**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
isteri Sah Menelepon
Rini menuntun Aina ke ruang arsip di belakang kantor, Satu-satunya ruangan yang sepi pada jam pelayanan. Rak-rak besi penuh map lusuh berjajar di sepanjang dinding, bau kertas tua memenuhi udara. Rini menutup pintu, lalu mendudukkan Aina di kursi kayu dekat jendela.
"Minum dulu Bu," katanya sambil menyodorkan segelas air.
Aina meneguknya pelan. Tangannya masih dingin.
Lalu, tanpa ditanya Aina mulai bercerita pada Rini semua kejadian yang dialaminya tanpa ada yang terlewatkan.
"Semuanya Kini telah hancur, Kenapa disaat Aku tahu tengah mengandung Seorang bayi yang bertahun-tahun lamanya aku tunggu, Tetapi disaat itu juga kenyataan pahit Menghampiri" Terdengar ucapan Aina dengan suara tangisan yang terisak-isak
Rini mendengarkan cerita Aina tanpa memotong. Sesekali ia menggenggam tangan Aina lebih erat. Ketika Aina selesai, matanya sendiri sudah basah.
"Ya Allah, Bu… Sepuluh tahun Ibu dibohongi begitu?"
Aina mengangguk. " Yang paling sakit, Rin, perempuan itu baik. Anaknya lucu. Aku tidak bisa membenci mereka."
Rini terdiam lama. Lalu ia menarik napas, seperti sedang menimbang sesuatu.
"Bu, maaf kalau saya bicara soal ini sekarang. Tapi Ibu harus tahu." Suaranya merendah. "Ibu PNS. Ada aturannya, Bu. PNS perempuan tidak boleh menjadi istri kedua. Kalau sampai ini dilaporkan orang, Ibu bisa kena sanksi berat. Bisa sampai diberhentikan."
Aina menatap Rini dengan mata membesar. Ia tahu aturan itu. Ia bahkan pernah membacanya sekilas saat pelatihan prajabatan dulu. Tapi tidak pernah sekali pun terlintas bahwa aturan itu suatu hari akan menyangkut dirinya.
"Tapi aku tidak tahu, Rin. Aku benar-benar tidak tahu."
"Saya percaya, Bu. Tapi orang lain belum tentu." Rini meremas tangannya. "Makanya Ibu harus hati-hati, Kumpulkan bukti. Buku nikah Ibu, fotokopi kartu keluarga palsu itu, pesan-pesan dari Mas Raka. Semuanya."
Aina memejamkan mata. Rasanya seperti terjatuh ke lubang yang tidak berdasar. Bukan hanya pernikahannya yang hancur. Pekerjaan yang ia bangun dengan susah payah, satu-satunya hal yang benar-benar miliknya, kini juga ikut terancam karena kebohongan yang tidak pernah ia buat.
Pak Sekertaris kecamatan mengizinkannya pulang lebih awal setelah Rini menjelaskan bahwa Aina sedang tidak enak badan. Rini menawarkan diri untuk mengantar, tetapi Aina menolak dengan halus.
"Aku harus menghadapinya sendiri, Rin."
Jalan pulang ke rumah hanya lima belas menit. Tetapi hari itu Aina mengendarai motornya sangat pelan, seolah ingin menunda waktu selama mungkin.
Ketika ia berbelok ke gang rumahnya, jantungnya berhenti sesaat.
Motor bebek tua milik Raka terparkir di halaman.
Raka sudah menunggu di teras. Lelaki itu duduk di bangku kayu, tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya bertaut erat. Begitu melihat Aina datang, ia berdiri dengan tergesa-gesa. Wajahnya kusut, matanya merah. Kemejanya bukan lagi biru muda, melainkan kaus abu-abu yang dipakai terbalik, seolah ia berganti pakaian sambil berlari.
"Na…"
Aina mematikan mesin motor, melepas helm, dan berjalan melewatinya tanpa sepatah kata. Ia membuka pintu dengan kunci, masuk, lalu meletakkan tas di kursi ruang tamu.
Raka mengikutinya masuk. "Na, dengar Mas dulu. Tolong."
Aina berbalik. Untuk pertama kalinya sejak kemarin sore, ia menatap wajah suaminya dari dekat. Wajah yang selama sepuluh tahun ia cium setiap pagi sebelum berangkat kerja. Wajah yang sama yang kemarin tertawa lepas bersama anak lelakinya.
"Dua belas tahun, Mas," ucap Aina pelan. Suaranya tidak bergetar. "Kamu sudah menikah dengannya dua tahun sebelum kamu melamarku."
Raka memejamkan mata. Bahunya merosot.
"Mas bisa jelaskan."
"Jelaskan, kalau begitu."
Raka terduduk di kursi rotan. Lama ia diam, menatap lantai.
"Mas dan Sekar dijodohkan Na, Keluarga kami sama-sama keturunan menak. Ibu dan keluarga Sekar sudah sepakat sejak kami masih kecil, Mas tidak punya pilihan."
Aina tidak menjawab. Ia berdiri, menunggu.
"Dua tahun menikah, Sekar belum hamil. Keluarga mulai ribut. Lalu Mas bertemu kamu di acara begawe sepupumu di Praya." Raka mengangkat wajah, matanya basah. "Mas jatuh cinta Na, Sungguh, Itu bukan bohong. Itu satu-satunya hal yang tidak pernah bohong."
"Lalu kenapa kamu tidak jujur?"
"Karena kamu tidak akan mau." Suaranya pecah. "Kamu perempuan baik-baik, Na. Kamu PNS. Kamu tidak akan mau jadi istri kedua. Jadi Mas… Mas bilang ke KUA kalau Mas masih bujang. Pakai berkas lama sebelum menikah dengan Sekar."
Aina mundur selangkah, seolah ditampar. "Kamu memalsukan statusmu."
"Mas tidak punya pilihan."
"Kamu selalu bilang tidak punya pilihan!" Suara Aina akhirnya meninggi, menggema di ruang tamu yang sempit. "Tidak punya pilihan menikahi Sekar. Tidak punya pilihan membohongiku. Tidak punya pilihan menyembunyikan anakmu selama lima tahun. Kapan kamu pernah memilih, Mas? Kapan?"
Raka terdiam.
"Ibu tahu?" tanya Aina, lebih pelan.
Raka mengangguk tanpa berani menatapnya.
"Lalu Sekar?"
Kali ini Raka menggeleng. "Sekar tidak tahu apa-apa tentang kamu Na, Tidak ada yang tahu kecuali Ibu."
Aina tertawa. Tawa getir yang terasa seperti luka. Jadi perempuan baik hati di loket tadi juga dibohongi. Dua istri, dua rumah, dua kehidupan, dan satu lelaki yang berdiri di tengah sambil merajut kebohongan untuk keduanya.
Raka tiba-tiba bangkit dan meraih tangan Aina. Genggamannya erat, hampir putus asa.
"Na, Mas mohon. Kita bisa tetap seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Mas tetap sayang kamu. Sekar tidak perlu tahu. Mas janji akan lebih sering pulang, akan…"
Aina menarik tangannya perlahan, melepaskan diri dari genggaman itu.
Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke dapur, membuka kulkas, dan mengeluarkan kotak kue yang ia simpan semalam. Kue bolu pandan itu sudah tidak indah lagi. Krimnya mengeras, tulisannya miring dan pudar.
Ia kembali ke ruang tamu dan meletakkan kotak itu di meja, tepat di depan Raka. Lalu ia membukanya.
Di samping kue, terselip benda kecil yang dibungkus tisu dan pita merah muda.
Raka menatapnya, Sesaat ia tidak mengerti lalu tulisan di atas kue tertangkap matanya. Selamat, Mamik.
Tangannya yang gemetar meraih bungkusan itu dan membukanya. Alat tes kehamilan, Dua garis merah.
Wajah Raka seketika berubah dari pucat menjadi kelabu, lalu menjadi sesuatu yang tidak bisa Aina baca. Bibirnya bergerak tanpa suara.
"Na… kamu…"
"Sepuluh tahun aku menunggu ini, Mas," kata Aina. Suaranya tenang, nyaris lembut. "Kemarin aku datang ke Kuta untuk memberimu kejutan. Ternyata aku yang terkejut."
Raka jatuh berlutut di lantai. Kedua tangannya menggenggam alat tes itu seperti benda paling rapuh di dunia. Air mata mengalir di pipinya.
"Anak kita, Na. Anak kita…"
Sebelum Aina sempat menjawab, ponsel di saku celana Raka berdering keras, memecah keheningan ruang tamu.
Raka tersentak. Ia merogoh sakunya dengan gugup dan menatap layar. Wajahnya menegang.
Dari tempatnya berdiri, Aina bisa membaca nama yang tertera di sana.
Dinda.
Dering itu terus berbunyi. Raka menatap ponselnya, lalu menatap Aina, lalu kembali ke ponselnya, seperti seseorang yang terjebak di antara dua pintu yang sama-sama terbakar.
Aina melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap lelaki yang berlutut di lantai rumah mereka itu dengan mata yang kering.
"Angkat, Mas," katanya pelan. "Istri sahmu menelepon."