NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Tawuran

Kebekuan masih menyelimuti Oliver, Fattah dan Aqqela. Sementara di dekat mereka tawuran antara dua kubu geng besar masih terjadi.

Tenggorokan Oliver tercekat, hingga untuk memanggil namanya saja, Oliver kesulitan.

Aqqela Calista...gadis yang selama ini dia cari, kini berdiri tak jauh darinya.

BUGH!!

"Akh!"

Semua orang terhenyak kaget saat Fattah melayangkan pukulan keras ke rahang Oliver, membuat cowok itu meringis-sampai lupa jika sedang tawuran.

"Brengsek!" Oliver melayangkan pukulan balik, tidak kalah keras.

Oliver menoleh ke gadis itu lagi, "AQQELA!"

Anak-anak terbelalak syok-reflek menolehkan kepala bersamaan ke Aqqela yang masih terpaku diam.

"Aqqela, ini aku Oliver!" Dia mengangkat tangannya berharap Aqqela melihatnya.

Bening yang menumpuk di pelupuk mata Aqqela akhirnya menetes.

Teman-temannya sampai membekap mulut, menatap itu tak percaya walau selebihnya bingung.

Aqqela kok kenal ketua Xlovenos?

"Aqqela, masuk!" seru Fattah lantang sambil menarik kerah Oliver saat dia hendak beranjak mendekati Aqqela-

BUGH!!

-di detik selanjutnya, Fattah melayangkan tinjuan keras ke sudut bibir Oliver sampai tersungkur.

"Oliver!" pekik Natusa kaget.

"Aqqela, masuk gue bilang!" bentak Fattah.

"ANJING!" Oliver kembali memukul muka Fattah dengan kepalan tangannya.

"Fattah, udah!" jerit Aqqela panik melihat apa yang hendak Fattah lakukan ke Oliver.

BRUGH!!

Tubuh Oliver menabrak keras gerbang.

Teriakan histeris muncul dari bibir para siswa yang menonton, melihat kekalapan Fattah.

Oliver mengerang kesakitan-berusaha berdiri dan menatap Aqqela di depannya hanya di pisahkan oleh gerbang sekolah.

"Aqqela? I-ini kamu? Ini bener-bener kamu, kan?" tanya Oliver serak.

Tangis Aqqela langsung tumpah di sana. Dia mengangguk cepat, tidak sanggup menahan sakit di dadanya melihat wajah babak belur Langit seakan mengeroyoknya.

"GUE BILANG MASUK, YA MASUK!" sentak Fattah pada Aqqela sambil menarik kerah Oliver.

"Lepas anjing! Gue cuma mau ketemu cewek gue," balas Oliver nyalang.

Kepanikan Aqqela menjadi-jadi saat beberapa anggota LEVIAN mendekat-tanpa komando Fattah-ikutan menyerang Oliver bertubi-tubi.

"Fattah, stop! Jangan di terusin!" teriak Aqqela histeris.

Panik, Aqqela langsung menggeser pintu gerbang, ingin keluar.

"Loh-loh, eh? Ehh Qell! Aqqela! Aduh mampus," kata Catu cemas.

Aqqela berlari menghampiri Oliver. Syok melihat kekalapan Fattah di sana-dengan napas Oliver memburu kewalahan karena serangan Fattah.

Fattah memandang Oliver tajam, "Udah gue bilang, elo jangan cari mas-"

PLAK!!

Fattah membelalak saat tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Pun dengan orang-orang yang menonton terkejut kompak.

"LO NGERTI STOP NGGAK, SIH? GILA LO YA KEROYOK ANAK ORANG," bentak Aqqela mendorong dadanya kasar.

Tatapan Fattah yang semula tajam, perlahan mulai melunak saat tatapan keduanya bertemu.

Mata Aqqela memerah, menatapnya dingin, "Please, jangan lebih memuakkan dari Fattah yang gue kenal!"

Tenggorokan Fattah tercekat mendengar penuturan menyakitkan gadis ini.

Aqqela berjongkok di depan Oliver yang babak belur.

"Kamu nggak papa, kan? Mana yang sakit?

Bilang sama aku!" tanyanya bergetar sambil memegang kedua pipi Oliver.

Pemuda itu meraih tangan Aqqela di pipinya-berharap bukan mimpi.

Kelopak mata Oliver menyendu, "Kamu kemana aja, sih? Aku capek nyariin kamu selama ini..." katanya serak.

Tangis Aqqela langsung tumpah di sana dengan isakan keras, sebelum akhirnya tubuhnya di peluk oleh Oliver.

"Aku kangen banget sama kamu!" bisik Oliver.

"Maaf, ya!" kata Aqqela lirih.

Fattah mengalihkan wajah dari dua orang yang berpelukan itu. Entah apa yang salah, perasaannya terasa remuk redam sekarang.

"Sakit?" tanya Aqqela cemas menyentuh sudut bibir Oliver yang sobek kecil.

Oliver meringis kecil, "Nggak papa. Ini udah biasa."

Rahang Fattah mengeras begitu saja, merasa tersinggung dan marah.

"Aqqela, udah! Balik ke kelas sekarang," perintah Fattah tegas.

"Nggak mau." Aqqela menggeleng.

Fattah menarik paksa tangan Aqqela membuat semua orang tersentak.

"BALIK GUE BILANG!"

"Gue bilang nggak mau ya nggak mau.

Lepasin!" bentak Aqqela menghempas tangan Fattah kasar.

Aqqela meronta dan kembali mendekati Oliver yang sudah tak bertenaga.

"Aqqela, lo balik atau Oliver gue pukul lagi?" ancamnya serius.

Aqqela menggeleng, "Udah-udah, jangan di pukul lagi! Gue mohon!" katanya dengan tubuhnya gemetaran mendekap kepala Oliver untuk melindunginya.

Fattah menelan ludah tercekat.

Dia mengumpat dan maju menarik paksa tangan Aqqela.

"Ayo, ikut sama gue!"

"Nggak mau. Apaan, sih?! Gue nggak bisa ninggalin Oliver kalau dia luka parah kayak gini." Aqqela menepis tangan Fattah berkali-kali.

"Aqqela, gue nggak suka ya lo nggak nurut kayak gini," kata Fattah marah.

Oliver susah payah berdiri, "Dia nggak mau ikut sama lo."

"Elo nggak usah ikut campur bangsat!"

"Dia cewek gue sialan," balas Oliver meradang.

Mereka hampir berkelahi lagi, kalau anggota LEVIAN dan XLOVENOS tidak maju menahan-nahan keduanya.

"OLIV WOI ASTAGA!" Jimmy menarik tangan Oliver mundur.

"BOS, NYEBUT BOS! ASTAGHFIRULLOH," kata Noel menahan tangan Fattah.

"Kontrol emosi lo! Biarin aja mereka. Oliver emang pacarnya. Nggak bisa lo paksa Aqqela kayak gitu Fatt," tegur Jefan.

"Tapi dia-" Fattah menelan ludah tercekat, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Aqqela membantu Oliver dan menaruh lengannya ke bahu Aqqela.

"Ayo ikut, itu lukanya harus di obatin!" kata Aqqela pelan.

Oliver mengulum bibir dan mengangguk.

Lalu melangkah di bantu Aqqela serta para anggotanya menyusul.

Fattah kali ini diam, dengan raut wajah sulit di artikan. Terlihat marah, tersinggung atau kecewa-mungkin.

Dia merasa benar-benar habis dan kalah sekarang.

"Padahal gue juga luka-luka. Kenapa cuma dia yang lo peduliin?"

Matthew mengusap bahu Fattah.

"Kita masuk aja yuk, bos!" katanya tak tega.

Fattah mengangguk pelan dan melangkah memasuki sekolah, di susul anggota LEVIAN lainnya.

***

Lima puluh anggota XLOVENOS terlihat memenuhi area warung belakang sekolah SMA Taruna Jaya Prawira-mpok Lastri, setelah sebelumnya mereka menitipkan motor di sini.

Di sana, mereka sibuk saling mengobati muka anggota satu sama lain. Beberapa malah asik menikmati kopi sambil merokok.

"Awh, pelan-pelan dong! Sakit banget ini."

Oliver meringis saat lukanya di obati oleh Aqqela.

"Ck, ya kamu tahan lah kalau sakit. Lagian ngapain sih berantem segala, sampai bela-belain ke Jaksel?"

"Ya biasa lah Qell, namanya aja cowok jantan," kata Jimmy membela sambil memakai plester luka di bawah dagu, di bantu oleh Diego yang memegangi HP sebagai cermin.

"Elo nih pasti yang kompor-komporin Oliver buat tawuran," omel Aqqela.

"Weisss sorry! Anak Levian duluan tuh yang mancing-mancing, karena udah bakar logo geng kita. Harga diri dong bu bos," kata Jimmy tak terima.

Aqqela mendecih, lalu menoleh ke Oliver sengit, "Kamu juga. Bisa nggak, berhenti tawuran nggak guna gitu??" omelnya sambil mengoleskan salep ke tulang pipi Oliver.

"Yang, kamu jangan nafsu banget dong

ngobatinnya! Kelihatan banget kalau nggak ikhlas. Ck, sakit beneran," kata Oliver kesal-serupa rengekan.

Aqqela merenggut dan meniup-niup sudut mata Oliver, membuat cowok itu menahan senyum.

"Gimana? Masih sakit?"

Raut wajah Oliver sok memelas lagi, "Perih..."

Aqqela mendelik sepenuhnya, "Terus aku mesti gimana? Udah di tiup-"

"Di cium, dong! Masa nggak peka?" gerutu Oliver kesal, membuat semua anggota Xlovenos reflek mengumpat karena kelakuan bos mereka.

СТАК!!

"Awh," ringis Oliver saat kepalanya di jitak keras oleh Aqqela.

"Jangan sok jagoan lagi! Kamu pikir keren?"

"Ya keren, lah. Siapa coba yang nggak mau di jadiin pacar ketua Xlovenos?" kata Diego cepat.

"Bacot!" kata Aqqela, membuat Diego kiceр.

"Kalau aku nggak tawuran di sini, mana mungkin aku bisa tau kalau kamu ada di Jakarta Selatan?"

Aqqela mengatupkan bibir, saat raut wajah Oliver berubah serius.

"Bisa jelasin sama aku, kenapa kamu hilang, nggak bisa di hubungin dan tiba-tiba udah ada di Jakarta Selatan terus masuk ke sekolah ini?"

"A-aku..." Aqqela menggerakkan bola mata berpikir.

Ayo alasan...alasan...

"Aku...dapat beasiswa di sini. Iya, aku dapat beasiswa." Aqqela mengangguk dengan yakin.

"Beasiswa?" Alis Oliver terangkat sebelah.

"Iya. Why?"

"Sejak kapan dapat tawarannya? Kok aku nggak tau? Nggak mungkin secara tiba-tiba, kan? Kenapa kamu nggak ngomong dulu sama aku?"

"Itu...aku bingung jelasin ke kamu, takut kamu nggak bolehin. Aku juga ambil ini karena papa nggak ada. Aku nggak tau gimana caranya bayar uang sekolah. Makanya beasiswa ini baru aku terima. Alasan aku nggak hubungi kamu setelah di sini, HP aku ilang, aku belum sempat beli baru," katanya menjelaskan.

"Kamu anggap aku apa, sih? Kenapa soal uang aja kamu mikir berat gitu? Kamu punya aku, Qell."

Aqqela mengulum bibir dengan helaan napas pelan.

"Aku nggak suka ngerepotin orang."

"Aku pacar kamu, bukan orang lain. Tau nggak, aku marah waktu aku tau kamu kerja di club."

Aqqela membulatkan mata, "Kamu tau?"

"Hm, i know. Jimmy sama lainnya yang kasih info. Aku juga tau kamu tinggal di kos sendirian. Aku sempat ke club dan kos buat cari kamu. Tapi kamu nggak ada."

Aqqela tertegun karena itu.

"Aku panik. Sampai aku mikir kalau kamu lagi kenapa-napa, apalagi setelah aku ketemu Adit brengsek itu."

"Ya?" Aqqela membulatkan mata.

"Bilang sama aku, dia mau apain kamu malam itu? Aku ketemu dia di club. Dia bilang kamu kabur dari apartemennya karena kamu nggak mau tidur sama dia. Aku hajar cowok bajingan itu habis-habisan."

Bulir bening tanpa sadar jatuh ke pipi Aqqela, membuat Oliver tersentak.

"Qell, dia beneran belum sempat apa-apain kamu, kan? Kalau iya, aku yang bakalan bunuh dia," kata Oliver tegas.

"Belum. Aku kabur duluan dan pukul dia. Itu gara-gara aku di jebak sama temen aku. Jangan marah!"

Langit menghembuskan napas lega, lalu maju mendekap tubuh Aqqela.

"Iya, nggak marah. Maaf ya, aku bego banget jadi cowok karena nggak tau apa-apa."

Aqqela mengangguk pelan di dalam pelukan Oliver.

Pemuda itu melepaskan pelukan dan menangkup wajah Aqqela sambil menghapus air mata di pipinya.

"Aku boleh minta satu hal?" Oliver mencium kening Aqqela cukup lama, lalu menempelkan hidung mereka.

"Apa?"

"Kita pulang, ya! Ke Jakarta Pusat. Aku janji bakalan rawat kamu. Kamu nggak usah susah-susah cari kerja," pintanya lembut, membuat Aqqela terpaku diam.

Pu-pulang?

"Nah, itu pak mereka!"

Anak-anak XLOVENOS menoleh kaget dan terkejut melihat barisan polisi kini mendekati mereka.

Tidak ada celah untuk kabur, sehingga mereka hanya diam.

Sialan anak Levian. Mereka pastinya nggak mau tertangkap sendirian.

"Ayo ikut kami! Tawuran terus kalian," kata polisi galak.

"Siapa ini ketuanya?"

Oliver mengangkat tangan polos, "Saya, pak!"

"Ayo, sini! Pimpin teman-teman kamu. Dasar bandel!" kata polisi menjewer telinga Oliver.

Aqqela mendesah berat dan reflek mengikuti mereka.

***

Seluruh anggota XLOVENOS dan LEVIAN di kumpulkan menjadi satu di lapangan outdoor SMA Taruna Jaya. Termasuk Oliver dan Fattah yang duduk di lantai lapangan, dengan wajah babak belur semua.

Para guru-guru berkumpul bersama satuan para polisi yang memberikan peringatan tegas untuk mereka.

Bahkan beberapa guru SMA Starlight turut di datangkan siang itu.

Karena kejadian itu, seluruh kelas jam kosong dan mereka segera berlarian di koridor kelas, menjadikan koridor penuh sesak oleh murid-murid yang kepo.

"Halo, cantik!" Noel dan Jimmy sempat-sempatnya tebar pesona yang di pelototi galak oleh pak Bondan.

"Kalian itu masih pada kecil-kecil. 17 tahun loh, waktunya sekolah yang benar, menuntut ilmu. Bukannya tawuran seperti ini. Mau jadi apa masa depan kalian, hah?" kata komandan polisi sambil memegang mikrofon.

Oliver dan Fattah saling melempar tatapan sinis.

Di pinggir lapangan, Aqqela berdiri bersama tiga teman barunya.

"Qell, gue beneran masih syok karena elo ceweknya Oliver," kata Vania.

"Sama anying. Gue nggak nyangka cewek pinter kayak dia berurusan sama pentolannya Starlight," kata Aya.

"Pacaran sejak kapan, Qell?"

"Udah lumayan lama," balas Aqqela sambil memandang Fattah dan Oliver bergantian.

Oliver sendiri menoleh ke samping. Merekah melihat Aqqela melihatnya, membuat dia melambai riang.

Tapi Aqqela justru mengangkat kepalan tangannya mengancam, membuat Oliver menciut dan berlagak melihat depan.

"Oliver, bukannya dengerin saya ngomong, malah caper ke pacarnya," bentak polisi galak, membuat Oliver terlonjak kaget.

Fattah diam. Kepalanya menunduk, mencoba meredamkan emosinya saat melihat interaksi Aqqela dan Oliver, yang berhasil membuat satu lapangan terkekeh gemas.

"Hadeh, sempat-sempatnya mikirin buat nge-bucin. Nggak ada akhlak emang," celatuk Noel.

Oliver menoleh galak, "Terus gue mikirin apa anjir? Gigi lo? Itu lebih nggak guna."

Komandan polisi berkacak pinggang, "Heh, sudah-sudah! Malah ribut lagi kalian. Awas aja ya, kalau sampai hal ini terulang lagi, bukan peringatan saja yang kami berikan, tapi kami akan menindak tegas dengan memasukkan kalian ke sel tahanan. Paham?"

"Paham, pak." Mereka menjawab kompak.

"Ayo, squat jump semuanya! 100 kali. Tangannya saling merangkul, jangan ada yang lepas!"

"100 kali? Pak, itu terlalu sadis," kata Jimmy sungguh-sungguh.

"Pak, anak Xlovenos tuh yang nantangin duluan," adu Madhava.

"Levian yang bakar logo kita duluan anjir," sewot Jimmy tak terima.

"Bulan lalu geng lo yang injak-injak logo Levian. Gantian, lah!" cerocos Noel ikutan.

"Ayo, cepetan! Nggak ada membantah," kata polisi tegas.

"Udah lah, guys! Kita di mata polisi mau membela diri kayak apapun tetap salah. Kita udah jelek banget di mata mereka," kata Diego sudah drama.

"Bagus sadar diri. Ayo merapat, langsung squat jump seperti yang saya suruh. Saling rangkulan!"

Fattah dan Oliver yang kebetulan duduk sebelahan saling melempar pandang, lalu kompak melengos.

"Mat, pindah!" suruh Fattah menarik lengan Matthew agar di samping Oliver.

"Jim, tuker tempat," kata Oliver.

"Heh, nggak ada pindah-pindah! Fattah, Oliver, balik ke posisi awal! Para bos-nya harus saling merangkul untuk menciptakan perdamaian dunia yang sesungguhnya."

Keduanya berdecak kompak, tapi tetap menurut. Walau tidak sudi sebenarnya, mereka tetap saling merangkul.

PRITTTTT!!!

Mereka mulai melakukan squat jump sambil berhitung kompak.

"FATTAH, TANGAN KAMU JANGAN TURUN DARI BAHUNYA OLIVER!"

"Oliver, itu kenapa natap Fattah sinis gitu! Jangan mulai ribut lagi ya kamu!" omel polisi wanita.

"Hitung yang keras!"

"DUA PULUH SATU, DUA PULUH DUA..."

"Jangan ada yang korupsi, ya! Awas kalau saya lihat ada yang nggak loncat."

"Pak, ini daftar nama-nama yang ikut tawuran hari ini, termasuk yang dari SMA Starlight," ujar Arsen-ketua OSIS menyerahkan map ke polisi.

"Siap, terimakasih, ya!"

Arsen langsung pamit pergi setelahnya, walau sempat melempar tatapan datar ke Fattah yang diam dan meneruskan hukumannya.

"Anak zaman sekarang, kelakuannya benar-benar nggak ada adab. Dulu ya, zaman saya masih sekolah, nggak ada tuh murid se-bandel kalian ini."

"Demi pantat ayam, gue nggak nanya," sungut Oliver, membuat Fattah melirik sinis, "Apa lihat-lihat?"

"Elo yang apa?"

"HEH, MASIH AJA YA KALIAN!"

Fattah dan Oliver berteriak kaget saat telinga mereka di jewer bersamaan.

"Pffffttt!!" Jimmy dan Noel terkikik pelan.

"WADOH!" teriak Noel saat telinganya ikutan di jewer juga.

"Apa kamu ngetawain temen kamu gitu? Lucu?" omel pak Bondan.

"Lah, kok saya aja pak yang di jewer? Jimmy juga ikutan. DISKRIMINASI MACAM APA INI?" katanya drama.

"Halah, lebay kamu."

Jimmy tersenyum miring, merasa senang, "El, Noel, sakit nggak? Kasihan deh di jewer," ledeknya membuat Noel mengumpat.

Selesai melaksanakan hukuman, para polisi meminta mereka untuk bubar dan murid-murid SMA Starlight di minta untuk meninggalkan sekolah ini.

Fattah melangkah keluar lapangan bersama teman-temannya lebih dulu. Sambil berjalan, dia mengusap pelan luka di sudut bibirnya yang pecah dengan ibu jarinya.

Namun langkahnya terhenti saat hendak melewati Aqqela yang masih berdiri di pinggir lapangan.

Aqqela sampai mendongak karena tinggi mereka lumayan kontras dan saling menukar pandangan.

Sorot mata Fattah begitu dingin dan tidak bersahabat, sebelum akhirnya dia memilih pergi tanpa mengatakan apa-apa, di susul anggota Levian yang lainnya.

"Sayang!" panggil Oliver mendekat, membuat Aqqela menoleh.

"Ayo ikut aku bentar!" katanya menarik tangan Aqqela pergi membuat tiga teman Aqqela melebarkan mata terpana.

"Oliver ganteng banget anjrot," kata Aya paling heboh.

"Dewa banget gantengnya," bisik Vania mulai fangirling-an.

Fattah yang melihat Oliver berlari kecil melewatinya sambil bergandengan tangan bersama Aqqela, hanya bisa menghela napas berat, mencoba menenangkan diri.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!