NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:176.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Penjaga dalam Sunyi

Atyasa menoleh perlahan. Senyum tipis terbit di bibirnya. Senyum yang sama sekali tidak sampai ke mata.

“Kau menikah dengan Zelia sehari setelah ibumu kecelakaan, bukan?” katanya santai. “Tukang parkir sepertimu pasti tak punya uang untuk biaya operasi sebesar itu.”

Tatapannya menajam. “Aku bisa mengerti kenapa kau menikahinya.”

Are hanya menatap datar, tak menyangkal.

“Aku ingin kau meninggalkan Zelia,” lanjut Atyasa langsung ke inti. “Aku bisa memberimu harga yang pantas.”

Sudut bibir Are terangkat hampir tak terlihat. “Berapa harga yang bisa Anda tawarkan?”

“Dua puluh miliar. Tinggalkan Zelia, dan uang itu milikmu.”

Are tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Anda terlalu murah menilai sesuatu yang bukan milik Anda.”

Tatapan Atyasa menajam. “Jangan sombong. Mungkin kau belum pernah punya uang sebanyak itu.”

Are tertawa pendek, rendah, tanpa sedikit pun rasa terancam. “Uang segitu?” Ia menggeleng pelan. “Tak sepadan dibandingkan tetap bersamanya.”

Senyum Atyasa menghilang.

“Zelia tak akan lama duduk di kursi CEO,” katanya dingin. “Enam bulan bukan waktu yang cukup untuk membuktikan dirinya lebih baik dariku.”

Are menyilangkan tangan santai. “Bagaimana kalau dia berhasil?”

Atyasa tertawa sinis. “Kau pikir enam bulan itu lama? Kalau dia turun dari posisi itu, kau tak akan mendapatkan apa pun. Lebih baik kau bekerja sama denganku.”

Are menatapnya lurus tanpa ragu. “Saya tidak melihat prospek masa depan jika berpihak pada Anda,” katanya tenang. “Justru bersama Zelia saya bisa duduk santai dan hidup nyaman.”

Tatapannya sedikit mengeras. “Karena dia akan tetap menjadi CEO. Dan saya jamin perusahaan akan jauh lebih maju di tangannya.”

“Kepercayaanmu terlalu tinggi,” balas Atyasa tajam.

Are tersenyum tipis. “Kita lihat saja nanti.”

Sunyi sesaat. Udara terasa menegang.

Tatapan Atyasa berubah gelap. “Kau terlalu percaya diri untuk seseorang yang tak punya apa-apa,” katanya pelan namun berbahaya. “Kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Termasuk pada orang yang sedang terbaring lemah di dalam sana.”

Ancaman itu mungkin menakutkan bagi orang lain. Tapi tidak untuk Are. Ekspresinya tak berubah sedikit pun. Matanya justru menjadi lebih dingin.

“Coba saja,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Atyasa sedikit mengernyit, tak menyangka reaksi setenang itu.

Are melangkah setengah langkah mendekat. “Ibu saya berada di bawah pengawasan penuh,” lanjutnya. “Setiap orang yang keluar masuk ruangan tercatat. Kamera aktif dua puluh empat jam. Dan semua data langsung terhubung ke orang yang tidak akan Anda suka jika sampai terjadi sesuatu.”

Ia berhenti sejenak, menatap tajam. “Kalau Anda berani menyentuhnya…”

Suaranya turun satu nada, dingin seperti baja. “…saya pastikan bukan hanya posisi Anda yang hilang.”

Jantung Atyasa berdetak lebih keras, tapi ia menutupinya dengan senyum tipis. “Kau mengancamku?”

Are menatapnya tanpa berkedip. “Saya hanya menjelaskan konsekuensi.”

Sunyi kembali jatuh di antara mereka.

Untuk pertama kalinya, Atyasa merasakan tekanan dari pria yang sebelumnya ia anggap tak berarti.

Rahangnya mengeras. “Kita lihat saja seberapa lama kau bisa melindungi semuanya,” katanya dingin sebelum berbalik pergi.

Are tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu tanpa ekspresi. Namun matanya jelas menunjukkan satu hal.

Ia tidak main-main.

Baru setelah langkah pria itu benar-benar menghilang di ujung koridor, Are memalingkan pandangannya.

Tatapannya jatuh pada kaca kecil di pintu ruangan, memastikan wanita di dalam sana masih bernapas.

Rahangnya mengeras pelan. Ancaman Atyasa barusan masih terngiang jelas di kepalanya.

Perlahan ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mencari satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi.

Ia menekan tombol panggil. Tak sampai dua dering, panggilan tersambung.

“Selamat malam,” suara pria di seberang terdengar tenang namun langsung berubah lebih serius. “Sudah lama sekali kamu tidak menghubungi saya.”

Are tidak berbasa-basi. “Saya butuh perlindungan hukum.”

Ada jeda sepersekian detik. Nada di seberang langsung berubah tegas.

“Ada yang mengancammu?”

“Ibu saya.” Suara Are tetap datar. “Mulai malam ini saya ingin semua akses hukum dan pengamanan disiapkan. Jika ada pihak yang mencoba mendekat dengan niat buruk, saya ingin semuanya tercatat.”

Pria itu menghela napas pelan, seperti sudah memahami situasinya tanpa perlu penjelasan panjang.

“Kamu tahu saya tidak pernah menolak permintaanmu,” katanya. “Anggap sudah beres. Saya akan kirim orang mulai malam ini.”

Are menatap lurus ke depan. “Terima kasih.”

“Dan Are,” suara di seberang sedikit melembut, “kamu tidak pernah berutang apa pun pada saya. Saya yang berutang.”

Are tidak menjawab. Ia hanya menutup panggilan dengan tenang.

Beberapa detik ia terdiam, lalu mencari kontak berikutnya.

Nama yang satu ini bahkan lebih jarang ia hubungi. Ia menekan panggil. Kali ini butuh tiga dering sebelum tersambung.

“Are?” suara pria tua terdengar terkejut sekaligus hangat. “Saya sampai pikir kamu sudah melupakan saya.”

“Saya butuh bantuan.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang membuat lawan bicaranya langsung serius.

“Ada apa?”

“Ibu saya dirawat di rumah sakit. Saya ingin pengawasan langsung dari Anda. Saya tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun.”

Tanpa ragu sedikit pun, pria itu langsung menjawab, “Sebutkan rumah sakitnya.”

Are menyebutkan nama rumah sakit dan nomor kamar.

“Saya akan ke sana sekarang,” jawabnya cepat. “Mulai malam ini dia di bawah pengawasan saya pribadi.”

Are menutup mata sesaat, mengembuskan napas pelan yang nyaris tak terdengar.

“Terima kasih.”

“Jangan bicara seperti itu,” suara di seberang terdengar mantap. “Kalau bukan karena kamu dulu, karier saya sudah selesai. Ini hal kecil.”

Panggilan berakhir. Koridor kembali sunyi.

Are menyimpan ponselnya perlahan. Wajahnya kembali tanpa ekspresi, seolah percakapan barusan tak meninggalkan jejak apa pun. Tatapannya kembali tertuju pada pintu kamar ibunya.

Matanya tenang… tapi ada sesuatu yang mengeras di dalamnya.

Atyasa mungkin mengira ia hanya tukang parkir tanpa daya.

Sudut bibir Are terangkat tipis, nyaris tak terlihat. Atyasa tidak akan pernah bisa menyentuh ibunya. Tidak selama Are masih berdiri di sini.

Dan jika ada yang mencoba… Mereka akan menyesal sudah melangkah terlalu jauh.

Are melangkah maju dengan tenang, langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Ia mendorong pintu ruang rawat dengan pelan.

Aroma antiseptik langsung menyergap, dingin dan bersih. Suara mesin monitor berdetak stabil, satu-satunya suara yang memenuhi ruangan.

Langkahnya berhenti di sisi ranjang.

Wanita itu terbaring diam, wajahnya pucat namun tenang. Selang oksigen terpasang, napasnya naik turun perlahan, tangannya terkulai lemah di atas selimut.

Tatapan Are melembut sedikit, hampir tak terlihat jika tidak benar-benar diperhatikan.

Ia menarik kursi dan duduk, tubuhnya condong sedikit ke depan.

“Aku di sini,” ucapnya pelan, suaranya rendah hampir seperti bisikan.

Jarinya menyentuh punggung tangan wanita itu dengan hati-hati, seolah takut tekanan sekecil apa pun bisa menyakitinya.

Ia hanya duduk di sana, diam, menjaga.

 

Di luar ruangan, dari balik pilar koridor, seorang pria akhirnya melangkah keluar dari bayangan.

Sejak tadi ia berdiri tanpa suara, cukup jauh untuk tak terlihat, namun cukup dekat untuk mengamati.

Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik cepat.

Dia sudah masuk ke ruangan. Kondisi wanita itu stabil. Dia masih di sini.

Pesan terkirim. Beberapa detik kemudian layar menyala. Balasannya singkat.

Tetap awasi.

Pria itu mengunci layar ponsel, lalu kembali menatap ke arah pintu ruang rawat dengan ekspresi datar.

Tanpa suara, ia mundur satu langkah kembali ke bayangan, seolah tak pernah ada di sana.

 

...✨“Ancaman hanya menakutkan bagi mereka yang tak siap menghadapi konsekuensi.”...

...“Beberapa orang melindungi dengan kekuatan. Beberapa dengan nama. Dia… dengan keduanya.”...

...“Dia terlihat tak punya apa-apa… sampai semua orang sadar mereka tak bisa menyentuh apa pun miliknya.”...

...“Beberapa ancaman terdengar menakutkan… sampai kau mengucapkannya pada orang yang salah.”✨...

.

To be continued

1
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘😘
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Pa Muhsid
ob bawa rujak cingur dan bajigur beuh mantep
Pa Muhsid
buset si otor pintar banget ya main perasaan pembaca
Pa Muhsid
kata aku are itu penguasa yang berputar haluan karena kondisi
anonim
Zelia sudah menemukan kebahagiaan yang lama telah hilang kini mempunyai keluarga utuh. Ada suami, anak, Papa walaupun mertua, Ibu yang juga mertua.

Are juga menemukan kebahagiaan, menikah dengan gadis yang pernah menyelamatkan dirinya.

Pradana juga bisa bernapas lega. Tidak Putranya tidak meninggalkan dirinya. Putranya tidak lagi sendiri.

Dan mempunyai penerus keluarga.

**Terima kasih Author, cerita yang bagus dengan ending sempurna. Sehat selalu, penuh Berkat dan RahmatNYA🙏🏻👍🏻👍🏻💖
anonim: Amiiin. Sama-sama kembali kasih Mbak Nana 🙏🙏
total 2 replies
anonim
Mereka berdua ini seakan-akan lupa akan dosa-dosanya. Perbuatan mereka sangat kejam terhadap Zelia.

Sudah hidup nyaman. Rumah. Uang. Fasilitas. Semua dari Ibunya Zelia.

Mereka tidak tahu diri. Menjebak Zelia. Berniat mengambil semua yang Zelia miliki. Dan hampir membuat Zelia kehilangan anaknya.

Kini Desti dan Dian harus menerima konsekuensinya. Kehilangan segalanya bahkan sudah tidak memiliki harga diri lagi karena ulah mereka sendiri.
anonim
Are sudah berada di gedung Angkasa Group.

Desti dan Dian menurunkan harga diri mereka dengan berlutut di depan Zelia.

Desti minta maaf pada Zelia. Pengakuan yang di buat-buat. Sudah terlambat. Hampir merenggut nyawa Zelia dan anak dalam kandungannya.

Dian apa lagi. Pengakuan yang di buat-buat menurut versinya sendiri.

Intinya mereka berdua sudah tidak punya apa-apa, minta dikasihani.
anonim
Are menyiapkan tempat dan modal awal untuk buka bengkel sebagai ucapan terima kasih pada Jaka yang tidak memilih pergi malam itu.

Masa depan Jaka jadi jelas.
anonim
Dian dan Desti menerobos masuk kantor Angkasa Group.

Desti menepis tangan Satpam yang menghadang.

Zelia mendengar suara gaduh dari lobby.

Typo Author, Bu Desti dan Nona Dian. Staf-nya keliru sebut yang mana Ibu yang mana anak.

Zelia akan menemui mereka.
anonim
Are menghubungi Jaka memastikan apa yang dilihat Jaka malam itu. Apa Jaka yakin ?

Yakin seratus persen dan Jaka siap jadi saksi.

Are kembali mengusut peristiwa yang dialami Wina. Bukti-bukti dikumpulkan.
Berkas diserahkan ke kantor polisi.

Nama Viola disebut secara resmi.

Viola tidak datang ketika ada pemanggilan. Melarikan diri.

Tidak lama Viola ditemukan.

Viola masuk sel.

Are menemuinya.

Viola - semua yang dilakukan karena tidak mau kehilangan Are.
anonim
Jaka teman Are tidak sengaja melihat berita dari ponselnya.

Video yang dilihat menampilkan wajah seorang wanita.

Tiba-tiba muncul di ingatannya. Jaka memastikan apa yang dilihat.

Peristiwa malam kecelakaan yang terjadi pada Wina terlintas di benaknya.

Jaka fokus kembali ke layar.

Wanita itu yang menabrak Bu Wina waktu itu. Jaka yakin sekali.

Jaka menghubungi Are lewat ponselnya.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Wina memberi kabar kalau Zelia sudah diperbolehkan pulang.

Are mengajak pulang.
Dan mengatakan pulang ke rumah kita. Aku, kamu, anak kita, papa dan Ibu.

Zelia melamunkan kehidupan di masa lalunya. Sampai ditanya Are - kenapa melamun.

Akhirnya Zelia pulang dengan jemarinya menggenggam lengan Are.
anonim
Semalam Zelia bisa tidur nyenyak lagi dalam pelukan Are.

Walau masih marah, Zelia tidak pergi menghindar dari Are.

Pagi hari Are bangun duluan. Zelia masih terlelap. Are memberikan kecupan singkat di pipi Zelia.

Are yang sudah dengan pakaian rapi siap berangkat ke kantor.

Are menatap Zelia yang masih meringkuk, lalu memberi kecupan di keningnya.

Are pamit ke kantor.
anonim
Malam hari Zelia siap untuk tidur. Mata sudah terpejam.

Merasa ada pergerakan di sisinya.

Are yang merindukan istrinya dan ingin dekat dengan anaknya.

Zelia tidak suka, didorongnya bahu Are. Are tidak bergeser sedikitpun.

Lengan Are melingkar di pinggang Zelia. Zelia mencoba melepaskan diri, tidak bisa.

Akhirnya Zelia tidak menolak pelukan dari Are. Sejatinya Zelia tidak benar-benar ingin menjauh.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Yang ada di ruang rawat cuma Wina. Zelia di kamar mandi.

Wina di suruh istirahat, Are yang jaga Zelia.

Are membuka pintu kamar mandi - Zelia kaget pastinya.

Zelia telanjang bulat. Are suaminya gitu loh. Di suruh keluar.

Are juga mau mandi.

Are mode merayu. Dipraktekkan apa yang dikatakan manajernya waktu itu 😄. Sayangnya Zelia masih marah
anonim
Zelia mau pulang. Merasa bosan. Juga tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya terlalu lama.

Are sudah menempatkan orang-orangnya di kantornya Zelia.

Yang satu pingin kembali. Yang satunya ingin di sini, di sisinya.

Pradana datang ke ruang rawat Zelia. Ingin mengetahui kondisi Zelia.

Zelia mengatakan - sudah lebih baik. Akan pulang. Kembali ke kehidupannya.

Zelia bicara panjang lebar tentang kehidupannya. Semua yang dibicarakan orang-orang, Zelia utarakan.

Pradana juga bicara panjang lebar. Bicara jujur, yang awalnya menolak karena apa yang ada di belakang Zelia.

Pradana juga minta maaf atas kejadian kemarin pada Zelia dan menyebut dirinya "Papa" untuk Zelia.

Are dan papanya sudah bicara banyak. Tinggal Zelianya maunya bagaimana lagi setelah mendengar itu semua.
anonim
Veyron gerak cepat atas instruksi yang diberikan Are.

Satu persatu orang-orang yang berada di malam itu mulai jatuh.

Are mengeluarkan pernyataan resmi terkait putusnya kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Viola.

Semua akses di tutup.

Ayah Viola menyadari, sudah tidak punya langkah lagi.
anonim
Are terbangun. Aksi kecil penuh perhatian ia lakukan pada Zelia.

Are kesiangan. Berjalan cepat ke kamar mandi.

Zelia membuka mata. Dia merindukan Are. Tapi rasa kesalnya masih menggunung 😄.

Are pamit ke kantor - tak ada respon dari Zelia.

Are mengecup kening Zelia. Zelia tidak menghindar.

Zelia menyentuh keningnya, bekas kecupan.
anonim
Benar-benar nyaman tidur nyenyak pasangan suami istri, sampai Veyron ketuk pintu, tetap tidak terbangun.

Pilihan Veyron bijaksana. Dia pergi tanpa membangunkan.

Zelia terbangun. Hangat dalam pelukan Are - mata masih terpejam. Zelia hampir menolak keberadaan Are. Tangannya hendak mendorong dada Are. Belum sadar kalau Are yang memeluknya.

Zelia membuka mata - baru sadar Are yang memeluk dalam tidurnya.

Zelia membiarkan dirinya dalam pelukan Are. Kembali memejamkan mata. Pura-pura masih terlelap.
anonim
Zelia tidur nyenyak dalam pelukan Are.

Perawat dan Wina mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar perawatan.

Wina memberi isyarat pada perawat untuk diam ketika ingin bicara.

Wina berbisik pada perawat untuk membiarkan mereka tidur sebentar. Anak dan menantunya akhir-akhir ini kurang istirahat.

Mereka keluar, pintu ditutup pelan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!