NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Sentuhan Tak Sengaja

Bab 22: Sentuhan Tak Sengaja

Jalanan Lintas Sumatera yang menghubungkan Tanjungbalai dan Kisaran memang terkenal dengan "kejutan-kejutan" kecilnya. Aspal yang mengelupas, tambalan yang tidak rata, hingga truk-truk bermuatan sawit yang sering berhenti mendadak demi menghindari lubang sedalam kawah. Di dalam bus ekonomi yang sudah berumur ini, variabel-variabel jalanan tersebut adalah penentu takdir bagi kenyamanan penumpangnya.

Rafi masih mematung. Tubuhnya kaku, bahu kirinya hanya berjarak sekian milimeter dari kening Nisa yang sedang terlelap. Ia menahan napas, berusaha agar pergerakan paru-parunya tidak menciptakan gesekan yang bisa membangunkan gadis itu. Baginya, momen hening ini adalah sebuah pencapaian diplomatik yang rapuh.

Namun, realitas jalanan Sumatera tidak mengizinkan momen romantis bertahan terlalu lama.

Tepat saat bus melaju di area perkebunan yang jalannya agak menurun, sebuah sepeda motor tiba-tiba memotong jalur dari arah semak-semak.

Supir bus, dengan insting yang sudah terlatih menghadapi kekacauan jalanan, langsung menghantam pedal rem dengan kekuatan penuh.

CIIIIIIEEEEEEEEETTTTT!

Suara gesekan ban dengan aspal panas memekakkan telinga. Seluruh kabin bus berguncang hebat. Gaya inersia melempar tubuh para penumpang ke arah depan secara serentak.

Penumpang di baris depan berteriak, dan bapak paruh baya di sebelah kanan Rafi nyaris terjatuh dari kursinya.

Bagi Nisa yang sedang berada dalam tidur lelap, sentakan ini adalah sebuah guncangan fisik yang kasar. Tubuhnya yang ringan terdorong ke samping dengan sangat cepat.

Rafi, yang sudah dalam mode waspada sejak Bab 21, bereaksi secara insting. Ia tidak memikirkan lagi soal protokol kemeja bau matahari atau rasa mindernya. Ia segera merentangkan lengan kirinya untuk menyangga tubuh Nisa agar tidak menghantam sandaran kursi besi di depan mereka, sementara tangan kanannya secara refleks mencengkeram pinggiran jok untuk menyeimbangkan tubuhnya sendiri.

Namun, gravitasi lebih kuat dari antisipasi Rafi.

Tubuh Nisa yang miring justru terjatuh sepenuhnya ke arah Rafi. Kepalanya mendarat tepat di bahu Rafi, dan tangan Nisa—mungkin karena mencari pegangan dalam kondisi setengah sadar—mencengkeram erat lengan kemeja flanel Rafi.

Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, bus itu berhenti total di tengah kepulan debu. Hening sesaat. Hanya suara napas terengah-engah dari para penumpang yang terdengar.

Rafi bisa merasakan beban kepala Nisa di bahunya. Ia bisa merasakan kehangatan telapak tangan Nisa yang meremas lengannya. Dan yang paling membuat sarafnya seolah tersengat listrik tegangan tinggi: jari-jari mereka bersentuhan. Kulit punggung tangan Rafi bergesekan langsung dengan jemari Nisa yang halus.

ZAP.

Sebuah sensasi "setruman" kecil merambat dari titik sentuhan itu, menjalar ke lengannya, naik ke jantungnya, dan berakhir di kepalanya sebagai ledakan adrenalin. Secara biologis, ini adalah reaksi kimiawi sederhana. Namun bagi Rafi, ini adalah kontak fisik paling intim yang pernah ia alami dalam sejarah hidupnya sebagai siswa SMA marginal di Tanjungbalai.

Nisa tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, penuh keterkejutan. Ia segera menyadari posisinya: ia bersandar di bahu Rafi, tangannya mencengkeram lengan Rafi, dan mereka sangat dekat.

"Eh... maaf! Maaf, Rafi!" Nisa segera menarik dirinya menjauh, kembali tegak ke posisi duduknya. Wajahnya yang tadi memerah karena panas, kini berubah menjadi merah padam karena malu. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan gerakan gugup.

Rafi pun tidak kalah kacau. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya terdengar sampai ke telinga Nisa. "Enggak... nggak apa-apa, Nis. Tadi supirnya ngerem mendadak. Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?"

Nisa menggeleng cepat, matanya menatap ke bawah, ke arah tas kecilnya. "Nggak, aku cuma kaget aja. Makasih ya... tadi sudah nahan."

Rafi hanya bisa mengangguk kaku. Ia melirik tangannya yang tadi bersentuhan dengan Nisa.

Sensasi hangat itu masih tertinggal di sana, seolah-olah kulitnya menyimpan memori tentang kelembutan tangan Nisa. Ia merasa tangannya kini menjadi "keramat" dan ia tidak ingin mencucinya jika tidak terpaksa.

Secara analitis, kejadian ini telah meruntuhkan tembok kecanggungan yang sejak tadi ia bangun, namun sekaligus menciptakan ketegangan baru yang lebih elektrik. Tidak ada lagi obrolan tentang tugas sekolah atau cuaca. Yang tersisa hanyalah kesadaran fisik yang sangat tajam di antara mereka berdua.

Rafi kembali memegang buku catatannya, mencoba mengalihkan perhatian dengan mengipasi Nisa lagi, meski tangannya sedikit gemetar.

"Dikit lagi sampai kok, Nis," kata Rafi, mencoba menenangkan suasana.

"Iya," sahut Nisa singkat.

Nisa tidak kembali menyandar ke jendela. Ia duduk tegak, namun Rafi menyadari bahwa posisi duduk Nisa kini sedikit lebih condong ke arahnya—mungkin tidak sengaja, atau mungkin karena merasa lebih aman berada di dekat "penyangga" hidupnya tadi.

Rafi meraba dompet di saku belakangnya melalui kain celana jinsnya. Sentuhan tak sengaja tadi seolah memberinya suntikan energi tambahan. Ia merasa uang 315 ribu di dalam dompet itu kini memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar angka. Uang itu telah membawanya ke momen ini.

Momen di mana ia, si anak yang makan nasi garam di pojok kelas (Bab 2), bisa menjadi pelindung bagi gadis impiannya.

Bus mulai kembali bergerak perlahan. Supir bus mengumpat dalam bahasa daerah, menyalahkan pengendara motor tadi. Kebisingan mesin kembali memenuhi kabin, namun bagi Rafi, semuanya terasa seperti latar belakang yang kabur.

Fokusnya hanya tertuju pada titik di mana bahunya dan bahu Nisa kini hanya terpisah oleh jarak setebal udara tipis.

Ia tahu, perjalanannya ke Kisaran tinggal beberapa kilometer lagi. Namun, sentuhan singkat tadi telah mengubah segalanya. Ia bukan lagi sekadar Rafi yang takut uangnya jatuh; ia adalah Rafi yang baru saja merasakan sensasi dunia luar yang indah, yang hanya bisa didapatkan jika ia berani keluar dari zona nyamannya.

Rafi menatap lurus ke depan, dengan senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan, sementara Nisa sesekali mencuri pandang ke arah bahu Rafi, seolah memastikan bahwa tempat ia bersandar tadi benar-benar nyata dan bukan bagian dari mimpinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!