Dikhianati dan ditikam dari belakang oleh kekasih sekaligus rekannya sendiri, Laras—pembunuh bayaran paling ditakuti di dunianya—mati sambil bersumpah membalas. Tapi maut bukan akhir. Sebuah "kesempatan kedua" melemparkan jiwanya menembus waktu, ke dalam tubuh seorang wanita di abad ke-21: Kirana, istri kontrak yang lemah, hamil, dan dihina, menikah dengan taipan sedingin es yang menganggapnya sampah.
Suaminya, Raka Prawira, mengira ia masih perempuan cengeng yang dulu membiusnya demi mengikat pernikahan. Keluarga kandung Kirana memerasnya. Ibu mertuanya menganggapnya pemburu harta. Dan di balik imperium bisnis megah keluarga Prawira, tersembunyi dunia penyelundupan senjata, pengkhianatan, dan persaingan warisan berdarah.
Sayang sekali bagi mereka semua—perempuan yang kini menghuni tubuh itu bukan lagi Kirana yang mereka kenal. Ia seorang ahli racun, strategi, dan pertumpahan darah. Satu per satu, mereka yang pernah menginjaknya akan belajar satu pelajaran mahal: tak ada yang mengkhianati wanita ini lalu hidup untuk menceritakannya.
Dari ruang rapat hingga baku tembak di jalan tol, dari perang dingin pernikahan kontrak hingga gairah yang perlahan membakar—saksikan sang perebut takdir mengubah hidup yang seharusnya menghancurkannya menjadi takhta miliknya sendiri.
Sanggupkah sang taipan yang tak pernah mencintai siapa pun bertahan dari perempuan paling berbahaya yang pernah tidur di ranjangnya... apalagi setelah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gena Jim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
KIRANA:
Keesokan harinya aku menikmati segelas koktail lezat di balkon kamarku sambil menatap kota.
"Ini agak membosankan... Kurasa aku harus bekerja, menurutmu bagaimana?"
Kusentuh perutku dengan berpikir.
"Ya, Raka punya sebuah... Perusahaan Konstruksi... Kurasa aku harus ke sana dan mencari sesuatu untuk menghasilkan uang sekaligus menyibukkan pikiranku."
Aku bangkit dari kursi lalu menuju kamar untuk mencari gaun hijau zamrud indah yang sangat pas di tubuhku.
Kuikat rambutku menjadi kuncir, memperlihatkan wajahku yang halus dan cantik.
"Aku cantik. Dengan wajah ini aku bisa melakukan hal-hal besar."
Ucapku sambil memasang kacamata hitam yang memberiku sentuhan lebih elegan dan mencolok.
Aku menuruni tangga dengan anggun dan melihat Bu Marni menatapku lekat.
"Anda hendak pergi ke suatu tempat, Nyonya?"
Aku tersenyum.
"Ya, dan tolong suruh mereka menyiapkan mobilku, aku mau ke perusahaan suamiku."
Bu Marni membelalak.
"Nyonya, ingat Tuan tak ingin Anda datang ke tempat kerjanya... Anda tahu sendiri... Karena keributan-keributan yang pernah Anda buat."
Aku memberengut ketika kebodohan Kirana yang asli terlintas di benakku.
"Ya, tenang saja... Kali ini aku takkan bikin keributan."
Perempuan itu menatapku lalu mengangguk dengan helaan napas sambil pergi menjalankan perintahku.
Setengah jam kemudian, sopir muda itu membukakan pintuku, dan dengan ucapan terima kasih aku keluar dari mobil lalu menuju gedung raksasa yang bertuliskan besar-besar PRAWIRA KONSTRUKSI.
Dengan langkah anggun dan menggoda aku memasuki tempat yang luas dan indah itu, penuh orang, tapi sangat teratur.
"Selamat pagi."
Kataku sambil mendekati gadis berambut merah di meja resepsionis, tapi tak kudapat jawaban.
Aku mengernyit lalu bicara lagi.
"Kubilang, selamat pagi."
"Ya, aku sudah mendengarmu... Hari ini kami tak menerima tamu dan tak ada janji temu yang tersedia... Anda boleh pergi."
Kata perempuan itu dengan nada ketus, dan aku menarik dua napas dalam sambil melepas kacamataku.
"Aku istri Raka Prawira. Kaupikir aku butuh janji temu, tolol?"
Dia mengangkat wajah lalu menyapuku dengan tatapan dan tersenyum.
"Nyonya Prawira..."
Dia tertawa saat mengucapkan kata-kata itu.
"Anda boleh pergi, Tuan tak sedang menerima tamu, bahkan 'istrinya' sekalipun."
Aku tersenyum miring lalu mengambil ponselku dan menekan nomor Raka.
"Apa maumu?"
Jawabnya pada dering pertama.
"Sayang, aku di sini di resepsionis dan mereka tak mau membiarkanku masuk... Anakmu dan aku sangat ingin bertemu denganmu, bisakah kau menjemputku?"
Kubuat suaraku manja dan merengek.
"Aku ke sana sekarang."
Katanya lalu menutup telepon, dan aku tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau jadi kamu, aku akan mengemasi semua barangku sebelum diusir."
"Terus saja bermimpi, Tuan Raka takkan pernah mengusirku."
"Oh, tidak?"
Aku tersenyum tipis-tipis lalu mulai menangis.
"Kenapa kau begini? Aku cuma mau mampir menemui suamiku, apa salahnya?"
Air mata mulai mengalir di pipiku bagai air terjun.
Orang-orang di sekelilingku mulai berbisik. "Kasihan Nyonya itu." "Sedang hamil dan diperlakukan seperti itu."
Kudengar di antara bisik-bisik, sementara si rambut merah pucat pasi, berubah dari angkuh menjadi panik dalam sekejap.
Dia tak tahu bahwa setiap air mata yang mengalir di pipiku sudah kuperhitungkan; di kehidupan lampauku, berpura-pura lemah kadang jadi satu-satunya cara mendekati leher musuh.
Tiba-tiba, bunyi lift pribadi yang terbuka membelah udara, dan langkah kaki Raka yang berat dan mantap bergema di lantai marmer lobi.
Dia datang dengan kening berkerut, tapi begitu melihatku berdiri di sana dengan bahu merosot dan wajah basah, mata bajanya menghunjam ke resepsionis.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suaranya bak cambukan.
"Raka!"
Kuisak pelan sambil mendekatinya dan menggapai lengannya, kurasakan tubuhnya menegang menyentuh sentuhanku, tapi dia tak mendorongku pergi.
"Aku cuma mau memberimu kejutan, tapi gadis ini bilang aku tak disambut... Menyuruhku pergi."
Dia menatap gadis yang kini gemetar jelas terlihat.
"Tuan Prawira... Saya cuma menjalankan perintah Anda... Anda bilang tak mau ada gangguan dari keluarga..."
Gadis itu tergagap mencari keselamatan yang takkan datang.
"Perintahku berlaku untuk orang asing, bukan untuk istriku yang mengandung pewarisku."
Raka berbohong dengan kedinginan tanpa cela... Aku tahu dalam hati dia mengutukku, tapi harga dirinya tak mengizinkannya tampak buruk di depan umum.
"Kau dipecat, kemasi barangmu, dan biar satpam mengantarmu ke pintu keluar sekarang."
Gadis itu membuka mulut, tapi tatapan Raka membungkamnya.
Dari balik bahunya, kuseka air mata yang tak ada lalu kupersembahkan padanya senyum sedingin es yang hanya bisa dia lihat. Sudah kuperingatkan, kata mataku.
Raka mencengkeram lenganku dengan mantap lalu menuntunku ke lift, dan begitu pintu logam tertutup, ekspresinya berubah total dan dia melepaskanku seolah tanganku membara.
"Sudah cukup sandiwaranya, Kirana... Aku tahu betul kau tak pernah menangis karena sedih seumur hidupmu yang terkutuk itu."
Geramnya sambil melipat tangan di dada.
"Untuk apa sebenarnya kau datang? Untuk membuatku kehilangan pegawai atau untuk memintaku perhiasan lain buat koleksimu?"
Kupasang kacamata hitamku dengan sangat tenang, memulihkan sikap ratu-ku.
"Aku datang untuk sesuatu yang jauh lebih mahal dari perhiasan, Raka... Aku datang untuk sebuah meja kerja."
Dia melepas tawa tak percaya saat lift tiba di lantai direksi.
"Meja kerja? Untuk apa? Untuk mengecat kukumu selagi aku bekerja?"
"Bukan."
Jawabku sambil keluar dari lift dan berjalan menuju kantornya mendahuluinya.
Sekretaris itu mengamatiku dengan mulut menganga saat aku menyapanya dengan lambaian tangan dan senyum berseri.
"Untuk mengurus departemen keamanan dan logistikmu... Resepsionismu tadi itu celah keamanan berjalan; siapa pun dengan cerita sedih bisa melewatinya... Sebaliknya, aku bisa mendeteksi ancaman sebelum ia melewati pintu utama, dan percayalah, suamiku tersayang... Dalam bisnis 'sutra' yang kaujalankan, kau butuh seseorang yang tak menelan air mata siapa pun."
Kami memasuki kantornya dan aku duduk di kursi meja kerjanya, menyilangkan kaki jenjangku dan mengelus perutku dengan senyum kemenangan.
"Jadi, atau kau memberiku posisi itu, atau aku harus terus bikin drama sampai kau mengangkatku jadi direktur eksekutif hanya supaya aku diam. Kau pilih yang mana?"
Raka tetap berdiri di ambang pintu, mengamatiku dengan campuran amarah dan pesona yang tak bisa dia sembunyikan... Dan untuk pertama kalinya, sang penyelundup senjata besar itu tak punya jawaban yang sudah disiapkan.