NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan di Atas Awan

Malam berlalu dengan kegelisahan yang tak menentu. Tio berbaring di dalam tenda bivak yang sempit, memejamkan mata, namun pikirannya tak mau ikut beristirahat. Setiap kali kelopak matanya terpejam, bayangan hitam itu muncul kembali. Berdiri diam di antara pepohonan. Menatap. Menunggu.

Berulang kali ia membuka mata, menajamkan telinga, mendengarkan suara-suara malam. Jangkrik bernyanyi tanpa lelah. Burung hantu bersahutan dari kejauhan. Kadang-kadang, suara dahan patah di kejauhan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi tak ada yang benar-benar mengganggu. Tak ada langkah kaki. Tak ada suara bisikan.

Cuma lelah, pikirnya. Kurang tidur, dikit-dikit jadi paranoid.

Sekitar pukul sepuluh malam, tubuhnya akhirnya menyerah. Rasa lelah setelah delapan jam mendaki dengan medan menanjak dan tebing terjal akhirnya mengalahkan rasa waswas yang menggelayuti pikirannya. Ia tenggelam dalam tidur yang dalam—tanpa mimpi, tanpa gangguan.

---

Pukul setengah enam pagi, Tio terbangun.

Bukan karena alarm, bukan karena suara gaduh. Ia terbangun karena alam memanggilnya dengan cara yang paling lembut: udara pagi yang sejuk, dingin mengisi ruang kosong tenda itu menyentuh kulitnya Lembut.

Tio membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, ia lupa di mana ia berada. Langit-langit tenda yang rendah, bau tanah lembab, suara burung berkicau riang di luar—semua perlahan menyadarkannya: Oh iya, gue di gunung.

Ia meregangkan tubuh. Efeknya langsung terasa. Bahunya kaku, betisnya pegal, dan pundak kanannya nyeri—mungkin akibat terlalu lama menyandang ransel berat kemarin. Beberapa bagian tubuhnya yang terasa pegal ia tempeli koyok untuk mengurangi rasa pegal yang menyebar merata.

Ia duduk, membuka resleting tenda sedikit, dan membiarkan udara pagi masuk secara sempurna. Dingin sekali. Napasnya langsung berubah menjadi embun putih tipis yang melayang sesaat sebelum menghilang. Tio menarik napas panjang, merasakan udara murni itu memenuhi paru-parunya.

Tidak ada bau asap kendaraan, tidak ada polusi debu kota, tidak ada bau aspal panas. Hanya udara bersih yang dingin, sedikit berbau daun basah dan tanah, dengan sentuhan aroma bunga hutan yang samar.

Ini dia, gumamnya dalam hati. Udara kayak gini nggak bisa lo beli di kota. Lo harus dateng ke sini, ngambil sendiri, gratis.

Ia tersenyum, merasakan kebahagiaan sederhana yang sulit dijelaskan pada orang yang tak pernah mengalaminya.

---

Setelah beberapa menit menikmati sensasi itu, Tio memutuskan untuk keluar dari tenda. Udara di luar lebih dingin dari yang ia kira. Kulitnya langsung merinding, tapi ini dingin yang menyenangkan—dingin yang membuatnya merasa hidup.

Kabut tipis masih menyelimuti area Pos 3, tapi matahari mulai mengusirnya perlahan. Sinar matahari pagi menembus celah-celah dedaunan, menciptakan tiang-tiang cahaya yang indah, seperti lampu sorot alami di panggung raksasa. Embun masih menempel di setiap helai daun, berkilauan seperti berlian kecil.

Tio meregangkan tubuh lebih lama. Gerakan peregangan standar yang ia pelajari dari video-video yoga: menyentuh ujung kaki, memutar pinggang, meregangkan leher. Setiap gerakan menghasilkan sensasi "keretek" kecil dari persendian yang mulai bekerja. Tubuhnya memang pegal, tapi ini adalah pegal yang "baik"—pegal yang menandakan bahwa kemarin ia telah menggunakan tubuhnya dengan maksimal, bukan pegal karena tidur salah posisi di kasur empuk.

Ia menengok ke arah di mana ia melihat bayangan hitam itu semalam. Pagi ini, area itu tampak biasa saja. Pepohonan hijau, semak-semak rimbun, kabut yang perlahan menipis. Tak ada yang aneh. Tak ada yang mencurigakan.

Mungkin cuma ilusi cahaya, pikirnya lagi. Atau mungkin gue udah kecapean. Yang penting sekarang, sarapan.

---

Tio berbalik menuju tendanya. Ia membuka ransel besar, mengeluarkan nesting—perangkat masak lipat berbahan aluminium yang menjadi andalannya. Di dalamnya tersimpan kompor portable kecil, tabung gas kaleng ukuran 230 gram, sosis siap makan dalam kemasan vakum, roti gandum yang masih lumayan utuh meski agak penyok, selada air dalam wadah kedap udara, tomat cherry, dan mayones sachet.

Ah, ini baru namanya hidup.

Ia menyiapkan kompor. Hanya butuh beberapa klik untuk menyalakan api—korek api gasnya masih berfungsi baik. Ia meletakkan frying pan kecil di atas kompor, menuang sedikit minyak zaitun dari botol mini, lalu meletakkan tiga buah sosis. Suara mendesis langsung terdengar, aroma gurih mulai tercium.

Sambil menunggu sosis matang, Tio mengeluarkan kursi lipat praktis dari tasnya. Kursi kecil berwarna biru tua ini adalah salah satu "kemewahan" yang selalu ia bawa dalam setiap pendakian. Banyak pendaki menganggapnya terlalu berat dan tidak praktis. Tapi Tio punya filosofi sendiri: setelah seharian berjalan dan tidur di tanah yang keras, duduk di kursi sambil menikmati kopi atau teh panas adalah kenikmatan yang tak ternilai.

Ia mendirikan kursi itu di tempat yang agak lapang, menghadap ke arah timur di mana matahari mulai naik. Pemandangan di depannya adalah lereng hijau yang perlahan menurun, dengan puncak-puncak bukit kecil di kejauhan yang masih tertutup kabut tipis. Di bawah sana, ribuan meter di bawah, mungkin sawah-sawah dan desa-desa mulai bangun. Tapi di sini, di ketinggian 2.300 meter, ia merasa seperti satu-satunya manusia di dunia.

---

Sosis mulai kecokelatan. Tio membaliknya dengan hati-hati menggunakan sendok lipat. Setelah matang, ia memindahkannya ke piring kecil. Kemudian ia memanaskan sedikit minyak lagi, meletakkan dua potong roti gandum. Rotinya dipanggang hingga renyah di luar, tapi tetap lembut di dalam.

Selada air ia tata rapi di sisi piring. Tomat cherry dibelah dua, ditaburkan di atasnya. Sosis diletakkan di tengah. Mayones sachet ia gunakan sebagai saus—ia menggigit ujung plastiknya, memencetkan sedikit mayones dalam pola zig-zag di atas sosis dan sayuran. Hasilnya? Sebuah piring sarapan yang jika di kota, mungkin biasa saja. Tapi di tengah hutan di ketinggian 2.300 meter? Ini adalah hidangan bintang lima.

Setelah menyiapkan teh hangat dalam mug camp—campuran teh celup, gula, dan susu bubuk yang ia seduh dengan air panas—Tio duduk di kursi lipatnya. Ia meletakkan piring di pangkuan, memegang mug dengan kedua tangan, dan untuk beberapa saat hanya diam, menikmati sensasi hangat yang merambat dari mug ke telapak tangannya.

Lalu ia menggigit sosisnya.

Astaga.

Mungkin karena kelaparan. Mungkin karena udara dingin yang membuat indera perasa lebih tajam. Atau mungkin karena sosisnya memang enak. Tapi gigitan pertama itu terasa seperti makanan terlezat yang pernah ia makan. Rasa gurih, sedikit asin, dengan tekstur kenyal yang pas. Ia mengunyah perlahan, benar-benar menikmati setiap sensasi di mulutnya.

Disusul dengan roti panggang yang renyah. Lalu selada yang segar dan sedikit pahit, kontras dengan manisnya tomat cherry. Mayones memberikan sentuhan lembut yang menyatukan semuanya.

Tio makan dengan lahap, tapi juga dengan penuh penghayatan. Ini bukan sekadar mengisi perut. Ini adalah ritual. Ini adalah perayaan atas keberhasilannya mencapai titik ini. Ini adalah momen ketika ia benar-benar merasa hidup, benar-benar merasa bebas, benar-benar merasa bahwa semua keputusan dalam hidupnya—termasuk keputusan untuk meninggalkan keramaian kota—adalah keputusan yang tepat.

---

Di sela-sela kunyahan, pikirannya melayang kembali ke malam sebelumnya. Bayangan hitam itu. Tatapan dari kejauhan. Perasaan diawasi yang begitu nyata.

Tapi pagi ini, dengan matahari di wajahnya dan aroma sosis di hidungnya, semua itu terasa seperti mimpi buruk yang menguap saat sadar. Mungkin emang cuma lelah, pikirnya lagi. Besok-besok jangan lupa tidur cukup, jangan terlalu paranoid.

Ia memutuskan untuk mengabaikannya. Malam adalah malam. Pagi adalah pagi. Dan pagi ini terlalu indah untuk dirusak oleh ketakutan tak berdasar.

Tio menghabiskan sarapannya perlahan. Setiap suapan ia nikmati. Setiap tegukan teh ia rasakan kehangatannya merambat ke seluruh tubuh. Kadang-kadang ia berhenti, hanya untuk memandangi pemandangan di depannya, mendengar suara burung yang semakin ramai, merasakan angin pagi yang membelai wajahnya.

Pada satu titik, ia mengeluarkan kamera aksi dari kantong pinggang. Menyalakannya, merekam dirinya yang sedang duduk santai di kursi lipat dengan latar belakang hutan berkabut.

"Pagi kedua di Gunung Slamet," ia memulai, suaranya masih sedikit serak karena baru bangun. "Gue baru selesai sarapan. Sosis, roti panggang, salad, teh hangat. Lo tau? Di kota, gue sering sarapan sambil lari-lari, sambil baca email kerja, sambil mikirin meeting. Di sini? Gue duduk, liat pemandangan, denger suara burung. Nggak ada yang ngejar gue. Nggak ada yang nuntut gue. Hidup... sederhana banget, tapi rasanya kaya."

Ia mengarahkan kamera ke piring yang hampir kosong, lalu ke pemandangan.

"Kemaren malam gue sempet ngeliat sesuatu. Bayangan aneh. Kaya orang. Tapi mungkin cuma capek. Pagi ini semuanya baik-baik aja. Jadi ya udah, lanjut."

Ia mematikan kamera, tersenyum. Ya, lanjut.

---

Setelah sarapan, Tio membereskan peralatan masaknya. Ia mencuci piring dan frying pan dengan air bersih dari botol cadangan—boros memang, tapi ia masih punya cukup stok dan rencananya akan mengisi ulang di sumber air sebelum Pos 4.

Sampah sisa makanan ia kumpulkan dalam kantong plastik kecil, untuk dibawa turun nanti. Ini prinsip yang selalu ia pegang: leave no trace. Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki. Jangan ambil apa pun kecuali foto. Jangan bunuh apa pun kecuali waktu.

Selesai membereskan, ia duduk lagi di kursi, memandangi langit yang semakin cerah. Kabut mulai menipis, membuka pemandangan lereng gunung yang hijau. Di atas sana, tersamar, puncak Slamet masih enggan menunjukkan diri. Tapi Tio tahu, ia akan sampai di sana. Dalam dua hari ke depan.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara. Samar-samar, tapi jelas bukan suara binatang. Seperti... seperti orang memanggil. Suaranya terlalu jauh untuk dikenali, tapi cukup jelas untuk didengar.

"He... lo..."

Tio menoleh cepat. Tak ada siapa pun. Hanya pepohonan, semak, dan kabut yang mulai menipis.

Ia mengerjap. Suara apa tadi?

"He... sini... lo..."

Lagi. Kali ini sedikit lebih jelas. Dari arah yang sama dengan bayangan semalam.

Tio bangkit dari kursinya. Matanya menyapu area itu. Tak ada siapa pun. Tapi ia yakin, ia tidak salah dengar.

Untuk beberapa saat ia berdiri diam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Suara orang. Ada orang lain di sini? Pendaki lain?

Tapi mengapa mereka bersembunyi? Mengapa tak muncul?

Tio membuka mulut, hendak berteriak membalas. Tapi sesuatu menahannya. Entah kenapa, ada firasat aneh yang menyuruhnya diam.

Akhirnya, ia hanya bergumam lirih, hampir tak terdengar: "Siapa di sana?"

Tak ada jawaban. Hanya angin yang bertiup, membawa bisikan-bisikan yang tak bisa ia pahami.

Tio menghela napas. Mungkin cuma pendaki lain yang lewat jauh. Atau mungkin... ah sudahlah.

Ia memutuskan untuk kembali ke tenda, melanjutkan persiapan untuk pendakian hari kedua. Tapi kali ini, matanya lebih sering menoleh ke arah pepohonan. Telinganya lebih sering menajam.

Pagi yang indah itu, tanpa ia sadari, telah menerima goresan pertama dari sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

Dan bayangan hitam semalam, yang ia kira hanya halusinasi, mulai terasa semakin nyata.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!