🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Kamis pagi, 16 Oktober, Alina sampai di lobi Menara Mahendra saat resepsionis masih membalik halaman buku tamu. Ia menulis nama yang tidak lagi disamarkan, menyerahkan kartu identitas, dan menerima stiker pengunjung yang ujungnya mudah menggulung. Dimas sudah menunggu di balik gerbang QR. Jaketnya dilipat di lengan. Tidak ada ucapan selamat datang.
“Bukan ruang baca,” katanya. “Lantai tiga puluh dua. Pak Adrian minta Anda menunggu di luar dulu.”
Lift berhenti sejenak di lantai tiga puluh, tempat mereka duduk kemarin, lalu naik lagi. Alina tidak bertanya. Sejak nama Lazuardi hidup lagi di draf yang akan dikirim ke Aruna, setiap panggilan terasa seperti kepentingan yang disambungkan, bukan seperti pintu yang dibuka karena percaya.
Lantai tiga puluh dua lebih sunyi. Karpet meredam langkah. Ruang tunggu di depan kantor Adrian hanya berisi dua kursi, meja rendah, dan meja Sari yang untuk sementara kosong. Ada gelas air yang belum disentuh. Pintu ruang kerja di seberang tidak tertutup rapat. Celahnya cukup untuk suara, tidak cukup untuk wajah.
Sari keluar dari koridor samping dengan map tipis. “Silakan duduk, Mbak Alina. Pak Adrian masih di telepon. Saya ambil salinan daftar hadir di lantai dua puluh delapan.” Ia menoleh ke Dimas. “Fotokopi yang diminta Pak Yusuf sudah di meja saya, kalau Bapak mau cek jumlah halamannya.”
Dimas mengangguk. “Saya di ujung koridor. Jangan masuk sebelum dipanggil.”
Keduanya pergi. Alina duduk, lalu berdiri lagi karena dari celah pintu suara perempuan itu sudah mulai, dan ia mengenalinya. Vanya Kusuma. Nada yang sama seperti di rapat beberapa hari lalu: rapi, tidak terburu-buru, tidak perlu berteriak agar didengar.
“Ada rumor kebocoran data terkait akuisisi,” kata Vanya dari speaker. “Orang saya dengar ada penyusup di data room minggu lalu. Kalau ini sampai ke Aruna, deal bisa goyang. Saya perlu kepastian dari Anda bahwa internal Mahendra bersih.”
Adrian menjawab datar. “Saya menangani. Tidak ada kebocoran yang relevan ke pasar.”
“Relevan atau tidak, rumor sudah jalan.” Vanya memberi jeda yang terdengar seperti senyum. “Dana yang ikut melihat Pesisir tidak hanya satu. Kalau mereka bertanya bersamaan, jawaban yang terlambat akan terdengar seperti menghindar. Kalau Anda butuh bantuan menenangkan investor, Kusuma bisa membantu. Tentu dengan syarat yang wajar.”
“Saya tidak butuh bantuan itu.”
“Syaratnya tidak harus berupa harga,” lanjut Vanya. “Bisa berupa jalur yang lebih bersih. Saya sampaikan satu versi, Anda sampaikan satu versi, dan pasar mendengar bahwa ini pemeriksaan biasa, bukan kebocoran. Kusuma tidak perlu disebut sebagai penolong. Cukup sebagai pihak yang tidak menambah gaduh.”
“Versi yang Anda sampaikan akan memuat apa?”
“Apa pun yang membuat pihak saya tidak merasa ketinggalan. Saya tidak meminta isi data room, Pak Adrian. Saya meminta agar rumor itu tidak lebih dulu dibentuk orang lain.”
“Rumor itu tidak akan saya bahas di luar.”
“Kalau begitu, jangan biarkan orang lain yang membahasnya lebih dulu.” Vanya tidak mendesak dengan suara keras. “Saya telepon karena saya mendengar, bukan karena saya sudah menulis. Ada beda di situ.”
“Saya catat bedanya. Jawaban saya tetap. Internal yang menangani.”
“Baik.” Kata itu tidak terdengar seperti menyerah. “Kalau nanti Anda butuh meja yang lebih tenang, nomor saya tidak berubah.”
Panggilan terputus. Alina sadar ia sudah berdiri di dekat pintu. Tawaran tadi tidak berbunyi seperti ancaman. Justru karena itu ia tidak bisa menganggapnya sebagai angin lalu.
Ia mengetuk sekali dan masuk.
Adrian berdiri di samping meja. Ponsel masih di tangannya, layar sudah gelap. Ia menatap Alina tanpa pura-pura kaget. “Anda mendengar.”
“Cukup.” Alina tidak duduk. “Dia tahu ada orang masuk. Dia menawarkan bantuan dengan syarat.”
“Dan Anda menuduh saya bermain dua sisi?”
“Anda memberi saya akses terbatas ke draf. Anda menahan penandaan Lazuardi. Tapi di telepon Anda bilang tidak ada kebocoran yang relevan. Itu terdengar seperti Anda sedang menenangkan pesaing sambil tetap memakai informasi yang saya bawa.”
Adrian meletakkan ponsel, layar menghadap bawah. “Saya menenangkan Vanya supaya dia tidak menyebarkan rumor lebih jauh. Bukan karena saya bersekutu dengannya. Kalau rumor penyusup sampai ke Aruna dalam bentuk yang salah, deal rusak. Kalau deal rusak, selisih angka dan nama Lazuardi yang Anda temukan akan jadi tidak relevan karena tidak ada lagi akuisisi yang harus dibersihkan.”
“Jadi saya harus percaya bahwa Anda tidak sedang menjual informasi ke arah lain?”
“Anda tidak harus percaya.” Adrian menutup laptop yang tadinya terbuka setengah. “Anda hanya perlu melihat bahwa saya belum memanggil polisi, belum menghapus jejak Lazuardi, dan masih membiarkan Anda melihat draf di bawah pengawasan. Itu bukan perilaku orang yang bermain dua sisi dengan pesaing.”
Mereka saling menatap. Dimas muncul di ambang pintu, cukup untuk mendengar kalimat terakhir, dan tidak ikut bicara. Buku catatannya tetap tertutup.
Akhirnya Alina mengangguk pelan. “Baik. Saya tidak menuduh lebih jauh hari ini. Tapi kalau Vanya muncul lagi dengan informasi yang hanya kami tahu, saya akan bertanya lagi.”
“Wajar.” Adrian menunjuk kursi. “Sekarang, duduk. Ada perubahan kecil di draf yang perlu Anda lihat sebelum Oscar menutup hari ini.”
Alina duduk di ujung kursi. Dimas membuka folder yang diizinkan, bukan pintu data room. Di layar, catatan rekonsiliasi yang kemarin masih berbunyi “perlu ditinjau ulang” kini diberi kotak penahan. Nama PT Lazuardi Mitra Logistik tidak dicoret.
“Oscar memindahkan barisnya semalam,” kata Dimas. “Belum dikunci. Status yang diminta Pak Adrian belum ia tempel sebagai kalimat final. Yang ini hanya penahan, supaya tidak ikut versi yang akan dilampirkan siang ini.”
Alina memeriksa angka yang sudah ia bawa di kepala sejak hari pertama. Ringkasan masih menulis Rp12,4 miliar. Lampiran masih menunjukkan total yang digeser Rp18,9 miliar. Sewa armada terkait Rp9,2 miliar. Jasa pendukung gudang Rp4,1 miliar. Lazuardi Rp5,6 miliar. Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang tiba-tiba lunas.
Ia menggeser layar ke catatan kaki. Tidak ada kalimat baru yang menjelaskan ke mana selisih enam setengah miliar itu pergi. Hanya penahan. Adrian tidak menambahkan teori. Dimas tidak menawarkan dugaan. Keduanya memperlakukan baris itu sebagai barang yang harus tetap kelihatan, bukan sebagai jawaban.
“Nama itu masih hidup,” kata Alina.
“Saya minta begitu,” jawab Adrian. “Jangan disalin. Kalau perlu diingat, ingat. Catatan yang boleh ada hanya di buku Dimas, dan buku itu tidak ikut Anda keluar.”
Alina tidak menyalakan ponsel. Ia mengulang posisi baris itu sekali lagi, lalu mengangguk agar Dimas menutup tampilan. “Cukup. Saya lihat. Tidak dihapus.”
“Oscar mengunci versi sore ini,” kata Adrian. “Kalau ada yang mengubah penahan jadi selesai, Dimas lapor sebelum jam enam.”
Dimas menulis satu baris. Tidak lebih.
Mereka tidak membahas Vanya lagi. Sari kembali dan berhenti di pintu sampai Adrian mengangguk. Alina berdiri. Stiker di dadanya sudah terangkat di salah satu sudut.
Di lift, Dimas menekan lantai dasar dan tidak mengisi jarak dengan basa-basi. Angka di panel turun. Ketegangan dari balik pintu tidak ikut turun. Kepentingan mereka bertemu pada baris yang sama. Kepercayaan masih tinggal di lantai yang tidak mereka tuju.
Menjelang sore Adrian menelepon Oscar dari meja yang sama. Ia tidak menyebut Alina. Ia tidak menyebut Vanya.
“Kunci penahannya,” katanya. “Jangan ditandai selesai. Jangan dihapus. Kalau ada yang minta versi bersih untuk dilampirkan, kirim ke saya dulu.”
Oscar di ujung sana hanya memastikan kalimat status yang harus dipakai besok. Adrian mengulang frasa yang sudah ia minta sejak kemarin, lalu menutup telepon. Hendra tidak ikut dalam panggilan ini. Tidak ada laporan baru yang perlu dibaca dewan.
Sore itu ruang kerja sudah sepi. Pesan masuk dari Vanya, satu kalimat: “Kalau butuh bantuan menenangkan pasar, telepon saya.”
Adrian membaca pesan itu. Jempolnya berada di atas balasan, lalu digeser. Ia tidak mengetik apa pun. Pesan itu ia pindahkan ke folder arsip pribadi, diberi nama sesuai tanggal hari itu, dan dikeluarkan dari tampilan utama. Ponsel ia tutup, layar menghadap meja, di samping jam tangan yang talinya sudah bukan tali asli.
Map Koridor Timur tetap di laci. Amplop kecil di dalamnya tidak ia sentuh. Hari ini berhenti pada rumor yang ditahan dan nama yang belum dihapus.
Alina naik taksi dari Sudirman tanpa membuka grup mana pun. Di kursi belakang ia mengetik nama Vanya di catatan, lalu menghapusnya sebelum aplikasi itu menyimpan draf. Rumor yang ia dengar bukan miliknya untuk diteruskan. Belum. Kalau nama itu berpindah dari mulut pesaing ke mulut lain hari ini, jejak yang baru saja ia pastikan masih hidup bisa ditutup orang yang panik.
Di Tebet, lampu tangga mati di tanjakan kedua. Alina memakai cahaya ponsel sampai pintu studio. Tas ia letakkan di meja lipat, di samping coretan 12,4 dan 18,9. Buku catatan ia buka hanya untuk mengunci yang ia dengar, bukan untuk menyalin draf.
Ia menulis: “Vanya tahu ada penyusup. Adrian menenangkan. Saya mendengar. Tuduhan dua sisi saya ucapkan, dia bantah dengan logika deal. Belum percaya, tapi belum putus.”
Buku ditutup. Ponsel di sampingnya tidak berbunyi. Ia membiarkannya.