"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMATIAN YANG MEMALUKAN
VIRAL! Karyawan Kantoran Mati Tersedak Biji Salak. Endingnya Bikin Geleng Kepala!
***
"Sania kenapa?"
"Sania kenapa?"
Teriakan panik dari ruang meeting lantai 12 menggemparkan suasana siang itu. Karyawan-karyawan di cubicle serempak berdiri. Laptop-laptop yang baru dibuka tak dihiraukan, sepuluh orang itu berlari menuju ruang meeting dengan jantung berdegup kencang.
"Di mana dia?" Risa bertanya dengan suara bergetar.
"Di ruang meeting! Dia tersedak!" Doni, intern baru, berteriak sambil berlari menuju pantry. "Aku ambil air dulu!"
Tepat ketika supervisor menyembulkan kepala dari ruangannya, sepuluh karyawan tersebut sudah berdesakan di depan pintu meeting room.
"Hei, ada apa ini?" teriak Pak Budi.
"Sania tersedak!"
Pak Budi mengurut dada. Detak jantungnya bekerja dua kali lebih cepat. Ia segera berlari sambil mengeluarkan ponsel, berniat memanggil ambulans.
Di dalam ruangan, Sania Puspita Dewi tergeletak di lantai. Wajahnya membiru, tangannya mencengkeram leher. Di sampingnya, sebuah mangkuk plastik berisi salak yang setengahnya sudah dimakan, berserakan di lantai.
"Sania! Sania, bangun!" Risa mengguncang tubuh rekannya yang sudah tak bergerak. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Tolong, Sania!"
"Sudah kupanggil ambulans!" teriak Pak Budi dari ambang pintu.
Doni datang terburu-buru dengan segelas air, tetapi sudah terlambat. Sania tidak lagi bernapas.
Keadaan begitu mencekam ketika paramedis tiba di kantor. Orang-orang berkerumun. Tangis pilu beberapa karyawan perempuan mendominasi suasana. Mereka yang menyaksikan tubuh Sania yang sudah dievakuasi, tak sanggup menahan sesak.
"Sania...." Untuk kesekian kalinya, Risa memanggil sahabatnya sambil terisak. Perempuan 28 tahun itu tak menyangka jika siang itu akan menjadi hari terakhirnya melihat Sania hidup.
Pagi tadi, seperti biasa, Sania datang ke kantor dengan wajah kusut. Gadis itu baru saja kena omel habis-habisan dari Pak Hartono, bos mereka yang terkenal demanding dan tidak punya rasa empati. Proposal yang sudah Sania revisi tujuh kali, masih saja ditolak dengan alasan yang mengada-ada.
"Gue benci banget sama tuh bos!" gerutu Sania saat makan siang bersama Risa. "Dia pikir kita robot apa? Revisi mulu! Padahal yang salah dia sendiri, tapi yang disalahin kita!"
Risa cuma bisa menggeleng. Ia sudah terbiasa mendengar curahan hati Sania tentang Pak Hartono.
"Udah, San. Sabar aja. Nanti juga karma."
Sania mendengus. Ia merogoh tas dan mengeluarkan sebuah novel lusuh berjudul "The Duke's Devoted Maid".
"Daripada mikirin bos sinting, mending gue baca novel ini lagi deh. Meski isinya bikin emosi, tapi setidaknya lebih entertaining daripada muka Pak Hartono," ujarnya sambil membuka halaman novel.
"Emang ceritanya tentang apa sih? Dari tadi kamu ngomel-ngomel terus tiap baca," tanya Risa penasaran.
"Jangan ditanya! Ini novel paling toxic yang pernah gue baca!" Sania mulai semangat. "Jadi ceritanya ada Duke yang dingin dan misterius, terus dia tunangan sama bangsawan cantik. Tapi si Duke malah terobsesi sama pelayan yang lugu dan pickme banget! Si pelayan ini tipikal cewek yang selalu bilang 'aku nggak apa-apa kok' padahal jelas-jelas dia pengen perhatian. Terus si Duke ini, astaga, dia pemaksa, San! Dia literally ga terima penolakan! Dan yang bikin gue paling sebel, si pengarang malah bikin ini seolah-olah romantis!"
Risa tertawa. "Terus kenapa masih kamu baca?"
"Karena gue kasihan sama tunangan si Duke! Dia cantik, elegan, pintar, tapi disuruh jadi villain sama authornya. Padahal cuma dia yang waras di cerita itu!"
Setelah makan siang, Sania kembali ke ruang meeting untuk menyelesaikan laporan. Ia membawa salak favoritnya sebagai camilan. Namun, tepat pukul dua siang, Pak Hartono menelepon dan kembali memarahinya dengan suara menggelegar.
"Sania! Proposal kamu masih salah! Ini saya mau presentasi ke direksi, tapi kamu kerjanya asal-asalan! Sekarang perbaiki dalam satu jam atau kamu yang tanggung jawab!"
Sania meremas ponselnya dengan emosi yang memuncak. Tangannya gemetar. Ia ingin sekali membalas, ingin sekali berteriak bahwa yang salah adalah Pak Hartono sendiri yang terus mengubah brief. Tapi ia hanya bisa diam.
Setelah menutup telepon, Sania meraih salak dengan gerakan kasar. Ia menggigit buah itu tanpa hati-hati, sambil bergumam kesal.
"Breng*sek! Bos tai! Dia pikir dia siapa? Nyuruh-nyuruh mulu! Revisi mulu! Gue udah cape, tau!" ocehnya sambil mengunyah salak dengan penuh emosi.
Dan tanpa disadari, sebuah biji salak besar tertelan masuk ke tenggorokannya.
Sania langsung tersedak. Matanya membelalak. Ia mencoba batuk, mencoba mengeluarkan biji itu, tapi malah semakin masuk. Tangannya meraba-raba meja, mencari air, tapi gelas kosong yang tadi dibawanya sudah habis.
Panik, Sania mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Napasnya semakin sesak. Pandangannya mulai kabur. Ia terjatuh dari kursi, tubuhnya terkulai di lantai dingin.
"Ini... nggak lucu...." bisiknya dalam hati. "Masa gue... mati... gara-gara... biji salak...?"
Detik-detik terakhir kesadarannya, Sania teringat novel yang tadi dibacanya. Tunangan Duke yang malang itu. Catharina namanya. Gadis bangsawan yang dihancurkan oleh authornya hanya karena plotnya butuh villain.
"Andai gue bisa jadi dia... gue bakal ubah semua cerita sialan itu...."
Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.
***
Hangat.
Itu yang pertama kali Sania rasakan saat kesadarannya perlahan kembali. Hangat dan lembut, seperti tertidur di atas kasur berbahan sutra.
Tapi... tunggu.
Lantai ruang meeting itu dingin dan keras. Kenapa sekarang terasa seperti kasur?
Sania perlahan membuka mata. Yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit berukir mewah dengan chandelier kristal besar yang berkilauan. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan ia tidak sedang bermimpi.
"Ini... di mana?"
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Lebih lembut, lebih merdu.
Sania bangkit duduk dengan cepat, dan saat itu juga ia melihat pantulan dirinya di cermin besar di samping tempat tidur.
Seorang wanita cantik dengan rambut pirang panjang bergelombang, mata biru safir, dan kulit putih bersih memandang balik ke arahnya.
Sania berteriak.
Tapi yang keluar adalah suara melengking anggun yang membuat seorang pelayan di luar kamar langsung mengetuk pintu dengan panik.
"Yang Mulia! Apakah Anda baik-baik saja?"
Yang Mulia?
Sania... tidak, bukan Sania lagi. Jantungnya berdegup kencang saat ingatan-ingatan asing mulai membanjiri pikirannya. Ingatan tentang kehidupan seorang bangsawan bernama Lady Catharina von Elsworth. Ingatan tentang tunangan bernama Duke Raphael. Ingatan tentang sebuah novel yang...
"Nggak mungkin...."
Sania... atau secara teknis, Catharina sekarang... menatap tangannya yang lentik dan mulus. Tanpa bekas luka akibat terkena stapless kantor. Tanpa kuku yang rusak karena stress. Ini tangan seorang bangsawan.
Dan saat itu, realisasi menghantamnya seperti petir.
Ia ada di dalam novel "The Duke's Devoted Maid".
Ia menjadi Lady Catharina von Elsworth.
Tunangan Duke Raphael yang di plot asli akan menjadi villain dan berakhir menyedihkan.
"Oh sial," gumamnya pelan. "Gue beneran mati gara-gara biji salak, dan sekarang malah masuk ke novel paling toxic yang pernah gue baca?"
Tapi kemudian, senyum perlahan muncul di wajah cantiknya.
"Well... at least gue nggak perlu lagi liat muka Pak Hartono yang kaya bekantan lagi emosi itu. Dan yang paling penting...."
Catharina berdiri, menatap pantulannya di cermin dengan mata berbinar.
"Gue bakal ubah semua cerita sialan ini. Duke mau pacaran sama pelayan pickme? Silakan. Gue malah mau putus duluan. Dan gue bakal buktiin kalau tunangan Duke ini nggak butuh laki-laki toxic untuk bahagia."
Ketukan di pintu semakin keras.
"Yang Mulia, bolehkah hamba masuk?"
Catharina menarik napas panjang, kemudian menjawab dengan suara elegan yang masih terasa asing.
"Masuklah."
Dan dimulailah kehidupan kedua Sania.
Kehidupan sebagai Lady Catharina von Elsworth yang akan mengubah semua plot cerita toxic menjadi miliknya sendiri.
***
BERSAMBUNG