Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Kenzie ragu sejenak. Julian seharusnya menjauhinya. Janji itu mutlak. Namun, perasaan tidak enak yang menyergapnya sejak sore tadi memberinya dorongan untuk menggeser tombol hijau.
"Julian, sudah kubilang jangan—"
"Halo? Kak Kenzie?!"
Suara di seberang sana bukan milik Julian. Itu suara Clara. Suaranya pecah, diiringi isak tangis yang histeris dan suara benda pecah di latar belakang. Napas Clara tersengal, seolah-olah ia sedang berlari atau sedang menyaksikan sesuatu yang mengerikan.
"Clara? Ada apa? Kenapa kau membawa ponsel Kakakmu?" tanya Kenzie, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius, mengabaikan Hallen yang berdiri bingung di sampingnya.
"Ibu, Kak... Ibu!" Clara menjerit di sela tangisnya.
"Ibu... dia tiba-tiba muntah darah sangat banyak. Wajahnya membiru. Dan Ayah... sepertinya sudah gila, Kak! Dia hanya duduk bersimpuh di lantai sambil memegangi tangan Ibu dan menangis. Dia tidak mau melepasnya! Dia tidak mau menelepon dokter, dia hanya terus bergumam minta maaf. Kak, tolong... aku takut sekali!"
Suara Clara terdengar gemetar dan panik. Anak itu bahkan melupakan aturan yang di buat Julian untuk tidak memanggilnya dengan sebutan 'Ayah' pada orang lain.
Dunia di sekitar Kenzie seolah runtuh. Bayangan Elena yang rapuh dan tulus kini terbayang di pelupuk matanya. Kenzie teringat Elena yang begitu pasrah saat ia menyaksikannya bersama Julian di kamar tamu tempo hari. Dan Julian, Aethern yang kuat itu, akhirnya hancur di bawah beban kenyataan bahwa waktu istrinya telah habis.
"Clara, dengarkan aku. Tetap di sana. Jangan biarkan ayahmu melakukan hal bodoh. Aku datang sekarang juga!"
Kenzie mematikan telepon. Ia tidak peduli lagi pada festival, pada taruhan basket atau pada citra dirinya sebagai murid SMA biasa. Energi di dalam tubuhnya mulai meluap, menciptakan hembusan angin dingin yang membuat lampion di sekitarnya bergoyang hebat.
"Kenzie? Ada apa? Kau mau ke mana? Lenganmu—" Hallen mencoba menahan bahu Kenzie.
"Minggir, Hallen!" bentak Kenzie. Ia menyentakkan tangan Hallen dengan kekuatan yang membuat laki-laki itu terhuyung mundur. "Urusan kita selesai. Kau pulanglah!"
Tanpa menunggu jawaban, Kenzie berlari. Ia tidak berlari seperti manusia. Kenzie melesat di antara kerumunan, gerakannya hanyalah bayangan kabur bagi mata manusia yang sedang berpesta. Kenzie menuju arah rumah Julian di pinggiran kota, meninggalkan Hallen yang terpaku di tengah kerumunan yang bingung.
Setelah kepergian Kenzie, Hallen masih berdiri mematung di ujung sungai, memegangi bahunya yang nyeri. Hallen merasa terhina, bingung dan gagal. Namun, di tengah kekacauan mentalnya, ia tidak menyadari bahwa seseorang sedang bergerak di bawah bayangan pagar besi, tepat di tempat darah Kenzie tertinggal.
Lyana melangkah keluar dari balik pilar beton. Wajahnya yang cantik tampak mengerikan di bawah cahaya temaram, matanya berkilat penuh kemenangan. Ia tidak menatap Hallen, pandangannya tertuju pada tetesan darah merah keemasan yang masih segar di atas besi berkarat.
"Kerja bagus." gumam Lyana.
Seorang pria bertudung hitam, pria yang tadi menabrak Hallen muncul di sampingnya. Pria itu menunduk hormat, menunggu instruksi selanjutnya.
"Ini bayaranmu. Pergi dari kota ini sekarang juga." Lyana melemparkan sebuah amplop tebal tanpa menoleh. Pria itu menerimanya dan menghilang ke dalam kegelapan gang secepat ia muncul.
Kecelakaan itu bukan kebetulan. Lyana tahu Hallen akan mencoba mencium Kenzie dan ia tahu Kenzie akan melindungi Hallen. Ia telah merencanakan segalanya hanya untuk satu tujuan, darah Kenzie.
Lyana mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari saku jaketnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menggunakan sebuah pipet kecil untuk mengumpulkan setiap tetes darah Kenzie yang menempel di pagar besi. Darah itu tampak hidup, ia berdenyut dan bercahaya redup di dalam botol kaca.
"Darah sang Murni." bisik Lyana, menatap cairan itu dengan pemujaan yang gila. "Kunci untuk membangkitkan apa yang telah tertidur lama. Mama pasti akan sangat bangga padaku."
Hallen yang akhirnya sadar akan kehadiran Lyana, melangkah mendekat dengan wajah pucat. "Lyana? Apa yang kau lakukan di situ? Dan... apa itu?"
Lyana menoleh, tersenyum manis namun dingin. "Hanya membersihkan kekacauan yang kau buat, Hallen. Kau benar-benar tidak berguna, ya? Bahkan untuk menciumnya saja kau gagal dan malah membuat gadismu terluka."
"Aku tidak sengaja! Seseorang mendorongku!" seru Hallen membela diri.
Lyana tertawa, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau malang sekali, Hallen. Kau pikir kau menang taruhan? Kau hanya pion. Sekarang, pergilah ke dokter dan obati bahumu. Kenzie mungkin akan membencimu karena kejadian ini."
Lyana berbalik dan berjalan pergi, menggenggam botol berisi darah Kenzie seperti harta paling berharga. Ia telah mendapatkan apa yang diinginkan Stefanny dan ia tahu, malam ini London akan menyaksikan akhir dari sebuah era.
...•••...
Di pinggiran kota, Kenzie tiba di depan gerbang rumah Julian. Napasnya sedikit memburu, bukan karena lelah secara fisik, tapi karena tekanan energi yang luar biasa dari dalam rumah itu. Aura Julian terasa sangat tidak stabil, energi Aethern biru yang dingin meluap ke seluruh halaman, membuat tanaman hias di sana membeku dan mati seketika.
Kenzie menendang pintu depan hingga terbuka. Ia berlari menaiki tangga menuju kamar utama.
Di sana, pemandangan itu menghancurkan hatinya.
Elena terbaring di tempat tidur, seprai putihnya kini ternoda oleh genangan darah merah tua yang kental. Wajahnya sangat pucat, hampir abu-abu. Clara berlutut di pojok ruangan, menutupi wajahnya dengan tangan sambil menangis tersedu-sedu.
Dan Julian duduk bersimpuh di lantai samping tempat tidur. Ia tidak memakai jaket varsity-nya, hanya kemeja putih yang kini penuh dengan noda darah Elena. Tangan Julian menggenggam erat tangan Elena yang sudah mendingin, menempelkannya ke pipinya.
Julian tidak bergerak. Ia tidak menyadari kedatangan Kenzie. Air mata mengalir deras dari matanya yang biru, membasahi tangan istrinya. Julian bergumam, suara yang hampir tidak terdengar namun sarat akan keputusasaan.
"Jangan pergi... kumohon, jangan sekarang. Aku belum meminta maaf. Aku belum memperbaiki segalanya. Elena... bangunlah. Kau bilang kau akan menungguku..."
Kenzie melangkah mendekat, sepatunya menginjak genangan darah di lantai. "Julian..."
Julian tersentak. Ia menoleh perlahan. Saat ia melihat Kenzie, ada kilatan kemarahan dan luka yang mendalam di matanya. "Kenapa kau ke sini? Bukankah kau menyuruhku menjauh? Lihat apa yang terjadi karena aku sempat mengabaikannya!"
"Julian, kendalikan dirimu!" bentak Kenzie. Ia berlutut di samping Julian, mencoba melepaskan tangan Julian dari tangan Elena. "Elena masih bernapas, tapi jiwanya sedang di ambang batas. Kau harus tenang jika ingin aku membantunya!"
Julian menatap Kenzie dengan tatapan kosong. "Membantu? Bagaimana kau bisa membantunya Kau tidak tahu rasanya kehilangan separuh nyawamu yang hanya hidup sebentar. Kau tidak tahu!"
"Aku tahu lebih banyak darimu!" Kenzie meraih wajah Julian, memaksanya untuk menatap matanya. "Aku melihat ibuku di bakar, aku melihat kekasihku mati dan aku melihat diriku sendiri sekarat dalam mimpi! Jika kau terus bersikap seperti pengecut yang hanya bisa menangis, maka Elena benar-benar akan pergi sekarang juga!"
Kenzie memalingkan wajahnya ke arah Elena. Ia melihat luka di lengannya sendiri yang masih basah. Kenzie teringat dengan kejadian di masa lampaunya, saat seorang tentara tidak sengaja meminum darahnya yang bercampur dengan air minum. Seorang tentara yang sedang sekarat itu, seketika sembuh tsetelahnya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Puluhan peluru yang tertanam di tubuhnya seolah hanyalah sebuah duri kecil yang sudah pasti tidak akan berpengaruh apapun padanya.
Cukup teteskan darahmu padanya, Kenzie. bisiknya dalam hati.
Kenzie menarik napas dalam. Ia mendekatkan lengannya yang terluka ke bibir Elena yang membiru. "Julian, pegang dia. Aku akan mencoba sesuatu yang dilarang, tapi ini satu-satunya cara untuk memberinya waktu beberapa hari lagi."
Di tengah kesedihan yang mencekam, Kenzie mulai mengalirkan energinya, membiarkan darahnya sendiri menetes ke dalam mulut Elena, sementara Julian hanya bisa menatap dengan napas tertahan, antara harapan dan ketakutan akan kehilangan yang menyakitkan.
...•••...