Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Keputusan Mutlak
.
Mobil sedan mewah yang dikemudikan Bram melaju membelah jalanan ibu kota. Hujan gerimis mulai turun, membasahi kaca mobil yang sesekali disapu oleh gerakan wiper. Tampaknya asisten kepercayaan Mentari itu sudah menduga hal itu akan terjadi hingga tanpa diperintah ia sudah siap standby di depan hotel, dan begitu melihat nona mudanya keluar dari dalam hotel dengan wajah datar, ia langsung menyongsongnya.
Mentari duduk di kursi belakang sambil memandangi jalanan dari balik jendela. Gadis itu hanya diam, menikmati cahaya lampu jalanan yang berkejaran menyapu wajahnya. Ia masih memikirkan kejadian di ballroom hotel beberapa saat yang lalu, sama sekali tidak menyangka pria yang selama tiga tahun selalu ia bantu, ternyata tidak sedikitpun berniat membelanya ketika dirinya dipermalukan di depan banyak orang.
“Nona Mentari, Anda baik-baik saja?” tanya Bram sambil melirik ke arah Mentari melalui kaca spion.
Mentari mengalihkan pandangannya dari jendela lalu membalas tatapan Bram. “Aku baik-baik saja, Bram.”
“Saya benar-benar tidak menyangka Tuan Bara akan memperlakukan Anda seperti itu. Padahal selama ini Anda sudah banyak membantunya.” Bram tahu betul bagaimana selama ini Mentari berusaha membantu Bara.
Mentari tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Bram. Justru aku bersyukur karena dengan begitu aku jadi tahu seperti apa pria yang selama ini aku lindungi. Ternyata dia memang tidak layak."
Bram terdiam mendengar jawaban itu. Ia melihat dengan matanya sendiri bagaimana selama tiga tahun, Mentari sengaja menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal konglomerat besar hanya karena ingin menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus, tanpa memandang kekayaan yang dimilikinya. Namun, setelah melihat sikap Bara malam ini, sepertinya ia sudah mendapatkan jawaban yang selama ini dicarinya.
“Lalu, apa yang akan Anda lakukan sekarang, Nona?” tanya Bram lagi. “Apakah Anda akan membiarkan saja pria itu menikmati semua yang sesungguhnya adalah milik Anda?”
Mentari tertawa kecil mendengar kesetiaan asistennya. “Tentu saja tidak, Bram. Mulai besok, hentikan semua bantuan yang selama ini kita berikan kepada perusahaannya.”
“Semuanya, Nona?” tanya Bram memastikan.
“Semuanya." Mentari kembali menganggukkan kepala. “Tarik seluruh investasi kita, dan batalkan semua jaminan kredit yang menggunakan pengaruh perusahaan keluarga kita. Jangan ada lagi bantuan yang mengalir ke perusahaan Bara.”
Bram menatap pantulan wajah nona mudanya dengan senyum puas. “Baik, Nona. Saya akan segera mengurusnya.”
Mentari kembali memandang ke luar jendela. “Pastikan semua prosesnya berjalan sesuai prosedur. Jangan sampai ada kesalahan dalam pelaksanaannya.”
Sambil kembali menatap spion Bram mengangguk tegas. “Baik, Nona. Akan saya pastikan semuanya selesai sesuai perintah Anda.”
Mentari tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata, tidak ingin memikirkan Bara lagi. Mulai malam ini, ia tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk pria itu.
*
Sementara itu, di ballroom hotel tempat pesta berlangsung, Bara masih berada di antara para tamu undangan. Pria itu memegang segelas wiski sambil sesekali memandang ke arah pintu keluar. Entah kenapa, sejak Mentari pergi tadi, ia merasa tidak tenang. Ia mengingat bagaimana wanita itu menatapnya sebelum meninggalkan ballroom. Mentari terlihat begitu kecewa padanya.
Bara menghela napas. Sebenarnya ia tahu Vanya sudah keterlaluan dengan mempermalukan Mentari di depan banyak orang. Dan ia sadar seharusnya ia menghentikan Vanya atau setidaknya membela Mentari. Namun, saat itu yang ada dalam pikirannya adalah penampilan Mentari yang terlalu sederhana. Ia tidak ingin ikut menanggung malu.
“Bara, kenapa melamun?” tanya Vanya yang sudah berdiri di dekatnya dan meletakkan tangan di lengannya.
“Tidak apa-apa,” jawab Bara singkat.
Vanya memperhatikan wajah pria itu. “Kau masih memikirkan Mentari?”
Bara menarik nafas pendek. “Vanya, kenapa kamu memperlakukan Mentari keterlaluan seperti itu?”
“Maksudmu?” tanya Vanya yang senyumnya tiba-tiba memudar.
Bara menatap dua mata Vanya lekat. “Kau sengaja menumpahkan minuman ke gaunnya, kan? Aku melihatnya dengan jelas tadi. Kenapa kau harus mempermalukannya seperti itu?”
Vanya mendengkus pelan. “Bara, aku sudah mengatakan padamu. Ini hanya sebuah ujian untuknya. Kamu ini sekarang sudah menjadi seorang CEO terkenal. Dan untuk berada di sampingmu, ia harus punya mental yang kuat. Kalau hanya karena masalah kecil saja dia memilih pergi, bagaimana dia akan menghadapi orang-orang di dunia bisnismu nanti?”
Bara mengusap wajahnya mendengar kata-kata Vanya. “Tapi, bagaimanapun juga, dia kekasihku.”
“Justru karena dia kekasihmu, kita harus melatihnya mulai sekarang,” ucap Vanya sambil menatap Bara dengan serius. “Kau sudah bekerja keras untuk membangun perusahaan ini. Sebentar lagi kamu akan melamarnya. Dia harus menjadi pribadi yang lebih tangguh supaya tidak mempermalukan dirimu.”
Bara tidak menjawab lagi. Semua yang dikatakan Vanya memang benar. Setelah perusahaannya mulai berkembang dan ia bertemu dengan banyak orang penting, Bara ia harus memiliki pasangan yang sepadan dengannya.
“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyanya. "Dia pasti sedang marah."
Vanya tersenyum tipis karena merasa Bara mulai mendengarkan perkataannya.
“Untuk sementara, biarkan dia sendiri. Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia pasti akan mengerti bahwa kau melakukan semua ini untuk kebaikan kalian berdua. Jangan sampai masalah kecil seperti ini mengganggu pikiranmu.”
Bara terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengangguk pelan. “Mungkin kau benar.”
“Tentu saja aku benar.” Vanya tersenyum. “Sekarang, lebih baik kau kembali menemui para investor. Mereka masih menunggumu.”
Bara menghabiskan minumannya, lalu meletakkan gelas itu di atas meja. “Baiklah. Aku tidak ingin merusak malam ini hanya karena masalah seperti itu.”
Vanya tersenyum puas mendengar jawaban Bara. Ia kemudian berjalan bersama pria itu untuk menemui para tamu undangan lainnya.
Bara kembali memasang senyum di wajahnya saat menyalami beberapa investor dan berbincang dengan para pengusaha yang hadir di pesta tersebut.
*
Sementara itu, mobil yang membawa Mentari telah tiba di sebuah rumah mewah. Setelah turun dari mobil, Mentari langsung masuk ke dalam dan berjalan menuju ruang kerjanya.
“Bram, besok setelah selesai mengurus penghentian seluruh bantuan untuk perusahaan Bara, kirimkan laporannya kepadaku. Aku ingin memastikan tidak ada lagi bantuan sekecil.apa pun pada perusahaan itu.” Mentari meletakkan tas berisi dokumen di atas meja.
Bram mengangguk. “Baik. Saya akan memeriksanya secara menyeluruh.”
“Kalau begitu, kau boleh pergi. Besok pagi aku ingin menerima laporannya.”
“Baik, Nona. Saya permisi.”
Setelah Bram pergi, Mentari menyalakan laptopnya lalu membuka beberapa dokumen mengenai perusahaan Bara. Selama ini, ia memang sengaja tidak menunjukkan identitas dirinya. Ia ingin Bara merasa bangga dengan pencapaiannya tanpa menyadari bahwa semua pencapaian itu adalah bantuan darinya.
Mentari memperhatikan beberapa laporan keuangan yang tertera di layar laptop.
“Selama ini aku sudah melakukan banyak hal agar kamu layak berdiri di sisiku, Bara,” gumamnya. “Tapi ternyata kamu sama sekali tidak layak!"
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣