NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh

"MEIRA!!"

Meira menutup kupingnya karena terkejut dengan suara nyaring Ayara begitu dirinya memasukkan seragamnya ke dalam loker. Meira baru saja selesai mengganti seragamnya menjadi seragam olahraga. Jam pertama hari ini adalah pelajaran olahraga, sekaligus olahraga pertama pula bagi Meira setelah satu minggu sekolah disini.

"Ada apa, Ra?" bisik Meira.

"Lo masih punya hutang cerita soal kemarin."

Meira tidak menjawab lagi, ia berlalu begitu saja dari hadapan Ayara. Meira sedang tidak mau membahas tentang masalah itu dahulu. Perasaannya masih menolak soal kenyataan pahit yang ditelan kemarin. Belum lagi saat pulang sekolah, Bu Resma memberinya kardus berukuran sedang. Katanya itu peninggalan Arini, Mama Meira. Semua informasi mungkin saja ada disana, termasuk penyebab Papa dan Mamanya meninggal.

Ayara terus memanggil nama Meira. Ia tidak terima cewek itu terus mendiamkannya seharian. Ditambah malam kemarin Meira sama sekali tidak berbicara padanya sepatah katapun. Ayara sudah seperti berbicara dengan orang bisu.

Lapangan SMA Trisakti terbilang sangat luas dan terdapat lapangan basket terpisah di samping taman belakang. Kelas Meira, lebih tepatnya Kelas XI IPA 1 mendapat materi bola basket dan mengharuskan mereka semua berkumpul di lapangan itu. Dikarenakan guru yang mengajar belum datang, semua siswa masih santai-santai setelah melakukan sedikit pemanasan tadi. Sebagian murid laki-laki bermain basket asal, sedangkan murid perempuannya berkumpul di pinggir lapangan untuk sekedar mengobrol ria.

"Mei, ayo dong, gue cuma pengen lo cerita penyebab lo nangis kemarin." Ayara terus mendesak Meira yang tetap teguh dengan pendiriannya.

Meira berdiri di samping ring basket seraya memeluk tangannya sendiri di dada. Tatapan matanya yang kosong menatap lurus ke depan.

"Emang cuma Meira yang bisa ngalahin si Ketua sombong itu." Ayara sempat melirik sekumpulan cowok yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

Disana ada Abil, bersama kedua temannya. Karena merasa diacuhkan oleh Meira, Ayara akhirnya melangkah mendekat ke arah Abil.

"Lo nyebelin, Mei!" rutuk Ayara sebelum meninggalkan Meira.

Meira menatap kepergian Ayara lalu membuang napas pelan. Bukannya tidak mau berbagi cerita. Meira hanya belum siap dengan semuanya. Ia masih menunggu kesiapan hatinya, barulah akan cerita pada Ayara.

"Puas banget gue liat perubahan muka dia tiap kali dibagiin hasil tes ulangan." Haris menambahi sambil tertawa kecil.

"Bener banget, tuh."

"Kalian ngomongin gue?"

Haris dan Ilham seketika bungkam ketika orang yang mereka bicarakan sudah berdiri tak jauh dari mereka. Cowok itu baru kembali setelah mengambil bola basket lain dari ruang peralatan olahraga.

"Ternyata bukan cuma so pinter, kepedean juga nih cowok. Eh, tapi emang bener, sih. Kita emang lagi ngomongin lo, kenapa?" Ilham menyahut sambil menatap tajam ke arah Rey.

"Sakit banget ya, Rey, nilai lo tersaingi?" goda Haris, yang disambut gelak tawa yang lain.

"Gue gak peduli." Rey berusaha mengabaikan ledekan teman-temannya.

"Gak peduli tapi bersikeras ngajak Meira adu soal. Itu namanya lo gak terima kalo lo kalah. Lo dari dulu emang paling denial kalo soal kekalahan." cibir Ilham yang terus memancing Rey.

Rey sudah hilang kesabaran. Ia mengepalkan tangannya kuat, kemudian melempar bola basket yang dipegangnya sekuat tenaga. Cowok itu berniat melempar Ilham dengan bola itu. Namun, nahas, bola itu malah mengenai kepala Meira yang sedang melangkah pelan ke tengah lapangan, tepat di belakang Ilham yang sedang berkumpul. Suasana yang tadinya penuh dengan tawa, hilang seketika ketika Meira tumbang ke lantai lapangan. Wajahnya membentur lapangan dengan cukup keras. Pelipisnya yang memerah menjadi tanda kalau bola basket berhasil mendarat sebelum akhirnya mencium semen lapangan.

"Meira!" teriak hampir semua murid perempuan, mereka buru-buru menghampiri Meira.

Tak terkecuali Ayara, cewek itu langsung memegang tubuh Meira yang lemas dengan posisi menunduk dalam. Rey sama terkejutnya dengan teman-temannya yang lain. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

"Tolong panggil petugas UKS, dia pingsan." teriak Ayara pada siapapun yang mendengar.

Dengan sigap Abil dan Ilham segera berlari ke ruangan UKS. Sedangkan Haris menatap tajam ke arah Rey yang hanya berdiri mematung, tatapannya mengarah pada Meira yang terbaring di tengah lapangan dengan paha Ayara sebagai bantalannya. Darah segar mengalir dari hidung cewek itu.

"Bangsat, lo!" umpat Haris lalu berlalu pergi menyusul kedua temannya.

Perhatian Rey sama sekali tak berpindah dari Meira yang kini sudah digotong oleh dua orang petugas UKS. Bahkan, saat cewek itu sudah menghilang dibalik tikungan koridor. Jauh dilubuk hati Rey, ada perasaan bersalah pada Meira. Namun, entah kenapa, kaki cowok itu seolah tidak bisa bergerak, walau untuk mengikuti cewek itu ke UKS.

...\~\~\~...

"Mei, kamu gapapa, sayang?"

Meira mengerjapkan matanya sekali. Ia melihat seorang wanita tersenyum lega sambil menatapnya yang berbaring di kasur. Raut wajah Meira berubah ketika melihat goresan di kening wanita itu. Walau tidak parah, tapi ia dapat merasakan kalau itu pasti sakit.

Meira bergerak, mengubah posisinya menjadi duduk. Wanita itu dengan cepat menbantu Meira dengan hati-hati. Ia mengedarkan pandangannya. Ruangan itu di dominasi warna putih dengan peralatan medis di sekitarnya. Meira kembali menatap ke arah wanita di sampingnya heran.

"Papa mana, Ma?"

Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. Namun, sebelum air bening meluncur dari matanya, ia segera menghapusnya dengan tangan.

"Keadaan kamu gimana, udah baikkan, sayang?"

Meira menggelengkan kepalanya. Bukan kata itu yang Meira harapkan dari mulut sang wanita. Dia hanya ingin mendengar tentang keadaan Papanya.

"Ma, jawab, dimana Papa?"

"Papa ada, sayang. Kamu tenang, ya."

Meira kembali menggeleng. Wajahnya berubah pucat. "Mama, bohong!" tukasnya.

"Kamu jangan sedih, sayang, kan masih ada Mama. Mama janji gak akan pernah ninggalin Meira." ucap wanita itu dengan suara tertahan.

"Janji, ya, Ma." air mata Meira mengalir deras. Kejadian kemarin adalah mimpi buruk baginya. Meira tidak akan pernah melupakan hari itu. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri, akan berusaha cari tahu penyebab kematian Papanya saat dewasa nanti. Meira sangat trauma dan tertekan sekali dengan semua kejadian yang menimpanya.

"Janji."

Wanita itu memeluk Meira, membiarkan putri kecilnya itu menyalurkan kesedihannya. Ia mengerti apa yang Meira rasakan. Sejujurnya, ia pun sangat terpukul dengan semuanya. Akan tetapi, bagaimanapun, itu sudah menjadi takdirnya. Ia tidak akan pernah membiarkan Meira-nya sedih kembali.

*

Meira akhirnya membuka mata. Rasa pusing seketika menjalar saat ia berusaha mengangkat kepalanya. Beberapa detik ia mencoba memejamkan matanya kembali untuk menyesuaikan diri melawan rasa pusing itu. Hingga ia berani membuka matanya lagi.

'Mimpi itu.'

Meira mengingat ulang masa itu. Masa dimana ia masih bersama Mamanya. Saat itu Mamanya berjanji akan selalu ada di samping Meira.

'Tapi akhirnya Mama tetap pergi ninggalin Meira.' batinnya menangis.

"Mei, syukurlah lo udah sadar."

Ayara dan Hesty yang menungguinya disana menggumam kata syukur begitu melihat Meira membuka matanya.

Meira mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ruangan dengan dominan warna putih itu mengingatkannya kembali pada mimpinya tadi. Ia bergerak dari tidurnya, mengubah posisinya menjadi duduk. Hesty dengan cepat meletakkan bantal di balik punggung Meira sebelum cewek itu bersandar di kepala ranjang.

"Lo di UKS, Mei." kata Hesty seolah bisa membaca kebingungan di wajah Meira.

"Lo pingsan gara-gara kena bola basket di lapangan. Si Ketua Kelas gila itu penyebabnya." Ayara menambahkan.

"Emang sakit jiwa kali tuh si kutub es." timpal Hesty kesal. "Masa lo gak salah apa-apa, tiba-tiba dilempar bola."

"Mana gak tanggung jawab lagi, lo pingsan cuma diliatin doang. Gak ada niat nolongin, gak punya hati banget tuh orang." kekesalan Ayara semakin menggebu.

Meira sama sekali tidak ingat detik-detik dirinya tak sadarkan diri tadi. Ia hanya mengingat kalau dirinya sedang melamun di lapangan. Sebenarnya bukan melamun, Meira hanya teringat penjelasan dari Bu Resma tentang keterlibatan Mamanya dengan Bu Hera, guru Matematika di sekolahnya. Yang juga mengajar di kelas Meira.

"Siapa yang gak tanggung jawab?"

Suara seseorang di ambang pintu membuat ketiganya menoleh bersamaan. Hesty dan Ayara tampak terkesiap kemudian saling bertukar pandang.

"Kalian berdua balik aja ke lapangan. Biar gue yang jagain dia." Rey menunjuk Meira dengan dagunya.

Ayara dan Hesty tidak langsung menyahut. Dalam hati mereka ingin menolak tawaran Rey.

"Itu pesan dari Pak Dika. Juga sebagai rasa tanggungjawab gue." lanjut Rey sedikit menyindir.

Ayara dan Hesty langsung bangkit dari duduknya saat mendengar siapa yang menyuruh Rey untuk menggantikan mereka. Tak menunggu waktu lama, mereka berdua berjalan keluar UKS usai berpamitan dengan Meira.

"Oke kita balik. Jagain yang bener!" Ayara memberikan tatapan tajam ke arah Rey, yang langsung diangguki dengan santai.

Perhatian Rey beralih kembali pada Meira yang duduk bersandar di ranjang. Mata mereka bertemu beberapa detik, sebelum akhirnya Meira memalingkan wajahnya. Detik berikutnya ia memejamkan matanya karena pusing di kepalanya terasa semakin bertambah. Meira memijat pelan pelipisnya menggunakan tangan. Masih terlihat jelas tanda merah bekas benturan dari bola basket disana.

Rey tidak langsung bicara. Ia justru melangkah mendekati meja kecil di samping ranjang, meraih botol minyak kayu putih dan sebuah kapas. Tanpa permisi, ia duduk di kursi yang tadi ditempati Ayara.

"Sini." ucap Rey singkat.

Meira membuka matanya, menatap tangan Rey yang terulur ragu. "Nggak usah, aku bisa sendiri."

"Jangan keras kepala. Lo pingsan hampir setengah jam dan memar itu bakal makin parah kalau nggak dikompres."

Rey mengabaikan penolakan Meira. Dengan gerakan yang tak terduga lembut, ia menempelkan kapas yang sudah diberi minyak ke kening Meira yang memerah.

Meira meringis pelan, namun ia tidak menghindar. Aroma menthol yang kuat menyeruak, sedikit membantu meredakan rasa peningnya. Dalam jarak sedekat ini, Meira bisa melihat gurat kelelahan di mata Rey, sorot mata yang sama dengan yang ia lihat di perpustakaan, namun kali ini tanpa rasa ingin menjatuhkan.

Rey menatap Meira dalam diam. Tangannya beralih untuk memijat pelipis satunya setelah mengobati yang memar. Mata mereka kembali bertemu. Meira hanya terdiam sambil sesekali berusaha menahan debaran jantungnya yang tidak menentu ketika merasakan tangan hangat Rey memijat keningnya pelan.

"Maafin gue." kata Rey tepat di samping telinga Meira. "Gue sama sekali gak berniat lempar lo pake bola."

Meira masih bergeming. Suara Rey yang terdengar sangat dekat itu sama sekali tidak membantu meredakan debaran jantungnya saat ini. Malah membuat debaran itu semakin cepat.

"Gak masalah." ucap Meira dengan susah payah.

Untuk waktu yang cukup lama, keduanya tidak bersuara lagi. Meira dan Rey tengah sibuk menenangkan debaran jantung masing-masing. Ditambah, jarak mereka kini terbilang sangat dekat. Rey jadi leluasa untuk mengamati wajah Meira dari arah samping.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!