“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Dalam Sudut Pandang Dimas Arjowibowo
Orang-orang di lingkungan bisnis sering menyebutku sebagai pria berdarah dingin. Cuek, kaku, dan tidak bersahabat. Majalah finansial menyebutku sebagai eksekutif muda bertangan besi yang tak tersentuh. Namun bagiku, itu hanyalah benteng pertahanan. Di dunia bisnis yang keras, memperlihatkan kelemahan sama saja dengan menyerahkan lehermu untuk disembelih.
Soal wanita? Aku hampir tidak pernah tertarik. Bagi Dimas Arjowibowo, wanita dan romansa adalah variabel rumit yang hanya menguras waktu serta fokus.
Satu-satunya orang yang berani mengusik ketenanganku adalah Arvino sahabat karibku sejak masa kuliah di Singapura yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur di perusahaanku. Merek produk makanan olahan dengan sentuhan saus khas Korea yang kami rintis dari nol kini menjadi gurita bisnis yang diperhitungkan secara nasional.
Padahal, kedua orang tuaku bergelimang harta. Namun, aku dan Vino menolak mentah-mentah bantuan modal dari keluarga. Kami memilih berdarah-darah membangun imperium kami sendiri.
Pagi itu di Jakarta, beberapa bulan lalu, Vino memaksaku menemuinya di sebuah coffee shop estetis di kawasan Senopati. Beliau berniat mengenalkanku pada seorang calon investor potensial yang juga kawan lama kami saat kuliah di Singapura.
"Dimas, ayolah," cerocos Vino lewat telepon pagi itu. "Hidupmu itu isinya cuma laporan keuangan dan rapat board. Perjodohan yang diomongkan orang tuamu itu juga cuma kamu anggap angin lalu. Hidupmu kurang berwarna, Bro!"
Aku mengabaikan rencehan Vino soal perjodohan yang sudah berbulan-bulan diwacanakan kedua orang tuaku dengan keluarga ningrat Natakusumah dari Yogyakarta. Aku tak pernah mengiyakannya. Perjodohan adalah konsep purba yang sangat kuhindari.
Namun pagi itu di coffee shop, warna kehidupan yang dimaksud Vino datang dalam bentuk yang sama sekali tak terduga.
Seorang wanita bergaun katun sederhana mendadak berbalik badan secara tergesa-gesa dan—BRUK!
Dua gelas besar Iced Americano tumpah menghantam dadaku. Cairan kopi dingin bercampur es batu membasahi kemeja putih kustomku hingga tembus ke kaos polos di dalamnya. Noda cokelat gelap melebar seketika.
Amarahku hampir meledak saat itu juga. Hari penting, kemeja mahal basah kuyup, dan pelakunya adalah wanita asing yang bahkan tak sempat mendongak menatapku.
"Aduh! Maaf, maaf!" ucapnya panik.
Aku menatapnya tajam. Namun, sebelum aku sempat meluapkan kekesalanku, mataku menyadari sesuatu. Wanita itu terus menatap liar ke luar jendela kaca, memandangi seberang jalan dengan raut wajah yang hancur sekaligus panik.
Di jemarinya, ada dua gelas kopi. Skenario di kepalaku langsung berputar: Dua Americano? Satu untuknya, dan satu lagi mungkin berniat disiramkan ke wajah seseorang.
"Kamu tahu saya ada rapat penting pagi ini?" suaraku berat dan penuh kekesalan.
Dia mendongak sejenak. Dan di situlah, untuk pertama kalinya dalam hidupku, mataku terkunci pada sesosok wanita. Wajahnya yang indah tanpa sapuan riasan berlebih, tatapan matanya yang terluka namun menyimpan kebanggaan yang tinggi. Ada sesuatu dari wanita ini yang seketika memantik rasa penasaran di dalam dadaku.
Tanpa permisi, dia merogoh tasnya, mengambil kartu nama, dan menjejalkannya tepat ke dalam kantong kemeja putihku yang basah.
"Ini kartu nama saya. Nanti Mas telepon saja berapa biaya laundry atau ganti rugi kemejanya ya. Maaf Mas, saya benar-benar buru-buru!" celotehnya cepat, lalu berlari keluar.
Aku terkekeh sinis. Sangat tidak sopan. Sangat berani.
Aku melangkah keluar ke kanopi coffee shop, mengabaikan kemejaku yang basah kuyup. Langkah kaki wanita itu mendadak terhenti di atas trotoar. Aku mengikuti arah pandangnya.
Di seberang sana, seorang pria berpenampilan kusut baru saja keluar dari hotel bersama seorang wanita berbaju ketat, membelai lengannya sambil menunggu taksi.
Aku memajukan posisiku, mengamati wanita tumpahan kopi itu. Raut wajahnya berubah dari berapi-api menjadi dingin dan hampa. Dia menatap pria itu sebentar, lalu dengan langkah anggun namun tegas, dia membuang sisa gelas Americano di tangannya tepat ke tempat sampah. Tanpa ekspresi, tanpa meneteskan air mata di pinggir jalan, dia berjalan lurus menuju stasiun KRL, meninggalkan pria brengsek itu tanpa kata perpisahan.
Sejak hari itu, namanya terpatri di kartu nama yang kusimpan di meja kerja: Maizara Paramita. Wanita yang berhasil membuat seorang Dimas Arjowibowo penasaran.
Restoran Otentik VIP, Yogyakarta – Malam Ini
Dan di sinilah kami sekarang.
Gadis tumpahan kopi di Senopati itu ternyata adalah Maizara Paramita, putri keluarga Natakusumah yang hendak dijodohkan denganku. Takdir rupanya punya selera humor yang luar biasa.
Saat dia menatapku di depan meja makan ini, matanya yang tajam membelalak lebar, lalu meneriakkan ingatannya tanpa memedulikan tata krama keraton yang kaku di sekelilingnya. Dan yang membuatku makin terhibur adalah jawaban beraninya beberapa detik lalu saat aku menagih ganti rugi laundry:
"Kalau begitu, Mas Dimas, mungkin pernikahan ini bisa jadi cara yang sangat efisien untuk melunasi hutang laundry itu."
Tawa renyah keluar dari bibirku begitu saja. Orang tuaku sampai saling pandang terkejut karena jarang melihat putra mereka tertawa di depan umum. Namun, rasa geli di dadaku seketika terusik oleh sebuah kecurigaan.
Apa semudah itu? tanyaku dalam hati. Pernikahan adalah keputusan seumur hidup. Apakah wanita ini sebegini mudahnya mengiyakan pernikahan tanpa berpikir kita harus berkenalan atau berkencan terlebih dahulu? Atau... dia hanya memanfaatkan keadaan dan perjodohan ini sebagai pelarian karena baru saja putus dari pria brengsek di hotel itu?
Pemikiran bahwa aku hanya dijadikan alat pelarian membuat perasaan kekesalan tipis mendadak merayapi dadaku. Aku tidak suka dimanfaatkan.
Melihat raut wajahku yang berubah keras dan agak kesal, Maizara yang sepertinya menyadari perubahan atmosfer mendadak berdeham pelan.
"Oh iya, baiklah..." Maizara bersuara lagi, mengucapkan apa saja yang melintas begitu saja di dalam pikirannya dengan kepolosan yang sangat kentara. "Kita berkencan saja dulu, biar kita saling kenal, dan mengetahui apakah kita akan cocok."
Aku menatapnya lurus. Kalimatnya begitu gamblang, tanpa embel-embel kebohongan atau pura-pura jual mahal. Dia berbicara seolah-olah pernikahan dan kencan ini adalah sebuah agenda proyek yang perlu disepakati prosedurnya.
Namun, rasa ganjil dan kesal di dadaku masih ada. Aku tidak menjawab ucapannya. Daripada meluapkan emosi tak berdasar di depan kedua keluarga besar yang sedang mengamati kami, aku memutuskan untuk berdiri dari kursi.
"Saya permisi ke toilet sebentar," ucapku datar pada Romo Haryadi dan orang tuaku.
Aku berbalik melangkah keluar dari ruangan VIP menuju area toilet restoran. Namun, baru beberapa langkah keluar dari pintu ukir, aku mendengar langkah kaki terburu-buru mengikutiku dari belakang.
"Mas Dimas!" panggil suara halus itu.
Aku menghentikan langkah dan memutar tubuh. Maizara berdiri di sana dengan kebaya kremnya, memandangku dengan wajah polos dan dahi berkerut bingung.
"Kok keluar? Aku salah bicara, ya?" tanya Maizara tanpa ragu pada tubuh jangkungku.
Aku menatapnya dari atas ke bawah. Ketulusan dan kepolosannya saat menanyakan hal itu begitu nyata, hingga membuat rasa kesalku mendadak menguap dan berganti menjadi rasa geli yang aneh.
Belum sempat aku menjawab, dari arah pintu ruangan VIP yang agak terbuka, suara tawa Romo Haryadi pecah, diikuti tawa hangat kedua orang tuaku dan Bulek Partini. Mereka rupanya mendengar pertanyaan polos Maizara yang meluncur tanpa beban itu.
Maizara menoleh ke arah ruangan VIP dengan wajah memerah. "Kenapa pada tertawa? Aku tidak merasa ini lucu, inti dari pertemuan ini kan memang perjodohan..." gumamnya pelan pada dirinya sendiri, terlihat makin keningnya berkerut.
Aku tidak membalas gumamannya. Aku hanya menatap wajahnya sekilas, lalu berbalik dan melanjutkan langkahku masuk ke dalam toilet pria.
Di dalam toilet restoran yang bernuansa kayu dan bercermin besar, aku berjalan menuju wastafel. Aku memutar keran, membasuh tanganku, lalu menengadah menatap pantulan diriku sendiri di dalam cermin.
Hening sejenak.
Lalu, pelan-pelan, sebuah senyuman miring terukir di bibirku. Dengusan tawa kecil keluar dari tenggorokanku, yang perlahan berubah menjadi tawa lepas yang tertahan.
Aku menatap pantulan diriku di cermin dan tertawa pada diriku sendiri.
Aku mentertawakan wanita di luar sana Maizara Paramita. Perkataannya yang begitu blak-blakan, polos, dan terlihat seperti wanita yang sangat tidak sabaran, benar-benar meruntuhkan seluruh pertahanan kaku yang kubangun bertahun-tahun.
"Maizara, Maizara..." bisikku pada cermin sambil menggelengkan kepala.
Dia mungkin berpikir pernikahan ini adalah jalan keluar efisien dari luka lamanya dan tuntutan keluarganya. Namun dia tidak tahu, bahwa dengan menyetujui kencan dan perjodohan ini, dia baru saja melangkah masuk ke dalam duniaku. Dan aku tidak akan membiarkan 'permainan' ini berjalan membosankan.