Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. MURKA
Debu masih melayang tipis di atas lapangan latihan Akademi Sihir Oberyn.
Angin menyapu arena yang beberapa saat lalu dipenuhi benturan pedang dan ledakan sihir. Murid-murid yang berdiri di pinggir lapangan masih membeku, belum sepenuhnya mencerna apa yang baru saja terjadi.
Di tengah lapangan Elara Ravens berdiri dengan tubuh yang nyaris tidak mampu tegak.
Seragam akademinya robek di beberapa bagian. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Napasnya berat, dan dunia di sekelilingnya terasa berputar.
Namun yang membuatnya terpaku bukan rasa sakit itu. Melainkan sosok yang kini berdiri di depannya.
Seorang pria tinggi dengan rambut pirang yang berkilau di bawah sinar matahari.
Aura sihir pria itu begitu kuat hingga udara terasa berat.
Pedang Leonhart berhenti tepat di depan pria pirang itu, tertahan oleh satu tangan sang pria.
Elara berkedip beberapa kali.
Suara serak keluar dari bibirnya. "Aaron?"
Sang empunya nama itu menoleh.
Aaron Oberyn.
Ketua Student Council Akademi Oberyn.
Tatapan mata Aaron yang dingin langsung melembut sekejap saat melihat Elara.
Namun perubahan itu hanya berlangsung sepersekian detik.
"Lala?"
Ekspresi Aaron langsung berubah menjadi sangat marah ketika ia melihat kondisi Elara.
Tubuh gadis itu penuh luka.
Seragamnya berdebu.
Dan darah masih menetes dari pelipis dan tangannya.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Elara.
Aura sihir di sekitar Aaron langsung berubah ketika melihat keadaan Elara. Ia tidak menjawab pertanyaan Elara dan justru tenggelam dalam perasaan marah.
Langan menjadi sangat dingin.
Sangat berbahaya.
Aaron menoleh kembali ke arah Leonhart. Tatapannya seperti pisau yang siap mengiris.
Leonhart, yang sejak tadi masih menekan pedangnya, tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Aaron tidak mengucapkan rapalan apa pun.
Namun mana berkumpul di tangannya.
Cepat.
Sangat cepat.
Lalu ...
BOOM!
Gelombang sihir meledak dari telapak tangan Aaron.
Leonhart bahkan tidak sempat bereaksi. Tubuhnya langsung terlempar keluar lapangan.
"UGH!" ringis Leonhart.
Pria besar itu menghantam dinding batu di pinggir arena dengan suara keras. Darah keluar dari mulutnya ketika punggungnya terhantam.
Debu beterbangan.
Beberapa murid berteriak kaget.
Suasana berubah menjadi sangat tegang.
Aaron tidak berhenti. Ia kembali mengangkat tangannya. Mana berputar di telapak tangan Aaron seperti pusaran kecil yang menakutkan.
Lalu pria itu berjalan menuju Leonhart. Langkahnya tenang. Namun setiap langkahnya terasa menekan seluruh lapangan.
Leonhart yang masih tergeletak di tanah langsung merasakan ketakutan yang jarang ia rasakan.
Sang Ketua murka.
Dan semua orang tahu ... Aaron yang marah adalah mimpi buruk bagi siapa pun.
Bahkan bagi anggota Student Council.
Bahkan bagi para guru.
Aaron berhenti beberapa langkah di depan Leonhart. Tatapannya dingin.
"Apa yang pernah aku katakan tentang jangan berduel sembarangan, Leon?" ujar Aaron dingin dan tajam.
Suara Aaron rendah. Namun setiap kata terdengar seperti palu yang menghantam dada.
Leonhart menelan ludah.
"Dan terlebih lagi," Tatapan Aaron semakin tajam. "kau berduel dan menyakiti anak baru padahal kau adalah Student Council yang seharusnya menaungi dan melindungi murid-murid lainnya."
Leonhart memucat. Ia belum pernah melihat Aaron semarah ini.
"Maafkan aku, Ketua," suara Leonhart tidak lagi arogan seperti sebelumnya "Aku hanya penasaran dengannya saat aku dengar dia putri dari kesatria legendaris di Aurelius."
Aaron tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.
"Penasaran?" tanya Aaron. Matanya menyipit. "Itu tetap tidak membenarkan tindakanmu."
Aaron mengangkat tangannya sedikit.
Tanpa usaha.
Tanpa emosi.
Namun sihir di tangannya meledak.
BOOM!
Leonhart kembali terlempar. Tubuhnya menghantam tanah dengan keras.
Aaron bahkan tidak terlihat berusaha. "Kau akan menerima hukuman setelah ini. Karena berani melukai anak baru."
Tatapan Aaron semakin gelap lalu menambahkan, "Dan karena mau sudah menyentuhnya."
Leonhart menggigil.
Namun sebelum Aaron sempat bergerak lagi ...
Suara panik terdengar dari lapangan.
"Elara!"
"Anak baru!"
Aaron langsung menoleh.
Matanya membelalak.
Di tengah arena Elara tumbang. Tubuhnya jatuh ke tanah seperti boneka yang talinya terputus.
Aaron menghilang.
WHOOSH!
Dalam sekejap Aaron sudah berada di depan Elara. Ia langsung menangkap tubuh gadis itu sebelum kepalanya menghantam tanah.
"Elara?!" Aaron panik ketika melihat gadis itu tidak sadarkan diri.
Napas Elara lemah. Matanya tertutup.
Aaron merasakan jantungnya berdetak sangat keras akan rasa khawatir.
Tanpa ragu Aaron mengangkat tubuh Elara dalam pelukannya.
Mana berkumpul di sekelilingnya.
Ruang di sekitarnya bergetar.
Dan ...
FLASH!
Keduanya menghilang dari lapangan.
Beberapa detik kemudian ...
Cahaya teleportasi muncul di dalam ruang kesehatan akademi.
Seorang wanita paruh baya yang sedang menyusun botol ramuan langsung menoleh.
"Eh?"
Cahaya itu menghilang.
Dan Aaron berdiri di sana.
Dengan Elara di kedua tangannya.
Wanita itu langsung terkejut.
"Aaron?!" Mata wanita itu membesar ketika melihat kondisi Elara. "Apa yang terjadi?!"
Aaron berjalan cepat ke arah ranjang. "Leon melakukan duel lagi. Kali ini korbannya gadis ini, Bu."
Wanita itu langsung mengerutkan kening. "Leon lagi? Cepat, baringkan dia di sini!"
Aaron menuruti..Ia menurunkan Elara dengan sangat hati-hati di atas kasur.
Wanita itu mengangkat tangannya.
Sihir penyembuhan hijau lembut langsung menyelimuti tubuh Elara..Cahaya itu meresap ke dalam luka-lukanya.
Wanita itu bernama Henna. Guru penjaga ruang kesehatan akademi. Salah satu penyihir penyembuh terbaik di akademi.
Henna menghela napas sambil terus mengobati Elara.
"Si Leon itu selalu saja membuat murid lain terluka seperti ini," omel Henna. Tangannya bergerak cepat menutup luka-luka di tubuh Elara.
"Kali ini dia mungkin harus diberi hukuman berat. Aku akan melaporkan ini kepada Profesor Garrick agar dia mendapat hukuman," lanjut Henna. Ia menatap Aaron.
Aaron terus menatap Elara dengan tubuh penuh lukanya.
"Bagaimana bisa dia melukai seorang gadis seperti ini. Terlebih anak baru dari kerajaan tetangga," kata Henna tak habis pikir.
Aaron hanya diam. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Elara.
Henna akhirnya selesai mengobati luka-luka besar. "Nah, sisanya hanya luka ringan. Dia hanya kelelahan dan kehabisan mana," katanya.
Aaron mengangguk. "Aku akan tetap di sini menjaganya."
Henna melirik Aaron. Lalu tersenyum kecil. "Baiklah. Tapi jangan ganggu dia istirahat. Aku akan menemui Profesor Garrick."
Aaron mengangguk.
Henna berjalan menuju pintu keluar.
Aaron duduk di kursi di samping tempat tidur.
Ruangan menjadi sunyi.
Pria itu memegang tangan Elara. Tangan Elara hangat. Namun tubuh gadis itu masih lemah.
Aaron menatap wajah gadis itu lama.
"Kau membuatku hampir kena serangan jantung saat aku mendengar kau berduel dengan Leon, Lala. Untung aku tidak terlambat saat salah satu murid datang memberitahuku tentang duel itu," ucap Aaron.
Aaron duduk di sana.
Menunggu.
Menunggu.
Waktu berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Cahaya matahari mulai berubah warna.
Sampai jari Elara akhirnya bergerak juga.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜