"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beruang Kulkas dan Anniversary Palsu
Nana dengan wajah tanpa dosa menusuk sepotong daging wagyu yang paling juicy, meniupnya sebentar, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Ghava.
"Buka mulutnya, Mas... aaaa," ucap Nana layaknya membujuk anak kecil.
Ghava langsung memundurkan kepalanya, matanya melotot kaget. "Nadin, apa-apaan sih? Saya punya tangan sendiri," tolaknya ketus, meskipun telinganya mulai memerah lagi.
"Ih, ayolah! Ini potongan terbaik. Anggap aja ini ritual perdamaian antara Bos dan Asisten. Ayo, Mas... aaaa! Nanti aku nangis lagi nih, heuheu..." Nana mulai memasang wajah sedih andalannya.
Ghava menghela napas pasrah. Daripada Nana membuat drama "tangisan palsu" lagi di tengah restoran mewah ini, ia akhirnya terpaksa membuka mulutnya. Begitu daging itu masuk, rasa gurih dan lumeran lemak daging kualitas premium meledak di lidahnya.
"Enak kan?" tanya Nana penuh kemenangan.
Ghava hanya mengangguk pelan sambil mengunyah. Ada getaran aneh yang menjalar di dadanya—sesuatu yang hangat dan tidak nyaman di saat yang bersamaan. Ia berusaha keras menghiraukan perasaan itu dengan pura-pura sibuk meminum teh ocha-nya.
Tiba-tiba, seorang pelayan pria mendekat ke meja mereka sambil membawa nampan kecil berisi dua buah boneka beruang menggemaskan yang memakai pita merah.
"Permisi, Kak. Selamat malam," ucap pelayan itu dengan senyum ramah. "Melihat kemesraan Kakak berdua, apakah hari ini sedang merayakan anniversary? Kebetulan kami sedang ada promo spesial bulan ini untuk pasangan yang merayakan hari jadi."
Ghava nyaris tersedak minumannya. "Hah? Bukan, kami bukan—"
Baru saja Ghava ingin membantah dengan tegas, Nana sudah lebih dulu menyambar pembicaraan. Matanya langsung berbinar melihat boneka beruang yang terlihat mahal itu.
"Iya, Mas! Kok tahu aja sih? Wah, peka banget pelayannya," ucap Nana sambil tersenyum lebar ke arah pelayan itu. Ia lalu menoleh ke arah Ghava yang sedang melongo dan langsung menggenggam lengan pria itu dengan erat. "Iya kan, Sayang? Ini anniversary kita yang... yang kesatu!"
Ghava menatap Nana dengan tatapan "kamu-sudah-gila-ya", tapi Nana justru mencubit lengan Ghava secara sembunyi-sembunyi agar pria itu tidak buka suara.
"Wah, selamat ya Kak! Ini hadiah khusus dari kami, sepasang boneka beruang eksklusif untuk kenang-kenangan hari spesial Kakak berdua," ucap si pelayan sambil meletakkan dua boneka itu di atas meja. "Semoga langgeng terus ya!"
Setelah pelayan itu pergi, Ghava langsung melepaskan tangan Nana. "Nadin! Kamu gila ya? Sejak kapan kita anniversary? Sejak kapan saya jadi 'Sayang' kamu?" bisik Ghava dengan suara yang tertahan tapi penuh tekanan.
Nana justru asyik memeluk salah satu boneka beruangnya dengan wajah sangat puas. "Duh, Mas Bos, jangan kaku-kaku banget kenapa. Lumayan kan dapet boneka gratis? Lagian kalau kita bilang bukan pasangan, Mas mau jelasin panjang lebar kalau aku asisten yang baru aja ditampar mantan Mas? Kan malah jadi gosip satu restoran!"
Nana menyodorkan boneka beruang satunya lagi ke arah Ghava. "Nih, yang ini buat Mas. Namanya 'Beruang Kulkas'. Biar Mas kalau tidur ada temennya dan nggak galauin Mbak Selya terus."
Ghava menatap boneka beruang di depannya, lalu menatap Nana yang sedang asyik makan lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Getaran di hati Ghava yang tadinya coba ia hiraukan, kini malah terasa semakin kencang.
Ghava menatap boneka beruang berpita merah itu seolah-olah benda itu adalah benda asing dari planet lain yang mengancam kredibilitasnya sebagai produser musik papan atas. "Saya nggak mau," ucapnya tegas sambil menyodorkan kembali boneka itu ke hadapan Nana dengan gerakan yang sangat kaku.
Nana, yang mulutnya masih sedikit penuh dengan potongan dessert puding mangga, hanya mengangkat bahu dengan santai. Ia menerima kembali boneka itu tanpa rasa kecewa sedikit pun. "Oke, kalau nggak mau. Berarti kedua beruang ini resmi jadi milikku. Dan sesuai hukum kepemilikan Nana, aku bebas simpan mereka di mana saja yang aku suka," sahutnya dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.
Setelah menyelesaikan sesi "balas dendam" makan besar yang membuat perut Nana terasa dua kali lipat lebih besar, mereka berdua berjalan menuju parkiran. Nana berjalan dengan langkah riang, kedua tangannya sibuk memeluk dua boneka beruang tersebut, sementara Ghava berjalan di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana, berusaha menjaga wibawanya meskipun hatinya masih terasa diaduk-aduk oleh kejadian di dalam restoran tadi.
Sesampainya di mobil, Nana tidak langsung duduk dengan tenang. Begitu pintu terbuka, ia justru sibuk menata salah satu boneka beruang itu di pojok kanan dashboard mobil mewah Ghava, tepat di depan kursi penumpang. Ia memastikan boneka itu duduk tegak dan menghadap ke arah pengemudi.
"Nah, Beruang Kulkas... kamu di sini ya. Tugas kamu penting, yaitu tungguin bos kamu yang dingin ini setiap dia nyetir. Siapa tahu kalau sering lihat muka imut kamu, dia jadi agak angetan dikit, nggak beku terus kayak es batu di freezer," ucap Nana sambil menepuk-nepuk kepala boneka itu dengan sayang.
Ghava yang baru saja duduk di kursi kemudi langsung melongo. Ia menatap boneka beruang berbulu cokelat yang kini menghiasi interior mobilnya yang biasanya minimalis, elegan, dan maskulin. Kehadiran benda itu benar-benar merusak estetika mobilnya yang berharga miliaran.
"Nadin, apaan sih? Bawa pulang! Jangan ditaruh di situ, mengganggu pemandangan," protes Ghava, tangannya sudah bergerak hendak menyingkirkan boneka itu.
Namun, Nana dengan sigap menahan tangan Ghava. Ia menatap pria itu dengan tatapan paling serius yang bisa ia berikan. "Eits! Tadi kan kesepakatannya apa? Ini punya aku, dan aku bebas nyimpen di mana saja. Karena aku asisten Mas yang setia, aku memutuskan untuk menitipkan sebagian harta bendaku di mobil operasional kantorku ini. Mas nggak boleh protes!"
Ghava menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan kepasrahan. Ia sadar, berdebat dengan Nana dalam kondisi gadis itu sedang "menang banyak" adalah kesia-siaan. Ia akhirnya membiarkan boneka itu tetap di sana, meski dalam hati ia membayangkan apa yang akan dikatakan teman-teman produsernya jika melihat boneka beruang di mobilnya.
Nana kemudian beralih ke boneka satunya yang ia peluk erat di pangkuannya. "Nah, kalau kamu namanya Imoet. Kamu ikut aku ke kantor ya, kadang ke kos juga boleh kalau aku lagi kesepian. Kamu tugasnya nemenin aku dengerin curhatan Mas Ghava yang galau, oke?" ajak Nana pada boneka keduanya seolah benda mati itu bisa menjawab.
Perjalanan pulang terasa berbeda bagi Ghava. Kehadiran boneka di dashboard dan ocehan Nana yang tanpa henti entah bagaimana membuat suasana kabin mobilnya terasa lebih hidup. Sesekali Ghava melirik ke arah Nana yang mulai terlihat mengantuk karena kekenyangan, lalu ia melirik ke arah "Beruang Kulkas" di dashboard-nya.
Tanpa ia sadari, sudut bibir Ghava sedikit terangkat. Ia merasa aneh, tapi tidak benci. Mungkin Nana benar, terkadang hal-hal konyol seperti es teh plastik, telur gulung, dan boneka beruang gratisan adalah apa yang ia butuhkan untuk mencairkan hatinya yang selama ini membeku dalam kesedihan masa lalu.
"Nadin," panggil Ghava pelan saat mereka hampir sampai di depan kosan Nana.
"Hmm?" Nana menjawab dengan suara serak khas orang mengantuk.
"Besok... pipi kamu harus sudah mendingan ya. Saya nggak mau asisten saya kelihatan seperti korban tawuran saat di depan klien," ucap Ghava, berusaha terdengar ketus meski nadanya sangat lembut.
Nana tersenyum lebar sambil memeluk Imoet lebih erat. "Siap, Mas Bos. Asal besok jangan ada drama tampar-tamparan lagi, aku mah aman!"
Ghava hanya menggeleng pelan, diam-diam ia berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan tangan siapa pun menyentuh pipi gadis itu lagi dengan kasar.
Setelah menutup pintu mobil dan melihat punggung Nana menghilang di balik gerbang kosannya yang sederhana, Ghava tidak langsung menjalankan mesin mobilnya. Ia terdiam cukup lama, membiarkan keheningan malam menyelimuti kabin mobil yang biasanya terasa hampa, namun malam ini terasa jauh lebih hangat.
Ia melirik ke arah Beruang Kulkas yang masih duduk manis di atas dashboard-nya. Boneka murah dengan pita merah itu terlihat sangat kontras dengan kemewahan interior mobilnya, tapi entah kenapa, Ghava tidak lagi merasa ingin membuangnya.
Isi Hati Ghava
Di balik sikapnya yang dingin dan irit bicara, isi kepala Ghava saat ini sedang bergejolak hebat. Ada beberapa hal yang menari-nari di pikirannya:
1. Rasa Bersalah yang Berubah Menjadi Proteksi Ghava merasa sangat kecil malam ini. Sebagai seorang pria yang menganggap dirinya bisa mengendalikan segala hal di studio\, ia justru merasa gagal karena membiarkan Nana—gadis kecil yang bahkan tidak tahu apa-apa soal masa lalunya—terkena tamparan Selya. Ia terus terbayang wajah Nana saat ditampar; tenang namun tajam. Ghava sadar\, Nana bukan sekadar asisten\, dia adalah tameng yang tidak pernah ia minta\, tapi sangat ia butuhkan.
2. Kagum pada "Energi Micin" Nana Selama tiga tahun terakhir\, Ghava mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang "sempurna" namun membosankan. Nana hadir dengan segala "kekurangannya"—selera makanan murah\, tawa yang terlalu kencang\, dan keberanian yang nyaris tidak masuk akal. Ghava heran\, bagaimana bisa seorang gadis yang baru saja disakiti secara fisik masih bisa memikirkan All You Can Eat dan menjebak orang dengan kamera ponsel? Nana adalah sebuah anomali yang perlahan merusak sistem "kulkas" di hati Ghava.
3. Ketakutan akan Perasaan Baru Getaran aneh saat Nana menyuapinya daging tadi tidak bisa ia bohongi. Itu adalah getaran yang sudah lama mati sejak Selya pergi. Ada ketakutan dalam hati Ghava; ia takut jika ia mulai "mencair"\, ia akan kembali terluka. Namun\, saat ia melihat boneka beruang itu\, ketakutan itu perlahan kalah oleh rasa nyaman yang sederhana.
Ghava menghela napas panjang, lalu menyentuh pelan kaki boneka beruang di dashboard-nya itu dengan ujung jari.
"Penjaga Kulkas ya..." gumamnya pelan sambil tersenyum tipis—senyum tulus pertama yang tidak ia paksakan dalam bertahun-tahun.
Ia menyalakan mesin mobil, memutar lagu dengan melodi piano yang ia mainkan di studio tadi, namun kali ini ia membayangkan lirik Nana tentang "es teh plastik" yang mencairkan hati. Ghava pun melaju membelah malam, merasa bahwa mulai besok, hidupnya tidak akan lagi sedingin biasanya.
Sesampainya di rumah yang luas namun biasanya terasa sunyi itu, Ghava tidak langsung beristirahat. Ia merebahkan tubuhnya di sofa kulit ruang tengah, masih mengenakan kemeja yang sedikit berantakan. Secara refleks, tangannya meraih ponsel dan membuka aplikasi media sosial—sesuatu yang jarang ia lakukan hanya untuk sekadar stalking.
Nama akun Nadin langsung muncul di barisan atas update terbaru. Ghava membukanya, dan seketika sebuah foto memenuhi layarnya.
Itu adalah foto boneka beruang yang dibawa Nana pulang, diletakkan di atas bantal kecil di kosannya dengan pencahayaan yang dramatis.
Caption: "Imoet sebatang kara, karena temannya harus jadi es batu di dalam kulkas yang dingin. Sabar ya Moet, semoga temen kamu nggak beku-beku amat di sana. 🧊🧸 #NasibBoneka #BosKulkas #EsTehDuluBiarAnget"
Di kesunyian malam itu, suara tawa kecil tiba-tiba pecah dari bibir Ghava. Bukan tawa sinis atau tawa sopan yang biasa ia tunjukkan pada klien, melainkan tawa lepas yang murni. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap layar ponsel dengan sorot mata yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Emang orang aneh," gumamnya pelan, namun nadanya sama sekali tidak terdengar menghina. Justru ada nada kasih sayang yang terselip di sana.
Ia teringat boneka pasangannya yang sekarang masih duduk manis di dashboard mobilnya di garasi. Kata-kata Nana benar-benar seperti lirik lagu yang terus berputar di kepalanya: nggak masuk akal, tapi susah dilupakan.
Ghava bangkit berdiri, berjalan menuju cermin besar di lorong rumahnya. Ia melihat pantulan dirinya sendiri. Pria yang tadi pagi masih terlihat tegang dan penuh beban, malam ini tampak... hidup. Hanya karena seorang asisten yang hobi makan micin dan beruang cokelat seharga promo restoran.
Ia kembali mengambil ponselnya, jemarinya ragu sejenak di atas layar, sebelum akhirnya ia menekan tombol "Like" pada postingan Nana. Sesuatu yang kecil, tapi ia tahu, bagi Nana itu akan menjadi bahan godaan baru besok pagi.
"Kita lihat besok, siapa yang bakal jadi es batu lagi," ucapnya pada diri sendiri sambil berjalan menuju kamar, dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari malam-malam sebelumnya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰