NovelToon NovelToon
Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / CEO / Duda
Popularitas:96.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Melihat takdir yang akhirnya berpihak padanya, Zaky tidak mau menunda waktu lebih lama lagi. Rasa takut kehilangan Arumi untuk kedua kalinya telah hangus berganti kepastian. Pria itu memutuskan untuk melangsungkan acara lamaran resmi hari ini juga, menggantikan momen yang sebelumnya telah disiapkan. Tanpa ragu, Zaky menyerahkan mahar fantastis yang sudah dipersiapkannya sebagai bukti kesungguhan dan rasa hormat yang teramat tinggi untuk Arumi dan keluarganya.

Wisnu, sang Kepala Desa, memandang proses persiapannya dengan senyum tulus. Pria berhati mulia itu mendukung penuh momentum langka yang penuh keharuan ini.

"Rum, semoga kau dan Mas Zaky berbahagia selalu," tutur Wisnu lembut, menatap Arumi yang memancarkan binar kebahagiaan. "Dan semoga... aku juga bisa segera dipertemukan dengan wanita hebat dan cantik sepertimu."

Zaky melangkah mendekat, lalu menepuk mantap bahunya Wisnu. Sorot matanya sangat serius namun sarat akan rasa hangat.

"Mulai detik ini, kau bukan lagi sekedar temanku, Nu. Tapi aku menganggap mu sebagai adikku sendiri. Sedari dulu, aku selalu ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang adik," tegas Zaky penuh kesungguhan.

Wisnu sempat terpaku, tak menyangka pria terpandang seperti Zaky akan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Nyonya Maya yang menyaksikan momen itu mengangguk setuju dengan raut wajahnya yang berbinar.

"Betul kata Zaky. Nanti Nak Wisnu sering-sering main ya ke Jakarta. Mau tinggal di rumah kami juga boleh, ajak Ibu sekalian!" puji Nyonya Maya hangat.

Wisnu tersenyum haru seraya menunduk berniat memberi hormat. "Terima kasih banyak sebelumnya, Tuan Zaky, dan juga Nyonya Maya, tapi saya tidak mungkin meninggalkan kedudukan saya di sini, saya sudah betah tinggal di kampung, apalagi sekarang saya adalah seorang kepala desa dan warga saya begitu menyayangi saya.Tapi InshaAllah nanti saat ada waktu senggang, saya dan ibu pasti akan berkunjung ke sana." jawab Wisnu dengan mantap.

Mendengar penjelasan dari Wisnu, Nyonya Maya mengerti akan posisinya saat ini. Wisnu adalah pria baik yang tentunya akan di sukai banyak orang, dan sudah terbukti ia saat ini telah memiliki jabatan sebagai kepala desa.

Lalu Zaky menatap serius ke arah Wisnu. Mendengar ia memanggilnya dengan kata Tuan, rasanya tidak begitu enak di dengar. Hingga akhirnya Zaky pun mulai protes.

"Ssst... Jangan panggil aku Tuan Zaky lagi!" potong Zaky cepat seraya tersenyum tipis.

"Iya, Nak Wisnu. Panggil saya Mamah Maya saja, ya!" tambah Nyonya Maya, melemparkan senyum penuh kasih sayang seorang ibu.

Wisnu mengusap dadanya yang hangat. "Baik... Mas Zaky, Mamah Maya... Terima kasih atas kebaikannya."

Suasana rumah sederhana milik Pak Darmawan yang tadinya diselimuti ketegangan, kini berubah menjadi riuh penuh tawa dan kebahagiaan. Semua sanak saudara yang hadir mengagumi kebesaran hati sang Kepala Desa sekaligus terkesima dengan kesungguhan Zaky.

Prosesi lamaran pun resmi dimulai di ruang tamu. Wisnu mengambil peran penting sebagai saksi utama dalam acara sakral tersebut. Kali ini, ia hadir tidak hanya sebagai mantan calon mempelai yang ikhlas, melainkan menggunakan wewenang jabatannya sebagai tamu kehormatan yakni seorang Pak Kades tampan dan baik hati yang disegani sekaligus di cintai oleh seluruh warganya.

Di hadapan Pak Darmawan, Bu Aminah, serta keluarga besar, Zaky mengutarakan niat sucinya untuk mempersunting Arumi, disaksikan oleh kedua anak kembarnya, Azzam dan Azzura, yang tak henti-hentinya tersenyum lebar.

Saat Pak Darmawan secara resmi menerima lamaran tersebut dan Wisnu mengesahkannya sebagai saksi, suara ucapan syukur menggema memenuhi ruangan. Badai belasan tahun itu akhirnya berlalu, menyisakan kehangatan cinta yang kini bermuara pada kepastian

*

*

Setelah acara lamaran yang penuh keharuan itu selesai, Zaky memutuskan untuk menggelar pesta pernikahan mereka sepuluh hari lagi. Selama Arumi menetap sementara di kampung untuk bersiap-siap, Zaky berniat menyiapkan segala sesuatunya di Jakarta secara megah. Dulu, saat dipaksa menikahi Citra, Zaky sama sekali tidak menggelar pesta pernikahan. Kali ini, ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa hanya Arumi wanita yang pantas menyandang gelar sebagai Nyonya Tanuwijaya.

Namun, karena persiapan pernikahan tinggal menghitung hari, Azzam dan Azzura mendadak menolak ikut pulang ke Jakarta. Kedua remaja itu kompak memilih menghabiskan masa liburan mereka di kampung bersama Arumi. Zaky sempat menunjukkan raut ragu di wajahnya, khawatir si kembar justru akan merepotkan calon istrinya.

"Kamu tidak perlu khawatir. Mereka berdua aman kok di sini. Iya kan, Anak-anak?" ujar Arumi menenangkan, lalu menoleh ke arah si kembar.

"Yoi, Bu! Lagian Papah tenang saja, kan kita liburannya di rumah calon Mamah kita sendiri. Iya kan, Ra?" sahut Azzam santai seraya merangkul adiknya.

Azzura mengangguk mantap. "Iya, Pah. Kami ini sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri. Jadi Papah jangan khawatir berlebihan!"

Nyonya Maya ikut menepuk pelan bahu putranya. "Sudahlah, Zaky. Biarkan saja mereka di sini bersama Arumi. Kita pulang dulu ke Jakarta untuk mempersiapkan acara pernikahanmu. Keluarga besar Tanuwijaya juga harus tahu soal ini, termasuk Paman Adrian, pamanmu yang dulu sempat memberikan lampu hijau saat kau ingin menikahi Arumi."

Mendengar nama Paman Adrian disebut, binar bahagia memancar dari matanya Zaky. Paman Adrian adalah adik dari almarhum ayahnya yang dulu sempat diasingkan ke Pulau Sumatra karena kerap membela Zaky dan Arumi.

"Tentu saja Paman Adrian harus tahu, Mah!" jawab Zaky mantap. "Aku ingin Paman Adrian nantinya menjadi saksi di pernikahanku, menggantikan posisi Almarhum Papah."

Nyonya Maya tersenyum lebar menyetujui keinginan putranya.

Setelah segala urusan selesai, Zaky dan Nyonya Maya pun pamit untuk kembali ke Jakarta. Mereka berjanji akan datang kembali sepuluh hari lagi menjemput sang pengantin. Selama sepuluh hari itu, Arumi akan mempersiapkan hari bahagianya bersama pria yang selalu ada di dalam hatinya. Pernikahan yang sempat tertunda selama 12 tahun lamanya kini benar-benar akan terwujud atas ridho dari kedua orang tua.

Sebelum masuk ke dalam mobil mewah, Zaky menggenggam erat tangan Arumi.

"Aku pulang dulu ya, Rum... Maaf merepotkan kamu karena Azzam dan Azzura tinggal di sini," tutur Zaky lembut.

"Enggak apa-apa, Zaky... Maksudku, Mas Zaky..." Arumi memotong ucapannya sendiri, meremas ujung hijabnya. "Boleh kan aku panggil kamu seperti itu?" tanyanya malu-malu dengan wajah tertunduk.

Zaky menyunggingkan senyum hangat yang teramat lebar. Tangan kekarnya mengusap lembut kepala Arumi yang terbalut hijab, lalu dengan penuh kasih sayang, Zaky mendaratkan kecupan hangat di kening calon istrinya.

"Tentu saja boleh, Sayang..." bisik Zaky dalam. "Boleh kan aku panggil kamu dengan sebutan Sayang?"

Mendengar panggilan manis itu, kedua pipi Arumi seketika merona merah. Ia mengangguk pelan seraya menatap mata Zaky dengan mantap. "Iya, Mas... boleh."

Bersambung...

1
Uba Muhammad Al-varo
si Citra..... kalau benar Azzam dan azura bukan anaknya Zaky, memang benar' Citra kejam dan jahat,dibalik kemunculan Yudistira adakah rahasia yang tersembunyi
Teh Euis Tea
mungkin dulu citra tidur sm yudistira trs hamil dan menjebak zaky
mungkin dulu yudi miskin makanya citra ninggalin yudi?
achh penasaran bgt
Nadja 🎀
jangan bilang dulu citra benci Yudi miskin.. makanya meninggalkan yudi. makanya pura-pura di tidurin biar zaky bertanggung jawab karena zaky orang kaya jg harta jg sengaja keluarga Zaky benci arumi pantas saja terungkap!
Nar Sih
sabar zaky ,jika memang azzam bukan putra kandung mu gk apa ,,anggap si kmbr tetap putra putri mu
Nar Sih
waah...ank siapa si kmbr yaa
Iffanaya 😽
nah loh...apa mungkin kalo Azam dan azzura anaknya dokter Yudistira yg pernah pny hubungan sama citra 🤔
Arum Dyah
jangan2 anaknya dokter itu lagi...🤭🤭
Teh Euis Tea
nah loh jd si kembar anak siapa itu?
mana si citra udah meninggal lg jd ga bisa nanya
berarti dulu si citra jebak zaky untuk tanggung jawab sm anak yg di kandung, kasian zaky 🥹
neny
tuh kan,,aq dah felling dr awal,,mereka bkn anak Zaky,,citra menjebak Zaky dan membuat Zaky hrs bertanggungjawab pdhl itu anak dr laki2 lain
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa azam azzura bukan anak kandung nya zaky 🤔
vania larasati
lanjut kak
Aisyah Suyuti
menarik
Ana
ikut bahagia 🤗
mimief
atu pasangan lagi yg belum bahagia Thor
Wisnu Ama indah?
apakabar tu berdua
mimief
cie.

cieeeee
pak Arya
mimief
pasti urusan ayu yaaa
mimief
tapi kenapa ya
Ama pelakor jaman sekarang
udah pada rada lain yaa

🤣
mimief
wah...orang sakit
bisa jadi perang dunia ke 2 ini
kalau nemuin lipstik di jas nya 😱
Nar Sih
seneng nyaa arumi bnr,,di ratukan oleh suami juga sikembar azam azzura dan gk ketinggalan ibu mertua
Ana
ga sabar nunggu bab selanjutnya 🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!