Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB IX—KAU TAHU APA?
Sekolah tetap berlanjut hingga sore seperti umumnya. Para murid berbondong-bondong untuk kembali pulang kerumah masing-masing, kecuali dengan Arka. Sejak siang dia bingung dengan sendirinya. Kebingungannya itu di tebus olehnya dengan menghampiri kembali ruang UKS sore itu dengan membawa barang-barang Chandra ke ruangan tersebut.
Arka memasuki ruangan sambil menenteng tas Chandra “Hei…Chand katanya mau balik pas istirahat kedua” Ujar Arka.
“Ga jadi”
“Masih sakit tuh kepala?.”
“Ya”
“Oh yaudah, tenang saja tadi sudah aku izinin kog jadi aman deh.”
“Makasih”
Arka merasa teringat akan sesuatu kemudian ia membuka gorden dan terkejut bahwa Alera masih disana. “Lera…ya ampun kau juga masih disini. Masih belum sembuh itu perut. Habis ini ayo ke rumah sakit kakak antar kesana, sopirmu suruh gausah dateng nanti bareng kakak saja” Ujarnya dengan kaget sambil membangunkan Alera yang sedang tertidur.
Dengan penuh tidak sadarannya Alera menjawab “Hmmm….gausah kak sudah sembuh kog cuma males balik ke kelas saja aku.”
“HAH….MALES??”
Tak ada sedetikpun kesadarannya kembali lagi “Eh ga kak, salah omong, ini ini…perutku masih terasa sampe sekarang makanya aku tidur di sini dan ga balik ke kelas” Dalihnya dengan gugup yang malah membuat kebohongannya tak dapat di percaya.
Arka menyentil dahinya dengan agak keras
THAAKKK
“AW…Sakit kak…Jahat banget”
“Kebohonganmu itu terlihat jelas tahu” Ucap Arka dengan menyipitkan matanya.
“Siapa yang bohong, Tanya saja ke Chandra tuh” Suruhnya untuk meyakinkan kakaknya dengan mengedipkan mata karah Chandra beberapa kali.
Alera mengatup-ngatupkan matanya seolah mengajak Chandra untuk meyakinkan kepada Arka tentang kebohongan dari Alera sendiri.
Chandra hanya menoleh ke arah Arka lalu ke Alera sebanyak tiga kali. Bukan Chandra namanya jika berbohong. Dia dapat berbohong jika itu tentang dirinya namun tidak dengan orang lain.
Dengan yakinnya Chandra menjawab “Kalau sakitnya sih aku gatau karena aku ga ikut merasakan sakit di perutnya, tapi tadi ia kuat menentengku kembali kedalam UKS tadi siang.”
Mata Arka yang tadinya menyipit sekarang melebar dan tatapannya langsung tertuju kepada Alera.
Alera hanya meringis seakan memasang muka tak bersalah.
“DASAR SI TAMPAN ITU, tadi sudah di bantu tapi sekarang bukannya membantuku malah menelantarkanku di hadapan sang predator bernama Arka ini” Ujar Alera dalam hati.
“Leeeeraaaa…Tolong jelaskan kepada kakak maksud dari ucapan Chandra tadi!” Pinta Arka dengan nada pelan namun serasa mengintimidasi.
Bulu kuduk Alera merinding.
Chandra yang biasanya memilih untuk diam kini ia memilih untuk melontarkan belaannya kepada Alera “Sudah lah Ka…aku sungguh berterimakasih kepada adikmu tadi telah membawaku kembali ke UKS tadi, mungkin karena menentengku tadi membuat perutnya sakit kembali jadi jangan terlalu kasar padanya.”
“Ahhhhhhhhhh…yang benar saja….si tampan ini membelaku” Girangnya dalam hati sekana hatinya sedang melompat-lompat.
Alera mengangguk-anggukan dagunya dengan cepat “Nah…nah betul itu kata Chandra.”
Arka kembali menyipitkan mata karena curiga “Tapi apa rasa sakit di perutmu itu nyata?.”
“Kakak ga percaya ya sudah” Ketusnya.
Arka menghela nafas panjang “Huhhhh….Tapi bagaimana kronologinya kamu bisa membantu Chandra kembali kesini. Emangnya ada apa?.”
Chandra hendak menjawab “Emmm…aku.”
Arka mengangkat telapak tanganya kearah Chandra untuk menghentikan omongannya “Aku tanya adikku Chand kamu diam saja dulu, anak ini perlu di intimidasi biar kelihatan bohongnya”
Chandra mengurungkan niatnya untuk berbicara dan ia menelan ludah sedikit dalam hatinya berkata “Apa semua kakak seperti ini ya? Dia ga ada bedanya dengan Baskara”
“Alera….jawab”
“Iya…iya”
“Tadi waktu istirahat kedua, Chandra keluar untuk balik ke kelasnya, begitu juga denganku dan aku mengikutinya dari belakangnya jauh” Ucapnya kali ini dengan jujur.
“Waktu aku membututi Chandra sampai di lorong-lorong kelas, aku melihatnya di hentikan oleh anak laki-laki dan gerombolannya, entah mereka bilang apa kepada Chandra, dari jauh aku melihat anak itu menunjuk-nunjuk mukanya dengan ekspresi merendahkan dan akhirnya Chandra mendorong anak itu dengan keras hingga tersungkur di lantai.”
Arka menyimak dengan seksama.
“Tak selang lama anak itu di bantu teman-temannya untuk berdiri lalu memukul Chandra sekencang-kencangnya hingga membuat Chandra tersungkur di lantai juga. Tak ada yang membantunya Chandra, aku yang melihat kejadian itu dari jauh aku segera menghampiri Chandra dan ingin membantunya, tapi anak itu malah mangataiku juga dan akhirnya aku menendang tulang keringnya deh hehe….”
Arka tersenyum “Hebat juga ya kamu haha…”
“Tentu lah”
“Lanjut….”
“Anak itu semakin marah dan ingin memukulku tapi akhirnya anak yang lain dalam gerombolan menghentikannya dan mengajaknya untuk kembali ke dalam kelas, anak itu pun menurut dengan terpaksa” Lanjutnya.
Arka mengangguk
“Lalu, aku menawari Chandra untuk aku antar ke UKS kembali tapi dia menolak dan ingin tetap kembali kedalam kelas. Tapi keinginannya sirna, karena kepalanya yang belum sepenuhnya sembuh malah terkena pukulan dan akhirnya dia berjalan sempoyongan, dan aku memaksanya untuk aku tenteng ke UKS lagi deh” Ungkapnya mengakhiri cerita.
“Jadi benar asam lambungmu kumat lagi karena menenteng Chandra kembali ke UKS?.”
“Ya iya lah kak memang seperti itu ceritanya.”
Arka mengangguk pelan dan berganti menoleh kearah Chandra.
“Siapa mereka Chand?”
“Bukan siapa-siapa bukan urusanmmu juga” Jawab ketus Chandra.
Alera menyela “kalau gak salah anak yang menghentikan anak yang ingin memukulku memanggilnya dengan sebutan FIN.”
“Fino…Chand?” Tanya Arka memastikan.
Chandra hanya bisa mengangguk ragu.
“Kalau itu Fino dan anak yang menghentikannya pasti Raka kan?.”
Chandra hanya mengangguk pelan.
Arka geleng-geleng pasrah “Memang ya mereka selalu bersikap seperti itu, apa mereka menganggap sekolah ini tempat menukar pukulan apa.”
“Apa yang di katakan Fino katakan padamu…kog sampai membuatmu mendorongnya.”
“Bukan urusanmu kalau itu.”
“Loh tentu urusanku, karena aku ketua kelas. Di mana akulah yang mengatur ketertiban kelas”.
“Lalu jika kau tahu kau mau apa?” Tanya Chandra dengan nada datar.
“Menindak lanjuti mereka lah apa lagi.”
“Apa semua itu akan selesai? Atau akan semakin menjadi-jadi?” Ucap Chandra dengan nada yang semakin datar.
Alera hanya menyimak dialog mereka, sedangkan Arka hanya bisa menggeleng dengan pertanyaan Chandra “Aku tak tahu lah kalu belum di coba.”
“Heh…Kau tak tahu atau tak pernah?” Tanyanya dengan sinis.
Chandra mengepalkan tangalnya dan rahangnya mulai mengeras “Kau tak pernah mengalaminya jadi jangan bicara terlalu banyak.”
“Ta…Tapi”
“CUKUP!, KAU TAHU APA!?”
“Kau itu tak pernah tahu rasanya, makanya ingin mencoba, beda denganku yang pernah mengalami dan merasakannya sendiri. Jika memang tak tahu rasanya diam saja gausah banyak omong” Hardiknya dengan nada yang sangat tinggi.
Arka terdiam dan Alera terkaget, mereka merasakan emosi yang keluar dari mulut Chandra.
“Maaf, aku mau pulang dulu, lupakan ucapanku tadi dan terimakasih atas bantuan kalian berdua” Sesalnya sambil beranjak dari ranjang dan meraih tasnya lalu pergi dari UKS untuk kembali ke rumah.
Alera dan Arka saling menatap kebingungan dalam pikiran mereka mengapa dia bisa semarah itu.
“Ah…kakak, tuh liat si tampanku itu jadi marah gara-gara kakak” Ujar Aleradengan ekspresi andalannya.
“Apa kakak tadi salah omong ya?.”
Alera mengangkat kedua bahunya menandakan dia tak tahu apa kakaknya salah dalam berbicara tahu bagaimana.
Keesokan harinya
Chandra hari ini berangkat super pagi, ia duduk sendiri di bangkunya seperti biasa. Tak ada yang menyapa, tak ada yang mengajaknya bicara dan tak ada yang memperdulikannya. Namun berbeda dengan Arka, ia menghampiri Chandra di bangkunya di pagi hari bersama dengan Alera.
“Chand maaf kemarin aku terlalu ikut campur dalam urusanmu.”
“Aku juga Chand terlalu banyak omong maaf ya.”
Mereka berdua meminta maaf dengan perasaan bersalah.
Chandra hanya memberikan sedikit respon kepada mereka “Sudah lupakan saja.”
Mereka berduapun pergi meninggalkan Chandra dengan keadaan canggung.
Mereka tak tahu apa yang telah dialami dan di rasakan oleh Chandra, mereka berdua seakan peduli dengan Chandra dan ingin mengenalnya lebih jauh sebagai teman, akan tetapi keadaan telah membuat mereka menjadi canggung antara satu sama lain.
Tak ada kata untuk esoknya dari Arka, ia memilih untuk diam berbeda dengan Alera yang masih selalu mencari kesempatan dalam mencuri pandang dari kejauhan.
Hal tersebut berlanjut sampai mereka naik kelas 11.