Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sinar matahari pagi menyusup dari celah tirai yang sedikit terbuka, menyorot langsung ke wajah Arga. Pria itu mengerjapkan mata, menyesuaikan diri dengan cahaya, sebelum kesadarannya ditarik penuh pada kenyataan.
Hal pertama yang ia cari adalah sofa di sudut kamar.
Kosong.
Arga bangkit dan mengusap wajahnya dengan kasar. Selimut tebal dan bantal cadangan yang semalam dipakai Nisa sudah terlipat sangat rapi di atas sana. Begitu rapi, seolah-olah sofa itu tak pernah ditiduri oleh siapa pun. Tangan Arga terulur, menyentuh permukaan kain selimut itu. Dingin. Nisa sudah bangun sejak lama.
Dengan langkah gontai, Arga berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri seadanya, lalu melangkah keluar kamar. Hari ini adalah hari Minggu. Akhir pekan yang biasanya ia habiskan untuk tidur sampai siang atau menyelinap pergi ke apartemen Adelia.
Namun pagi ini, aroma sedap nasi goreng terasi dan wangi teh krisan memancingnya untuk turun ke lantai bawah.
Langkah kaki Arga terhenti di pertengahan anak tangga. Telinganya menangkap riuh suara tawa yang begitu hangat dari arah ruang keluarga. Suara yang sudah lama sekali tidak pernah memenuhi seisi rumahnya yang biasanya terasa sedingin lemari es.
"Pijatanmu ini memang tidak ada duanya, Nis," suara serak Kakek terdengar begitu antusias, disusul kekehan ringan. "Tukang pijat langganan Kakek di kampung saja kalah enak."
Arga mengintip dari balik dinding pembatas. Di sana, di ruang keluarga yang disinari cahaya pagi, pemandangan itu menyapanya.
Nisa duduk di atas karpet bulu di dekat kursi roda Kakek. Tangannya yang lentik dan telaten memijat betis pria sepuh itu dengan perlahan. Sebotol minyak urut aroma terapi terbuka di sebelahnya. Mami Kintan duduk di sofa sambil mengupas apel, sementara Papi Tommy sedang menyesap kopi sambil membaca berita dari tablet pintarnya.
"Kakek bisa saja," Nisa terkekeh pelan. Senyum terukir begitu manis di bibirnya, senyum yang mencapai kedua matanya. "Kalau Kakek suka, Nisa bisa pijat kaki Kakek setiap hari."
"Wah, kalau begitu Kakek pindah ke sini saja ya, Tommy?" gurau Kakek pada putranya. "Biar Kakek bisa diurus sama menantu kesayangan setiap hari. Daripada di rumah, sepi."
Papi Tommy tertawa lepas. "Boleh, Yah. Asal Ayah tahan saja melihat Arga dan Nisa pacaran terus di rumah ini. Namanya juga pengantin baru setahun, masih lengket-lengketnya."
Mendengar godaan mertuanya, tangan Nisa yang sedang memijat sedikit terhenti. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang tiba-tiba meredup. Namun, dengan cepat ia kembali memaksakan tawa kecil. "Papi ini ada-ada saja."
"Arga itu beruntung sekali bisa dapat istri sepertimu, Nis," timpal Mami Kintan, menyodorkan sepotong apel ke mulut Nisa yang langsung dikunyah wanita itu. "Mami selalu bilang sama dia, awas kalau berani macam-macam sama Nisa, Mami jewer telinganya sampai putus."
Di balik dinding, dada Arga berdesir hangat sekaligus nyeri. Pemandangan di depannya begitu sempurna. Pemandangan sebuah keluarga yang utuh, yang harmonis, dan Nisa adalah jantung yang menggerakkan kehangatan itu.
Arga menarik napas panjang. Ia merapikan kaus kerahnya, memantapkan hati. Mungkin... mungkin ini belum terlambat. Mungkin ia bisa masuk ke sana, duduk di sebelah Nisa, dan mencoba memperbaiki semuanya dari awal. Ya, ia akan menebus kesalahannya. Ia akan mulai menjadi suami yang pantas untuk Nisa.
Baru saja ujung sepatu Arga melangkah maju memasuki ruang keluarga, sebuah getaran kuat terasa di saku celananya.
Drrrt... Drrrtt...
Langkah Arga terhenti di udara. Ia merogoh sakunya cepat, berniat mematikan panggilan itu agar tidak merusak momen keluarganya. Namun, ibu jarinya membeku tepat di atas layar saat membaca nama yang tertera di sana.
Adelia.
Arga menoleh ragu ke arah ruang keluarga. Tawa Nisa masih terdengar. Ia lalu menunduk menatap layar ponselnya.
Entah mengapa, ada dorongan refleks yang selama setahun ini sudah mendarah daging di tubuhnya. Arga berbalik arah, melangkah cepat menuju lorong sepi dekat dapur, lalu menekan tombol hijau.
"Halo, Del? Ada apa?" bisik Arga, setengah bersembunyi.
"Mas... Mas Arga... hiks..."
Suara isak tangis yang terdengar histeris langsung menyambar telinga Arga. Napas wanita di seberang sana terdengar tersengal-sengal, penuh kepanikan.
"Del? Adelia, kamu kenapa?!" Nada suara Arga kontan meninggi. Jantungnya mulai berdegup kencang. Segala niat baiknya untuk kembali ke ruang keluarga menguap tak bersisa dalam hitungan detik. "Sayang, tenang dulu. Kamu menangis kenapa?"
"Mas... kepalaku sakit banget, Mas... hiks... Aku terpeleset di kamar mandi..." tangis Adelia semakin keras, terdengar sangat menyayat hati. "Darahnya... ada darah, Mas. Aku takut... Aku sendirian di apartemen. Tolong aku, Mas..."
"Astaga!" Arga membelalakkan matanya ngeri. Kepanikannya memuncak. "Kamu jangan banyak bergerak, Del! Duduk saja di lantai, cari handuk buat menekan lukanya. Aku ke sana sekarang! Tunggu aku, sepuluh menit aku sampai!"
"Cepat, Mas... kepalaku pusing..."
"Iya, iya! Aku jalan sekarang! Jangan tutup teleponnya!"
Arga memutar tubuhnya serentak. Ia berlari kecil ke arah nakas di dekat pintu utama, menyambar kunci mobil SUV-nya dengan tangan gemetar. Otaknya berhenti berpikir rasional. Yang ada di kepalanya hanyalah Adelia yang sedang terluka parah.
Suara langkah kaki Arga yang tergesa-gesa memancing perhatian orang-orang di ruang keluarga.
Mami Kintan meletakkan pisau buahnya, keningnya berkerut heran melihat putranya sudah memegang kunci mobil dengan wajah panik.
"Lho, Ga? Mau ke mana kamu pagi-pagi begini?" tegur Maminya keras. "Ini kan hari Minggu. Sarapan dulu! Nisa sudah masak nasi goreng terasi kesukaanmu dari subuh tadi."
Arga menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu utama. Ia menoleh sekilas ke arah ruang keluarga.
Di sana, Nisa juga menatapnya. Tangan wanita itu tak lagi memijat kaki Kakek. Nisa menatap lurus tepat ke dalam mata Arga.
"Maaf, Mi," jawab Arga terburu-buru, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar bergetar karena panik. "Arga harus keluar sebentar. Ada urusan."
"Urusan apa hari Minggu begini?!" bentak Papi Tommy, meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit kasar. "Kakekmu baru datang, istrimu juga butuh ditemani. Jangan gila kerja kamu!"
"Ini mendadak, Pi," kilah Arga berdusta. Keringat dingin mulai merembes di keningnya. "Ada masalah di proyek, klien penting komplain keras. Arga harus turun tangan sekarang juga. Arga janji cuma sebentar."
"Arga! Papi tidak mengizinkan—"
"Tidak apa-apa, Papi."
Suara lembut Nisa menyela kemarahan ayah mertuanya. Semua mata kini menoleh ke arah wanita berambut panjang itu.
Nisa meletakkan botol minyak urutnya. Ia menatap Arga dengan pandangan yang sangat tenang, terlalu tenang. Lalu, perlahan, kedua sudut bibir Nisa tertarik ke atas.
Sebuah senyuman terukir di wajah pucat itu. Bukan senyum hangat seperti yang baru saja ia berikan pada Kakek, melainkan sebuah senyum getir yang dipenuhi dengan rasa kasihan dan kekecewaan yang sangat dalam. Senyuman yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua.
Pergilah, Mas. Aku tahu siapa yang menelponmu. Aku tahu kamu berbohong.
Tatapan mata dan senyum Nisa seolah berbicara langsung ke hati Arga, memperlihatkan betapa kerdil dan menjijikkannya pria itu. Arga tertohok. Dadanya seakan ditikam oleh belati yang sangat tajam. Nisa tahu ia berbohong. Nisa tahu ia akan berlari menuju Adelia.
"Biarkan Mas Arga pergi, Pi," lanjut Nisa, membuang muka dari Arga dan menatap ayah mertuanya dengan lembut. "Masalah pekerjaan itu penting. Lagipula, ada Nisa yang bisa menemani Papi, Mami, dan Kakek di sini."
Arga menelan ludah. Rasa bersalah tiba-tiba datang menyerang tenggorokannya. Hatinya menjerit, memintanya untuk menjatuhkan kunci mobil itu dan kembali pada istrinya. Namun, rintihan Adelia di ujung telepon yang masih tersambung di tangannya kembali menghancurkan kewarasannya.
"Arga pamit, Pi, Mi," ucap Arga serak.
Tanpa berani menatap Nisa untuk kedua kalinya, pria itu membalikkan badan, mendorong pintu, dan berlari keluar menuju mobilnya.
Di ruang keluarga, Nisa menundukkan kepalanya, kembali memijat betis Kakek dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Tak ada setetes pun air mata yang jatuh dari pelupuknya. Hatinya sudah kebas. Kejadian barusan justru semakin memperkuat keputusannya.
Nisa sadar, sebaik apa pun Arga mencoba bersandiwara untuk berubah, pada akhirnya, nama Adelia akan selalu menjadi pemenang mutlak di hati suaminya.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga