NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 penguasa tertinggi di Brune

Beberapa hari setelah Veronica mulai belajar mengatur anggaran rumah tangga, Erin merasa gadis itu pantas mendapat sedikit hiburan. Pagi itu ia menghampiri Veronica yang sedang menatap tumpukan laporan dengan dahi berkerut, lalu menutup salah satu berkas itu dengan senyum tipis. "Hari ini kita tidak akan menghitung apa pun, Veronica. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke kota dan menikmati berbagai hal di sana?"

Mata Veronica langsung membulat, dan ia bangkit dari kursinya begitu cepat hingga hampir menjatuhkan tinta di meja. "Ke kota? Sekarang? Aku akan bersiap!" serunya sambil berlari kecil ke pintu, lalu berhenti mendadak, berdehem, dan meluruskan punggungnya sebelum berjalan keluar dengan langkah yang jauh lebih anggun. Erin menahan tawa melihatnya.

Emma sudah menunggu di kamar dengan sebuah gaun merah yang indah terbentang di tempat tidur. Ia memasangkan gaun itu dengan cekatan, merapikan lipatan di pinggang, lalu menyisir rambut merah Veronica hingga berkilau. "Warna ini cocok sekali dengan rambut Duchess," ucapnya sambil mundur selangkah untuk menilai hasilnya. "Semua orang di kota pasti akan menoleh."

"Semoga mereka menoleh karena kagum, bukan karena takut," gumam Veronica sambil memutar badan di depan cermin dengan senyum yang berusaha ia tahan.

Tak lama kemudian keduanya sudah duduk berhadapan di dalam kereta kuda yang bergoyang pelan di jalan menuju kota. Veronica menempelkan wajah di jendela dan memperhatikan orang-orang di pinggir jalan dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan. Siang itu panas menyengat, dan beberapa orang tampak beristirahat di bawah pohon rindang sambil mengusap keringat dari dahi mereka. "Kenapa mereka tidak berhenti saja bertani kalau cuacanya sepanas ini?" tanyanya sambil mengerutkan alis. "Mereka bisa pulang dan tidur di tempat teduh."

"Karena itu tugas mereka, Veronica," jawab Erin lembut sambil ikut menatap ke luar jendela. "Mereka harus bekerja untuk mendapatkan uang. Mereka sudah terbiasa dengan itu, bahkan saat hujan turun pun sebagian dari mereka tetap bekerja di ladang."

Veronica terdiam, jarinya mengusap kaca jendela pelan sementara kereta melewati seorang petani tua yang memanggul karung gandum di punggungnya yang bungkuk. "Dulu aku mengira manusia hanya makhluk lemah yang mudah menyerah," gumamnya akhirnya, "tetapi mereka ternyata keras kepala sekali." Erin tersenyum mendengarnya, merasa itu pujian paling tulus yang bisa keluar dari mulut seekor naga. Veronica kembali menatap ke luar dan teringat laporan tentang upah dan selimut para pekerja yang baru ia baca beberapa hari lalu, dan untuk pertama kalinya angka-angka itu terasa seperti sesuatu yang nyata.

Begitu kereta memasuki kota, aroma roti hangat dan daging panggang menyerbu masuk lewat jendela. Veronica menegakkan badan, matanya menyapu deretan kios yang memamerkan berbagai macam makanan, dari roti bertabur biji-bijian, sosis yang berputar di atas bara, hingga kue-kue madu yang berjajar di nampan kayu, dan tangannya sudah meraih gagang pintu kereta tanpa ia sadari. "Ibu, aku ingin turun sekarang," ucapnya dengan suara tertahan.

"Jangan sembarangan, Veronica," tegur Erin sambil menahan pergelangan tangannya dengan lembut. Ia lalu mengetuk dinding kereta agar kusir berhenti dan menoleh pada Emma. "Emma, belikan beberapa makanan untuk Veronica. Aku yakin ia penasaran ingin mencobanya."

Emma mengangguk dan turun dari kereta, berjalan menyusuri para pedagang dengan langkah cepat. Tak lama kemudian ia kembali dengan tangan penuh roti dan daging panggang yang masih mengepulkan uap, lalu menyerahkannya pada Veronica. Veronica menatap makanan itu, lalu menatap Erin dengan mata penuh harap, jelas menanti izin untuk melupakan semua tata krama yang selama dua bulan ini diajarkan padanya.

"Makanlah," ucap Erin sambil menghela napas pelan, setengah geli, lalu menutup tirai jendela kereta sedikit agar orang di luar tak bisa mengintip. "Tidak ada yang melihat. Tapi hanya hari ini, dan hanya di dalam kereta."

Veronica langsung menggigit daging panggang itu dengan lahap, pipinya menggembung seperti tupai yang menimbun persediaan musim dingin, sementara roti di tangan lainnya menunggu giliran dan remah-remahnya berjatuhan ke pangkuan gaun merah itu. Emma buru-buru menyeka remah itu dengan saputangan sambil menahan senyum, sementara Veronica memejamkan mata menikmati rasa asin dan gurih yang meleleh di lidahnya. "Kota ini surga makanan," katanya dengan mulut penuh, dan Erin hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.

Kereta akhirnya berhenti di depan sebuah restoran besar untuk makan siang. Restoran itu tampak ramai, dipenuhi para bangsawan yang berbincang di meja-meja berhias kain putih, dengan lampu kristal tergantung di langit-langit dan denting peralatan makan yang bersahutan dengan tawa pelan. Veronica melangkah masuk di belakang Erin dengan dagu terangkat sedikit, persis seperti yang diajarkan padanya. Begitu mereka tiba di tengah ruangan, beberapa orang segera menghampiri dan menunduk memberi hormat. Erin tampak tersanjung oleh sapaan itu, tetapi ia segera mengangkat tangan dengan sopan. "Aku hanya mantan duchess sekarang. Duchess Vanguard yang sebenarnya adalah menantuku ini."

Tatapan mereka beralih pada Veronica yang berdiri tenang di sisi Erin, dan dalam sekejap ada ketidaksenangan yang berkelebat di mata mereka. Namun karena Veronica kini adalah duchess mereka, satu per satu menunduk memberi hormat dengan kaku. Veronica membalasnya dengan anggukan kecil seperti yang diajarkan Erin, sementara matanya mengamati wajah-wajah itu dengan tenang.

"Silakan bergabung di meja kami, Duchess Erin," ujar salah satu dari mereka sambil melirik Veronica sekilas. "Sudah lama kita tidak berbincang."

"Terima kasih, tapi aku ingin menghabiskan waktu bersama menantuku hari ini," tolak Erin dengan senyum ramah yang tak memberi ruang untuk bantahan. "Kalau begitu, kami tidak akan mengganggu," sahut bangsawan itu dengan senyum tegang sambil menunduk sedikit, dan suaranya terdengar jauh lebih kaku dari sebelumnya. Para bangsawan itu saling pandang, jelas tak senang dengan kehadiran seekor naga di tengah mereka, tetapi tak seorang pun berani membuat masalah karena di Brune, istri sang penguasa wilayah berdiri lebih tinggi dari mereka semua.

Begitu Erin dan Veronica duduk di meja mereka, Emma segera memanggil pelayan dan meminta makanan serta camilan dihidangkan untuk majikannya. Veronica menunggu pelayan itu pergi, lalu mencondongkan badan sedikit ke arah Erin dan berbisik, "Ibu, apakah mereka tidak menyukaiku?"

"Memang benar," jawab Erin tanpa menutupi apa pun sambil merapikan serbet di pangkuannya. "Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena kedudukanmu lebih tinggi dari mereka. Kau hanya perlu bersikap tenang. Kalau kau menanggapi mereka terlalu keras, mereka akan menganggapmu penguasa yang kejam."

"Jadi aku hanya perlu diam saja?" tanya Veronica ragu sambil memainkan ujung serbetnya.

"Kau perlu tenang, bukan diam," koreksi Erin dengan tatapan penuh arti. "Itu dua hal yang berbeda."

Veronica mengangguk pelan, tetapi sudut bibirnya terangkat tipis dan matanya berkilat. Ia berpikir bahwa ia akan memberi mereka pelajaran pada saat yang tepat. Erin menangkap kilatan itu dan tersenyum sambil menyesap tehnya. "Itu tidak masalah, asalkan caranya sesuai dengan yang kuajarkan."

Tak lama makanan pun datang, dibawa dua pelayan yang berjalan beriringan dengan nampan di kedua tangan, piring demi piring memenuhi meja hingga uapnya mengepul di antara mereka. Veronica mencicipi satu per satu dengan penuh semangat, tetapi tangannya tetap memegang pisau dan garpu dengan benar, memotong daging kecil-kecil, dan mengunyah dengan bibir tertutup, menahan diri sekuat tenaga agar tidak melupakan pelajaran Erin. Erin memperhatikan cara Veronica menyeka bibir dengan serbet dan mengangguk puas diam-diam. Beberapa pasang mata dari meja lain sempat mengintip, lalu berpaling dengan raut heran karena tak menemukan kekacauan yang mereka harapkan.

Di sela-sela itu, Veronica memanggil Emma dengan gerakan kecil dan berbisik di dekat telinganya, "Emma, minta pelayan menyiapkan makanan dalam jumlah besar untuk dibawa pulang. Yang banyak sekali." Emma membelalak sebentar, lalu mengangguk cepat sambil menyembunyikan senyum di balik tangannya dan bergegas menemui pelayan, sementara Veronica kembali mengangkat cangkir tehnya dengan anggun, seolah tak pernah terjadi apa-apa di meja itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!