"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Cegil Insyaf 07.
"Taruhan gocap deh, paling lama bertahan tiga hari. Habis itu juga dia bakal balik ngebawain Firdaus bekal isi cumi balado kesukaan Pak Ketua."
Tawa renyah pecah di pojok ruang OSIS. Reno, Wakil Ketua OSIS yang terkenal bermulut ember, sedang asyik melempar spidol ke udara sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Di depannya, dua orang anggota sekbid humas ikut terkekeh, menganggap gosip pagi ini sebagai hiburan gratis sebelum bel masuk berbunyi.
"Tapi mukanya serius banget pas keluar dari ruang kepsek tadi, Ren. Surat pengunduran dirinya resmi diproses," sahut Tyas, matanya masih menatap layar ponsel yang menampilkan grup angkatan. "Gila sih. Seisi sekolah lagi heboh. Judulnya: Cegil nomor satu SMA Nusantara akhirnya insaf."
Firdaus yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan mendadak menghentikan gerakannya di ambang pintu. Tangannya yang memegang gagang pintu mengencang. Wajah cowok itu datar, sedatar tembok beton, namun matanya memancarkan hawa dingin yang membuat tawa di dalam ruangan langsung senyap seketika.
Reno berdeham canggung, buru-buru menurunkan kakinya dari atas meja. "Eh, Daus. Pagi amat, Bos."
Firdaus tidak menjawab. Dia berjalan melewati mereka begitu saja, meletakkan tas ranselnya di kursi kebesarannya dengan dentuman agak keras. "Rapat evaluasi pensi maju jadi jam istirahat pertama. Tolong rapihin berkasnya, Ren."
"Oke, aman," Reno mengacungkan jempolnya. Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada sang ketua. Dia mendekati meja Firdaus, bersandar di tepiannya dengan gaya sok akrab. "Tapi serius, Daus... lo beneran lepasin Elsa gitu aja? Lo nggak ngerasa sepi apa? Biasanya jam segini minimal ada susu kotak rasa stroberi di meja lo."
Firdaus menatap Reno tajam. "Dia mau fokus ujian. Bagus buat efisiensi kerja OSIS kalau dia keluar. Lagian, lo tahu sendiri kerjaan dia sering berantakan."
"Halah, muna lo," tembak Reno sambil terkekeh sinis. "Semua anak OSIS juga tahu Elsa itu safety net lo. Lo bebas bersikap sekaku apa pun karena lo tahu dia bakal selalu ada di belakang lo buat beresin ego lo. Sekarang pas dia diambil Aris, lo ketar-ketir kan?"
"Reno." Suara Firdaus merendah, penuh peringatan. "Gue nggak punya waktu buat drama nggak penting."
"Terserah lo deh. Tapi jujur ya, menurut gue ini cuma taktik baru Elsa. Taktik jual mahal biar lo nyariin dia. Cewek kayak Elsa yang udah bucin tiga tahun nggak bakal bisa hilang rasanya cuma dalam semalam. Paling dia lagi main psychological warfare sama lo."
Firdaus terdiam. Kalimat Reno barusan entah kenapa tertanam di kepalanya. Taktik jual mahal? Apa iya Elsa sengaja melakukan semua ini, termasuk pulang bareng Aris kemarin sore, hanya untuk memancing cemburunya?
Pikiran itu sedikit memberi makan ego Firdaus yang sempat runtuh semalam. Dia mengembuskan napas panjang, mencoba menepis rasa sesak yang aneh di dadanya. Ya, mungkin Reno benar. Elsa cuma butuh dikejar.
**
Kenyataannya, teori Reno patah total di jam istirahat.
Di koridor menuju kantin, langkah Firdaus mendadak melambat saat melihat kerumunan siswa di depan mading.
Di sana, Elsa sedang berdiri bersama beberapa teman sekelasnya. Gadis itu memakai almamater biasa, tanpa pin OSIS yang biasanya selalu bertengger bangga di kerahnya.
Dia sedang tertawa. Lepas. Tanpa beban.
Firdaus terpaku. Sudah berapa lama dia tidak melihat Elsa tertawa senyata itu? Selama ini, setiap kali bersamanya, wajah Elsa selalu dipenuhi rasa khawatir—khawatir bekalnya kurang enak, khawatir Firdaus lelah, atau khawatir ucapannya menyinggung perasaan sang ketua OSIS.
"Eh, Sa, ada mantan bos lo tuh," bisik salah satu teman Elsa sambil menyenggol lengannya.
Elsa menoleh. Tatapannya berpapasan langsung dengan manik mata Firdaus. Jantung Firdaus sempat berdesir, dia bersiap membalas tatapan itu dengan anggukan formal yang biasa dia lakukan. Dia menunggu Elsa berjalan mendekat untuk menyapanya dengan suara ceria yang biasanya agak mengganggu itu.
Namun, Elsa hanya menatapnya selama satu detik. Datar. Tanpa binar, tanpa kemarahan, bahkan tanpa dendam. Hanya sebuah tatapan kosong seolah Firdaus adalah orang asing yang kebetulan lewat di koridor. Setelah itu, Elsa kembali berbalik dan melanjutkan obrolannya seolah keberadaan Firdaus sama sekali tidak memengaruhi atmosfer di sekitarnya.
Tinjauan itu membuat dada Firdaus seperti dihantam benda tumpul. Rasa sesak yang dia tahan sejak pagi mendadak naik ke tenggorokan. Dia... beneran nggak peduli?
Sebelum Firdaus sempat mencerna rasa syoknya, sebuah motor besar menderu di area parkir dekat koridor terbuka. Aris turun dari motornya dengan gaya santai yang selalu membuat para siswi menoleh. Cowok itu berjalan lurus ke arah Elsa, mengabaikan tatapan sinis dari beberapa anggota OSIS yang kebetulan ada di sana.
"Nih," Aris menyodorkan satu cup es kopi susu ke depan wajah Elsa. "Sesuai pesanan Tuan Putri. Gula arennya dikit, esnya banyak."
Elsa menerima minuman itu dengan mata berbinar. "Gila, lo beneran beliin yang di seberang jalan? Kan gerbangnya dikunci, Ris!"
"Gampanglah, pak satpam kan temen sebatang gue," Aris terkekeh, tangannya secara alami terangkat untuk mengacak rambut Elsa pelan. "Lagian, demi lo apa sih yang nggak."
Interaksi itu terjadi begitu natural di depan mata Firdaus. Tidak ada kecanggungan, tidak ada paksaan. Aris memperlakukan Elsa seperti sesuatu yang berharga, sementara Elsa menerima perlakuan itu dengan senyum yang belum pernah Firdaus lihat sebelumnya.
Ego Firdaus bergejolak hebat. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Suara sepatunya yang tegas membuat beberapa murid di koridor langsung menepi.
"Elsa," panggil Firdaus. Suaranya terdengar dingin dan menuntut otoritas.
Elsa dan Aris menoleh serentak. Aris langsung menggeser posisi tubuhnya, sedikit menyembunyikan Elsa di balik bahunya yang tegap—sebuah refleks protektif yang sama persis seperti kemarin sore.
"Ada apa ya, Kak Ketua?" tanya Elsa. Nadanya teramat sopan, namun justru kesopanan itulah yang terasa seperti benteng pembatas setinggi lima meter bagi Firdaus. Dia memanggilnya 'Kak Ketua', bukan lagi 'Daus'.
"Berkas laporan sisa kas program kerja lo belum lengkap. Selesaiin siang ini di ruang OSIS," bohong Firdaus. Dia hanya butuh alasan agar Elsa bicara berdua dengannya.
Elsa menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum tipis. "Oh, soal itu. Tadi pagi sebelum ke ruang kepsek, gue udah serahin semua flashdisk dan nota fisik ke Tyas. Gue udah minta dia buat cek ulang, dan katanya udah beres kok. Nggak ada yang kurang."
Firdaus kelu. Argumennya patah dalam sekali tebas.
Aris yang berdiri di samping Elsa meletakkan kedua tangannya di saku celana, menatap Firdaus dengan seringai meremehkan. "Telinga lo bermasalah ya, Pak Ketua? Kemarin dia udah bilang selesai, hari ini lo masih aja cari-cari alasan. Mending fokus aja urusin pensi lo yang kabarnya sponsornya kurang itu. Jangan ganggu cewek gue."
Cewek gue.
Kata-kata itu bergema tajam di koridor. Beberapa murid yang mendengarnya langsung saling berbisik heboh.
Wajah Firdaus mengeras, urat-urat di lehernya menegang. "Gue nggak ada urusan sama lo, Aris. Gue bicara sama staf gue."
"Mantan staf," Elsa meralat cepat, suaranya tenang namun menusuk. Dia menatap Firdaus lurus-lurus. "Dan tebakan Reno di ruang OSIS tadi pagi soal gue yang lagi 'jual mahal' itu salah besar, Daus. Lo bisa sampein ke dia."
Firdaus tertegun. Dia mendengarnya?
"Gue nggak lagi main taktik apa pun," lanjut Elsa, matanya mulai berair namun tatapannya tetap tidak goyah. "Gue cuma lagi belajar menghargai diri gue sendiri. Dan ternyata, rasanya jauh lebih tenang daripada harus terus-terusan ngemis perhatian dari orang yang nggak pernah punya ruang buat gue."
Elsa memalingkan wajahnya, lalu menyentuh lengan Aris pelan. "Yuk, Ris. Kantin keburu penuh."
Aris menatap Firdaus sekilas, sebuah tatapan kemenangan yang mutlak, sebelum akhirnya berbalik mengikuti langkah Elsa.
Firdaus berdiri mematung di tengah koridor yang mulai sepi. Tangan di sisi tubuhnya terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Untuk pertama kalinya, di bawah terik matahari jam istirahat sekolah, Firdaus merasakan hawa dingin yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Dia sadar, kali ini Elsa tidak sedang bermain drama. Elsa benar-benar telah melangkah pergi, dan dia ditinggalkan sendirian bersama egonya yang kini terasa begitu tak berarti.
......................
...****************...
Tbc,