menghindar, tetapi tubuhnya sudah terlalu lambat karena kelelahan.

Cakar Shi Zhong menembus sisa pelindung Qi milik Ye Chan. Jari-jari itu tidak melukai kulit luar secara fisik, melainkan langsung mencengkeram pusaran energi di dalam tubuh Ye Chan.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh saraf Ye Chan. Rasanya seperti seluruh jiwanya ditarik paksa keluar melalui celah sempit.

Seketika itu juga, terdengar suara retakan halus dari dalam tubuhnya. Inti kultivasi yang ia bangun selama puluhan tahun retak, lalu hancur berkeping-keping.

Meridian utamanya putus seketika, menghentikan aliran Qi yang menyokong hidupnya. Tubuh Ye Chan limbung, lalu jatuh berlutut di atas tanah yang dingin.

Shi Zhong menarik tangannya kembali, membawa sisa-sisa energi murni yang berhasil ia rampas. Ia menatap Ye Chan yang kini pucat pasi dengan pandangan puas.

"Kini kau hanya rongsokan tak berguna," ujar Shi Zhong sambil meludah ke samping.

Ia tidak berniat menghabisi Ye Chan saat itu juga. Baginya, membiarkan seorang kultivator jenius hidup tanpa kekuatan adalah siksaan yang jauh lebih kejam daripada kematian.

***

Langit terasa semakin pekat saat Ye Chan berbaring diam, membiarkan tubuhnya sepenuhnya pasrah pada gravitasi. Napasnya sangat tipis, nyaris tak kentara.

Ia memejamkan mata, membiarkan Shi Zhong mendekat dan dengan kasar merenggut cincin ruang utama dari jarinya.

"Semua pusaka ini sekarang milikku," gumam Shi Zhong, memeriksa isi cincin itu dengan tawa kecil sebelum akhirnya berbalik pergi. Langkah kaki pengkhianat itu perlahan menjauh hingga benar-benar hilang dari pendengaran.

Sunyi kembali menguasai pegunungan yang hancur itu.

Ye Chan perlahan membuka matanya. Rasa sakit di perutnya masih terasa membakar, tetapi kepalanya tetap bekerja dengan dingin.

Ia menggerakkan lidahnya di dalam rongga mulut. Di balik gigi gerahamnya, sebuah benda keras berukuran sekecil biji kacang masih aman tersimpan.

Itu adalah cincin ruang cadangan yang ia lapisi dengan teknik penyembunyian khusus sebelum pertarungan dimulai. Sifat waspadanya yang sering dianggap berlebihan oleh orang lain kini menjadi penyelamat tunggalnya.

Ye Chan memuntahkan cincin kecil itu ke telapak tangannya yang gemetar.

Isinya sama sekali tidak mewah. Tidak ada pil ajaib tingkat tinggi atau pusaka legendaris yang bisa memulihkan meridiannya yang hancur dalam semalam. Cincin itu hanya berisi beberapa botol air bersih, dendeng kering, obat luka luar biasa, dan jubah cadangan.

Sangat sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya tetap bernapas selama beberapa minggu ke depan.

'Setidaknya, aku belum mati,' batin Ye Chan, mencoba tersenyum meskipun sudut bibirnya robek dan berdarah.

Sambil menggenggam erat cincin kecil itu, ia mulai merangkak perlahan mencari tempat berlindung di balik celah batu terdekat.

...****************...

Tingkatan kultivasi:

Penempaan Tubuh — Awal, Menengah, Atas

Pengumpulan Qi — Awal, Menengah, Atas

Pembentukan Inti — Awal, Menengah, Atas

Formasi Jiwa — Awal, Menengah, Atas

Harmoni Jiwa — Awal, Menengah, Atas

Jiwa Ilahi — Awal, Menengah, Atas

Transformasi Jiwa — Awal, Menengah, Atas

Kenaikan — Awal, Menengah, Atas

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!