NovelToon NovelToon
Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Nina1708

Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yayasan Kasih Amanda

Happy Reading

❤❤❤❤❤❤

"Jabatan apa?" Tanya Paman Edi.

"Ketua Yayasan Amal Alessandro," Jawab Queen.

DEG//

Ruangan kembali hening. Ketua Yayasan Amal? Itu jabatan tanpa kekuasaan bisnis, tanpa saham, cuma urus panti asuhan dan sumbangan. Jabatan yang di anggap sampah oleh Dewan.

Tapi Queen tahu, itu adalah kunci. Karena yayasan amal itulah yang dulu di pakai Nyonya Amanda Allesandro untuk mencuci uang? Bukan. Justru sebalik nya. Buku harian ibu nya yang baru Queen temukan pagi ini, di halaman acak yang sempat Queen baca, ada tulisan.

" Herman menggunakan yayasan amal untuk menyelundupkan senjata. Aku harus hentikan dia. Kalau sesuatu terjadi pada ku, bukti nya ada di arsip yayasan."

Yayasan amal adalah tempat bukti kejahatan tuan Herman di sembunyikan ibu nya.

Tuan Herman tertawa. Tawa lega. "Ketua Yayasan Amal? Tentu saja! Tentu saja boleh, sayang! Paman kira kau akan minta jabatan CEO. Kalau cuma yayasan, tentu boleh. Mulai hari ini kau Ketua Yayasan." Jawab Tuan Herman.

Paman Sandi menimpali, "Itu jabatan bagus untuk belajar, Queen. Tidak berat. Cocok untuk mu."

Queen tersenyum polos. "Terima kasih, Paman. Aku janji akan urus yayasan dengan baik. Seperti Mommy dulu." Jawab Queen.

Tuan Herman mengangkat gelas lagi. "Kalau begitu, Dewan setuju? Queen sebagai Ketua Yayasan Amal Alessandro, dan 60 persen saham tetap aku kelola sebagai wali sampai Queen umur 25 tahun?"

Semua Dewan mengangkat gelas. Setuju. Mereka senang Queen tidak merebut saham.

Setelah Dewan pulang jam 11 siang, hanya tinggal Tuan Herman dan Queen di ruang makan. Topeng Tuan Herman langsung jatuh.

"Permainan mu bagus sekali, Queen," kata tuan Herman, suara nya tidak lagi hangat. Dingin seperti es. "Ketua Yayasan Amal. Aku tidak menyangka kau akan minta itu. Kau pikir di sana ada sesuatu?" Ucap Nya lagi.

Queen juga melepas topeng nya. Tidak ada lagi senyum manja. "Aku tidak tahu Paman ngomong apa. Aku cuma kangen Mommy. Mommy dulu urus yayasan itu," jawab Queen dingin.

Tuan Herman berjalan mendekati Queen, berdiri tepat di belakang kursi Queen, tangan nya memegang sandaran kursi.

"Queen, Paman tahu kau ambil video dari laptop Paman. Paman tahu kau tidak minum susu. Paman tahu kau sembunyikan pistol asli di ventilasi kamar mandi." Ucap nya lagi.

Queen membeku. Jadi Tuan Herman tahu semua?

"Jangan takut," bisik Tuan Herman di telinga Queen. "Paman tidak akan bunuh kamu sekarang. Karena Paman sayang kamu. Kamu mirip sekali dengan Amanda. Paman bahkan lebih sayang kamu daripada anak Paman sendiri." Ujar nya.

Tuan Herman mengeluarkan sesuatu dari saku jas nya. Sebuah foto. Foto Amanda Allesandro muda, sedang tertidur di ranjang, foto yang di ambil diam diam dari jendela.

"Paman mencintai ibu mu, Queen. Sejak dulu. Tapi ibu mu memilih kakak Paman. Ayah mu. Jadi Paman harus ambil semua nya. Termasuk kamu." Ucap nya lagi.

Queen menahan mual. Jadi ini alasan nya. Bukan cuma soal kekuasaan. Tuan Herman terobsesi pada ibu nya.

"Paman sakit," kata Queen pelan.

Tuan Herman tertawa, mengelus rambut Queen. "Ya, Paman sakit. Sakit karena cinta. Dan obat nya cuma kamu. Jadi, jadilah boneka yang manis di yayasan itu. Jangan cari apa apa di sana. Kalau tidak..." Ucap Tuan Herman.

Tuan Herman mengeluarkan handphone, menunjukkan video. Video Lucas yang sedang di ikat di sebuah gudang, wajah nya babak belur.

"Lucas menunggu mu di gudang pelabuhan. Kalau kamu macam macam di yayasan, Lucas mati malam ini." Ucap nya.

Queen langsung berdiri, menampar tangan Tuan Herman...

"Jangan sentuh Lucas!" Teriak Queen.

"Oh, jadi benar kau sayang Lucas? Paman cemburu," kata Tuan Herman sambil merapikan jas nya. "Jam 2 siang, supir akan antar kau ke kantor yayasan. Bekerjalah yang rajin, Amanda Queen." Ucap Tuan Herman.

Tuan Herman pergi, meninggalkan Queen yang gemetar. Queen langsung lari ke kamar nya, mengambil handphone baru yang di sembunyikan di balik buku, bukan handphone yang di injak semalam. Dia mengirim pesan ke Marco.

💌"LUCAS DI TANGKAP GUDANG PELABUHAN. HERMAN TAHU SEMUA. KIRIM TIM SEKARANG."

Balasan Marco.

💌"Itu jebakan Queen! Jangan ke pelabuhan! Itu bukan LucaS! Itu deepfake! Herman coba pancing kau keluar!"

Queen menatap foto video itu lagi. Wajah Lucas babak belur. Tapi... di leher Lucas tidak ada bekas luka jahitan yang seharus nya ada. Lucas punya bekas luka jahitan di leher karena kecelakaan kecil waktu umur 10 tahun. Video itu tidak ada. Benar. Itu deepfake.

Tuan Herman memancing Queen agar panik dan kabur dari rumah, supaya Tuan Herman punya alasan menangkap Queen sebagai pengkhianat keluarga. Queen tersenyum. Untuk pertama kali nya hari ini, dia tersenyum tulus.

"Bagus, Paman. Kau mulai takut. Karena aku sudah selangkah di depan mu." Ucap Queen.

Jam 2 siang, Queen turun dengan gaun kerja rapi, tas kecil berisi buku harian ibu nya. Dia siap ke kantor yayasan.

Di dalam tas itu juga ada pistol asli yang sudah dia ambil dari ventilasi. Kali ini peluru nya asli. Peluru tajam. Perang di yayasan baru akan dimulai.

********

Mobil Mercedes hitam yang membawa Queen tidak menuju pusat kota yang berkilau. Mobil itu berbelok ke pinggiran, ke daerah industri tua yang sudah setengah mati. Di sinilah kantor Yayasan Amal Alessandro berada. Bukan gedung kaca. Tapi sebuah bangunan bata merah tiga lantai yang dulu nya adalah pabrik tekstil milik keluarga Alessandro tahun 1960-an.

Papan nama nya saja sudah berkarat:

"YAYASAN KASIH AMANDA"

Yayasan atas nama ibu nya. Yang selama ini di pakai Tuan Herman untuk mencuci dosa nya.

Supir Tuan Herman,, seorang pria botak bernama Bob, membukakan pintu tanpa bicara. " Tuan Herman bilang, Nona bebas pulang jam berapa saja. Tapi harus lapor dulu ke Tuan Herman." Ucap nya.

Artinya: kau diawasi, bahkan di sini.

Queen masuk. Lantai satu bau kertas tua dan obat pembersih murah. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal dan rambut di ikat ketat langsung berdiri.

"Nona Queen? Saya Carla Morena, sekretaris yayasan. Sudah 20 tahun saya kerja di sini. Dulu saya sekretaris Nyonya Amanda juga," katanya. Matanya menatap Queen tidak seperti staf lain. Ada sesuatu. Ada ketakutan dan harapan di saat yang sama.

"Carla," bisik Queen pelan, "Kamar arsip di mana?" Tanya Queen.

Carla menutup pintu kantor nya rapat-rapat. Dia berbisik balik, "Nona, jangan di sini. Dinding punya telinga. Tuan Herman pasang orang di sini. Saya satu-satu nya yang masih setia pada Nona Amanda. Tunggu sampai jam makan siang, semua orang keluar. Saya akan bawa Nona ke bawah."

Queen mengangguk. Dia duduk di kursi yang dulu adalah kursi ibu nya. Meja itu masih sama. Bahkan goresan kecil di sudut meja, goresan yang Queen buat waktu umur 6 tahun pakai paku, masih ada.

*******

Happy Reading Guys. 🤗🥰

1
🙈
karyanya bagus banget 😍
🙈
semangat nulisnya kak, 🤭, yokk intip karyaku kak 🤭, like komen yukk🤭
🙈: aman kak, yok nilai punya ku bestie,😋
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!