Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Anisa melangkah keluar dari ruang perawatan menuju koridor rumah sakit yang agak sepi. Langkah kakinya pelan dan menyisakan rasa nyeri di bagian perut pasca melahirkan. Tangannya yang gemetar menekan tombol panggil pada kontak bernama 'Ibu'.
Nada dering berbunyi beberapa kali. Setiap detik terasa seperti siksaan bagi Anisa. Pada dering kelima, panggilan itu diangkat.
"Hallo? Ini siapa?" suara wanita paruh baya di ujung telepon terdengar tegas dan dingin. Itu suara Ibu. Suara yang sangat Anisa rindukan sekaligus takuti.
"I-Ibu... Ini Anisa, Bu..." bisik Anisa gagap, tak sanggup menahan getar di suaranya.
Hening sejenak di ujung telepon. Tidak ada suara kehangatan seorang ibu yang menyambut anaknya.
"Mau apa kamu telepon? Masih ingat punya ibu?" jawab suara itu, kini ketus dan penuh nada penolakan.
"Bu... Anisa mohon, Bu... Tolong Anisa..." tangis Anisa akhirnya pecah. "Anisa baru saja melahirkan tiga hari lalu, Bu. Anak Anisa sehat... tapi Mas Burhan kecelakaan kerja di proyek. Kakinya patah dan butuh biaya operasi, Bu. Anisa nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi..."
"Cukup, Anisa!" potong suara itu keras. "Dulu saat kamu kabur memilih kuli bangunan itu, Ibu sudah bilang apa? Jangan pernah datang atau mengetuk pintu rumah ini lagi kalau kamu sengsara! Kamu sendiri yang memilih hidup melarat bersamanya!"
"Tapi Bu, ini demi cucu Ibu... Bayi Anisa baru tiga hari..."
"Cucu?" tawa sinis terdengar dari seberang telepon. "Ibu tidak pernah merasa punya cucu dari anak yang durhaka pada orang tuanya. Dulu ada laki-laki kaya, anak juragan beras yang mau melamarmu, kamu tolak demi kuli miskin itu! Sekarang saat hidupmu hancur, kamu baru ingat Ibu?"
Tiba-tiba suara di seberang telepon berubah. Telepon itu rupanya diambil alih oleh Rian, kakak kandung Anisa.
"Heh, Anisa! Dengar ya!" bentak Rian tanpa belas kasihan. "Jangan bikin Ibu pikiran! Ibu itu baru sembuh dari darah tinggi! Lagian kamu nggak punya malu ya? Dulu bilang sanggup hidup susah sama si Burhan, sekarang baru kena cobaan dikit sudah mengemis-ngemis!"
"Mas Rian... tolong Mas... bantu sementara menjelang uang asuransi mas Burhan keluar buat tebus obat Mas Burhan dan beli susu. Nanti kalau Mas Burhan sudah sembuh dan bisa kerja lagi, kami cicil, Mas..." mohon Anisa seraya bersujud di lantai koridor rumah sakit yang dingin, tak peduli dipandangi orang-orang yang melintas.
"Nggak ada uang! Uangku cuma buat keluargaku sendiri, bukan buat membiayai suamimu yang ceroboh itu! Lagian suamimu itu punya keluarga kan? Suruh keluarga Burhan yang tanggung jawab!"
"Keluarga Mas Burhan nggak mau bantu, Mas..."
"Ya itu urusanmu! Siapa suruh memilih keluarga miskin dan tidak bertanggung jawab! Sudah ya, jangan pernah telepon nomor ini lagi! Kalau kamu telepon lagi, nomor ini bakal tak blokir!"
Tuk! Panggilan diputus secara sepihak.
Anisa menggenggam ponselnya erat-erat, menyenderkan dahinya ke dinding koridor yang dingin. Air matanya menetes deras membasahi lantai ubin. Dunia terasa begitu kejam dan sempit baginya. Orang-orang darah dagingnya sendiri telah membuangnya tanpa tersisa sedikit pun rasa kemanusiaan.
Dengan langkah gontai dan hati yang hancur berkeping-keping, Anisa kembali ke dalam kamar rawat. Ia mencoba tersenyum dan menghapus air matanya sebelum melangkah masuk, namun mata sembabnya tidak bisa membohongi Burhan.
"Bagaimana, Nis?" tanya Burhan penuh harap.
Anisa menggeleng pelan, lalu duduk di kursi plastik samping tempat tidur. Ia meraih tangan Burhan dan menggenggamnya erat. "Ibu dan Mas Rian... belum ada rezeki buat bantu kita, Mas."
Burhan memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengerti arti dari kata-kata istrinya. Ia tahu mertua dan iparnya telah mengusir Anisa secara halus atau bahkan kasar.
"Maafkan aku, Nis..." bisik Burhan suara tertahan. "Gara-gara aku, kamu harus menanggung malu dan penderitaan sebesar ini. Harusnya dulu kamu turuti kata ibumu... kamu pasti hidup enak, tidak perlu tidur di rumah sakit seperti ini..."
Anisa langsung menempelkan jarinya di bibir Burhan. "Jangan pernah bicara begitu, Mas! Aku tidak pernah menyesal menikah dengan Mas Burhan. Mas pria bertanggung jawab, penyayang, dan tidak pernah menyakiti aku. Ini cuma ujian dari Tuhan. Kita pasti bisa lewati bersama."
Tiba-tiba, seorang suster masuk ke ruangan membawa sebundel kertas tagihan.
"Selamat siang, Bu Anisa," sapa suster itu sopan namun beraut wajah serius. "Ini rincian biaya perawatan Pak Burhan untuk tiga hari ini, termasuk tindakan darurat di UGD kemarin. Totalnya sudah mencapai empat juta delapan ratus ribu rupiah. Dari pihak administrasi meminta agar deposit awal diselesaikan sebelum jam empat sore ini, Bu. Kalau tidak, pemberian obat-obatan dosis tinggi untuk penahan rasa sakit terpaksa dihentikan sementara."
Anisa terpaku melihat angka yang tertera di kertas tersebut. Uang di tangannya saat ini hanya ada tiga juta rupiah dari proyek dan lima ratus ribu dari Pak Slamet. Masih kurang jauh, belum lagi untuk membeli obat di luar resep rumah sakit.
"Suster... bisakah kami minta keringanan waktu?" tanya Anisa memohon. "Suami saya pekerja bangunan, kami sedang mengusahakan sisanya."
"Maaf sekali, Bu. Ini sudah aturan dari manajemen rumah sakit. Kami hanya menjalankan tugas," jawab suster itu prihatin, lalu pamit meninggalkan ruangan.
Burhan memandang Anisa dengan tatapan nanar. "Nis... bawa uang yang ada. Kamu keluar dari rumah sakit ini, bawa anak kita pulang ke kontrakan. Biarkan aku di sini. Mintakan surat pulang paksa buat aku."
"Nggak! Mas gila ya?!" jerit Anisa histeris. "Kaki Mas itu baru dipasang bidai sementara! Kalau tidak dioperasi dan dirawat, kakinya bisa membusuk atau cacat permanen, Mas!"
"Terus kita mau bayar pakai apa, Nis?!" bentak Burhan frustrasi, menangis sesenggukan. "Aku nggak tega lihat kamu mengemis-ngemis ke orang lain! Aku suami gagal, Nis! Aku nggak bisa lindungi kamu dan anak kita!"
Di dalam gendongan, sang bayi terbangun dan mulai menangis kencang, seolah merasakan penderitaan kedua orang tuanya. Ruangan kecil itu dipenuhi suara tangisan bayi dan sedu kayan dua insan yang terhimpit kemelaratan.