Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Penjaga dalam Sunyi
Atyasa menoleh perlahan. Senyum tipis terbit di bibirnya. Senyum yang sama sekali tidak sampai ke mata.
“Kau menikah dengan Zelia sehari setelah ibumu kecelakaan, bukan?” katanya santai. “Tukang parkir sepertimu pasti tak punya uang untuk biaya operasi sebesar itu.”
Tatapannya menajam. “Aku bisa mengerti kenapa kau menikahinya.”
Are hanya menatap datar, tak menyangkal.
“Aku ingin kau meninggalkan Zelia,” lanjut Atyasa langsung ke inti. “Aku bisa memberimu harga yang pantas.”
Sudut bibir Are terangkat hampir tak terlihat. “Berapa harga yang bisa Anda tawarkan?”
“Dua puluh miliar. Tinggalkan Zelia, dan uang itu milikmu.”
Are tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Anda terlalu murah menilai sesuatu yang bukan milik Anda.”
Tatapan Atyasa menajam. “Jangan sombong. Mungkin kau belum pernah punya uang sebanyak itu.”
Are tertawa pendek, rendah, tanpa sedikit pun rasa terancam. “Uang segitu?” Ia menggeleng pelan. “Tak sepadan dibandingkan tetap bersamanya.”
Senyum Atyasa menghilang.
“Zelia tak akan lama duduk di kursi CEO,” katanya dingin. “Enam bulan bukan waktu yang cukup untuk membuktikan dirinya lebih baik dariku.”
Are menyilangkan tangan santai. “Bagaimana kalau dia berhasil?”
Atyasa tertawa sinis. “Kau pikir enam bulan itu lama? Kalau dia turun dari posisi itu, kau tak akan mendapatkan apa pun. Lebih baik kau bekerja sama denganku.”
Are menatapnya lurus tanpa ragu. “Saya tidak melihat prospek masa depan jika berpihak pada Anda,” katanya tenang. “Justru bersama Zelia saya bisa duduk santai dan hidup nyaman.”
Tatapannya sedikit mengeras. “Karena dia akan tetap menjadi CEO. Dan saya jamin perusahaan akan jauh lebih maju di tangannya.”
“Kepercayaanmu terlalu tinggi,” balas Atyasa tajam.
Are tersenyum tipis. “Kita lihat saja nanti.”
Sunyi sesaat. Udara terasa menegang.
Tatapan Atyasa berubah gelap. “Kau terlalu percaya diri untuk seseorang yang tak punya apa-apa,” katanya pelan namun berbahaya. “Kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Termasuk pada orang yang sedang terbaring lemah di dalam sana.”
Ancaman itu mungkin menakutkan bagi orang lain. Tapi tidak untuk Are. Ekspresinya tak berubah sedikit pun. Matanya justru menjadi lebih dingin.
“Coba saja,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh tekanan.
Atyasa sedikit mengernyit, tak menyangka reaksi setenang itu.
Are melangkah setengah langkah mendekat. “Ibu saya berada di bawah pengawasan penuh,” lanjutnya. “Setiap orang yang keluar masuk ruangan tercatat. Kamera aktif dua puluh empat jam. Dan semua data langsung terhubung ke orang yang tidak akan Anda suka jika sampai terjadi sesuatu.”
Ia berhenti sejenak, menatap tajam. “Kalau Anda berani menyentuhnya…”
Suaranya turun satu nada, dingin seperti baja. “…saya pastikan bukan hanya posisi Anda yang hilang.”
Jantung Atyasa berdetak lebih keras, tapi ia menutupinya dengan senyum tipis. “Kau mengancamku?”
Are menatapnya tanpa berkedip. “Saya hanya menjelaskan konsekuensi.”
Sunyi kembali jatuh di antara mereka.
Untuk pertama kalinya, Atyasa merasakan tekanan dari pria yang sebelumnya ia anggap tak berarti.
Rahangnya mengeras. “Kita lihat saja seberapa lama kau bisa melindungi semuanya,” katanya dingin sebelum berbalik pergi.
Are tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu tanpa ekspresi. Namun matanya jelas menunjukkan satu hal.
Ia tidak main-main.
Baru setelah langkah pria itu benar-benar menghilang di ujung koridor, Are memalingkan pandangannya.
Tatapannya jatuh pada kaca kecil di pintu ruangan, memastikan wanita di dalam sana masih bernapas.
Rahangnya mengeras pelan. Ancaman Atyasa barusan masih terngiang jelas di kepalanya.
Perlahan ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mencari satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi.
Ia menekan tombol panggil. Tak sampai dua dering, panggilan tersambung.
“Selamat malam,” suara pria di seberang terdengar tenang namun langsung berubah lebih serius. “Sudah lama sekali kamu tidak menghubungi saya.”
Are tidak berbasa-basi. “Saya butuh perlindungan hukum.”
Ada jeda sepersekian detik. Nada di seberang langsung berubah tegas.
“Ada yang mengancammu?”
“Ibu saya.” Suara Are tetap datar. “Mulai malam ini saya ingin semua akses hukum dan pengamanan disiapkan. Jika ada pihak yang mencoba mendekat dengan niat buruk, saya ingin semuanya tercatat.”
Pria itu menghela napas pelan, seperti sudah memahami situasinya tanpa perlu penjelasan panjang.
“Kamu tahu saya tidak pernah menolak permintaanmu,” katanya. “Anggap sudah beres. Saya akan kirim orang mulai malam ini.”
Are menatap lurus ke depan. “Terima kasih.”
“Dan Are,” suara di seberang sedikit melembut, “kamu tidak pernah berutang apa pun pada saya. Saya yang berutang.”
Are tidak menjawab. Ia hanya menutup panggilan dengan tenang.
Beberapa detik ia terdiam, lalu mencari kontak berikutnya.
Nama yang satu ini bahkan lebih jarang ia hubungi. Ia menekan panggil. Kali ini butuh tiga dering sebelum tersambung.
“Are?” suara pria tua terdengar terkejut sekaligus hangat. “Saya sampai pikir kamu sudah melupakan saya.”
“Saya butuh bantuan.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang membuat lawan bicaranya langsung serius.
“Ada apa?”
“Ibu saya dirawat di rumah sakit. Saya ingin pengawasan langsung dari Anda. Saya tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun.”
Tanpa ragu sedikit pun, pria itu langsung menjawab, “Sebutkan rumah sakitnya.”
Are menyebutkan nama rumah sakit dan nomor kamar.
“Saya akan ke sana sekarang,” jawabnya cepat. “Mulai malam ini dia di bawah pengawasan saya pribadi.”
Are menutup mata sesaat, mengembuskan napas pelan yang nyaris tak terdengar.
“Terima kasih.”
“Jangan bicara seperti itu,” suara di seberang terdengar mantap. “Kalau bukan karena kamu dulu, karier saya sudah selesai. Ini hal kecil.”
Panggilan berakhir. Koridor kembali sunyi.
Are menyimpan ponselnya perlahan. Wajahnya kembali tanpa ekspresi, seolah percakapan barusan tak meninggalkan jejak apa pun. Tatapannya kembali tertuju pada pintu kamar ibunya.
Matanya tenang… tapi ada sesuatu yang mengeras di dalamnya.
Atyasa mungkin mengira ia hanya tukang parkir tanpa daya.
Sudut bibir Are terangkat tipis, nyaris tak terlihat. Atyasa tidak akan pernah bisa menyentuh ibunya. Tidak selama Are masih berdiri di sini.
Dan jika ada yang mencoba… Mereka akan menyesal sudah melangkah terlalu jauh.
Are melangkah maju dengan tenang, langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Ia mendorong pintu ruang rawat dengan pelan.
Aroma antiseptik langsung menyergap, dingin dan bersih. Suara mesin monitor berdetak stabil, satu-satunya suara yang memenuhi ruangan.
Langkahnya berhenti di sisi ranjang.
Wanita itu terbaring diam, wajahnya pucat namun tenang. Selang oksigen terpasang, napasnya naik turun perlahan, tangannya terkulai lemah di atas selimut.
Tatapan Are melembut sedikit, hampir tak terlihat jika tidak benar-benar diperhatikan.
Ia menarik kursi dan duduk, tubuhnya condong sedikit ke depan.
“Aku di sini,” ucapnya pelan, suaranya rendah hampir seperti bisikan.
Jarinya menyentuh punggung tangan wanita itu dengan hati-hati, seolah takut tekanan sekecil apa pun bisa menyakitinya.
Ia hanya duduk di sana, diam, menjaga.
Di luar ruangan, dari balik pilar koridor, seorang pria akhirnya melangkah keluar dari bayangan.
Sejak tadi ia berdiri tanpa suara, cukup jauh untuk tak terlihat, namun cukup dekat untuk mengamati.
Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik cepat.
Dia sudah masuk ke ruangan. Kondisi wanita itu stabil. Dia masih di sini.
Pesan terkirim. Beberapa detik kemudian layar menyala. Balasannya singkat.
Tetap awasi.
Pria itu mengunci layar ponsel, lalu kembali menatap ke arah pintu ruang rawat dengan ekspresi datar.
Tanpa suara, ia mundur satu langkah kembali ke bayangan, seolah tak pernah ada di sana.
...✨“Ancaman hanya menakutkan bagi mereka yang tak siap menghadapi konsekuensi.”...
...“Beberapa orang melindungi dengan kekuatan. Beberapa dengan nama. Dia… dengan keduanya.”...
...“Dia terlihat tak punya apa-apa… sampai semua orang sadar mereka tak bisa menyentuh apa pun miliknya.”...
...“Beberapa ancaman terdengar menakutkan… sampai kau mengucapkannya pada orang yang salah.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu