NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Krik krik krik.

Suara jangkrik bersahutan memecah keheningan malam di taman belakang kediaman Keluarga Darma.

Astiana sedang duduk bersila di atas kasur empuknya dalam keadaan kamar yang gelap gulita.

Dia sama sekali belum tidur meskipun jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Nafasnya mengalir dengan sangat pelan dan teratur seiring dengan aliran tenaga dalam di tubuhnya.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki yang mengendap-endap memecah konsentrasi Astiana.

Langkah kaki itu terdengar sangat pelan dan berhati-hati mendekati pintu paviliun tempatnya menginap.

Astiana membuka matanya perlahan dan tersenyum sangat tipis di dalam kegelapan kamar.

"Tamu tak diundangnya akhirnya datang juga."

Astiana bergumam pelan di dalam hatinya sambil menajamkan pendengarannya.

Dari balik pintu kayu kamarnya, Astiana bisa mendengar suara nafas seseorang yang sedang gugup.

"Tuan Bima gila, kenapa aku yang harus melakukan pekerjaan kotor ini."

Suara hati seorang pria terdengar bergema di telinga Astiana.

"Kalau sampai ketahuan penjaga, aku bisa dipecat dan dipenjara malam ini juga."

Pria itu ternyata adalah Yono, salah satu pelayan pria yang biasa melayani kebutuhan Bima.

Yono merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah jam tangan Rolex emas yang sangat berat.

"Aku hanya perlu masuk, meletakkan jam ini di bawah bantal gadis itu, lalu pergi."

Suara hati Yono mencoba menenangkan dirinya sendiri yang sedang gemetar ketakutan.

Yono memegang gagang pintu paviliun dan mencoba menekannya ke bawah secara perlahan.

Ceklek.

Gagang pintu itu tertahan dan tidak bisa diturunkan sama sekali.

"Sial, pintunya dikunci dari dalam."

Yono membatin dengan kesal dan segera mengeluarkan seutas kawat tipis dari sakunya.

Klotak klotak.

Yono memasukkan kawat itu ke dalam lubang kunci dan mulai memutarnya dengan keahlian seorang pencuri amatir.

Namun, tidak peduli seberapa keras dia memutar, pintu itu tetap tidak mau bergeser sedikit pun.

Yono merasa sangat heran dan mencoba meraba bagian luar pintu tersebut.

Tangannya menyentuh sebuah benda logam yang sangat besar dan dingin menggantung di luar pintu.

"Gila, kenapa pintu kamar tamu ini dikunci gembok baja dari luar."

Suara hati Yono berteriak panik menyadari rencananya gagal total sebelum dimulai.

"Ini paviliun tamu atau sel tahanan penjara, kenapa Tuan Muda Raka menggemboknya dari luar."

Astiana yang duduk di atas kasur harus menutupi mulutnya agar tidak tertawa mendengar kepanikan Yono.

Raka benar-benar melakukan tugasnya dengan sangat baik sesuai instruksi Astiana tadi siang.

Pemuda itu benar-benar membeli gembok rantai yang biasa dipakai untuk mengunci pagar pabrik.

Tuk tuk tuk.

Astiana berjalan tanpa suara mendekati jendela kaca dan mengetuknya dari dalam.

Ketukan pelan itu terdengar sangat nyaring dan menyeramkan di tengah malam yang sepi.

Yono langsung meloncat kaget dan menjauh dari pintu paviliun.

"Siapa di luar sana."

Astiana sengaja mengubah nada suaranya menjadi sangat rendah dan serak dari balik jendela kaca.

Bulu kuduk Yono langsung berdiri tegak membayangkan hal-hal mistis yang sering diceritakan pelayan lain.

"Hantu."

Suara hati Yono menjerit ketakutan hingga dia kehilangan akal sehatnya.

Pelayan pria itu langsung berbalik dan berlari terbirit-birit menjauhi paviliun tanpa menoleh lagi.

Bruk.

Yono tersandung pot tanaman di dekat semak-semak namun dia langsung bangkit dan kembali berlari.

Astiana menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya melihat tingkat kepengecutan pelayan Bima itu.

"Skenario yang sangat membosankan dan terlalu mudah ditebak."

Astiana kembali berjalan menuju kasurnya dan merebahkan tubuhnya untuk benar-benar tidur.

Jebakan Bima sudah patah bahkan sebelum senjatanya ditarik.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari rumah besar Keluarga Darma.

Kukuruyuk.

Suara ayam jago dari kejauhan menjadi penanda bahwa hari baru telah dimulai.

Ceklek.

Terdengar suara gembok berat yang sedang dibuka dari luar pintu paviliun.

Pintu terbuka dan menampilkan Raka yang sudah rapi mengenakan kemeja abu-abu.

"Selamat pagi, Nona Astiana, aku datang untuk membukakan penjara sementaramu ini."

Raka menyapa dengan nada bercanda sambil menenteng gembok baja berukuran raksasa di tangannya.

"Selamat pagi, Tuan Muda, terima kasih atas kerja kerasmu semalam."

Astiana keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi dan wajah yang sangat segar.

"Sebenarnya untuk apa kau menyuruhku menggembok pintumu dari luar seperti ini."

Raka mengerutkan keningnya masih merasa penasaran dengan instruksi aneh kemarin.

"Kau akan tahu jawabannya saat kita sarapan di ruang makan utama nanti."

Astiana berjalan mendahului Raka menuju rumah utama sambil merogoh saku celananya.

Tadi pagi saat dia membuka jendela, dia menemukan sebuah jam tangan emas tergeletak di pot semak-semak.

Jam tangan Rolex milik Bima yang terjatuh saat pelayannya lari ketakutan semalam.

Astiana menyimpannya dengan aman di dalam saku celananya untuk dijadikan kejutan nanti.

Setibanya mereka di ruang makan utama, suasana ternyata sudah sangat kacau dan tegang.

Brak.

Bima menggebrak meja makan dengan wajah yang dibuat-buat terlihat sangat panik dan marah.

"Pasti ada pencuri di rumah ini, Kakek."

Bima berteriak lantang membuat beberapa pelayan yang sedang menghidangkan sarapan menunduk ketakutan.

Pak Darma memijat pelipisnya merasa sangat terganggu dengan keributan pagi-pagi buta ini.

"Ada apa lagi ini, Bima, pagi-pagi kau sudah berteriak seperti orang kesurupan."

"Jam tangan Rolex warisan ayahku hilang, Kakek."

Bima menunjuk pergelangan tangan kirinya yang kosong tanpa jam tangan.

"Padahal semalam aku menyimpannya di atas nakas kamarku dengan sangat aman."

Tante Rosa yang duduk di sebelahnya ikut memasang wajah sedih yang sangat palsu.

"Ayah, jam tangan itu harganya lebih dari lima ratus juta rupiah."

Rosa mengelap matanya dengan tisu yang sama sekali tidak basah oleh air mata.

"Pasti ada pelayan tidak tahu diri yang berani menyelinap ke kamar tamu dan mencurinya."

Saat itulah Astiana dan Raka melangkah masuk ke dalam ruang makan utama.

"Selamat pagi semuanya, ada apa ribut-ribut ini."

Raka bertanya dengan nada datar sambil menarik kursi untuk Astiana duduk.

Bima langsung menunjuk ke arah wajah Astiana dengan jari telunjuknya yang gemetar.

"Itu dia pencurinya."

Bima berteriak menuduh Astiana tanpa basa-basi lagi.

"Gadis kampung miskin itu pasti yang sudah mencuri jam tangan mewahku semalam."

Suasana ruang makan mendadak hening mendengar tuduhan yang sangat berani dan kasar itu.

Pak Darma langsung menatap Bima dengan sorot mata yang sangat tajam dan marah.

"Bima, jaga mulutmu."

Pak Darma memperingatkan cucunya dengan suara berat yang menggelegar.

"Nak Astiana adalah penyelamat kakek, dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu."

"Kakek jangan terlalu mudah dibohongi oleh wajah lugunya."

Bima membalas peringatan kakeknya dengan nada yang semakin tinggi.

"Orang miskin yang tiba-tiba masuk ke rumah mewah pasti akan tergiur melihat barang berharga."

Astiana hanya tersenyum tipis mendengar hinaan yang bertubi-tubi itu.

Dia mengambil sepotong roti tawarnya dan mulai mengoleskan selai stroberi dengan sangat santai.

"Lalu apa buktinya kalau aku yang mencuri jam tanganmu yang sangat berharga itu, Tuan Bima."

Astiana bertanya tanpa menatap wajah Bima sama sekali.

"Buktinya pasti ada di dalam kamarmu sekarang juga."

Bima tersenyum penuh kemenangan merasa rencananya berjalan sangat lancar.

"Kalau kau memang tidak bersalah, izinkan aku dan pengawal menggeledah kamar paviliunmu sekarang juga."

Suara hati Bima tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah Astiana yang akan menangis saat jam itu ditemukan.

"Jam itu pasti sudah terselip rapi di bawah bantalnya sesuai perintahku pada Yono semalam."

Bima membatin dengan sangat sombong dan percaya diri.

Raka yang mendengar tantangan itu langsung berdiri dari kursinya merasa sangat tersinggung.

"Kau tidak berhak menggeledah kamar tamu pribadiku, Bima."

Raka membela Astiana dengan tubuh yang siap menerjang sepupunya itu kapan saja.

"Hanya pencuri yang takut kamarnya digeledah, Raka."

Tante Rosa ikut menimpali dengan nada suara yang sangat sinis dan memanasi suasana.

"Kalau gadis ini bersih, kenapa kau harus melindunginya setengah mati seperti ini."

"Apakah kau sudah dicuci otaknya oleh gadis rendahan ini."

Astiana menghentikan kunyahannya dan menelan rotinya perlahan.

1
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
Was pray
gak sekolah dari SD - SMA langsung kuliah..... wao... amazing... gak sekalian ambil gelar doktor tuh astiana....? 🤣🤣🤣
Was pray
Adrian cuma lulus TK doang Raka... 🤣🤣
Was pray
baru tau dan nyadar ya astiana?
Was pray
mencari seseorang /keluarga di jakarta tanpa alamat yg pasti kayak mencari jarum di lapangan sepakbola... hadeh... capek deh Nemu orang kayak model astiana ini
kiyoe: heheheh iyaa kak untung gak jadi gembel
total 5 replies
Anisa
wihh deg-degan thor😄
kiyoe: hehehe tunggu bab selanjutnya kak pasti deg-degan juga 🤭
total 1 replies
Siskasuryaningsih
knpa bibi nya gk di hajar tadi sebentar, kan enak tu
kiyoe: kan Astiana di suruh baik hati sama alm kakek yang merawat Astiana dari kecil kak hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!