"Jangaaaaan, jangan bunuh aku! "
Ardian berlari kencang di tengah Desa ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan mengejar dirinya malam ini, tidak ada yang mendengar suara jeritan pria itu sehingga sosok yang menyerang dia dengan leluasa memberikan serangan.
Kematian secara misterius datang di Desa ini karena mereka semua telah melakukan perbuatan yang sangat buruk di Malam Satu Suro, dendam yang sangat membara karena ketidakadilan yang telah dia terima sehingga membuat para pelaku harus menebus dengan derita yang begitu besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Menyapu di malam hari
Bu Kades terdiam sesaat ketika dia mendengar suara orang yang menyapu di tengah malam seperti ini, Dia sedang sendirian di rumah karena Ardian yang sibuk di gudang dan juga sang suami tadi memutuskan untuk pergi karena dia bilang ada urusan yang harus dia urus bersama dengan Ujang, jadi wanita setengah baya ini memang hanya sendirian saja di rumah malam ini.
Dari tadi dia sudah terpejam namun Entah mengapa mendadak saja dirinya terbangun karena mendengar suara yang begitu berisik, bahkan dari tembok rumah saja dapat dia dengar bahwa seseorang sedang menyapu halaman dan itu terdengar sejak tadi tanpa ada henti sehingga membuat wanita ini merasa heran.
Siapa yang menyapu di tengah malam seperti itu karena rasanya jelas tidak mungkin, mau menuduh orang yang ada di rumah maka itu jelas tidak mungkin juga karena saat ini dia sedang sendirian, meski Desa ini bisa dikatakan tidak pernah mempercayai tentang keberadaan para arwah gentayangan.
Namun tetap saja mereka masih percaya dengan pamali sehingga tidak mungkin bila mereka menyapu halaman di tengah malam seperti saat ini, buka deh segera turun dari ranjang untuk memastikan terlebih dahulu Siapa orang tersebut dan dia ingin mengetahui juga lebih lanjut kenapa menyapu halaman dia yang ada di sebelah rumah ini.
''Siapa sih?'' Bu Kades bingung untuk mencari lobang agar bisa mengintip.
''Kan aneh saja kalau menyapu halaman seperti ini, Kenapa juga harus menyapu halaman yang ada di sebelah seperti itu?'' gumam Bu Kades dengan perasaan yang semakin bingung saja.
Sraaaak.
Sraaaak.
''Lobang pun susah sekali kalau sedang dicari begini.'' wanita tua ini mengeluh karena mulai merasa kesal.
''Hooo ini dia.'' Bu Kades merasa senang ketika menemukan lubang yang ada di dekat jendela.
Sraaaak.
''Hiks.''
''Mana sih, dia sepertinya sambil menangis juga dan sangat sedih sekali.'' mata Bu Kades mencari Siapa orang yang sedang menyapu dan menangis di malam hari di dekat rumah dia.
Jreeeeeeng.
''Aaaahhhh!'' Bu Kades berteriak mundur karena sosok itu sudah mengintip terlebih dahulu dari lubang yang sama.
Dia sama sekali tidak percaya bahwa harus melihat adegan seperti itu di depan mata dia sendiri dan sungguh sangat menakutkan, bahkan buka deh sama sekali tidak menyadari itu arwah Siapa yang datang untuk memberi rasa takut kepada dia.
''Ya allah!'' Bu Kades memegang dada dia yang berdegup begitu kencang.
Tes.
Tes.
''Darah?!'' Bu Kades melotot ketika darah kental mengalir dari jendela dan membasahi lantai di dalam kamar itu.
"Semua akan mendapat balasan, semua akan menderita." suara menggema di dalam ruangan itu sehingga membuat Bu Kades merasa sangat ketakutan.
Banjir darah itu seolah akan memenuhi kamar ini sehingga membuat Bukhari tidak tahu harus bagaimana untuk menghentikan darah itu, terlebih lagi dia juga penasaran Siapa yang sudah menghantui dirinya seperti ini dan mengatakan bahwa semua akan mendapat balasan, dengan kata lain bahwa keluarga mereka telah melakukan kesalahan terhadap orang tersebut.
"Darah ini akan membanjiri rumah kalian dan juga dendam yang akan sangat Abadi." suara Kembali menggema.
"Apa salahku kepada dirimu sehingga kau seolah akan menuntut balas?" Bu Kades menggenggam erat tasbih yang ada di tangan dia.
"Hihihiiiiii.... bawa saja pertanyaan itu di dalam kematian yang tidak akan lama lagi.'' jawab suara itu kembali.
"Kau hanya arwah tersesat yang tidak tahu ingin membalas dendam kepada siapa!" Bu Kades berteriak dengan sangat berani.
"Kauuuu....
"Hah!"
Tangan yang sangat amis dan juga terasa dingin kini tepat ada di leher orang tua tersebut, bahkan Bu Kades dapat merasakan sendiri bahwa punggung dia terasa sangat basah seperti ada sesuatu yang menempel dan ini sangat bau sekali, suasana di dalam kamar juga terasa begitu mencekam sehingga dia tidak tahu harus berteriak minta tolong kepada siapa.
"Aku akan menuntut balas kepada semua keluarga yang telah dia miliki.'' bisik Yayuk dengan suara parau.
"Siapa kau sebenarnya?" Bu Kades menggigil ketakutan namun dia tetap bisa bertanya.
"Tanyakan pada Putra kesayanganmu itu, dia tentu tahu aku ini siapa dan apa yang telah dia lakukan kepada diriku." Yayuk menggeram dengan penuh kemarahan.
Sleeeep.
"Aaaaaagghhh!" Bu Kades menjerit keras ketika kuku hitam itu menusuk tepat pada bagian leher.
Bruuutt.
Cuuuurr.
Saat kuku berwarna hitam itu telah tercabut keluar kembali, darah mengucur deras dari luka tersebut sehingga Bu Kades terjatuh di atas lantai dengan mata melotot, luka yang diberikan Yayuk bukan luka biasa Karena menembus pada leher yang sebelah sehingga sudah pasti orang tua ini merasakan sakit tidak terkira.
"Kauuuu.. memang tidak bersalah kepada diriku, namun kau juga harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan." Yayuk berdiri dengan bayangan berwarna hitam.
"Ya... yuuukkk....
"Ya ini aku, hihihiiiiii......
"Ak....
Crassssss.
Crassssss.
"Mati lah, mati kalian semua!" Yayuk menggunakan kuku itu untuk mencabik-cabik batok kepala Bu Kades.
Darah berhamburan ke mana-mana di atas lantai itu sehingga membuat Yayuk merasa sangat puas atas apa yang telah dia lakukan sebagai pembalasan, tubuh orang tua itu sudah tidak bergerak karena memang dia meninggal dunia dengan mata melotot, rambut dan juga kulit kepala berserakan di atas lantai itu.
"Hihihiiii..... matiii! semua harus mati dan merasakan apa yang aku rasa." Yayuk menjilat tangan dia yang penuh dengan darah dan juga otak.
"Hihihiiiii......
Yayuk segera terbang keluar dan menuju pohon rambutan yang ada di sebelah rumah milik Bu Kades itu, ketawa begitu bahagia karena telah berhasil membunuh orang yang bersangkutan oleh para pelaku itu, tidak ada yang mengetahui tentangmu kejadian tersebut karena saat ini memang sudah tengah malam.
"Hihihiiiiii...... aku akan datang mengambil nyawa mu.'' tawa Yayuk pecah dalam gelap malam.
"Ya allah kok ada suara tawa begitu." Maimunah menutup telinga dengan selimut karena rumah dia tak jauh dari rumah Bu Kades.
"Hihihiiii..... aku pasti akan datang untuk menghantui kalian semua atas perbuatan buruk ini." Yayuk terbang di udara dengan gerakan yang begitu cepat sehingga mata Manusia Biasa tidak akan pernah bisa menangkap dia.
Dendam yang sangat menyala atas rasa sakit hati karena telah mendapat perlakuan buruk dan juga tidak adil, para pelaku memang belum mendapatkan balasan namun mereka semua pasti akan menderita ketika salah satu keluarga mendapat balasan juga seperti ini, Yayuk gagal mendekati Ardian karena pemuda itu memiliki sesuatu di dalam tubuh dia, Ardian telah memiliki batu penangkal sehingga Yayuk tidak berani untuk mendekat lebih lanjut.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author Novita Jungkook ya.
yeesss akhirnya ratuku keluar jg🥰👍
mksh bess🔥🔥
ular janda gaesss...
tp JK kau ingin membunuh Pak Kades tak apa ,, lakukan ja Krn aku jg setuju Krn Dia jg Jahat orang nya 🤣🤣
masaf. irya seorang ratu ular. yang di takuti seluruh iblis malah jatuh dari . atas pohon kelapa... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
awass ya Ran kamu jangan macam2