Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arena and Ambition
Pertandingan akbar Lacrosse antara tim Milford Hall dan Eastwood High akhirnya tiba pada puncak musim gugur.
Udara London mulai menggigit, namun atmosfer di lapangan hijau itu justru mendidih. Aroma rumput basah bercampur dengan keringat dan adrenalin, menciptakan sensasi yang hanya bisa dirasakan saat rivalitas abadi bertemu di satu garis lapangan.
Selama dua tahun kepemimpinan Damian Harding, Milford Hall seolah memiliki mantra kemenangan yang tak terpecahkan. Di bawah arahan Damian, Lacrosse bukan sekadar olahraga; itu adalah tarian taktis yang mematikan.
Sang kapten bukan hanya otak di balik formasi, ia adalah jantung yang memompa semangat rekan-rekannya—termasuk pemain inti seperti Axel Rosewood, Russo Marianno, dan Louis Partridge—untuk terus berlari meski paru-paru mereka terasa terbakar.
Akibat jadwal latihan yang menggila, Damian dan "geng elit"-nya sudah melewatkan dua pertemuan di kelas Mrs. Whiterspoon. Fraya sempat bersorak dalam hati, berpikir ia akhirnya bebas dari tutor yang hobi ngeledek itu.
Namun, harapannya pupus saat Damian mengumumkan revisi jadwal mereka dengan nada tanpa bantahan.
"Yah, sayang banget, jadi nggak bisa belajar Bahasa Jerman sama kamu! Berarti Mrs. Crabtree bakal cari guru pengganti, kan?" ledek Fraya waktu itu, mencoba menyembunyikan binar kegembiraan di kedua matanya.
Namun, karena Damian bukan tipe orang yang membiarkan mangsanya lepas begitu saja, dengan kalem juga Damian menandaskan,
"Memangnya kapan aku bilang aku berhenti ngajarin kamu? Jadwalnya cuma bergeser, Surgeon. Kamu tetap belajar sama aku. Tidak ada ceritanya posisiku akan diganti sama siapapun."
"Hah? Gimana caranya? Kamu kan harus fokus latihan!"
Damian hanya menyeringai. Ia tidak peduli jika kepalanya harus berasap karena membagi fokus antara taktik lapangan dan sesi belajar mereka bedua.
Baginya, hari Jumat sore adalah "waktu sakral" yang tidak bisa lagi Damian ganggu gugat. Karena di waktu itu, satu-satunya Damian mendapatkan ruang di mana ia bisa mencuri sedikit kebahagiaan.
Melihat Fraya marah-marah karena kuis dadakan jauh lebih menghibur daripada mencetak sepuluh gol sekaligus. Bahkan, membayangkan Fraya diajar oleh Asa—si murid berkacamata yang juga teman Fraya yang dikenal pintar tapi membosankan—sudah cukup membuat Damian ingin meninju tiang gawang.
Malah akhir-akhir, Damian terlintas untuk menyuruh Mrs. Crabtee agar menambah waktu untuk sesi tutornya pada Fraya hanya supaya Damian bisa punya lebih banyak waktu bertemu dengan cewek itu.
"Tidak. Tutor kamu cuma aku. Kalau nanti aku sudah mulai sibuk latihan dan jadwal belajar kita tiba, kamu cukup tunggu saja di pinggir lapangan Lacrosse jam dua siang. Tidak usah pergi kemana-mana lagi. Jadi kalau pas aku lagi istirahat latihan, aku bisa langsung ke kamu," putus Damian final.
Arahan yang lebih mirip perintah ini jelas membuat Fraya langsung melayangkan protes keras, "Ih, Damian! Aku nggak mau ya harus duduk di kursi tribun lapangan kamu. Aku nggak mau sampai nanti dikira seperti penggemar beratmu yang nggak ada kerjaan itu!"
Damian berhenti sejenak, menatap Fraya dengan intensitas yang berbeda.
"Kamu memang bukan seperti mereka, Fraya. Kamu beda." Kalimat itu diucapkan begitu lembut, hingga Fraya kehilangan kata-kata untuk mendebatnya.
Selama tiga bulan cewek itu sudah bolak-balik bertemu Damian, Fraya mau tidak mau jadi paham kalau Damian si congkak nan menyebalkan ini memang tidak akan pernah bisa didebat kalau sudah berencana. Jadi mau Fraya protes keras dan tidak setuju seperti apa, Damian tidak akan pernah mau mengubah rencananya di awal.
Karena sepertinya keputusan Damian si pongah itu juga sudah final, tidak bisa diganggu gugat, Fraya sekarang cuma bisa menggerutu sepanjang belajar dengan Damian.
Dan Damian cuma bisa terkekeh memandang gemas cewek didepannya ini.
°°°°
Jumat, 14.00
Matahari London bersinar pucat di balik awan kelabu. Fraya duduk di tribun paling bawah dengan buku Fisika Lanjutan di pangkuannya.
Ia merasa sangat salah tempat. Lapangan Lacrosse ini adalah pusat kebisingan—tempat para siswi berkumpul untuk berteriak histeris setiap kali Damian menyeka keringat atau berlari melewati mereka.
Gunjingan mulai terdengar. Kehadiran Fraya yang cuek dengan buku tebal di tengah kerumunan gadis berseragam modis jelas memancing rasa iri.
"Lihat, itu si anak baru yang kabarnya jadi 'peliharaan' Damian?" bisik seorang siswi di barisan belakang.
"Aku dengar Damian itu tutornya, tapi sejak kapan orang terkaya se antero Inggris ini mau repot-repot jadi tutor, untuk anak baru, lagi!"
Waktu itu Fraya cuma menjulingkan mata seraya berusaha untuk tidak peduli. Walaupun ada sisi lain di hati Fraya yang mengaminkan beberapa desas-desus tentang Damian kepada Fraya disekitarnya.
Fraya menggelengkan kepala seketika. Tidak, ia ingin fokus mengejar tujuan utamanya saat ini di Milford. Fraya hanya berdoa supaya apapun rencana Damian, semoga itu bukan dengaj menghancurkan rencana Fraya untuk masa depannya.
Fraya kembali melempar fokus pada soal-soal fisika dipangkuannya, berusaha tenggelam pada dunianya hingga sebuah bayangan tinggi menutupi cahayanya.
Damian berdiri di sana, tepat didepan Fraya. Rambut yang pirang basah oleh keringat, napasnya memburu, dan jersey timnya tampak menempel di tubuh atletisnya.
"Kamu nggak capek, kan?" tanya Damian dengan suara serak yang seksi.
Fraya mendongak, menyodorkan botol air mineral dingin. "Kamu kenapa nggak istirahat sama tim kamu di sana? Mereka kelihatannya lagi ngomongin kita."
Damian meneguk air itu tanpa melepas pandangan dari Fraya. Air mineral menetes dari dagunya ke kerah jersey, namun ia tidak peduli.
"Biarkan saja. Mereka cuma harus tahu kalau kamu nggak boleh ke mana-mana."
Tiba-tiba, Damian menaruh botol itu dan tanpa aba-aba, tangannya terulur mengacak puncak kepala Fraya dengan gerakan yang sangat protektif sekaligus sayang.
"Setengah jam lagi, ya."
"Damian! Rambutku berantakan!" protes Fraya sambil menepis tangan cowok itu, namun jarinya sibuk merapikan helai rambutnya dengan wajah mulai bersemu merah.
Damian terkekeh melihat wajah Fraya yang mendadak merah padam dan tangannya yang sibuk merapikan rambut dengan kesal.
Namun, di tengah lapangan, seorang pemain inti tidak bisa mengalihkan pandangannya dari interaksi itu.
Sejak sesi latihan dimulai, Louis Partridge kehilangan kendali atas fokusnya. Pandangannya terus tersedot ke pinggir lapangan, menyaksikan pemandangan yang membuat buku jari-jarinya memutih karena mencengkeram stik Lacrosse terlalu kuat.
Di sana, sang kapten tim—Damian Harding—tanpa ragu memisahkan diri dari kerumunan pemain lain hanya untuk menghampiri Fraya. Sepanjang sesi latihan, fokus Louis sebenarnya sudah melantur entah ke mana, meski insting atletnya masih mampu menjaga permainannya tetap terlihat tanpa cela di mata pelatih.
Namun, menyaksikan kedekatan yang intens antara Damian dan gadis yang belakangan ini juga mencuri rasa penasarannya, membuat ulu hati Louis mendadak terasa dihantam benda tumpul. Ada rasa tidak nyaman yang asing, yang mulai merayap dan menetap di dadanya.
Bagi Louis, yang sudah mengenal Damian sejak seragam sekolah dasar mereka masih kekecilan, sikap temannya itu terasa sangat ganjil—bahkan hampir tidak masuk akal. Sepanjang belasan tahun persahabatan mereka, Louis belum pernah sekalipun melihat Damian menurunkan harga dirinya untuk mengejar perhatian siapa pun.
Di matanya, Damian Harding adalah definisi dari sosok yang pongah, sombong, dan egois yang merasa seisi dunia harus berputar mengelilingi porosnya sendiri. Jika Louis melihat barisan siswi menangis atau mengemis perhatian di hadapan Damian, itu adalah pemandangan basi yang sudah biasa ia saksikan.
Namun, melihat Damian yang justru "menyerahkan diri" dan menghampiri seorang gadis duluan? Itu adalah sebuah anomali besar yang membuat Louis menyadari satu hal ini:
Apa yang sebenarnya sedang Damian incar dari Fraya? Apakah ini ada kaitannya dengan Axel?
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit