sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: JALAN KE JURANG
Kabut hitam menyebar seperti wabah.
Dari celah-celah batu, dari retakan lantai, dari pori-pori dinding—ia merembes keluar, memenuhi ruang bawah tanah dengan cepat. Udara berubah berat, pekat, sulit dihirup. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pasir.
Aldric meraih tangan Elara, menariknya mendekat. "Kita harus keluar. Sekarang!"
Sera menggendong Ren yang batuk-batuk, wajahnya pucat. Anak itu meronta, mencoba menghirup udara bersih yang tidak ada.
Dari lorong-lorong, suara jeritan mulai terdengar—para penjaga, para prajurit, mungkin juga pelayan yang terjebak. Kabut itu tidak hanya mengaburkan pandangan, tapi juga merusak pikiran. Aldric bisa merasakan bisikan-bisikan di kepalanya—suara Kael, suara Malak, mencoba memengaruhinya.
"Kau bisa menyerah... tinggalkan mereka... selamatkan dirimu sendiri..."
Ia menggertakkan gigi. Tidak.
Dengan Soulrender terhunus, ia memimpin mereka menyusuri lorong bawah tanah. Pedang itu bersinar redup—mungkin bereaksi terhadap kabut, mungkin memberi petunjuk arah. Yang jelas, bilah hitamnya memotong kabut seperti pisau panas membelah mentega.
"Ke kiri!" teriaknya di atas deru jeritan.
Mereka berlari. Elara tersandung beberapa kali, tapi terus bangkit. Sera terengah-engah dengan Ren di gendongannya. Aldric membuka jalan, membabat apa pun yang mencoba mendekat—bayangan-bayangan kabut yang mulai terbentuk menjadi monster-monster kecil.
Akhirnya, setelah apa yang terasa seperti berjam-jam, mereka mencapai pintu besi yang dikenalinya. Pintu keluar menuju sistem pembuangan.
Aldric mendorongnya—terbuka. Udara segar menyembur, mengusir kabut. Mereka keluar satu per satu, terhuyung-huyung ke tepi sungai.
Di luar, pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Langit—yang tadi cerah—kini berubah kelabu. Bukan mendung, tapi kelabu pekat seperti kabut yang sama menyebar ke seluruh penjuru. Matahari tertutup, hanya piringan redup yang samar terlihat. Burung-burung berteriak kacau, terbang tanpa arah. Dari arah kota, suara ledakan dan jeritan massa terdengar sayup.
Dunia sedang sekarat.
"Kael... Malak... mereka mulai menghancurkan semuanya," bisik Elara.
Aldric mengepalkan tangan. Soulrender di tangannya bergetar—mungkin marah, mungkin lapar.
Sera menurunkan Ren yang terbatuk-batuk. Anak itu akhirnya bisa bernapas lega, wajahnya mulai membaik. Tapi matanya—matanya menatap ke arah istana dengan ekspresi aneh.
"Om," katanya, "Varyn bilang... kita harus cepat. Yang ketiga sudah bangun."
Aldric menoleh. "Apa?"
"Dia bilang... namanya... Abaddon the Desecrator. Dia bangun di utara."
Malapetaka bertambah.
Mereka beristirahat beberapa menit, memulihkan tenaga. Aldric memeriksa Soulrender—pedang itu terasa hangat di tangannya, seperti makhluk hidup. Batu merah di gagangnya masih menyala, tapi tidak seterang tadi.
Mungkin sudah tidak aktif. Atau mungkin sedang menunggu.
"Kita harus ke jurang," katanya. "Varyn satu-satunya yang bisa melawan mereka."
"Tapi jurang di bawah istana," kata Elara. "Bagaimana kita masuk? Istana sekarang penuh kabut dan mungkin sudah dikuasai Kael."
Ren tiba-tiba bicara lagi, "Varyn bilang... ada jalan lain. Lewat kuil Penjaga."
Aldric mengerutkan dahi. "Kuil Penjaga? Itu di gunung—"
"Bukan yang itu." Ren menggeleng. "Yang lain. Di bawah sungai. Varyn bilang... di dasar sungai ada pintu masuk ke dunia bawah. Tapi harus lewat... lewat..."
Anak itu mengerutkan kening, mencoba mengingat.
"...lewat air terjun darah."
Air terjun darah.
Aldric memikirkannya keras-keras. Master Elian pernah menyebut sesuatu tentang "sungai bawah tanah yang mengalirkan darah iblis". Mungkin itu yang dimaksud.
"Di mana?"
Ren menunjuk ke hilir sungai. "Ke sana. Varyn bilang... tiga jam perjalanan."
Tanpa pikir panjang, Aldric memutuskan. "Kita pergi sekarang. Setiap detik berarti."
Mereka menyusuri tepi sungai, meninggalkan kota yang mulai kacau. Di belakang mereka, asap hitam membumbung tinggi—tanda bahwa kabut sudah mencapai pemukiman. Di depan, sungai mengalir tenang, seolah tidak peduli dengan kekacauan di sekitarnya.
Tiga jam perjalanan yang melelahkan. Kaki mereka pegal, perut lapar, tapi tidak ada yang berhenti. Ren bergantian digendong Sera dan Elara. Aldric terus memimpin, matanya tak lepas dari permukaan sungai.
Akhirnya, mereka melihatnya.
Air terjun—tapi bukan air biasa. Cairan merah pekat mengalir dari tebing tinggi, jatuh ke kolam di bawah dengan suara gemuruh. Di sekelilingnya, bebatuan hitam menghitam, seolah terbakar oleh cairan itu. Uap merah mengepul ke atas, menciptakan kabut aneh yang berkilauan.
Air terjun darah.
"Kita harus masuk ke sana?" Sera ketakutan.
Aldric mendekati kolam. Ia mencelupkan jari—cairan itu hangat, kental, tapi tidak melukai kulitnya. Mungkin hanya darah iblis, tidak berbahaya bagi setengah iblis sepertinya. Tapi untuk manusia...
Ia menatap Elara dan Sera. "Kalian bisa berenang?"
Bisa," jawab Elara mantap. Sera mengangguk meskipun ragu.
"Ren kuberikan padaku." Aldric menggendong anak itu. "Kalian berpegangan padaku. Jangan lepas."
Mereka terjun ke kolam darah.
Dunia berubah merah.
Di dalam kolam, pandangan terbatas—hanya beberapa sentimeter. Aldric berenang ke bawah, mencari dasar. Soulrender di tangannya bersinar terang, menerangi jalan. Di belakangnya, Elara dan Sera berpegangan pada pinggangnya, berenang sekuat tenaga.
Darah itu hangat, anehnya menenangkan. Tidak bau, tidak lengket seperti darah sungguhan. Hanya cairan merah yang terasa... hidup.
Setelah beberapa menit berenang ke bawah, dasar mulai terlihat. Bukan pasir atau lumpur, tapi batu hitam mengkilap. Dan di tengahnya, sebuah lubang—lingkaran gelap yang sepertinya menuju ke tempat lebih dalam.
Aldric menunjuk ke sana. Mereka menyelam lebih dalam.
Memasuki lubang itu seperti melewati selaput tipis. Tiba-tiba, mereka tidak lagi di dalam darah. Mereka jatuh—jatuh ke udara, ke dalam kegelapan yang hangat.
Buk!
Aldric mendarat di sesuatu yang empuk—jamur raksasa. Elara di sampingnya, Sera beberapa meter jauh. Mereka semua terbatuk-batuk, mengeluarkan cairan merah dari paru-paru.
Ren tertawa kecil. "Om, kita sampai!"
Aldric melihat sekeliling. Mereka berada di dalam gua besar, dengan dinding-dinding bercahaya biru dari jamur. Di kejauhan, suara familiar—raungan monster, teriakan makhluk, bisikan angin bawah tanah.
Dunia bawah.
Mereka kembali.
"VARYN!"
Teriakan Aldric menggema di seluruh gua. Tidak ada jawaban.
Ia berteriak lagi. "VARYN! AKU DATANG!"
Dari bayang-bayang, mata merah mulai bermunculan. Bukan satu, tapi puluhan. Anjing-anjing neraka—yang selamat dari pertempuran di gunung—mendekat dengan hormat. Mereka mengenali Aldric.
Tapi Varyn tidak muncul.
Ren tiba-tiba meronta di gendongan Sera. Matanya terpejam, tubuhnya menegang. Ketika terbuka, matanya merah menyala.
"Aldric." Suara Varyn dari mulut Ren. "Kau datang."
"Aku butuh bantuanmu. Kael dan Malak sudah bangkit. Abaddon juga. Dunia atas hancur."
"Aku tahu. Aku bisa merasakannya." Tubuh Ren—yang dikendalikan Varyn—menghela napas. "Tapi aku masih terperangkap. Mantra kakek buyutmu terlalu kuat."
"Aku akan menghancurkannya. Di mana kristal itu?"
"Di dasar jurang. Tempat pertama kau jatuh." Mata merah itu menatap Aldric tajam. "Tapi hati-hati. Kael tahu kau akan ke sini. Ia mungkin mengirim sesuatu."
"Biarkan. Aku tidak peduli."
"Kau akan peduli jika itu adalah orang yang kau cintai."
Aldric terdiam.
"Kael bisa memanipulasi pikiran. Ia bisa menggunakan Elara, Sera, Ren—siapa pun—untuk melawanmu." Varyn terdiam sejenak. "Kau harus siap untuk kemungkinan terburuk."
"Apa maksudmu?"
"Mungkin kau harus membunuh mereka."
Hening panjang.
Elara meraih tangan Aldric. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Kau tidak punya pilihan, Nona. Jika Kael mengendalikanmu, kau akan menjadi senjata paling mematikan baginya."
Aldric menggertakkan gigi. "Cukup. Aku tidak akan membunuh mereka. Aku akan cari cara lain."
Varyn—melalui Ren—tersenyum getir. "Kau masih manusia, Aldric. Itu kelemahanmu. Tapi mungkin juga kekuatanmu."
Mata Ren kembali normal. Anak itu lemas, pingsan kelelahan.
Sera memeluknya erat. "Dia tidak apa-apa?"
"Hanya lelah." Aldric membelai rambut Ren. "Kita harus bergerak. Ke dasar jurang."
Mereka berjalan melewati gua-gua bawah tanah yang familiar. Anjing-anjing neraka mengawal, memberi penerangan dan perlindungan. Makhluk-makhluk lain minggir ketakutan—mereka mengenali aura Aldric dan aroma Varyn pada Ren.
Perjalanan ke dasar jurang memakan waktu berjam-jam. Mereka melewati pasar bawah tanah yang sepi—para pedagang sudah mengungsi, tahu bahwa perang akan segera tiba. Mereka melewati sungai lava yang memanas—tanda bahwa dunia bawah juga tidak tenang.
Akhirnya, mereka tiba.
Dasar jurang. Tempat pertama Aldric jatuh.
Batu-batu hitam berserakan, bekas tubuhnya dulu. Di tengahnya, sebuah batu besar dengan ukiran rune—rune yang sama dengan pintu kuil Penjaga. Dan di atas batu itu, sebuah kristal hitam sebesar kepala manusia tergantung di udara, berputar perlahan.
Kristal pengikat Varyn.
"Di sana," bisik Aldric.
Ia melangkah maju, Soulrender terhunus. Tapi baru beberapa langkah, udara di sekitarnya berubah dingin—sangat dingin.
Dari balik batu, sesosok bayangan keluar.
Bukan Kael. Bukan Malak. Tapi sesosok wanita—cantik, anggun, dengan rambut hitam panjang dan mata merah menyala. Gaunnya hitam, mengalir seperti kabut. Di tangannya, sebuah belati melengkung berkilauan.
"Halo, Aldric." Suaranya merdu, tapi mematikan. "Aku sudah menunggumu."
Aldric mengernyit. "Siapa kau?"
Wanita itu tersenyum—senyum yang membuat jantung berdebar, tapi juga ketakutan.
"Aku Lilith the Temptress. Yang keempat dari Four Horsemen."
Dunia berhenti.
Keempat? Tapi Kael bilang baru dua yang bangkit—
"Kael suka berbohong," Lilith tertawa. "Aku sudah bangkit sejak seribu tahun lalu. Hanya saja... aku suka bersembunyi. Menikmati pemandangan."
Ia melangkah mendekat, matanya beralih ke Elara.
"Istri yang cantik." Lalu ke Sera. "Ibu yang setia." Lalu ke Ren. "Dan anak istimewa itu."
Aldric menghunus Soulrender. "Jangan dekati mereka."
Lilith tersenyum. "Tenang. Aku tidak akan menyakiti mereka. Aku hanya ingin... menawar."
"Menawar apa?"
"Kau ingin membebaskan Varyn. Aku bisa membantumu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
Lilith menatap Ren. "Anak itu untukku."
SERA MENJERIT, MERAIH REN EKAT-ERAT. TAPI LILITH HANYA TERSENYUM, SABAR MENUNGGU JAWABAN.
Aldric berdiri di antara mereka, Soulrender di tangan, hati bergolak. Ia tahu ia tidak bisa mengalahkan Lilith sendirian—apalagi dengan Elara, Sera, dan Ren yang harus dilindungi. Tapi menyerahkan Ren? Tidak mungkin.
"Pilihan yang sulit," bisik Lilith. "Varyn atau anak itu. Satu nyawa untuk ribuan. Atau sebaliknya."
Di belakangnya, kristal hitam terus berputar—begitu dekat, begitu menggoda.
Varyn menunggu.
Tapi Ren juga.
Aldric harus memilih.
Dan pilihan itu akan menentukan segalanya.